Tyas melangkah di koridor utama SMA Cakrawala bersama Mentari Sahabat barunya. Senin pagi terasa cerah, banyak siswa maupun siswi yang sedang berlalu lalang.
"Yas, kemarin gue kesel banget." Mentari Sedikit menghentakkan kakinya.
"Emang kenapa? kok kamu bisa kesel?" tanya Tyas.
"Kemarin gue jalan-jalan ke mall. Sama sepupu gue, eh lo tau gue di tabrak sama cowok resek," ucap Mentari sedikit kesal.
"Cowok? dia nabrak kamu?" tanya Tyas. Mentari menganggukkan kepalanya.
"Sumpah ya! jangan lagi gue ketemu sama tuh cowok resek!" seru Mentari.
"Udah lah Tar, nggak boleh kayak gitu. Siapa tau dia nggak sengaja nabrak kamu," ucap Tyas menasehati Mentari.
"Iya mungkin dia nggak sengaja. Tapi tetep aja gue kesel," balas Mentari. Yang masih saja kesal.
"Udah yuk, ke kelas bentar lagi bel upacara kan bunyi," kata Tyas dan Mentari hanya mengangguk. Mereka berjalan menuju kelas mereka.
***
Sudah berapa menit yang lalu pelajaran Sejarah sudah berlangsung. Tyas sedikit melirik lelaki di sebelahnya yang sedang fokus pada buku paket di depan mereka.
Pak Syukron berjalan masuk kedalam kelas. Setelah beliau izin untuk keluar tadi. Dan memerintahkan muridnya untuk membaca buku paket terlebih dahulu.
"Baik anak-anak kalian sudah membaca Bab 4 ka? Sekarang kalian buka halaman 75!" perintah Pak Syukron.
Semua murid menuruti perintah pak Syukron."Di situ ada tugas, buatlah makalah tentang proses masuknya agama-agama di Indonesia. Dan kehidupan sebelum agama-agama itu masuk kedalam Indonesia. Bapak minta sama kalian kerjakan, tugas itu. Satu bangku satu tugas. Dan tugas di kumpul hari Rabu."
Tampak beberapa murid mengeluh kesal. Tugas makalah adalah tugas paling menguras tenaga. Yah, walaupun tugas di kerjakan secara berkelompok oleh teman sebangku.
"Kita kerjain di mana tugasnya," tanya Langga. Kepada Tyas.
Tyas mendongak kearah Langga iris mata hijaunya menatap iris hitam milik Langga. "Terserah kamu, mau dimana," jawab Tyas.
Langga menaikan satu alisnya.
"Kalau gitu di rumah gue aja," ucap Langga.
Tyas hanya mengangguk setuju.
"Tugasnya mau di kerjain kapan?" tanya Tyas.
"Besok pulang sekolah," jawab Langga.
Tyas berpikir kalau mengerjakan tugas di rumah Langga. Itu artinya ia akan bertemu dengan Nayang dan Aya. Bunda serta adik Langga yang tempo lalu membeli semua kuenya.
"Lo kenapa ngelamun? Besok, pulang sekolah bisa kan?" tanya Langga.
Tyas sadar dari lamunannya. Ia menatap Langga kaget. Langga mengerutkan keningnya. "Eh iya bisa kok," jawab Tyas.
Tak lama bel sekolah berbunyi membuat semua murid berhamburan keluar. Mentari menghampiri meja Tyas.
"Yas, kantin yuk," ajak Mentari.
"Saya nggak bisa deh Tar, soalnya saya mau ke perpus. Cari bahan buat makalah besok," ucap Tyas menolak ajakan Mentari.
Mentari mengembuskan nafasnya kasar. "Yah, lo tenang aja kan lo sekelompok sama Langga. Bingung-bingung banget sih. Kan Langga pinter, gak lo kerjain juga dia bakal ngerjain."
"Nggak bisa gitu Tar. Bagaimana juga kita satu kelompok harus kerja semua lah," ucap Tyas menyangkal ucapan Mentari.
"Ya udah deh kalau begitu gue ke kantin dulu. Nanti lo bisa susulin gue," ujar Mentari. Gadis berkaca mata itu meninggalkan Tyas sendiri di kelas. Tak lama kemudian Tyas pergi meninggalkan kelas menuju Perpustakaan.
***
Saat ini Tyas berjalan di koridor sekolahnya. Ia berjalan menuju kelasnya setelah pulang dari perpustakaan. Tangan mungilnya menenteng buku tebal yang ia dapat dari perpustakaan.
Langkahnya terhenti di depan gudang sekolah. Ia mendengar isak tangis seorang perempuan. Tyas mengerutkan keningnya bingung.
"Masa sih ada hantu...," gumamnya.
Suara isak tangis itu masih terdengar.
Ia yakin suara itu berasal dari dalam gudang sekolah. Ia berbalik arah menuju pintu gudang.
Tyas memegang ganggang pintu dengan Rasa penasaran. "Bismillah....." gumamnya lalu membuka pintu tersebut.
Tyas kaget ketika melihat seorang siswi sedang duduk mengangis.Dengan langkah lebar Tyas menghampiri siswi itu.
"K.... Kamu kenapa?" tanya Tyas.
Siswi itu mendongak menatap Tyas.
"Siapa lo! Gue minta lo pergi dari sini" ucap perempuan itu mengusir Tyas.
"Kamu kenapa?" tanya Tyas. Perempuan itu menatap Tyas sinis.
"Jangan sok perduli!" ucap perempuan itu dengan suara datarnya.
Tyas menghela nafas. "Kamu bisa menceritakan semuanya kepada saya. Kalau pun saya tidak bisa membantu kamu. Setidaknya, sedikit demi sedikit beban kamu akan hilang."
"Halah. Gue nggak percaya sama lo. Lo tuh sama kayak orang-orang di luar sana yang cuma menganggap gue sampah," ucap perempuan itu tersenyum sinis.
Tyas menggelengkan kepalanya. Lalu mengusap bahu perempuan di depannya. Perempuan itu mendongak melihat Tyas.
Tyas pun memeluk tubuh bergetar itu. Membuat perempuan yang ada dalam pelukan-nya mengeluarkan air mata yang malah membasahi kerudung putih milik Tyas.
"Kamu muslim?" tanya Tyas
Perempuan itu hanya mengangguk di pelukan Tyas. "Sekarang kamu istighfar sebanyak-banyaknya dalam hati kamu. Aku jamin setelah itu pasti rasanya tenang dalam hati kamu."
Tidak ada jawaban dari perempuan itu. Setelah beberapa menit, Tyas membiarkan tubuhnya di peluk oleh perempuan di depannya. Tyas tersenyum melepas peluknya. Ia melihat perempuan itu sedikit tenang.
"Laa Tahzan Innallaha ma'ana. Jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita," ujar Tyas Tulus lalu mengusap bahu perempuan itu. Membuat perempuan itu tersenyum menatap Tyas.
***
"Jadi nama kamu Nadera?" tanya Tyas kepada perempuan itu. Perempuan itu menganggukkan kepalanya. "Terus kenapa kamu ada di gudang sekolah?" tanya Tyas lagi.
'Huft' Nadera menghela nafas beratnya. Perempuan itu menatap Tyas di depan nya.
"Apa tadi kamu mau coba bunuh diri?" tebak Tyas. Nadera diam, menimbulkan kecurigaan dalam benak Tyas.
"Der? Kamu gak mau jawab pertanyaan aku?" ucap Tyas merasa tidak ada jawaban dari Nadera.
Nadera menatap Tyas, lalu mengangguk.
"Astagfirullah..... Kamu nggak harus ngelakuin hal itu Der. Itu tindakan yang sangat di benci Allah," ucap Tyas.
"Gue udah capek. Gue udah capek hidup..." ucap Nadera lirih dari nada suaranya terdengar serak.
"Kamu bilang apa? lelah, capek. Bahkan orang yang meninggal pun, ingin hidup kembali Der!" ucap Tyas menghentikan sebentar ucapannya."Masih ada Allah yang bisa bantu kamu. Allah menguji kamu supaya kamu tambah kuat. Nadera mungkin saya memang baru kenal sama kamu, tapi saya nggak mau kamu, saudaraku terjerumus dalam lingkaran hitam. Lari dari masalah nggak bakal menyelesaikannya. Hadapi, tetap istiqamah di jalan Allah."
"Tadi lo bilang apa? saudara? gue aja baru kenal lo! Dan lo gak kenal siapa gue!" ujar Nadera.
Tyas tersenyum,"Bukan kah semua muslim itu saudara?"
Nadera menatap Tyas. "Gue jamin setelah lo liat sisi buruk gue. Lo nggak bakal gue anggap gue saudara, pasti lo bakal anggap gue sampah. Sama kayak mereka," ujar Nadera sembari tersenyum sinis.
Tyas tersenyum tulus kembali. "Aku janji nggak bakal ninggalin kamu."
"Lo tau janji lo itu sama kayak janji orang yang gue sayang? dan semua teman-teman gue juga janji seperti itu sama gue. Jadi gue nggak bakal mempan sama janji lo. Lo sama aja kayak mereka," ucap Nadera dengan keras kepalanya.
"Gue Nadera Ananta Wijaya. Dulu sebelum semua itu terjadi. Tepatnya dua tahun lalu, gue hidup biasa aja. Layaknya remaja pada umumnya. Keluarga gue harmonis. Gue punya adik kembaran namanya Nadira Ananta Wijaya. Kita akur, semua kesalahan gue. Dia meninggal gara-gara gue. Lo tau di mati gara-gara gue. Gue jahat kan," ucap Nadera dengan diiringi tawa yang menggelegar.
Tyas tersenyum dan berkata," lanjutin cerita kamu, Der." Nadera tertegun dia pikir Tyas akan langsung meninggalkannya
begitu tahu dia lah yang membuat kembarnya meninggal.
"Waktu itu, gue punya musuh namanya Tara. Dia tuh selalu iri sama gue. Bukannya sombong, tapi dulu gue itu primadona di sekolah kita. Bahkan dari SMP gue udah jadi primadona di sekolah gue. Lanjut ke Tara, awalnya dia nggak tau kalau gue punya kembaran. Karena memang gue tinggal di sini dari lahir. Sementara kembaran gue tinggal di Bogor di sama nenek gue. Waktu itu Dira liburan disini. Dan pas dengan waktu itu. Tara menyuruh orang untuk bunuh gue. Dan...."Dera berhenti sebentar.
"Dan orang yang di suruh sama Tara itu malah ngebunuh kembaran gue," Dera melanjut kan ceritanya."Semua orang ngebenci gue. Mama, Papa, bahkan Oma dan Opa pun benci gue. Satu persatu mereka hilang. Adit pacar gue dia pergi ninggalin gue." Nadera mengakhir ceritanya air matanya mengalir begitu saja.
Tyas kembali memeluk Nadera. Ia menepuk pelan bahu Dera.
"Sekarang kamu nggak sendiri. Aku mau kok jadi temen kamu, kamu harus semangat. Karena apa? karena dunia butuh kamu. Semua orang pasti akan sadar dengan sendirinya.
Kalau masalah pacar kamu ninggalin kamu. Harusnya kamu berterimakasih sama allah, karena ia menjauhkan kamu dari zina. Itu artinya ia menjaga kamu dari zina dan fitnah dunia Der, kamu harus bersyukur."
"Bersyukur? Allah udah nggak adil sama gue," ucap Nadera di sela isakan tangisnya.
"Allah bukan nggak adil sama kamu tapi dia mencoba menguji kamu. Dia ingin tau seberapa kuat dan tawakalnya kamu terhadap-Nya." Tyas masih mengelus dan menghapus air mata Dera.
Nadera mengerjap sebentar. Sungguh perkataan dan perilaku lembut yang di tunjukan kepada nya membuat ia bersyukur. Karena Allah telah mengirimkan sosok seperti Tyas.
"Tyas...." panggil Nadera.
"Hm..." sahut Tyas.
"Apa lo jelmaan bidadari?"