My Boss - 12

912 Kata
“Tu.. Tuan, ini tempat apa?" cicit Laura setelah dirinya menginjakkan kaki di sebuah tempat yang tampak begitu asing untuknya. Ia melihat begitu banyak pria dan wanita saling merangkul, berciuman, minum dan juga menari dengan alunan music yang cukup keras. Ya, Theo membawanya ke sebuah club malam. Tangan Laura sedari tadi tidak lepas mengenggam jaket levis yang Theo gunakan, pria itu tampak santai berjalan di depannya seolah-olah sudah sangat terbiasa dengan tempat seperti. Laura menoleh ke sekita merasa jijik dengan tempat ini. Karena dirinya hanya gadis polos yang baru saja akan lulus dari sekolah menengah atas. Bahkan terlalu polos sampai tak menyadari tempat apa yang ia pijak sekarang. Tempat yang membuatnya tercengang dan bergidik ngeri ketika melihat kegiatan orang-orang yang ada di sana. "Kenapa? Bukankah kau terbiasa dengan tempat seperti ini, huh?" ujar Theo seteah mereka sampai di sebuh meja. Pria itu menatap sinis ke arah Laura, "Jangan berpura-pura polos, sialan." "Ta.. Tapi aku-..." "Diam dan ikut saja," balas Theo berujar kesal memotong kalimat Laura. Dunia gelap yang seperti ini sangat terbiasa untuknya meskipun ia adalah seorang siswa, jika punya semua bisa dilakukan bukan? "Atau kau ingin menunjukkan keahlianmu dengan menggoda banyak pria? huh? sana pilih satu," ucap Theo begitu merendahkan Laura. Laura menunduk takut mendengar jawaban Theo. Ia tak mau membuat Tuannya sekaligus pria yang ia sukai itu marah. Terlebih lagi menggoda pria? Bagaimana bisa ia menggoda pria jika dirinya saja tak menarik seperti ini. Bahkan ia tak pernah dekat dengan pria manapun kecuali ayahnya. Tak lama setelah, seorang pria yang sangat Laura kenal pun berjalan mendekat. Daren, ya sahabat Theo itu juga ada di sini. Namun, Laura tidak melihat adanya Bobby di sini. "Siap bersenang-senang malam-.." perkataan Daren terpotong ketika netranya menangkap Laura tengah duduk di sebelah Theo. Pria muda itu melongo begitu terkejut melihat kehadirannya. "Kau tidak salah membawanya kemari?" pekik Daren. Theo menggeleng, "Tidak." Daren tampak memandang sinis padanya, Laura tahu jika pria ini sama sekali tak menyukainya sedari dulu. "Ck, ku harap gadis itu tidak akan merepotkan." Theo hanya membalas dengan sebuah gumaman. Pria itu kemudian berdiri dari duduknya membuat Laura sedikit panik. "Ayo kita ke sana, wania-wanita itu merindukamu!" ucap Daren sembari merangkul bahu kiri Theo.  Theo membalasnya dengan sebuah senyuman, lalu pria itu pun mulai beranjak dari duduknya. "Kau tunggu di sini dan jangan ganggu aku. Pesan sesukamu dan aku akan membayarnya nanti." Ujar pria itu sebelum kakinya melangkah pergi bersama Daren dan hanya meninggalkan Laura sendirian di sana, terduduk di meja bar sendirian. Daren dan Theo berjalan menuju dance floor. Mereka meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti irama music yang dimainkan. Di sekitar mereka ada banyak wanita yang tiba-tiba mendekat dengan pakaian minim memperlihatkan lekuk tubuhnya. Dari balik kacamatanya, mata Laura memanas ketika melihat Theo melingkarkan tangannya di pinggang salah satu wanita yang berambut pirang dengan pakaiannya yang begitu minim. Tidak hanya itu, Theo juga menempelkan bibirnya pada bibir bawah wanita itu meraupnya dengan sedikit tergesa. Jantung Laura berpacu cepat ketika melihatnya. Meskipun Laura masih polos, tapi ia tidak bodoh dengan apa yang mereka lakukan saat ini. Gadis itu mulai berdiri dari duduknya, ia ingin pulang. Tidak kuat melihat Theo, pria yang masih sangat disukainya itu meskipun telah berlaku kasar padanya itu tengah b******u dengan wanita lain. Lagipula untuk apa Laura berlama-lama di tempat seperti ini. Melihat Theo bermesraan dengan wanita lain hanya membuatnya sesak. Laura beranjak dari duduknya dan berjalan tergesa-tergesa untuk bisa segera keluar dari club. Namun dirinya kembali ditimpa kesialan setelah tak sengaja menubruk tubuh seseorang. Brukk “Ah..” ringis Laura ketika ia terjatuh cukup keras ke lantai. Ia merasakan sakit dipergelangan kakinya kirinya, rasanya cukup berdenyut nyeri karena ia tidak sengaja menabrak kursi seseorang. Laura mendongak ia melihat seseorang yang tanpa sengaja ia tabrak terlihat begitu marah padanya. Jelas marah, ia membuat minuman seseorang itu tumpah. "Ma.. Maaf, Tuan." "Yak! Nona apa kau tak punya mata, hah?" teriak seseorang itu dengan suara parau. Seseorang itu adalah seorang pria yang tampak mabuk. Dengan sedikit kesusahan Laura mulai mencoba berdiri, menundukkan wajahnya merasa sangat bersalah. "Ma.. Maaf aku tidak sengaja, Tuan." Ujarnya. Setelah mengucapkan kata maaf, Laura berusaha menyeret kakinya berniat meninggalkan pria itu. Namun pria yang sedang mabuk justru mencengkeram lengannya dengan kuat, membuat Laura meringis kesakitan. "Akhh.. Apa yang kau lakukan, Tuan. Lepaskan aku," ucap Laura meringi kesakitan. Pira itu tampak tertawa sinis dan berdecak keras. "Ck, gadis kecil sialan. Setelah kau menabrakku lalu ingin lari begitu saja, huh?" teriaknya. "Kau harus bertanggungjawab jawab, sialan!" pekik pria itu hingga membuat focus orang-orang di dalam club tertuju pada mereka, termasuk Theo dan juga Daren. Mata Laura terbelak. "Ap.. Apa?” pekik Laura. “Tapi aku sudah meminta maaf!” “Kau pikir maaf saja cukup untuk kesalahanmu?” ujarnya dengan mata yang nyalang dan terlihat kesal. Pria itupun mulai menyeret Laura. Tentu saja gadis itu mulai panik. “Tidak! Lepaskan aku, Tuan!” teriak Laura, matanya mengedarkan pandangan mencari Theo. "TU.. TUAN THEO!! Tolong aku!" teriak Laura dengan suaranya yang bergetar ketakutan setelah netranya menangkap keberadaan pria itu. “TO… TOLONG AKU!!” Teriak Laura lebih keras lagi. Alih-alih Theo akan bergerak menolongnya, namun kenyataannya pria itu dan juga teman-temannya hanya menatap datar ke arah dirinya. Bahkan semua orang di dalam club itu hanya diam, seolah-olah mereka menikmati pemandangan Laura tengah di seret oleh seorang pria mabuk. Hati Laura hancur seketika, jadi seperti inikah rasanya menjadi seorang gadis buruk rupa yang hanya dipandang rendah ketika dirinya tengah membutuhkan pertolongan? Bahkan Theo yang mengajaknya pun hanya diam saja tanpa mau berniat sedikit pun menolongnya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN