ADC70

1698 Kata
Aurora yang sedang berfikir ada apa dengan Garvi, dan Garvi yang sedang bermain ponsel dengan asik bertindak seakan tidak ada apapun yang terjadi bersikap acuh padahal isi kepalanya sedang berisik memikirkan perasaannya yang tidak jelas, entah rasanya perasaannya sudah mulai berdamai dengan dirinya karena sekarang Garvi sudah tidak lagi memikirkan Aurel atau galau karena Aurel meskipun sesekali masih suka teringat dengan kenangan bersama Aurel namun Garvi tidak lagi merasa sangat sakit hati seperti dulu. Aurora yang merasa tidak enak, sekaligus merasa bersalah karena sudah berbicara kasar kepada Garvi, akhirnya mmemutuskan untuk mengajak Garvi berbicara dan mencoba membujuk Garvi, namun Garvi yang sedang ingin sendiri mengacuhkan Aurora tidak mengubris pertanyaan Aurora. “Garvi ...!” panggil Aurora. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Garvi. “Vi woi ...!” panggil Aurora lagi. Masih terdiam begitu saja. “Garvi Hirawan ...!” panggil Aurora lagi. Aurora yang juga merasa kesal dengan Garvi yang mengacuhkanya begitu saja padahal Aurora sudah dengan baik hati menanyakan ada apa dengan Garvi, karena tidak ada respon apapun dari Garvi akhirnya Aurora bersikap bodo amat dan tidur saja. “Ah yaudah lah mungkin tidur lebih baik!” gumam Aurora. Garvi yang masih bingung, entah apa yang dirasakannya, entah apa yang membuatnya menjadi seperti ini! Akhirnya memutuskan untuk tidur juga daripada harus meladeni otaknya yang tidak singkron dengan hati dan membuatnya sangat kelehan. Aurora tidur dengan selimutnya di kasur yang empuk, sedangkan Garvi tidur di sofa tidak ada selimut atau apapun itu, Aurora yang sedang tertidur terbangun mencari keberadaan Garvi dimana, ternyata saat di liat Garvi juga sudah tidur di sofa dengan keadaan badan meringkuk seperti orang yang kedinginan, Aurora yang merasa kasihan melihat Garvi seperti itu akhirnya membangunkannya dan mengajak Garvi tidur di kasur, karena Selimut hanya ada satu dan mereka harus barengan. Namun saat ingin membangunkan Garvi Aurora teringat Garvi yang sedang merujuk kepadanya, hingga Akhirnya Aurora mengalah memberikan selimutnya kepada Garvi dan membiarkan Aurora memakai jaket lagi. “Oh iya ini orang lagi ngambek! Tadi aja gamau gua panggil! Argh yaudah terpaksa deh selimut buat dia aja!” batin Aurora. Aurora mengambilnya selimutnya di Kasurnya dan meletakan di atas badan Garvi tiba-tiba saja tangannya justru di pegang oleh Garvi dan kemudian langsung membuat Aurora jadi di pelukan Garvi, Aurora sekarang berada di dekapanya Garvi, tidak bisa bergerak sedikitpun melawan tenaga Garvi, jadi Aurora hanya pasrah mendengarkan detak jantung Garvi yang seakan bergerak dengan cepat. “Tidur disini aja! Temenin gua! Gua gamau sendiri!” ucap Garvi. “Hah iya di temenin! Tapi jangan kayak gini juga! Gua gabisa nafas, sesek banget!” tutur Aurora. “Gua lagi butuh kehangatan, dan lu gaboleh kemana-mana! Lu gaboleh inget ya lu itu milik gua!” ungkap Garvi. “Ah lu ini kenapa sih! Keturunan setan apa! Lepas woi ... gua gabisa nafas! Lu mau ngebunuh gua apa gimana ini!” jawab Aurora sambil berusaha melepaskan pelukan Garvi. “Yaudah iya gua temenin lu! Tapi kita tidur di kasur ya! Disini gaenak sempit! Nanti jatoh! Gua gamau jatoh! Sakit!” jawab Aurora. “Ah tapi gua udah nyaman disini! Disini aja kek! Kenapa harus pindah!” keluh Garvi. “Yailah lu mah kebanyakan malesnya! Masa iya harus gua gendong lu! Kan ga mungkin! Lu berat!” jawab Aurora. “Lu mau pindah ke kasur atau gua tinggal ke kasur, bodo amat gua gamau disini sempit!” tegas Aurora. Karena mendengar perkataan Aurora yang mengancamnya akhirnya Garvi mengikuti keinginan Aurora daripada harus tidur kedinginan di sofa. “Hm.. yaudah deh! Lu mah kebiasan! Nganter terus!” jawab Garvi lesu. “Bukannya ngancem, gua mah gamau sempit-sempitan disini!” jelas Aurora. Setelah pindah ke kasur, belum sempat Aurora memberikan pembatas di antara mereka, Garvi sudah lebih dulu memeluk Aurora, Aurora yang di peluk juga ingin melepaskan tangan Garvi namun saat melihat Garvi Aurora merasa iba dan mengurungkan niatnya. Malam sudah berlalu, bulan sudah menyembunyikan kembali dirinya saatnya matahari yang memunculkan sinar mentarinya, karena pagi ini adalah pagi di hari weekend masih banyak orang yang belum bangun dari tidurnya, namun tidak dengan anggota keluarga dari Garvi dan Aurora mereka sudah bangun dan melakukan aktivitasnya seperti biasa meskipun tidak pergi ke kantor tapi mereka bersiap untuk berolahraga. ~Place Manendra~ Mahendra yang sudah berjoging dari pagi-pagi sekali keliling komplek sambil mendengarkan musik menikmati udara sejuk di pagi hari untuk menyehatkan tubuhnya, sedangkan Kayra yang masih tertidur lelap di kasurnya merasa ketidak hadiran suaminya membuatnya terbangun untuk mencari kemana suaminya pergi pagi-pagi sekali. “Papih kok ga ada! Kemana! pagi-pagi buta!” batin Kayra. “Jam berapa ya sekarang!” kata Kayra sambil melihat jam bekerja di sampingnya. Kayra yang tadinya ingin melanjutkan tidurnya, saat melihat jam membuatnya mengurungkan niatnya untuk tidur, Kayra beranjak dari kasurnya dan pergi ke wastafel di kamar mandinya untuk mencuci makannya dan pergi ke dapur. Kayra berjalan ke dapur , entah kenapa membuka kulkas melihat banyak bahan-bahan makanan dan membuatnya ingin memasak, Kayra yang memang jago sekaligus hobi memaksa memutuskan untuk memasak untuk suami. Kayra ingin membuat sate ayam dan ingin membuat cemilan cireng, tidak butuh waktu lama Kayra langsung mengambil ayam di kulkasnya dan merebusnya untuk membuat ayahnya menjadi lembut, setelah ayahnya lembut, kayra memisahkan daging ayam dengan tulang ayamnya, kemudian setelah selesai Kayra memotong kecil-kecil ayam tersebut. Saat Kayra sedang asik-asiknya memasak Manendra sudah selesai dari jogingnya, masuk kerumah dan melihat istrinya yang sedang memasak, sudah lama rasanya tidak melihat Kayra memasak Manendra menghampiri Kayra di dapur, Kayra yang sedang fokus memotong-motong daging ayam tidak sadar akan kehadiran Manendra namun tiba-tiba saja tangan Ganendra melingkar di pinggang kayra dan dagu Manendra di letakan di bahunya kayra sambil menanyakan apa yang di lakukan oleh Kayra. “Papih ih ...!” kata Kayra. “Mamih lagi masak apa?” tanya Manendra. “Lagi bikin sate pih! Papih habis dari mana?” Jawa. Kayra. “oh.. enak dong mah! Habis joging tadi! Mau ngajak masih! Kayaknya masih pules banget jadi papih joging sendiri aja!” jelas Manendra. “Owalah gitu toh! Yaudah sana papih mandi! Nanti tinggal makan!” perintah Kayra. “Ih nanti lah! Mamih mah ngusir mulu! Papih masih mau meluk masih mau meluk mamih, udah lama papih ga liat mamih masak kayak gini! Biasanya kan mamih masak papihnya pergi!” tutur Manendra. “Halah papih ada-ada aja! Yaudah tapi papih tuh bau sana mandi dulu! Keringanan tuh!” ledek Kayra. “Mamih mah ngeledek bae! Orang lagi Mau romantis-romantis juga! Malah di katain! Dah lah ga jadi!” ambek Manendra. “Hahaha yaudah sana mangkaya tuh! Gabisa gerak nih! Gimana coba mamih mau masak! Papih kan mau makan!” gumam Kayra. “Halah mamih mah gabisa di ajak romantis tuh! Yaudah mau papih bantuin ga masuknya!” tawar Manendra. “Udah papih tuh mandi aja sana! Malah ngomong bae! Keringanan tuh! Nanti jadi panu! Wkwkwkwk!” ledek Kayra. “Dah lah salah bae sama mamih mah! Yaudah papih mandi, oh Iya Garvi sama Aurora katanya hari ini pulang ya mih!” cakap Manendra. “Iya pih pulang! Nanti kita jemput yuk! Atau kita main aja kerumahnya Ganendra, biar kumpul disana!” tawar Kayra. “Hmm boleh juga sih! Yaudah papi mau mandi dulu mih kalo gitu!” sahut Manendra. “Iya sok pih! Nanti sekalian papih kabarin ganendranya!” gumam Kayra. Manendra melangkah menjauh dari Kayra dan Kayra yang masih melanjutkan memasaknya, di lain tempat ada Ganendra dan Carissa yang sedang duduk santai mereka sudah sarapan dan tidak ada kegiatan apapun untuk di lakukan, sampai akhirnya salah satu dari mereka membuka suara, namun saat sedang berbincang-bincang santai entah mengapa penyakit yang di derita oleh Ganendra selama ini kumat kembali, Ganendra merasakan kesakitan yang sangat luar biasanya yang tadinya sudah merasa enakan dan terlihat segar bugar, namun sekarang melemah. “Mom, Aurora udah di jalan apa ya! Apa belum!” tanya Ganendra. “Iya udah di jalan dad, duh kayakyanya ada yang udah rindu berat nih!” ledek Carissa. “Hahaha iya lah! Emang mommy ga kangen gitu! Ga kesepian gitu ga ada Aurora, biasanya kalo ada Aurora tuh suasana jadi rame!” tutur Ganendra. “Kangen lah! Apalagi mommy yang dirumah! Kerasa banget malah! Daddy enak pergi-pergi aja pulang-pulang malam! Lah mommy nungguin sampe kering dirumah!” keluh Carissa. “Ya apalagi nanti kalo Aurora udah pindah dad! Gimana coba kita! Sepi banget pasti!” sambung Carissa. “Ya iya sih tapi kan kita berdua tenang lah! Daddy ga akan sering pergi kalo Aurora udah tinggal di rumah sendiri mah!” ucap Ganendra menenangkan. “Iya daddy janji ya! Awas aja kalo daddy bohong! Mommy gamau sendirian!” papar Carissa. “Iya sayangku! Kapan sih daddy bohong!” sahut Ganendra. Di saat mereka sedang asik mengobrol bercanda menikmati kebersamaan mereka, tiba-tiba Ganendra terdiam tidak lagi menyahuti percakapan yang di lontarkan dari mulut Carissa, karena Ganendra menahan rasa sakitnya. Carissa yang tidak mendengar jawaban apapun dari Ganendra membuatnya melihat ke arah Ganendra memastikan keadaan Ganendra, benar saja saat Carissa melihat Ganendra, Ganendra terlihat seperti menahan rasa sakit namun tidak ingin mengungkapkan. “Dad ...! daddy kenapa?” cakap Carissa khawatir. “Ini kepalanya gatau sakit banget! Kumat lagi deh kayaknya!” jawab Ganendra seadanya. “Obat daddy mana! Ga daddy minum!” ujar Carissa. “Yaudah kita rumah sakit aja dad! Tunggu sebentar ya!” sambung Carissa. Carissa bergegas pergi ke kamar dan mengambil kunci mobil kemudian memapah Ganendra ke mobil, Carissa mengendarai mobil dengan buru-buru agar sampai di rumah sakit tepat waktu dan tidak terlambat, karena Carissa sangat takut melihat kondisi keadaan Devandra yang semakin hati semakin menurun kesehatannya. Beberapa saat kemudian Carissa sampai di rumah sakit dan langsung membawa Ganendra ke UGD untuk di periksa keadaan kondisi tubuhnya, Carissa menunggu di luar dengan perasaan tidak tenang, entah mengapa Carissa merasa sangat takut sekali, seperti Carissa merasa akan kehilangan Ganendra selamanya. Dokter juga berusaha keras untuk membantu memulihkan kembali Ganendra yang sedang kritis dan Carissa yang menunggu hasilnya, berbeda dengan Aurora yang justru lagi akur dengan Garvi karena mereka akan pulang, saat ini mereka sudah berada di bandara untuk menunggu jadwal keberangkatan pesawat menuju Indonesia, Aurora merasa sangat senang karena ingin pulang dan tidak sabar untuk bertemu dengan cinta pertamanya, namun entah mengapa ada perasaan takut dan khawatirnya yang di rasakan oleh Aurora. || bersambung ...||
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN