Menit berganti menit perlahan matahari mulai menunjukkan sinarnya dan membangunkan Garvi yang tertidur di caffenya, lalu Garvi bergegas untuk pulang untuk berganti pakaian karena harus berangkat ke kantor milk papihnya lagi.
Aurora, Devandra, dan Aurel sudah berada di kampus karena hari ini mereka melakukan ujian kenaikan semester dan merupakan semester-semester yang menegangkan, mengharukan dan membuat sedih sekaligus, karena mereka tidak akan lama lagi waktu mereka di kampus.
Seperti biasa Devandra, Aurora dan Aurel nongkrong di kantin sebelum jam masuk di mulai, mereka membeli sarapan dan belajar mengulas pelajaran semalem yang mereka baca. Bel masuk pun berbunyi menandakan mereka harus bergegas meninggalkan kantin dan pergi ke ruangan masing-masing.
Keadaan Ganendrapun sudah membaik setelah melakukan kemoterapi, Ganendra sudah jarang merasakan sakit kepala yang sangat menyiksanya dan hubungan Garvi dan Aurel pun semakin membaik keluarga Aurel sudah sangat senang dengan Garvi.
Perusahaan yang Garvi kelola semakin berkembang begitupun dengan Garvi yang semakit sibuk karena kerja keras dia, ayahnya menaikan jabatannya menjadi direktur utama perusahaan Naraskin begitupun dengan perusahaan pertelevisian milik Ganendra yang sampai saat ini masih di pegang penuh oleh Ganendra.
Semua berjalan mulus setelah 1 bulan kedepan dan sebentar lagi Aurora, Devandra, Aurel akan lulus kuliah dan mereka akan memulai jalan hidupnya di dunia kerja pahit manisnya kehidupan akan dirasakan ketika mereka terjun kedua kerja, serta segala rencana yang di lakukan.
Pagi ini suasana hati Ganendra sangat gembira, Ganendra mengadakan acara makan malam bersama Manendra dan Kanaya untuk memperjelaskan bagaimana kelanjutan perjodohan antara Garvi & Aurora.
Garvi yang juga sedang sibuk dengan tumpukan berkasnya dengan berbagai macam jenis dokumennya membuatnya sangat lelah hari ini, padahal masih pagi sudah menumpuk pekerjaanya, dan Garvi harus menyelidiki kasus penyeludupan uang di kantornya, karena sudah beberapa hari kebelakang semenjak pengangkatan Garvi menjadi direktur utama selalu saja ada masalah yang timbul.
“Pak ini berkas yang bapak cari! Dan ada pembatalan kontrak yang sudah di setujui oleh kedua belah pihak!” jelas karyawan.
“Lho kok gitu! Tiba-tiba ngebatalin kontrak atas dasar apa!” tanya Garvi.
“Saya Gatau pastinya pak! Mereka bilang kalo perusahan kita tidak memberikan feedback yang baik! Jadi mereka memutuskan kontrak sepihak!” jelas karyawan.
“hm... yasudah! Silahkan keluar dan besok adakan meeting sama pihak pemasaran dan kepala cabang setiap toko yang di buka!” ujar Garvi.
“Siap pak!” ucap Karyawan.
Setelah berbicara dengan Karyawan Garvi melanjutkan tugas-tugasnya untuk mencari tau siapa yang berkhianat dan dalang dari kekacuan ini, pasti ada yang tidak beres fikir Garvi, masih banyak teka teki yang harus Garvi selesaikan.
Di tempat lain Aurora yang sudah menyelesaikan ujian akhirnya merasa lega karena sudah selesai bertempur dengan kertas-kertas yang memusingkan, Aurora keluar lebih dulu dari Aurel sehingga Aurora harus menunggu Aurel dan Devandra sahabat-sahabatnya.
Setelah menunggu beberapa lama Devandra akhirnya keluar lebih dulu dengan wajah ceria dan langsung memegang tangan Aurora tanpa sadar, tanpa fikir panjang lagi Devandra mengajak Aurora untuk pergi dari kampus dan mengajaknya ke pantai unruk melepaskan segala kepenantan yang telah mereka laluin selama beberapa minggu ini.
“Ra hayo ikut gua!” ajak Devandra axiated.
“Entarlah tunggu Aurel kasian nanti nyariin!” ucap Aurora.
“Udah gausah di pikirin dia mah! Ntar juga dia mah di jemput pacarnya! Udah hayo sih gua udah penat banget sumpah dah!” renggek Devandra.
“Lunya mau kemana!” tanya Aurora.
“Aaaaa udah ikut gua aja!” renggek devandra lagi sambil menarik tangan Aurora.
Aurora yang tidak bisa menolak permintaan sahabatnya pun mengiyakan dan membiarkan Devandra menarik badanya dan mereka pergi dengan cepat ke pantai menghabiskan waktu bersama melihat sunset yang indah.
“Ayo naik!” ajak Devandra.
“Iya sabar dulu kenapa!” ucap Aurora.
“Ga niat pegangan gua gitu!” ucap Devandra.
“Ga ah males ngapain njir!” jawab Aurora ketus.
“Njir gitu amat! Yaudah kalo jatuh jangan salahin gua ya!” tantang Devandra.
“Ga bakal jatoh gua mah tenang!” jawab Aurora santay.
“Yaudah gua mau ngebut ah!” ledek Devandra.
“Eh ga ada otaknya lu! Bilang aja kalo mau di peluk!” gerutu Aurora.
“Idih apan!” ujar devandra sambil menjalankan motor miliknya.
Aurora dan Devandra sampai di mall untuk pergi menonton dan makan berdua karena sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama, mereka menonton film romance berdua dan tidak lupa membeli popcron.
“Ra lu tumben sih mau nonton film romance! Pengen lu ya romantis-romantisan sama gua!” canda Devandra.
“Kepala lu! Dah lah apa kata lu aja! Males gua ngeladenin orang pea!” jawab Aurora datar.
Aurora dan Devandra pun menonton bioskop begitupun dengan Garvi dan Aurel yang teryata juga sedang menonton, Garvi yang sangat penat dengan segala bentuk permasalahan di kantornya memutuskan untuk merilexkan fikiranya.
Jika Aurora dan Devandra saling mengejek berbeda dengan Aurel dan Garvi yang bermesraan, meskipun mereka berada di satu ruangan yang sama tidak satupun dari mereka menyadari kehadiran mereka satu sama lain.
Film pun di mulai semua orang di dalam bioskop menikmati acaranya dengan tenang dan sunyi begitupun dengan Aurora,Devandra, Garvi dan Aurel. Namun selalu ada tingkah jail Devandra sehingga membuat Aurora kesel setengah mati dibuatnya.
Devandra yang memengang telunjuk Aurora lalu memasukan kedalam mulut Devandra dengan niat ingin mengigit jari-jari mungil milk Aurora, hal ini membuat Aurora menepuk dengan keras badan Devandra dengan sekuat tenaga dan mengomel tanpa henti.
“Eh lu ga ada otaknya ya! Itu jari gua kotok b**o! Ngapain lu masukin ke mulut elu! Gila lu ya! Bau b**o! Lu kalo mau begitu sama cewek lu aja sono! Jangan sama gua jijik gua!” omel Aurora.
“Hahaha bodo gua maunya sama lu jeh! Emang sengaja gua mau bikin lu kesel!” ucap Devandra.
“Dah lah ogah gua nonton sama lu lagi!” ambek Aurora.
“Idih ada yang pundung nih! Cup cup nanti gua beliin es krim deh!” bujuk Devandra.
“Bisa gua beli sendiri!” ketus Aurora.
Garvi dengan Aurel menikmati film dengan tenang sambil menyenderkan kepala di pundak Garvi dengan tangan berpegangan dan sesakali saling menatap satu sama lain dengan tatapan penuh cinta mereka, karena sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama.
“Yang! Makasih hari ini udah ngempetin waktu buat aku!” ucap Aurel.
“Iya sayang! Aku juga kangen kok sama kamu! Kamu mau apa habis ini yang!” tanya Garvi.
“Aku mah bebas! Aku tau kamu sibuk banget! Apalagi kan di kantor kamu banyak banget masalah!” tutur Aurel.
“Iya aku tuh cape! Gini mulu hari-hari ga paham! Kenapa ya semenjak aku naik jabatan kok kayak ada yang ga suka!” jelas Garvi.
“Kayak ada yang mau ngejatuhin aku! Setiap hari selalu ada kasus baru! Kasus lama aja belum terpecahkan!” keluh Garvi.
“Yang sabar ya yang! Aku tau kamu itu kuat! Kamu itu hebat! Dan kamu itu mampu lewatin semua ini!” ucap Aurel menyemangati.
“Iya semangat mah semangat! Tapi kan pening juga! Lelah aku mana caffe aku juga lagi turun! Kayaknya aku kudu ngadain give away deh! Di caffe biar dia naik lagi!” ucap Garvi.
“Yaudah nanti aku kan libur! Aku bantuin kamu ngelola caffe dulu gimana!” usul Aurel.
“Emang kamu gapapa yang!” tanya Devandra.
“Ya gapapa! Emangnya kenapa coba!” ujar Aurel.
“Yaudah yang boleh deh! Kamu bantuin dulu ya!” pinta Garvi.
“Kamu habis ini mau kemana yang?” tanya Garvi.
“Kemana aja sayang! Aku mah ngikut kamu!” tutur Aurel.
“Yang kita perawatan yuk! Kita spa, terus perawatan rambut, perawatan wajah!” aku pengen memanjakan tubuh! Udah lama juga ga di kasih give ini badan!” jelas Garvi.
“Yaudah yuk! Dengan senang hati!” jawab Aurel axited.
Film pun selesai semua orang satu persatu mulai keluar dari ruangan termasuk Garvi, Aurel, Devandra dan Aurora mereka, Devandra, Aurora melanjutkan perjalanan mereka setelah selesai nonton film
Di kediaman rumah Aurora sudah ramai, dengan persiapan makan malam keluarga Manendra dan Ganendra hanya 4 orang yang menikmati makan malam yaitu Manendra, Kanaya,Carissa, dan ganendra.
Suasana yang sejuk di malam hari mereka mengadakan BBQ an sambil berbincang-bincang asik dengan mengenang masa-masa pacaran mereka satu sama lain dan mensyukuri atas nikmat dan rasa sakit saat berjuang dulu.
“Hey Ganendra inget ga lu! Jaman kuliah waktu pas pertama kali PDKT sama Carissa gimana! Gua jadi saksi bisu cinta kalian berdua! Gila ga nyangka ya eh jodoh!” ucap Manendra.
“Ye ya inget lah! Gimana ga ingetnya gua dapetin cewek yang di idam-idamkan satu kampus! Cewek famers gila! Dan ya gua ga nyangka juga! Dia dulu mau sama gua! Padahal gua dulu b***k! Tapi lama juga gua dapetin dia gila! Di tarik ulur kek layangan! Untung sayang!” tutur Ganendra.
“Weh hebat ya Ganendra, beruntung Carissa dapetin Ganendra yang pantang menyerah!” ledek Kanaya.
“Eh Manendra juga hebat! Bisa setia dia wkwkwk! Dulu mah dia buayakan! Beuh ceweknya banyak banget dimana‐mana! Namanya pacaran tuh ya gabisa punya 1 pacar! Banyangin aja minimal ya 2 dia punya pacar! Tapi pas sama Kanaya dia kek siput jadinya!” jelas Carissa.
“Iya padahal mah mah ga nyangka juga! Awalnya suka sama siapa! Deket sama lu tuh ya tadinya mau deketin temen lu! Eh gataunya malah cinlok! Hebat sih! Tapi setia dia pas sama lu berenti dia jadi buaya!” tutur Ganendra.
“Weh bang jago dia dulu ya! Ini nih di makan udah jadi! Hayo kita santap!” ajak Kanaya.
“Udah lah anggep aja rumah sendiri! Padahal emang rumah kalian ya! Gua aja yang gatau diri!” gumam Kanaya.
“Eh ngomong-ngomong gimana! Perjodohan anak kita! Sebentar lagi Carissa selesai kuliah!” ujar Carissa.
“Oh iya ya! Nunggu skripsi aja kan ya! Jawab Kanaya.
“Iya udah enaknya gimana, dikasih tau sekarang atau nanti mereka!” tanya Kanaya.
“Kalo di kasih tau sekarang nanti ngeganggu Aurora ga sih, kan harus fokus bikin skripsi!” gumam Manendra.
“Iyaudah nanti ajaa! Kalo udah selesai ya skripsinya!” usul Ganendra.
“Eh iya sakit lu gimana Ganendra?” tanya Manendra.
“Ya alhamdulilah sih membaik, tapi ya gabisa sembuh!” jelas Ganendra.
Di rumah Ganendra sedang melakukan BBQ an sampai tengah malam, namum Aurora yang masih di mall mengajak Devandra untuk pulang karena Aurora sudah sangat lelah, dan ingin membaringkan tubuhnya ke kasur teryaman miliknya.
||Bersambung....||