Nuga berdiri mematung di depan pintu rumahnya. Hari sudah semakin larut dan Nuga sudah berdiri sejak dua jam yang lalu. Tidak ada niatan beranjak dari tempat berdirinya saat ini. Bukan hanya karena tidak punya niatan, namun juga karena dia tidak berani melangkah jauh masuk ke dalam rumahnya. Nuga tahu jika di dalam sana ada seorang wanita yang mungkin saja sedang menunggu kepulangannya. Menunggunya sejak hari masih terang tadi. Nuga merasa malu dan tidak enak hati jika harus bertatapan muka dengan wanita itu. Sudah banyak kesalahan yang dia perbuat hingga Nuga tidak berani menampakkan wajahnya. “Aku harus kemana?” tanya Nuga pada dirinya sendiri. Dia berjalan mundur satu langkah. Sebenarnya hatinya ingin masuk ke dalam rumah, namun akalnya mencegahnya untuk melakukan hal itu. Hingga

