Ella tersenyum senang saat melihat namanya tertera pada list calon perwakilan perlombaan akuntansi dari sekolahnya. Ia kembali menatap mading sekolah, membaca dengan seksama nama-nama yang akan menjadi kompetitornya. Ekspresinya tiba-tiba berubah saat menemukan nama Gendis, teman satu bangkunya di urutan lima Ellas. “Hey!” Langit menepuk pundak Ella, “Sedang apa?” tanyanya. Ella tersenyum, “Hampir saja aku mati!” kekehnya. “Lihat, namaku ada diurutan lima” tunjuk Ella bangga pada mading dihadapannya. Langit mulai memperhatikannya dengan seksama, lalu bertepuk tangan membuat Ella tersenyum malu. “Astaga, betapa hebatnya Gendis! Dia masuk lima Ellas besar!” pekik Langit begitu senang, namun berbanding terbalik dengan Ella yan

