“Benarkah? Jadi, tidak ada gadis yang bernama Karey di lingkungan sini?” Malam-malam Aulia masih mencari-cari keberadaan gadis yang selama ini sudah membuatnya berurusan dengan banyak hal.
Ternyata alamat yang diberikan oleh para tetangga itu palsu, dan semua informasi yang mereka katakan pun tidak nyata, hal itu membuat Aulia tersulut emosi dan ingin segera menghancurkan orang-orang kampung itu.
“Sialan, aku sudah tertipu, memang tidak jauh alamat ini tapi setidaknya untuk apa mereka menipuku? Sialan, ke mana sebenarnya mereka semua pindah, aaaaaah!”
Keterangan keluarga tersebut sudah pindah dari rumah lama memang benar, karena ketika Aulia mendatangi rumah itu, sudah tidak ada lagi penghuni bahkan terlihat seperti gubuk yang sudah lama tidak terurus.
Hanya informasi alamat yang palsu, tetangga itu memang cukup mudah memberikan informasi kepada Aulia, tanpa disadari kemudahan itu memang ada niat lain entah apa itu alasannya.
Bergegas pergi dari sana karena tidak ada hasil apapun, Aulia masih tidak menyangka dengan apa yang sudah terjadi hari ini, niat awal dialah yang mencoba untuk menipu orang-orang desa tapi kenyataannya dialah yang tertipu.
Di perjalanan pun Aulia masih tidak berhenti mengumpat dan terus berbicara dengan dirinya sendiri akan kebodohannya hari ini, sampai kapanpun dia tidak akan menyerah, jika tidak ada yang memberikan informasi akurat, maka dialah yang akan mencari tahu sendiri dengan usahanya nanti.
“Oke, bagus, terima kasih banyak, Bu. Karena sudah memberikan alamat palsu padanya, hari ini pun aku melihatnya di perjalanan, syukur dia tidak melihatku, sekali lagi terima kasih banyak,” ucap Karey pada seseorang di sebrang sana melalui telepon nya.
Karey hanya bisa tersenyum lega, bersyukur orang-orang di desa itu masih bisa menjaga keluarganya, karena bagaimanapun sejak awal dia pindah, Karey sudah berjaga-jaga untuk melakukan hal itu, entah berbicara pada tetangga ataupun orang-orang terdekat yang mengetahui keberadaannya sekarang.
Tentu saja orang-orang itu yang bisa dipercaya sepenuhnya, Karey memang bukanlah orang baik, ataupun orang yang bisa dibanggakan dalam segi apapun, tetapi nama baik kakek dan neneknya lah yang membuat orang-orang begitu menghormati keluarganya.
“Aku tidak hanya sangat merindukan adikku, tapi aku juga sangat merindukan kakek dan nenek, semoga kalian baik-baik di sana, jika kita tinggal bersama maka akan dengan mudah ditemukan, jika terpisah seperti ini akan lebih baik.”
Karey hanya bisa berkabar melalui telepon ketika dia merindukan kakek dan neneknya, tentu saja ayahnya yang membantu untuk komunikasi tersebut, sejak mereka bertemu kembali di rumah sakit, Karey tidak begitu mendekatkan diri kepada ayahnya, hanya untuk menjaga keamanan ayahnya, dan Reyhan pun tahu semua itu.
Baru saja Karey akan mengganti pakaian untuk segera tidur malam ini, ketukan pintu membuatnya kembali merapikan pakaian dan sedikit berlari untuk membukakan pintu.
“Tunggu, tapi siapa yang berkunjung malam-malam seperti ini? Hmm, mungkin kerabat teman kos yang lain, mungkin.”
Merasa tidak ada salahnya jika dia membantu untuk membukakan pintu, karena Karey yakin yang lain sudah tidur di kamar mereka masing-masing dan hanya dia yang mendengar ketukan pintu tersebut.
Tidak ingin gegabah, sebelum benar-benar membuka pintu, Karey mengontrol siapa yang sebenarnya datang melalui jendela yang dia buka sedikit gorden nya.
“Hah? Seorang pria? Siapa dia? Apa mungkin itu emang kerabat atau kenalan salah satu anak kos di sini? Tapi ....” Sebenarnya Karey mulai merasa tidak nyaman.
Ketukan pintu terus terdengar, dan anehnya hanya dia seorang diri yang mendengar, karena bagaimanapun juga ketukan pintu terdengar sangat keras.
“Ck, buka saja deh siapa tahu emang penting dan dia terlihat bukan orang sembarangan juga.”
Karey dengan memberanikan diri akhirnya membuka pintu tersebut dan pria itu menatapnya dengan tatapan tajam, seperti orang yang memang mengenalnya.
“Siapa ya? Apa ada keperluan penting sampai malam-malam berkunjung ke kost putri?” tanya Karey.
Pria itu tidak menjawab, dia hanya menatap Karey seperti orang yang memang ingin mengatakan sesuatu tapi tidak kunjung berbicara juga, membuat Karey semakin penasaran sekaligus merasa gemetar.
***
“Ada berapa orang yang tinggal di kost ini? Dan siapa orang yang paling lama tinggal di sini,” tanya pria itu, Karey bertanya dan orang itu pun mengajukan pertanyaan yang berbeda.
Karey hanya ingin lebih berhati-hati, dia memang selalu berkumpul dengan para pria sebelumnya dan mengenal banyak pria, tapi kali ini dia sudah berjanji pada dirinya untuk berubah dan lebih menjaga dirinya.
“Hallo? Saya sedang bertanya padamu, jangan khawatir saya bukan orang jahat seperti yang ada pada pikiran mu saat ini, saya hanya seseorang yang sedang mencari kost putri.”
Seketika kedua mata Karey melotot, “Hah?”
“Untuk adik perempuan saya,” lanjut pria itu.
Kini kedua mata mereka kembali bertemu, Karey tidak ingin berlama-lama berbicara dengan orang itu, dan saat ini memang sudah malam, jika memang ingin mencari kost kenapa tidak langsung mengunjungi pemiliknya? Itu yang Karey bingungkan.
“Ada berapa dan bagaimana itu bukan urusanmu, sebaiknya jika memang ingin kost atau mencari kost untuk kerabat, kamu bisa mengunjungi rumah pemilik kost ini, kebetulan rumah nya tidak terlalu jauh dari sini,” titah Karey.
Namun yang dilakukan pria itu sebaliknya, dia duduk di salah satu kursi yang ada di teras kost, dan semakin membuat waktu mereka terbuang sia-sia. Karey semakin lama semakin emosi menghadap pria tersebut.
“Hei? Kenapa malah duduk? Sebenarnya kamu ini siapa dan apa maumu? Kalau ada niat ....”
“Saya hanya ikut duduk beristirahat saja, memangnya itu tidak boleh dan akan menjadi masalah? Perjalanan saya datang ke sini cukup jauh dan menyita waktu sekitar 5 jam perjalanan saya mengemudi mobil sendiri,” ungkapnya.
Lah? Apa urusannya denganku? Ini orang lama-lama bikin emosi jiwa, apa aku masuk aja ke dalam dan tinggalin ni orang ya? Atau panggil teman-teman aja? Gak peduli deh mereka tidur atau gimana.
Disaat Karey akan kembali bertanya pada pria itu karena pria itu masih saja duduk dan tidak hendak pergi juga, ada panggilan telepon masuk dan pria itu menjawabnya dengan berbisik.
Duh siapa ya ni orang? Ini udah jam 23.56 pula, takut-takut emang ni orang suruhan siapa atau ... sudahlah tunggu dulu.
Setelah selesai berbicara pada telepon nya, pria itu kembali bangkit dari tempat duduk, “Baiklah, besok saya akan kembali lagi ke sini, saya juga tidak bisa menghubungi orang yang memang pemilik kost ini, orangnya pun hari ini tidak ada di rumah nya, saya memang sudah mendatangi rumah nya sebelum datang langsung ke sini,” ungkapnya lagi.
Karey hanya beroh iya saja, karena itulah yang sudah ditunggu Karey, sebuah penjelasan. Perjalanan selama 5 jam? Akan hal itu masih membuat Karey bingung dan tak ingin memikirkannya.
Berharap pria itu segera pergi, tapi yang Karey tidak habis pikir, “Hei? Apa ini? Kenapa kamu kasih uang padaku?” Karey terkejut.
“Anggap saja itu upah berbicara denganmu, besok kita lanjutkan lagi hal lainnya,” jawabnya kemudian melenggang pergi, Karey berusaha mengejar tapi pria itu dengan cepat mengemudikan mobil nya.
Astaga, ini apa lagi maksudnya? Ini uang berapa? Banyak banget, gepokan gini, Mahesa harus tahu, aku harus minta perlindungannya.