ADC40

1783 Kata
Garvi yang di pukul oleh Aurora secara tak sengaja terdiam dengan wajah tanpa ekspresinya dan berkata. “Di panggil noh!” ujar Garvi. Betapa kagetnya Aurora saat tau orang yang di pukulnya tadi adalah orang lain, membuat Aurora dengan cepat meminta maaf. “Aduh maaf maaf!” ucap Aurora tak enak hati. “Mangkaya neng, jangan suka melamun jadi ga denger kan kalo di panggil!” tutur Garvi. “Iya maaf maaf namanya orang lagi melamun terus di bisikin gitu ya reflek!” jelas Aurora. Aurora menghampiri Carissa yang berada di dalam ruangan bersama Ganendra, Manendra dan Kayra di ikuti dengan Garvi yang berjalaan di belakang Aurora. “Sini Ra!” ajak Carissa. “Iya mom ada apa!” tanya Aurora. “Om tante,” sapa Carissa sambil tersenyum. “Ya gapapa sini aja gabung kamu lagi ngapain disana sendirian!” ujar Carissa. “Oh iya mom!” jawab Aurora dengan ramah. “Oh iya ini cemilan sama minumnya!” Ujar Aurora sambil menyuguhkan minuman dan cemilanny!” “Duh Aurora rajinnya! Makasih!” sanjung Kayra. “Hehehe...!” senyum tak enak Aurora. Setelah beberapa saat mereka terdiam dan akhirnya Ganendra memulai pembahasan antara perjodohan Aurora dengan Garvi, dan tentunya hal ini membuat Garvi dan Aurora terdiam tidak tau harus berbuat apa. “Aurora!” panggil Ganendra. “Iya dad! Ada apa?!” sahut Aurora. “Aurora mau ga nurutin maunya daddy!? Satu kali ini aja! Ini keinginan daddy dari lama!” pinta Ganendra. “Iya daddynya tuh mau minta apa?! Sebisa mungkin Aurora turitin kok! Ngomong aja dad!” ucap Aurora meyakinkan. “Daddy minta kamu menikah dengan pemuda itu yang duduk di kursi deket Om manendra dan Kayra!” pinta Ganendra sambil menunjuk ke arah Garvi. Aurora tidal mampu menjawab permintaan dari daddynya, Aurora terkejut dengan permintaan daddynya hanya bisa menenguk air ludah tanpa berkata apapun. Di ikutin dengan Garvi yang tidak tau menau soal ini, Garvi tau dia akan di jodohkan namun dipikirannya tidak akan secepat ini, Garvi pun tidak berfikir bahwa akan di ajak ke tempat wanita yang di jodohkannya. Namun setelah melihat wajah wanita yang akan di jodohkan dengannya ini, rasanya Garvi tidak begitu asing dengan wajahnya, Garvi pun berusaha mengingat isi kepalanya dan akhirnya benar saja gadis ini adalah gadis yang pernah magang di kantornya. Dan pernah dia antarakan kerumahnya juga karena kakinya terkilir teryata dunia sesempit itu ya, kita tidak akan tau siapa orang yang akan di takdirkan untuk kita, bermimpi membangun masa depan dengan orang lain namum mewujudkanya juga dengan orang lain. Tidak ada jawaban apapun dari Aurora, sehingga Carissa yang membuka pembicaraan menanyakan kembali jawaban Aurora yang sudah di tunggu oleh semua orang di situ, sampai Garvipun menunggu jawaban itu dan beeharap Aurora menolaknya. “Ra jawab, pada nungguin jawaban kamu!” bisik Carissa yang berada di sebelah Aurora. “Kalo memang dengan ini bisa membuat daddy senang, dan ini yang daddy mau, Aurora akan menuruti keinginan daddy!” ucap Aurora dengan nada ihklasnya. “Ga ada yang bisa Aurora lakuin lagi selain ini, dan semoga ini cukup membuat daddy bahagia, meskipun Aurora gatau dia siapa dan bagaimana jadiny ke depannya nanti!” desis Aurora dalam hati. Meskipun ada perasaan tak terima Aurora berusaha tidak menunjukannya, dan berusaha menerima kenyataan yang harus dia hadapi sekarang, akan hidup bersama orang yang tidak dia cintai sama sekali. “Kalo kamu gimana? Garvi?!” tanya Manendra. “Hah? Garvi ya?” ujar Garvi yang spontan. “Ya kalo Garvi mah ikut aja pih! Garvi terserah papih aja!” ucap Garvi. “Iya pih!” jawab Garvi. “Jadi kalo gitu! Kalian mau kapan? Mau tunangan dulu atau langsung nikah!” tanya Kayra. “Aduh mih kenapa buru-buru banget!” ucap Garvi. “Garvi kan belum siapin apa-apa!” sambung Garvi lagi. “Ga ini mah kaliannya maunya gimana? Mau langsung nikah atau tunangan dulu, kalo mau tunangan dulu ya tunangan dulu! Kalo nikah ya nikah gitu!” cakap Carissa. “langsung nikah aja lah mom! Takut daddy ga punya umur nanti!” ujar Ganendra. “Hush daddy kok gitu banget ngomongnya!” bantah Aurora. “Yaudah langsung nikah ya!? Kalian setuju ga!” tanya Manendra. “Hm.. kalo Aurora terserah Garvinya aja om!” jawab Aurora. “Sutt ... !?” kode Garvi. “Garvi jadi kalian mau bagaimana!” ujad Kayra. “Aduh mih Garvi tuh gatau! Udah lah terserah mamih, papih, om sama tante aja deh!” serah Garvi. “Yaudah bulan depan ya! Kamu dari mulai besok udah harus pesen-pesen, dan harus pergi ke butik juga, mempersiapkan 3 minggu cukup kan! 1 minggunya buat kalian berdiam diri dirumah!” jelas Manendra. “Hah papih yakin!” ucap Garvi. “Hah om serius secepat itu!” sambung Aurora setelah Garvi selesai. “Kenapa kalian ga siap!” ujar Ganendra terbata-bata. “Ga siap kok siap om!” jawab Garvi. “Ya siap-siap aja sih dad! Cuman kan!” tutur Aurora. Setelah pembicaraan ini selesai dan di tetapkan bulan depan mereka akan menikah, Garvi dan Aurora di berikan waktu berbicara berdua sekarang, mereka di suruh keluar untuk pengenalan satu sama lain terlebih dahulu. “Yaudah kalo gitu! Gimana kalo kalian berdua berjalan-jalan ke depan sebentar untuk pengenalan!” usul Kayra. “Iya bener sebentar lagi kan kalian akan menikah! Anggap lah ini pendekatan kalian!” sambung Carissa. “Udah buruan ra sana! Ajak gih Garvi malah diem aja!” perintah Manendra. “Hm iyaudah iya, ayo Ra kita ke depan aja!” ajak Garvi. “Iya!” jawab Aurora singkat. Garvi dan Aurora berlalu keluar ruangan mereka berdua berjalan dengan jarak yang agak jauh! Auror berjalan di depan dan Garvi di belakang Aurora. Manendra, Ganendra, Carissa dan Kayra merasa lega, kini akhirnya mereka sudah berbicara dan tidak mempersiapkan saja acarnya, betapa senangnya Ganendrs mendengar kabar ini dan tidak sabar menunggu 1 bulan ke depan. “Ah syukurlah ga ada penolakan dari mereka ya!” ujar Carissa membuka obrolan. “Iya bener untuk ga ada pemberontakan! Gatau deh tadi kalo ada yang gamau gimana!” ucap Kayra khawatir tadi. “Iya ya semoga mereka bisa menerima ini dengan baik! Semoga mereka dewasa dan semoga berjodoh sampai akhir hayat!” harapan Carissa. “Iya meskipun tidak saling mencintai semoga rasa cinta akhirnya tumbuh, dan keluarganya menjadi keluarga yang harmonis!” sambung Kayra. “Aduh sebentar lagi kita jadi besan nih!” canda Manendra. “Hehe bener juga! Semoga semua berjalan dengan baik ya!” tutur Ganendra. Jika orang tua mereka merasa lega dengan ini, tidak dengan Aurora dan Garvi mereka masih berdiam diri, hingga akhirnya Garvi yang mengalah sebagai cowok yang mengajaknya berbicara terlih dahulu. “Ra .. ! tungguin!” pinta Garvi. Aurora mendengar namun tidak ingin memperdulikan Garvi hingga akhirnya Aurora berpura-pura tidak dengar, hingga Aurora akhirnya sampai di taman dan duduk, di susul oleh Garvi yang duduk di sebelahnya. “Ra ...!” panggil Garvi. “Kenapa! Ada yang mau di sampaikan?!” tanya Aurora. “Ga ada sih! Tapi ya gaenak aja! Kayak orang musuhan!” ucap Garvi. “Ya gua gatau kenapa akhirnya jadi begini!” lirih Aurora. “Gua ga paham kenapa akhirnya gua harus sama orang yang gua kenal aja ga!” sambung Aurora. “A ...! tapi kayaknya gua ga asing ya sama lu! Lu bukannya bos di tempat gua magang dulu ga sih!” tutur Aurora sambil mengingat. “hm... iya bener! Saya juga sama pas liat kamu kayak ga asing! Namanya juga kayak ga asing!” jawab Garvi. “Saya juga gatau kenapa cinta saya berakhir sama kamu! Padahal saya punya pacar! Kamu tau ga bahkan saya tadi berharap kamu menolaknya!” pilu Garvi. “Mana bisa saya nolak permintaan daddy saya, bagi saya dia segalanya buat saya! Apalagi ngelihat dia yang sedang sakit gitu!” ucap Aurora. “Aaa begini saja! Saat sudah menikah nanti saja tidak akan memperdulikan kamu! Silakan saja kau lanjutkan hubunganmu bersama pacarmu! Jangan hiraukan saja! Dan jalinin saja kehidupan kamu seperti senormalnya!” rintih Aurora. Garvi yang melihat ketulusan cinta Aurora kepada daddynya membuat Garvi merasa terharu bagaimana bisa dia bahkan tidak memikirkannya, bahkan tidak ingin juga merusak kebahagian Garvi sehingga membuat Garvi menjadi terharu dengan ketulusanya. “Hmm  ... ga lah! Aku ingin tapi kalo aku seperti itu justru aku yang jahat!” ujar Garvi. “Ga lah kan ga ada yang tersakiti! Jadi ga jahat!” jelas Aurora. “Kok lu aneh sih! Orang mah gamau di selingkuhin! Kok lu malah nyuruh gua selingkuh!” tangkas Garvi. “Ya emang kenapa!” jawab Aurora polos.  “ya aku kam cuman gamau ada yang tersakiti aja! Emang salah!” pikir Aurora. “Lu udah pengalaman ya!” ujar Garvi. “Ya gua tau rasanya hidup sama orang yang ga lu cintai! Dan kita juga disini g saling cintai jadi selaw aja! Keep calm oke!” cakap Aurora. “Hmm ... tulis nomor lu nih! Kali aja besok di suruh apa kek susah gua ngehubungin lu kalo gatau!” ungkap Garvi. “Ets ... tunggu bukanya abang ini, abangnya Devandra ya!” sela Aurora sambil berfikir. “Iya dia ade sepupuku!” jawab Garvi singkat. “Jangan kasih tau Devandra deh kalo gitu ya!” pinta Aurora. “Iya jangan takut dia kepikiran! Dan oh iya aku besok mau keluar sama Devandra! Kalo disuruh sama bokap atau nyokap kamu atau saya nanti tinggal kirim pesan aja!” sambung Aurora. “Hmm .. emang kenapa, bukanya nanti dia bakal tau juga ya!” papar Garvi. “Iya tapi masalahnya Devandra tuh mau keluar negri! Dia tuh di tawarin kerja sambil kuliah di luar negri! Kalo dia tau ini! Kasian nanti dia kepikiran! Nanti malah ga jadi dia kesana! Kasian itukan impian dia!” jelas Aurora. “emang hubungan kamu sama dia apa! Kok segitunya!” ucap Garvi penasaran. “Sahabat udah 5 tahun an! Ya namanya juga sahabat! Gua juga kepikiran kalo dia ada apa-apa! Mangkaya jangan kasih tau dulu! Apalagi kan dia tau gua mau nikah sama orang yang ga gua kenal! Pasti dia khawatir lah gimana kehidupan gua nantinya! Meskipun lu abangnya kan tapi tetep aja, dia lebih tau sifat gua!” papar Aurora. “Hm oke deh! Kok gua belum di kasih tau ya! Dia mau keluar negri!” ujar Garvi. Setelah asik mengobrol Aurora mengajak Garvi kembali ke ruangan karena sudah cukup malam dan Aurora sudah lelah ingin istirahat, lagian Garvi harus pulang besok kan akan menjadi hari yang sibuk bagi Aurora dan Garvi. Setelah berjalan beberapa menit mereka sampai keruangan dan Garvi pun segera mengajak pulang karena sudah malam, dan besok harus melakukam aktivitas lagi. “Dad .. mom .. om .. tante!” sapa Aurora. “Udah tah, habis kemana aja kalian!” tanya Carissa.     ||bersambung ...||  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN