Jika kalian pikir membalas budi dengan tubuh adalah dengan menyerahkan diri maka tidak sepenuhnya salah. Memang saat ini Laura tengah menyerahkan dirinya pada Theo, tapi perlu digaris bawahi jika menyerahkan tubuh yang dimaksud adalah dijadikan pelayan oleh pria itu. Bukan dijadikan alat pemuas nafsu seperti wanita bayaran di luaran sana. Lagipula mana mungkin seorang Theo Robinson menyentuh dirinya, melihatnya saja sudah membuat pria itu muak. Siapa juga yang ingin menatap dirinya yang jauh dari kata cantik itu begitu lama.
Ngomong-ngomong sejak kejadian di atas sekolah, Lucy Baker tidak pernah mengganggunya lagi. Gadis itu tidak pernah mengusiknya dan terkadang hanya menatap dingin ke arahnya. Tatapan dingin dan benci itu tercetak jelas di mata Lucy ketika dirinya bersama dengan teman-teman Theo.
Ia bersama mereka, Bobby dan Daren teman dekat Theo. Laura bisa dekat dengan kedua teman Theo bukan karena mereka mau berteman dengan Laura. Namun, semua itu karena dirinya adalah pembantu Theo.
Selamat dari kematian layaknya Laura menemukan neraka nya yang baru. Theo memang menyelamatkannya, tapi kenyataannya balas budi yang di inginkan pria itu adalah neraka untuknya.
Laura tak bisa menolak, ia justru rela melakukan apapun demi Theo. Bodoh sekali bukan? Bahkan sudah jelas jika dirinya sedang dimanfaatkan oleh Theo dan teman-temannya namun Laura masih mau melakukan semuanya dengan suka rela. Di makan cinta buta, itulah gambaran Laura Martinez saat ini.
“Hey, gadis jelek. Ambilkan aku soda! Cepat!” seru seorang pria yang sedari tadi sibuk dengan game online yang ada di ponselnya.
Saat ini Laura tengah berada di kantin sekolah, tentu saja menjalankan tugas sebagai pelayan untuk Theo. Tak hanya Theo tapi juga teman-teman pria itu, Bobby dan juga Daren. Sudah 3 minggu ini ia layaknya menjadi babu bagi mereka. Di rumah, Laura selalu bertugas menggantikan pekerjaan pelayan rumah Theo. Namun hanya membersihkan rumah saja tak sampai memasak. Laura tidak tahu memasak, pernah Theo menyuruhnya memasak sarapan namun bukan sebuah makanan lezat yang tersaji namun sudah mirip seperti sampah. Maka dari itu, Theo tidak ingin Laura menghancurkan dapurnya jika ia menyuruh Laura untuk memasak, bahkan memotong strawberry saja gadis itu tidak bisa.
Laura yang sedari tadi menatap bukunya pun mulai mendongakkan kepalanya. Ia pun mengangguk untuk segera mengerjakan apa yang diperintah oleh Daren. Minggu depan adalah jadwal ujian akhir sekolah, ia harus belajar agar mendapatkan beasiswa untuk bisa masuk ke Universitas impiannya. Semakin cepat ia mengerjakan apa yang diperintahkan maka semakin cepat pula ia kembali pada bukunya.
“Tolong, ambilkan beberapa camilan juga,” ucap Bobby sebelum Laura melangkahkan kakinya. Ngomong-ngomong dibanding Theo dan juga Daren yang selalu mengusili nya Bobby jauh terlihat manusiawi terhadapnya.
Saat dirinya tengah melaksanakan perintah dari Theo dan teman-temannya. Suara ejekan kembali terdengar oleh beberapa siswa lain.
"Kau tak ingin menjadi pembantuku juga?"
"Gadis kuno sepertimu memang pantas jadi pembantu."
Dan sebagainya, begitu banyak hinaan yang ia terima terlebih lagi itu berasal dari siswa perempuan yang menjadi jajaran penggemar tiga pria tampan itu.
Laura kembali dengan satu botol soda dan beberapa cemilan di kantong plastik yang ia bawa.
“Jangan lupa kerjakan PR ku, Nerd!” ucap Daren sekali. Laura hanya menganggukkan kepalanya patuh, tak ingin menjawab. Gadis itupun juga duduk di meja yang berbeda dengan Theo dan teman-temannya.
~~~~
Suara bel pulang sekolah pun berbunyi, semua siswa bergegas untuk segera pulang dan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
“Bawakan tasku," ucap Theo yang sudah berada di depan bangku Laura sembari melempar tasnya pada Laura. Membuat Laura sedikit terhuyung ke belakang.
“Punyaku juga dong!" seru Daren yang tiba-tiba saja juga mendekat ke arah Laura dan melempar tasnya hingga mengenai wajah Laura, membuat kaca mata gadis itu melorot.
Sedangkan Bobby membawa tasnya sendiri. Sungguh Laura sangat kesusahan dengan membawa dua tas ini. Berat sekali, dan ada beberapa buku paket yang harus ia bawa pula. Hingga saat mencapai anak tangga halaman depan sekolah Laura tak sengaja menyandung sebuah pot hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh.
"Akhhh..." ringis Laura.
Membuat ketiga pria itu menoleh dan beberapa siswa lain menertawakannya.
“YAK!! APA KAU BODOH?” teriak Theo dengan marah, bukannya merasa iba dengan Laura namun pria itu justru memarahinya karena ceroboh. Pria itu terlihat kesal karena tas mahalnya terdapat noda di sana. Daren pun sama, pria itu sejak tadi mengumpat pada Laura.
Dengan susah payah Laura mencari kacamatanya yang terjatuh. Terdapat retakan di salah satu kacanya. “Ma.. Maaf, aku tersandung dan tidak hati-hati. Ma.. Maafkan aku,” ucap Laura ketakutan dan mencoba berdiri dengan susah payah.
Ia ingin mengambil tas Theo namun segera di tepis oleh pria itu. Hingga membuatnya terjatuh lagi.
“Sialan! Kau membuat tasku kotor, bodoh!” makinya dengan kesal. Rahangnya terlihat mengeras, membuat Laura susah payah meneguk ludahnya.
“Gadis tak berguna!” umpat Theo dengan kasar. Lalu pergi begitu saja dari depan Laura.
Laura terdiam, tangannya sedikit bergetar ketakutan.
“Mari ku bantu berdiri?” ujar seseorang yang lain, yang tidak ikut pergi bersama Theo dan Daren.
Laura menatap ke arah seseorang di sampingnya itu. Ia melihat Bobby tengah mengulurkan tangannya. Laura menerima ukuran itu dengan ragu-ragu sebenarnya.
“Te.. Terima kasih, Bobby.” Ujar Laura setelah Bobby membantunya berdiri bahkan mengambil bukunya yang berserakan.
Pria itu menatapnya sejenak, membuat Laura merasa kikuk sendiri.
“Obati dulu lukamu, kau tidak bisa terus berjalan dengan kaki yang berdarah seperti itu.” Ucap Bobby setelahnya dan hanya di balas anggukan oleh Laura. Karena memang setelahnya Bobby harus pergi ketika Daren kembali dan menyeret pria itu.
“Yak! Apa yang sedang kalian lakukan? Aku sudah lapar, cepatlah Bobby!" ucap Daren yang menatap sinis ke arah Laura sebelum mereka berdua pergi.
~~~~~
Laura baru saja sampai di rumah yang beberapa bulan ini sudah ia tempati pasca kematian orangtuanya. Gadis itu berjalan sedikit pincang karena luka yang ia dapatkan akibat kecerobohannya sendiri. Meringis sedikit kesakitan Laura mulai berjalan untuk masuk ke dalam rumah besar itu. Penglihatannya sedikit terganggu karena memang satu kaca kacamatanya retak.
"Kenapa kau lama sekali?" ujar seseorang yang tengah memandangnya dengan garang saat ia membuka pintu rumah. Di sana beberapa meter darinya sudah ada Theo yang memandangnya dengan tajam.
Laura menggigit bibir bawahnya, kegugupan dan takut mulai menghantui dirinya kembali.
"Ma.. Maaf, kakiku masih sakit T.. Tuan," ujar Laura sembari meremas ujung rok sekolahnya.
Theo berdecak mendengarnya, ia muak mendengar kata maaf yang selalu terucap dari mulut gadis itu. Ia jadi menyesal telah menyelamatkannya waktu itu, gadis ini sangat tak tahu diri sekali.
"Kau pikir ini rumahmu yang bisa kau datangi sesuka hatimu?" ucap Theo begitu angkuh dan sangat dingin.
Theo berjalan mendekat ke arah Laura dengan sorot mata tajamnya. Mendekatkan wajahnya sejenak lalu berujar, "Kau harus tahu batas mu, sialan!" ujar Theo terdengar pelan namun cukup menusuk bagi siapapun yang mendengarnya.