Tanpa Arah

1240 Kata

Malam semakin larut. Jalanan mulai sepi. Bisingnya kota sudah mulai surut. Lampu-lampu ditenda pedagang kaki lima sudah mulai mati. Sepasang kekasih yang menghabiskan malam sudah mulai pergi. Namun, tidak dengan Bela. Dia masih betah duduk di kursi kayu, memilih menyendiri dengan pikiran yang bercabang-cabang. Memikirkan nasibnya, nasib anaknya, dan juga nasib rumah tangganya. Suaminya memang tak berbohong, namun kejujuran suaminya lebih menyakitkan. Jika diminta untuk memilih, lebih baik Bela tidak tahu kemana suaminya sekarang, apa yang dilakukan suaminya sekarang dari pada harus menerima kenyataan pahit yang menyesakkan d**a. Pergi dan berlari tidak menyelesaikan masalah. Memejamkan mata dan tidur pun hanya menunda ingatan menyakitkan saja. Karena begitu matahari terbit maka sakit itu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN