BIDADARI BERJILBAB

1507 Kata
Lorong SMA Cakrawala mendadak heboh dengan Nadera yang berjalan beriringan dengan Tyas. Semua orang berbisik-bisik membicarakan meraka keduanya. Liat deh anak baru jalan sama Nadera. Iyah tuh anak baru nggak tau apa ya kalau Nadera itu pembunuh. Gue rasa tuh anak baru nggak tau deh. Kasian yah tuh anak baru. Tyas mendengar itu hanya tersenyum. Sementara Nadera menunduk rambut panjangnya menutupi wajahnya. Ketika merasakan sedikit usapan lembut di bahu kanannya. Nadera sedikit lega. Entah mengapa dia senang berteman dengan Tyas. Mereka sampai di kantin, di kantin mereka juga menjadi sorotan para murid SMA Cakrawala. "Kamu tunggu bentar ya saya belikan minum dulu," kata Tyas. Nadera hanya mengangguk. Tyas berjalan ke stand makanan. "Bu air minumnya satu." Perempuan itu mengambil satu botol Air putih. Ia menyerahkan kartu di dalam saku bajunya. Ibu penjual di kantin itu mengambil kartu itu, ia sandingkan dengan alat yang sudah di sediakan. Sambil menunggu pembayaran, dua orang perempuan menepuk pundak Tyas pelan. "Lo anak baru, lo nggak tau ya kalau si Nadera itu seorang pembunuh?" ucap perempuan berambut pendek. Tyas menatap mereka bergantian. "Iya! nanti lo jadi korban selanjutnya mau?" sahut perempuan berambut pirang di sampingnya. Tyas tersenyum manis. "Heh kenapa lo senyum? s***p nih bocah," kata perempuan pirang itu. "Kalian lucu aja gitu," ucap Tyas. "Lah Lucu di kira kita topeng monyet kali May," ucap Perempuan berambut pendek. "Sttt... Diem San!" Maya berkata demi kian. "Apa yang menurut lo lucu?" tanya Maya. "Kaliam bilang Nadera pembunuh? emang kalian udah cari tau apa yang sebenarnya terjadi sama Nadera? Bahkan sepertinya kalian, korban gosip deh. Bukan gimana-gimana, kalau memang Nadera pembunuh saya nggak takut. Karena mati udah di atur sama Allah. Sesama orang muslim, harus tolong-menolong. Dera muslim dan saya muslim. Apa salahnya saya menarik Dera dari kubangan hitam? itu wajib untuk saya menolongnya, " ucap Tyas sembari tersenyum. "Aku ke sana dulu. Oh iya, jangan pernah menilai orang berdasarkan covernya, apa lagi menilai orang berdasarkan kabar yang kalian dengar. Karena yang kalian pikir belum tentu baik dan begitu pula sebalik nya. Putih belum tentu bersih, hitam bukan berarti Kotor, Assalamualaikum...." Tyas pergi meninggalkan kedua perempuan itu diam di tempat. Semenatara itu ada seorang perempuan yang duduk di meja tak jauh dari ketiga nya, dan juga bersama ke kasih nya tersenyum mendengar itu. "Bidadari berjilbab...," gumam seorang perempuan. Lelaki di sampingnya menoleh ketika mendengar suara itu. "Kenapa?" tanya Perempuan itu. "Kamu tadi bilang apa? Dan siapa yang kamu maksud Bidadari Berjilbab?" tanya lelaki itu. "Anak baru itu..." ia menunjuk dengan dagunya. Membuat sang kekasih mengalihkan pandangan ke arah dua perempuan yang sedang duduk  tak jauh dari mereka. "Dari pertama aku liat dia aja. Aku tau di itu wanita special. Di jaman sekarang apa ada wanita seperti itu. Kebayakkan wanita itu bisa menangkap sesuatu hal berdasarkan orang-orang sekitar. Semacam gosip, terkadang wanita juga menjadi sasaran terempuk untuk, menyebar luas kan suatu masalah tanpa tau gimana berita itu sebenarnya. Aku salut sama dia, dia bahkan mencari sumber masalah sebelum menilai seseorang. Langga, kamu tau kan Nadera temen satu kelas aku. Udah di kucilin dari beberapa lama?" Airlangga menatap kekasihnya lalu mengangguk. "Dan 1 setengah tahun itu bukan waktu yang sebentar. Aku nggak bisa bayangin gimana jadi dia," ujar Stella. Langga menarik tangan kekasihnya. "Dan aku nggak akan biarin kamu kayak dia Stel." Ia tersenyum hangat. Stella sangat beruntung bukan memiliki Langga, senyum Stella memudar ia menatap kekasihnya yang sedang tersenyum manis kearahnya. "Kenapa?" tanya Langga menyadari perubahan ekspresi kekasihnya. Stella tersenyum seraya menggeleng kepalanya. Ia tidak ingin Langga mengkhawatir dirinya. Ia takut kehilangan Langga. Lalu bagaimana jika suatuh hari nanti Langga dengan nya justru malah akan berpisah? "Hey!" Tepukan lembut di pipi Stella membuat Stella tersadar dari lamunannya. "Kenapa?" tanya Langga sekali lagi. "Aku nggak pa-pa Langga," ujar Stella meyakinkan kekasihnya. *** Kota Pontianak, memang tidak terlalu macet. Tapi entah mengapa sore ini jalanan kota Pontianak, sangat macet membuat seorang pemuda dengan kaca mata hitam itu mendesah kesal. "Ada apa Pak kok tumben macet?" tanyanya "Nggak tau Mas, sepertinya ada kecelakaan di depan," ujar Supir taksi itu. "Masih lama ya Pak?" tanya lelaki itu beberapa menit kemudian. "Enggak kok Mas, itu mobil ambulancenya sudah jalan," ucap Pak supir. Lelaki itu bernafas lega. Ia mengalihkan pandangan nya ke luar jendela. Matanya menangkap sosok perempuan sedang menuntun nenek tua yang buta untuk menyebrang jalan. Mobil berhenti lantaran lampu merah. Ia kembali melihat perempuan itu, perempuan dengan seragam SMA. Dan jilbab yang menjulur menutupi dadanya. Wajahnya sangat cantik, dan sangat menyejukkan. Belum lagi kedua iris matanya berwarna hijau, yang bening kala sinar matahari menyinari kedua bola matanya. "Bidadari, berjilbab..." gumamnya seraya tersenyum. **** Langga dan kedua temannya sedang duduk di pinggir lapangan. Mereka mengatur nafasnya, setelah bermain basket. Meskipun matahari sangat panas siang ini tapi tak menyurutkan mereka untuk bermain. Bagi mereka, main basket di siang bolong seperti ini menjadi tantangan tersendiri. "Lang, emang bener Pak Tomi nggak masuk siang ini?" tanya lelaki yang duduk di sebelah kanan Langga. Lelaki itu bernama Kelvin. "Enggak. Kata si Bono sih enggak," jawab Langga santai. "Gerah euy, kantin kuy," ajak cowok di sebelaah Kelvin. Doni, cowok itu bernama Doni. Ketiga lelaki itu pergi menuju kantin. Sampai di kantin. "Bu Uci yang cantik jelita, babang Kelvin datang nih. Mau beli jus apelnya ya bu!" seru Kelvin membuat Bu Suci pemilik warung kantin menggelengkan kepalanya. "Beli apa ngutang loh!" Doni menjitak kepala Kelvin. "Eh. Ralat Bu, ngutang maksudnya!" seru Kelvin lagi. "Bu saya jus alpukat satu, kaya biasanya aja," ucap Langga duduk si salah satu kursi. "Saya biasa Bu, jus jeruk jangan pakek jeruk," ucap Doni dengan polosnya. Kini giliran Kelvin yang menjitak kepala Donj. "Woy ogeb mana ada jus jeruk nggak pakek jeruk!" "Ada dong, " ujar Doni santai membuat Langga dan Kelvin mengerutkan keningnya bingung. "Apa?" tanya keduanya. "Jus jambu," ucap Doni seraya tertawa. Membuat Kelvin dan Langga menatap kesal kearah Doni. Kelvin pun menyumpal mulut Doni dengan tissu. Membuat Doni tersedak. "Sialan lo Vin!" seru Doni tidak terima. "Langga!" Suara cetar membahana itu memecah keheningan kantin.Terlihat seorang perempuan cantik nan mungil itu berjalan kearah Langga dan teman-temannya. "Rhea? Kapan lo pulang daru Singapore?" tanya Langga. Perempuan ber-bandana hijau itu duduk di depan Langga tepatnya di sebelah Kelvin. "Kemarin," ucapnya. Dengan santai menyeruput jus alpukat milik Langga yang belum di minum. "Tadi, Bunda Nayang nelpon lo pulang bareng gue. Dan kita di suruh mampir ke toko ambil kue Bunda Nayang," ucap Rhea. Rhea dan Langga merupakan sahabat sedari kecil. Orangtua meraka juga bersahabat membuat mereka cepat akrab, Rhea sering memanggil Nayang dengan sebutan Bunda. Itu sedari kecil. Begitu pula Langga memanggil Mami Rhea (Anna) dengan sebutan Mami Nana. "Ya nanti pulang bareng lo deh. Pacar lo gimana?" "Bian? Bian ada rapat osis. Dan gue juga udah izin kok sama dia. Santai aja, kita selingkuh bentar," ucap Rhea lalu tertawa keras. "Dih! Kek Langga mau aja sama lo, Re!" sahut Kelvin si tukang julid. Rhea mengibas-ngibaskan rambutnya di udara. "Please deh Vin! Gue kan cantik. Ya kali Langga gak mau sama gue!" Tak..... Langga menjitak kepala Rhea. "Gak usah ngaco! Pulang sana ke kelas lo!" Rhea memajukan bibirnya sebal. "Ingat ya! Pulang bareng gue!" "Iya! Nanti gue tunggu di depan sekolah," ucap Langga. "Gue mau ke kelas dulu. Babay Lalang!" Rhea pergi meninggalkan Langga dan kedua temannya. Lalang adalah nama panggilan Rhea kepada Langga dulu sewaktu kecil. Dulu, Rhea sangat menyukai Langga tapi setelah Bian datang di hidupnya membuat perempuan itu menghapus perasaannya. "Gila-gila sahabat lo yang ono emang gila Lang," ucap Kelvin setelah Rhea pergi. Sementara Langga hanya acuh dan meminum jus miliknya. Yang tadi diminum oleh Rhea lebih dulu. *** Bel SMA Cakrawala berbunyi. Tyas memasukan buku-bukunya kedalam tas. Mentari berjalan menuju meja Tyas. "Yas, emang bener ya? Berita tantang lo deket sama Nadera?" tanya Mentari. Gadis berkacamata itu. Tyas menengok ke arah Mentari sahabatnya. "Iya. Emang kenapa, Dera baik kok." "Tapi, kalau lo di apa-apain sama dia gimana?" tanya Mentari, Tyas tersenyum mendengar ucapan Mentari. "Dera nggak jahat kok. Kalian itu salah paham." Tyas berdiri bersiap untuk pergi dari kelas. "Tungguin gue Yas!" ucap Mentari. "Lo mau kemana? Gerbang kan lewat sana," ucap Mentari setelah berada di samping Tyas. "Mau ke kelas Dera," ucap Tyas. Tyas kembali melangkahkan kakinya kearah kelas Dera.  Mentari sungguh bingung dengan sahabatnya itu. Ia menatap kepergian Tyas. Tidak ikut Tyas yang malah berjalan ke kelas Nadera. *** Dilain tempat perempuan dengan bandana hijau itu sedang menunggu seseorang. "Haduh, Lalang mana sih lama banget." Tak lama sebuah mobil berhenti di sampingnya. "Lama!" serunya lalu membuka pintu mobil. "Gue curiga deh, jangan-jangan lo yang minta sama bunda biar pulang sama gue. Iya kan?" ucap Langga menatap curiga Rhea yang sudah duduk di sebelahnya. Rhea memukul lengan Langga. "Enak aja! Coba nanti lo tanya sama Bunda deh!" Langga memegang tangannya yang di pukul oleh Rhea. "Sakit tahu!" "Salah sendiri nuduh-nuduh gue!" ucap Rhea tidak terima. Langga acuh, ia pun melajukan mobilnya. Untuk ke toko kue milik keluarga Rhea. Beberapa menit kemudian... Mereka sampai di depan toko milik keluarga Rhea. Sebenarnya, toko itu adalah toko roti namun dalam toko tersebut juga ada cafenya. Jadi bisa buat nongkrong juga. Keduanya turun dari mobil. Dan masuk kedalam toko tersebut. Pelayan-pelayan di sana sudah menyambut kedatangan Rhea. Sementara Langga duduk di salah satu kursi cafe. Mata Langga menatap sekitar hingga ia melihat seorang perempuan. Perempuan berjilbab hijau army, itu berhenti di pinggir jalan. Perempuan itu membawa sebuah keranjang. Langga semakin mengerutkan keningnya. Apa yang sedang di lakukan oleh perempuan itu? Dalam batinnya bertanya-tanya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN