ADC65

1202 Kata
“Iya ga ga, jangan kayak gitu! Gua gamau jadi duda! Beneran gua ga akan mojokin kayak gitu lagi! Gua ga bakal bercanda kayak gitu lagi! Beneran! Gua bener-bener nyesel!” mohon Garvi. “Iya dah serah lu aja! Cape gua! Serah lu aja!” gumam Aurora kesal. Garvi bener-benar menyesal setelah di fikirkan benar juga apa yang di bicarakam oleh Aurora salahnya Garvi tidak berfikir panjang kesana, dan sekarang aurora sangat murka dengan Garvi, Garvi benar-benar tidak tau apa yang harus di lakukanya, akhirnya Garvi membiarkan Aurora berjalan sendirian, Garvi memilih untuk membelikan sesuatu yang mungkin bakal membuat emosi Aurora mereda. ~Place Ganendra~ Ganendra yang sedang sibuk dengan bergelut dengan komputernya memeriksa data-data perusahaan yang sudah lama tidak di periksanya, tiba-tiba datanglah seorang teman karibnya di kantor menghampirinya dan mengajaknya berbincang-bincang,. “Tok ... tok ...!” suara ketukan pintu. “Iya masuk! Siapa?” jawab Ganendra. “Eh bro sini masuk-masuk! Ada apa nih?” tanya Ganendra. “Gapapa bro gimana kabarnya nih! Gua tau lu hari ini ada di kantor! Mangkaya gua mampir kesini!” gumam Edo. “ah lu gimana kabarnya! Sehat!” tanya Edo. “Alhamdulilah baik gua! Lu sih gimana?” ujar Ganendra. “Oh iya lya lu mau minum apa! Biar gua pesenin!” sambung Ganendra. “Ya apa aja deh gua mah! Denger-denger lu katanya bolak balik masuk rumah sakit aja! Dan lu juga udah jarang berangkat ke kantor! Lu sakit apa!” ucap Edo. Untuk beberapa menit Ganendra terdiam ia tidak ingin membuat orang lain merasa khawatir, jadi ia merasa sedikit engan untuk membahasanya, untuk itulah Ganendra memilih mengalihkan pembicaraan. “Ah biasa sakit biasa ga parah kok! Oh bisnis lu gimana kabarnya tuh!” tanya Ganendra. “Oh syukurlah! Ya ga gimana-gimana! Lagi stuck aja! Gua lagi mikirin nih gimana caranya bisa naik gitu kan! Untuk saat ini mah masih stuk, tapi gua khawatir ada penurunan yang signifikat nih!” papar Edo. “Ya lu adain inovasi baru, biar menarik pelangan! Biar ga stuck disitu aja! Ya kalo ada penurunan mah ya wajar kata gua mah! Namanya bisniskan ada naik ada turunya!” ujar Ganendra. “Ya iya sih! Oh iya boleh juga tuh! Yaudah boleh lah nanti gua cobain deh!” kata edo. Keduanya larut dengan obrolannya, di lain tempat Lavina masih mengerjakan tumpukan dokumen yang menumpuk di mejanya dan harus di selesaikan secepat mungkin, sepertinya Lavina akan lembur karena yang memeriksa pekerjaanya kali ini CEOnya langsung, jika tidak di selesaikan dengan cepat akan kena omel habis-habisan. “Huh pekerjaan ku hari ini menumpuk sekali! Kudu lembur nih!” lirih Lavina. Lavina sangat asik dengan pekerjaanya dan ada beberapa orang juga yang ikut lembur bersama dengan Lavina, kini jam sudah menunjukan pukul 10.00 tetapi Lavina belum juga pulang, lalu orang yang di sebelahnya mengajak pulang bersama karena khawatir jika gadis itu pulang sendrian. “Hey Vi, udah selesai belum! Udah jam 10, mau pulang bareng ga?” tawar salah satu rekan Lavina. “Ah iya nih! Masalahnya belum selesai, aduh gimana ya! Duluan aja sok!” balas Lavina. “Emang masih banyak Vi? Mau di bantuin ga Vi!?” tawar salah satu rekan Lavina. “Ga sih sedikit lagi! Boleh sih tapi ngerepotin ga? Bukannya lu harusnya pulang! Nanti di cariin mamah lu!” ujar Lavina. “Gapapa lah kan jarang-jarang bantuinnya juga! Kasian juga lunya cewek pulang sendirian malam-malem takut ada apa-apa!” kata salah satu rekan Lavina. Mereka mengerjakan pekerjaan Lavina bersama-sama, tidak butuh waktu lama, pekerjaanya pun selesai Lavina dan rekanyapun pulang bersama membawa kendaraan masing-masing tetapi rekanya Lavina mengantarkan sampai depan rumahnya. Mereka sampai di depan rumah Lavina, dan Lavina pun pamit masuk ke dalam rumah di lihat oleh rekanya yang memastikan Lavina masuk sampai rumah. “Makasih ya udah nganterin gua! Jadi ngerepotin kan!” ucap Lavina tak enak hati. “Ah ga kok! Biasa aja! Gapapa kan gua yang nawarin!” balas rekan Lavina. “Yaudah sana masuk gih! Udah malem tuh! Nanti di di cariin sama mamah lu!” kata rekan Lavina. “Iya lu juga pulangnya hati-hati! Jangan ngebut-ngebut!” pinta Lavina. Merekapun berpisah disana, Lavina masuk ke dalam rumah dan rekanya pulang kerumahnya dengan selamat, di lain tempat ada Carissa yang sudah menunggu Ganendra pulang dari tadi tapi tak kunjung datang membuat Carissa khawatir akan keberadaan suaminya tersebut. Carissa yang menunggu di ruang tv, merasa gelisah karena suaminya belum juga pulang, padahal jam sudah menunjukan pukul 10.00 malam, Carissa mencoba menghubungi suaminya namun saat ingin menelfon terdengar suara pintu gerbang di buka menandakan ada yang datang, Carissa demgan cepat langsung menghampiri ke depan rumah menyambut suaminya. “Daddy ...!” panggil Carissa. “Kok daddy lama banget sih! Aku nungguin dari sore! Pulang jam segini! Katanya pulang sore! Tapi malah tengah malam!” gumam Carissa. “Ih ya maaf sih! Tadi tuh ada temen! Ngajak nongkrong dulu! Aturan tadi mau pulang pas habis magrib, tapi di ajak nongkrong dulu! Ya enak kalo nolak! Ya jadi ikut deh!” jelas Ganendra. “Ya kenapa daddy ga bilang! Mommy kan khawatir! Kasih kabar tah apa!” gumam Carissa. “Iya iya istriku tersayang! Maafkan suamimu ini! Besok-besok ga gitu lagi deh!” rayu Ganendra. “Iyaudah daddy mau mandi ga! Nanti di siapin air hangat!” ucap Carissa. “Hm boleh deh! Daddy mau ngerelexin tubuh nih! Besok juga daddy siangan aja berangkatnya! Oh iya Aurora gimana kabarny!” tanya Ganendra. “Dia baik kok! Tadi siang nelfon lagi jalan-jalan dia sama Garvi! Oh iya nitip salam juga katanya buat daddy!” jelas Carissa. “Oh iya bener juga! Owalah yaudah syukur lah! Kalo dia happy disana!” ucap Ganendra. Ganendra mandi dan Carissa menyiapkan baju tidur untuk Ganendra, setelah menunggu beberapa menit akhirnya Ganendra selesai mandi dan memakai baju, tidak banyak obrolan di antara Carissa dan Ganendra karena mereka berdua sudah kelelahan dan tertidur lelap sampai pagi. Di sisi lain juga ada Garvi yang binggung mengatasi kemarahan Aurora yang tak kunjung berhenti dari siang sampai sekarang, padahal Garvi sudah melakukan banyak hal untuk membuat emosi Aurora berkurang, tapi semua yang di lakukannya tidak ada hasilnya. Akhirnya mereka berdua tertidur tanpa berbicara sepatah katapun Aurora maupun Garvi, karena Aurora malas meladenin sikap Garvi, Garvi tidur di sofa tanpa selimut, karena tidak berani menganggu Aurora takut membuat Aurora justru semakin marah. Aurora yang melihat Garvi tidak mengatakan sepatah katapun merasa kasihan melihatnya tidur di sofa tanpa selimut padahal cuaca sangat dingin akhirnya memutuskan memanggil Garvi dan mengajaknya tidur bersama di kasur tapi tetap ada pembatas di antara mereka. “Garvi ...!” panggil Aurora. Garvi yang merasa namanya di panggil menyahuti Aurora dengan cepat karena takut jika tidak segara do sahuti hanya akan membuatnya semakin marah. “Iya kenapa Ra!” jawab Garvi. “Sini lu! Dingin kan! Udah sini tidur di kasur aja! Tapi tetep ada pembatas! Jangan sampe ngelewati pembatasnya!” ujar Aurora. “Hm iya deh! Makasih!” cakap Garvi. Setelah mendengar perintah dari Aurora, Garvi pindah ke kasur, untuk tidur bersama dengan Aurora, mereka tertidur tanpa ada obrolan apapun dan posisi saling membelakangin, malam berganti pagi Aurora dan Garvi masih tertidur nyaman di dalam selimutnya namun tanpa mereka sadari, pembatas di antara mereka terlewatkan, karena posisinya sekarang mereka sudah saling memeluk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN