bc

JANNAH WE ARE IN LOVE, Kurebut Kembali Surgaku

book_age16+
584
IKUTI
5.9K
BACA
alpha
love-triangle
family
goodgirl
inspirational
CEO
drama
sweet
campus
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Kisah perjuangan Jannah, seorang Ibu rumah tangga yang harus berjuang mempertahankan mahligai rumah tangga, serta bisnis keluarga yang hampir terpuruk. Godaan untuk memilih pria lain dan meninggalkan suami yang sedang bangkrut, frustasi dan sering melarikan di kelab-kelab malam, begitu kuat, karena mantan kekasih kembali hadir menawarkan surga yang terlihat lebih indah.

chap-preview
Pratinjau gratis
THE RENDESVOUZ
Suasana sebuah kafe di bilangan Kemang—salah satu sudut metropolitan yang tampil cantik berhiaskan pendar lampu merkuri jelang senja—mulai gegap gempita. Top forty musik 90’an mengalun ceria. Hip-hop, reggae, disco, hingga sweet romance menghibur para pengunjung berkostum senada—white and jeans—petang itu. Seorang pria, berbahu kukuh, dengan rahang masih kehijauan sisa cukur, duduk diam-diam di sudut kafe. Tak terpengaruh oleh suasana ceria di sekitarnya. Ia hanya asyik menekuri rokok di jarinya dan black coffee yang mulai dingin “Andrei ….” Seorang wanita bertubuh sintal, mengenakan rok jeans belel dan kemeja putih polos serta Converse putih menghampiri dari belakang, bergelayut manja sambil menutup kedua mata pria itu dengan telapak tangannya. “Hai, Sit …, lo makin gendut aja gue liat,” kata pria yang disapa Andrei itu santai, sambil melonggarkan dekapan jemari lentik harum Sita pada kelopak matanya. “Woi, rese lo … semok, tau! Sexy dan montok, bukan gendut! Anak udah tiga, neh,” kata Sita sambil menggoyang-goyang pinggulnya, jenaka. “Lemes banget lo, nunggu si ehem ya?” Andrei tak menjawab, hanya mengepulkan asap rokoknya dengan tak acuh. Tapi wajahnya sontak terlihat lebih bersemangat, kala sebuah suara yang begitu ia rindu menyapa, “Assalammualaikum Sita, Andrei.” Perempuan yang baru datang itu langsung memeluk Sita, dan bicara ramai satu sama lain. Sekejap kemudian, “Andrei?” Ia tangkupkan kedua telapak tangannya di d**a. “No shaking hands, please ….” “Bukan mahram?” Andrei balik menangkupkan tangan di d**a, menghormati salam pertemuan dengan perempuan bergaun panjang dan berkerudung lebar di hadapannya. Gerakan halus ekspresi wajah Andrei mengisyaratkan, ‘ada waktu?’ Jannah hanya tersenyum, “Aku ketemu teman-teman yang lain dulu ya, Ndrei.” “Siap, Boss ...!” jawab Andrei, berusaha melucu untuk cairkan suasana canggung di antara mereka. Perempuan anggun itu berlalu dari hadapannya. Gamis lebarnya berdesir kala sneakers putihnya melangkah, seiring kibaran kerudung lebarnya yang berwarna putih. Andrei hanya mendesah. ‘Ia begitu berubah,’ bisiknya dalam hati. Lalu pria itu kembali asyik tenggelam dengan kopi dan kepulan asap rokoknya, di antara canda tawa dan iringan musik yang menghentak. **** Andrei melangkah santai di parkiran kafe yang mulai lenggang. Tiba-tiba ia dibuat kaget oleh suara keras tak jauh darinya. “Jannah, pulang!” Brak …! Suara pintu mobil dibanting, dan menyusul kemudian suara teriakan tertahan perempuan yang ia kenal. “Iya, Mas. Ini, kan, aku juga udah keluar. Emang janjian jemputnya jam segini, kan?” “Dasar perempuan nakal! Jam segini masih aja nongkrong di kafe. Gak tau diri!” maki pria yang menurut taksiran Andrei berdasarkan suaranya berperawakan tinggi besar. “Tapi, Mas, aku kan udah minta izin jauh-jauh hari untuk hadir di acara reuni SMA ini. Mas juga, kan, waktu itu kasih izin? Malah Mas setuju antar dan jemput. Kalau gak diamanahi jadi seksi acara, aku pun keberatan hadir lho, Mas.” Andrei bergegas mendekat. Ia mengkhawatirkan Jannah yang sepertinya sedang ada dalam masalah. “Ada apa, ya, Pak?” tanyanya dengan suara bergetar, menahan marah. Ia terganggu mendengar suara perempuan dari masa lalunya terisak. “Jannah, are you okay?” Andrei beralih kepada Jannah. Kian terusik perasaannya melihat mata bening itu tampak berkaca-kaca. “Kebetulan saya seksi keamanan di acara reuni ini, Pak. Alhamdulillah, acara berjalan lancar. Hampir 70% lebih alumni hadir, termasuk guru-guru kami.” “Hah, sudahlah! Jangan ikut campur urusan orang!” hardik pria bertubuh tinggi besar itu. Menyeret Jannah masuk ke dalam mobil, membanting pintunya dan segera berlalu dari parkiran kafe dengan kecepatan tinggi. **** Ruang keluarga bergaya minimalis berukuran mungil tapi tertata rapi itu mendadak panas oleh makian Jagat. “Jadi, tadi rendezvous sama mantan pacar, hah?! Happy?” tanyanya sinis. Ia hempaskan tubuh di sofa warna gading. Jannah menatapnya. “Mas, tadi rame-rame. Its just a reunion! Reuni, Mas. Ratusan orang hadir. Mas juga udah lama kasih izin, kan?” Alih-alih menjadi tenang, diberi penjelasan seperti itu membuat Jagat semakin panas. Plak! Jagat menampar pipi istrinya keras. Jannah limbung. Tubuh mungilnya terhuyung, tapi tak sampai jatuh ke lantai. Ia beruntung masih dapat menahan tubuhnya di dinding. Sebuah pertarungan yang tak imbang, antara pria bertubuh besar mantan atlet taekwondo nasional, melawan perempuan biasa bertubuh mungil. Ketika menahan tubuhnya yang terbentur dinding, Jannah menyenggol kotak jahit, isinya berhamburan keluar. Dipungutnya cepat benang, jarum yang berserakan di lantai, serta … gunting jahit! Intuisinya bergerak cepat, meraih gunting yang berdenting jatuh ke lantai keramik itu. Mata guntingnya berkilauan diterpa sinar lampu gantung. Ia mengangkatnya, dan bahu Jagat yang begitu saja membelakanginya setelah menampar, masih dalam jangkauan tangannya yang menggenggam gunting tajam tersebut. “Tuhan …,” bisiknya, menguatkan hati. Satu … dua …. tiga …. Jemarinya hendak mengayunkan gunting ke punggung lebar itu. Namun sedetik kemudian, “Mama … temani aku bobo, ya, sambil ceritain tuan putri dan pangeran.” Gadis kecil berbalut piyama pink menghambur, memeluk Jannah. Seketika gunting tajam terjatuh dari genggaman. Berdenting ke lantai, meluncur pasrah ke kolong sofa mungil di dekatnya. Jagat pun berlalu tak acuh, melenggang ke kamar tidur utama, seolah tak terjadi apa-apa sesaat lalu. Ia tak menyesali apa yang baru saja ia perbuat pada Jannah. Seketika Jannah beranjak merangkul si kecil, menggendongnya dari ruangan itu menuju kamar tidur, sebelum peristiwa tadi mengganggu alam berpikir putri kecilnya. **** Prince & Princess of Charming Dulu, Jagat adalah belahan hati Jannah. Ia dengan segenap hati memuja jiwa raganya. Pemuda itu tampan dengan sosok tinggi, d**a bidang dan rahang yang terlihat tegas. Ia sang idola kampus, pengurus senat yang disegani, sekaligus atlet taekwondo peraih medali perunggu di tingkat Sea Games dan pastinya jadi idola para gadis-gadis di kampus. Alih-alih menerima cinta gadis-gadis yang menggodanya, Jagat hanya menjatuhkan cinta pada Jannah seorang. Gadis itu bersedia menerima pinangannya, tak lama setelah mereka lulus kuliah. Siapa pun yang pernah mengenal mereka di masa lalu, pasti menganggap mereka berdua adalah pasangan ideal. Relationship goals banget. Menikah di usia relatif muda—usia 25 tahunan—tak lama setelah menggondol gelar sarjana. Keduanya dinobatkan sebagai pasangan muda yang jadi panutan para calon mertua memilih calon menantu, membuat banyak orang cemburu. Bagaimana tidak? Begitu lulus, Jagat langsung fokus menekuni bisnis ayahnya, Papa Laundry & Dry Clean yang telah memiliki gerai di pelbagai area strategis di jantung kota Jakarta. Lima tahun pertama, Papa Laundry & Dry Clean bak berlian yang telah diasah sempurna dalam genggaman Jagat. Di lima tahun pertama, bayi-bayi mungil pun lahir. Diva dan Dewa, meramaikan rumah mungil mereka. Jannah? Meski lulus kuliah dengan nilai c*m laude, gilang gemilang, ia tak memilih berkarir atau menjalani bisnis bergengsi. Melainkan dirinya tetap menjadi ibu rumah tangga, tapi tetap jadi panutan dan tolok ukur lingkungan sosialnya. Bila Jannah liburan akhir tahun ke Singapore bareng suami dan bayi-bayi mungilnya, minimal teman-teman mereka akan lakukan hal yang sama pada liburan akhir tahun berikutnya. Bila Jannah iseng melakukan perawatan tubuh seperti`` facial, luluran serta totok wajah di salon muslimah dekat rumah, teman-teman dekatnya perlahan mulai ikutan mengantre di salon eksklusif tersebut. Rumah mungil mereka pun diam-diam menjadi trendsetter di kalangan teman-teman dan tetangga dekat. Ketika Jannah mengganti dinding rumahnya dengan cat hijau, mendadak pelan-pelan rumah pasangan muda di sekitarnya pun berwarna hijau dalam beragam tone warna. Meski menjadi trendsetter di kalangan para mamah muda menengah ke atas, namun Jannah tak terlalu menyadarinya, atau tepatnya tak mempedulikan hal itu. Ia hanya sibuk mengurus dan menyayangi keluarga kecilnya. ****

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.6K
bc

Kali kedua

read
220.8K
bc

TERNODA

read
201.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
83.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook