~Place Devandra~
Devandra yang sudah berada di Kantor, sedang melakukan pekerjaanya dengan sangat serius tiba-tiba di panggil oleh direktur untuk membicarakan hal penting yang ingin di sampikan direktur kepadanya.
“Dev lu di panggil di suruh keruangannya!” ucap salah satu karyawan.
“Oh iya tah! Kenapa jeh!?” tanya Devandra dengan polosnya.
“Ya gatau gua!” jawab salah satu karyawan.
“Hmm .. yaudah deh nanti gua kesana sendiri!” ujar Devandra.
“Iya buruan penting katanya!” sahut salah satu karyawan.
Lalu Devandra dengan cepat berjalan menuju ruangan direktur, entah apa yang ingin di sampaikannya membuat Devandra berfikir keras tentang sikap dia akhir-akhir ini adakah kesalahan atau tidaknya Devandra masih mengigatnya dengan rasa gugup yang tak karuan.
“Tok tok ..! permisi pak?!” ucap Devandra.
“Ya masuk ..!” jawab direktur.
“Ada yang bisa saya bantu pak!” tanya Devandra dengan sopanya.
“Silakan duduk ..!” ujar Direktur.
“Terima kasih pak!” tutur Devandra.
“Jadi begini Dev! Karena kinerja kamu sangat bagus! Saya ingin kamu melanjutkan kuliah di luar negri, dan sekalian kamu bisa mengabdi dulu di perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan kita di luar negri!” tawar Direktur.
“Hah ini serius pak!” kata Devandra kaget.
“Iya serius emang sejak kapan saya tuh bohong sama kamu!” ujar Direktur.
“Ga maksudnya ini kesempatan yang sangat bagus pak! Dan ga semua orang bisa mendapatkan ini!” ujar Devandea senang.
“Iya benar! Kamu siap-siapin aja berkas yang seharusnya di bawa, nanti biar saya yang ngomong sama klien kita! Dan masalah kuliah ya kamu nanti bisa pilih sendiri disana! Gaji kamu di sana pun ga kecil kok! Cukup buat makan sama bayar kuliah kamu disana!” jelas direktur.
“Oke baiklah kalo seperti itu pak, saya sangat berterimakasih atas kebaikan anda sudah memberi kepercayaan untuk saya mendapatkan kesempatan beharga ini!” ujar Devandra.
“Oke kalo begitu anda bearti menyetujui kesempatan ini?!” tegas Direktur.
“Kalo saya sih setuju banget pak! Tapi saya harus memberitahu keluarga saya dulu pak!” ujar Devandra.
“Oke baiklah, boleh kamu izin dulu sama orang tua kamu! Saya tunggu sampai besok ya!” ujar direktur.
“Baiklah pak! Kalo begitu saya pamit dulu ya pak!” pamit Devandra sopan.
Devandra dengan hati yang senang keluar dari ruangan direktur, membuat siapa saja yang melihatnya menjadi binggung sebenarnya apa yang membuatnya sangat senang seperti ini, namun Devandra tidak memperdulikan tatapan orang lain terhadapnya.
Devandra kemudian melanjutkan pekerjaan dengan gembira dan sangat semangat, dan tidak lupa memberitahukan kepada Aurora tentang kabar baiknya ini melalu pesan.
~pesan teks~
“ada dimana Ra!” kata Devandra.
“Ada di kantor emang kenapa!?” jawab Aurora.
“Lu tau ga sih! Gua di tawarin buat ke kerja di luar negri sambil kuliah disana!” ungkap Devandra.
“Wah bagus dong! Terus gimana lu ambil ga!” tanya Aurora kepo.
“Iya tau! Udah nanti aja deh! Gua kasih tau lu sore! Gua cerita lebih jelasnya!” ujar Devandra.
“Oke deh!” jawab singkat Aurora.
Setelah memberitahu Aurora Devandra segera melanjutkan pekerjaanya yang sempat tertunda tadi, Devandra mengerjakan dengan cepat dan benar agar Devandra bisa pulang cepat.
~Place Aurora~
Aurora yang sedang mendengarkan dengan serius presentasi dari salah satu karyawannya mengenai iklan baru yang akan di buat minggu ini, merasakan ada getaran dari ponselnya pertanda ada pesan masuk, kemudian dengan cepat melihatnya dan ternyata pesan dari Devandra.
~pesan teks~
“ada dimana Ra!” kata Devandra.
“Ada di kantor emang kenapa!?” jawab Aurora.
“Lu tau ga sih! Gua di tawarin buat ke kerja di luar negri sambil kuliah disana!” ungkap Devandra.
“Wah bagus dong! Terus gimana lu ambil ga!” tanya Aurora kepo.
“Iya tau! Udah nanti aja deh! Gua kasih tau lu sore! Gua cerita lebih jelasnya!” ujar Devandra.
“Oke deh!” jawab singkat Aurora.
Setelah membalas pesan Devandra Aurora kemudian melanjutkan Aktivitasnya, Aurora memperhatikan dengan seksama ide-ide yang akan di sampaikan karyawannya.
Kemudian Aurora menimbang-nimbang ide yang karyawannya jelaskan tadi untuk membuat iklan yang mana yang lebih menarik di mata masyarakat, sampai akhirnya Aurora menentukan salah satu ide karyawannya.
“Oke saya sudah melihat ide yang kalian sampaikan semuanya bagus semuanya menarik, namun saya hanya bisa memilih satu, jadi buat rekan yang belum terpilih jangan putus asa! Jangan merasa berkecil hati! Teruslah berusaha oke! Punya kalian ga di pilih bukan karena jelek kok! Punya kalian bagus semua sebenernya!” ungkap Aurora.
“Kita pakai yang punya Zara ya! Mulai besok kalian atur ya, mulai besok harus segara di buat! Oke! Nanti saya besok dateng agak siangan kalian lakukan sendiri dulu aja oke! Oh iya ada komplen ga dari pihak klien?!” jelas Aurora.
“Oke buk! Ga kok bu! Untuk saat ini belum ada komplen!” jawab karyawan Aurora.
“Hmm oke baiklah kalo begitu saya akhiri sampai disini ya!” pamit Aurora.
Setelah berbicara panjang lebar dengan karyawannya Aurora pun pamit pergi, Aurora menuju ruangannya memeriksa kembali data-data dan laporannya apakah ada yang harus di kerjakan dadakan atau tidak.
Saat selesai melakukan itu semua, Aurora keluar dari kantornya menuju rumahnya, Aurora ingin menganti baju dan kemudian bertemu dengan Devandra sebentar kemudian Aurora kembali kerumah sakit.
~Place Garvi~
Garvi yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, sekarang sedang merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangannya sambil menatap ke atap langit-langit di ruanganya, sebenernya Garvi tidak ingin mengigat apapun namun ingatanya tentang mantan kekasihnya melintas di kepalanya.
Namun Garvi mengabaikanya begitu saja tak ingin membuat dirinya semakin bersedih. Garvi memutuskan untuk sadar dari lamunannya dan mencoba keluar ruangan mencari sesuatu yang bisa di makannya dan menghilangkan sejenak tentang perasaanya.
Saat ini Garvi sudah berada di sebuah cafe yang dekat dengan kantornya, lalu Garvi memesan kopi yang biasa Garvi beli.
“Kak kopi lattenya 1 ya!” ujar Garvi.
“Iya kak di tunggu ya!” jawab pelayan caffe
Setelah memesan kopi Garvi duduk di dengan jendela dengan arah pandangan memandang keluar jendela, sampai Garvi tak menyadari bahwa kopi pesanannya telag sampai.
“Kak ini kopi latte 1 ya!” ucap pelayan dengan ramah.
krik krik krik
“kak ..!” panggil pelayan kembali.
“Ah oh iya makasih!” ucap Garvi.
Garvi meminum kopi sendirian dengan sambil menikmati kesendriannya tanpa memikirkan apapun, namun saat sedang sangat menikmatinya datang lah 2 orang yang sepertinya Garvi mengenalinya! Kemudian Garvi langsung memalingkan pandangan matanya, namun usahanya sia-sia, karena orang tersebut berhasil mengenali Garvi.
Dua orang itu adalah Aurora dan Devandra, Garvi tak ingin di lihat oleh kedua orang itu, karena pasti menganggu waktu kesendirinya, namun Devandra sangat mengenali badan dan gerak gerik sepupunya ini.
“Eh bang Garvi ..!” panggil Devandra exited.
“Eh Devandra hehe!” jawab Garvi biasa saja.
“kok abang sendirian sih!” tanya Devandra.
“Ya gapapa emang mau berapa orang! Sekampung gitu!” sambut Garvi.
“Ye yaudah sih biasa aja kok ngegas!” jawab Devandra.
“aku mau gabung boleh ga nih!” ujar Devandra.
“Kalo ga boleh yaudah nanti gua cari tempat lagi!” sambung Devandra lagi.
“Ya gabung aja kalo mau mah! Kalo ga juga ya gapapa! Serah lu aja deh!” ucap Garvi.
“Kok lu ngegas bae sih! Lu punya masalah hidup apa sih sebenernya!” protes Devandra.
“Iyaudah dev kita pindah aja! Abang lu rese! Kayaknya gamau di ganggu! Dah biar aja dia tuh sendirian jadi kambing conge!” protes Aurora.
“Ga mba saya bercanda kok mba malah marah sama saya!” ujar Garvi.
“Udah lah kita disini aja biar lu kenal ra sama abang sepupu gua!” sambut Devandra.
Devandra pergi memesan kopi di ikitun dengan oleh Aurora yang berada di belakangnya.
“Lu ngapain ikutin gua!” ujar Devandra.
“Ya gapapa terus gua kudu kemana, kalo bukan ikut lu!” jawab Aurora datar.
“Ya biar aja disana sama abang gua!” tutur Aurora.
“Dih ya gamau! Ga kenal, lu mau gua kayak kambing conge gitu! Diem-dieman sama orang! Udah jelas mending gua ikut lu!” protes Aurora.
“Yaudah lu mau pesen apa!” ujar Devandra.
“Gua latte ajah kayak biasa!” jawab Aurora.
“Kak latte 2 ya!” pesan Devandra.
“Iya kak di mohon di tunggu ya! Pesananya nanti di antarkan!” tutur pelayan.
Setelah memesan Devandra kembali ke tempat duduk yang tadi di dudukin oleh abangnya, namun saat kembali Garvi tidak terlihat berada di tempat dudukny, mejanya sudah kosong hanya tertinggal gelasnya saja itupun sedang di bereskan oleh karyawan caffe.
“Lah kemana tuh orang udah ilang aja!” jawab Devandra.
“Lah iya sih tadi kan disini kok udah ilang aja!” sahut Aurora.
“Iya aneh banget sih dia, gabiasanya begitu kok malah gitu sih!” jawab Devandra.
“ Udah positif tingkhing aja mungkin dia tuh tadi ada urusan mendadak! Jadi pergi!” tutur Aurora.
“Yaudah yuk, kita duduk aja!” ajak Devandra.
“Duduk disini nyonya udah saya siapin bangkunya!” sambung Devandra.
“Eh terus elu gimana tuh, katanya mau cerita tentang kuliah lu! Sistemnya gimana tuh! Lu di kuliahin apa gimana!” tanya Aurora.
“Iya gua tuh di tawarin kuliah! Tapi kuliah sendiri bayar sendiri! Cuman gua di kasih kesempatan buat kerja di kantor yang kerja sama dengan kantor gua!” jelas Devandra.
“Oh gitu! Tapi lumayan sih! Kan bisa kerja sambil kuliah! Kapan lagi lu mau kayak gitu! Di kantor lain mah belum tentu! Tapi kok bisa sih! Yang lain ada juga yang dapet kesempatan kayak lu!” papar Aurora.
“Gatau juga tuh! Setau gua mah cuman gua doang! Ya lagi rezeki gua bae itu mah, ya kan lumayan gua nambah pengalaman, nanti gua lama disana 3 tahun an! Lu jangan kangen yak!” sindir Devandra.
“Hm gitu ya, ga lah emang sejak kapan gua kangen sama lu! Yaudah semangat lah! Terus lu berangkatnya kapan!” kata Aurora.
“Ya secepatnya, tapi gua mau izin sama nyokap bokap gua dulu! Di iziin apa ga nya tuh!” ujar Devandra.
“Bearti kalo di iziin lu langsung berangkat gitu!” ungkap Aurora.
“Ya ga langsung berangkat juga, paling seminggu proses kan kudu bikin visa sama paspor dulu!” ucap Devandra.
Saat sedang menikmati waktu berdua berbincang-bincang terdengar dering ponsel Aurora, pertanda ada yang menelfon Aurora, Aurora langsung meraih ponsel yang ada di tasnya dan melihat siapa yang menelfon dan teryata itu adalah Carissa.
“Hallo Aurora!” sapa Carissa.
“Iya mom, kenapa!” sahut Aurora.
“Kamu dimana?! Ini udah jam 3 katanya pulang kesini siang!” tanya Carissa memastikan.
“Iya sebentar lagi aku kesana mom!” jawab Aurora.
“Yaudah mommy titip beliin buah-buahan sama makanan buat tamu ya!” pinta Carissa.
“Oke deh mom! Tunggu aja ya!” jawab Aurora singkat.
||bersambung ...||