Gendis menangis sejadi-jadinya setelah sampai di dalam kamar, hatinya berantakan sama seperti kondisinya saat ini. Tas sekolah ia lemparkan begitu saja, rambutnya berantakan akibat mengunakan ojek dari sekolah. Tangisan yang ia tahan dari sekolah kini pecah saat berada di dalam kamar. Ia sungguh kecewa akan sikap Ella padanya, padahal baru kali ini Gendis mau membuka diri untuk menjalin pertemanan dengan seseorang, terutama perempuan. Trauma akan teman perempuan yang menikam dari Belakang berawal dari cerita mamanya dan tante Aisya. “Menyebalkan!” teriak Gendis melemparkan bantal ke lantai. Keributan di dalam kamar membuat sang mama yang tengah berada di dapur terusik, ia berjalan mendekati kamar Gendis, mendengarkan semua

