"Bukan soal itu mas. Bukan karena mas duda. Mas itu terlalu sempurna di mata saya. Saya ini orang biasa mas, saya bukan orang yang baik. Saya ga bisa menjanjikan bisa menjadi ibu yang baik buat Elang. Saya juga rasa ini terlalu cepat. Masih panjang perjalanan yang harus saya tempuh. Belum lagi membahagiakan mamak. Rasanya, hidup saya belum hidup kalau saya belum bisa membahagiakan orang tua saya dengan kedua tangan saya sendiri. Mas paham kan?" Feby membalas genggaman Leindra yang sama hangatnya dengan dirinya. Entahlah, Feby rasa ia juga menjadi demam karena membahas soal ini. "Soal itu kan saya sudah bilang. Kita bisa berkomitmen hingga saatnya kamu siap. Saya akan sedia menunggu kamu sampai kapanpun kamu mau." Kini Feby meragu kembali. "Saya ga bisa paksa buat mas nunggu saya. Kala

