KELUARGA KECIL LANGGA

1450 Kata
Muhamad Airlangga Saputra. Sering di panggil Langga. Anak pertama dari pasangan Muhamad Ar-Rangga dan Nayang Kartika. Memiliki seorang adik bernama Nayara Az-zahra Saputri. Biasa di panggil Aya jika di lingkungan keluarga. Memiliki seorang kekasih bernama Stefya Stella Cristiana si bidadari sekolah. Menjalin hubungan sekitar 9 bulan dengan Airlangga. Langga sendiri merupakan seorang yang sangat famous di sekolahnya. Bukan hanya ketampanan. Namun juga dari segi kepandaian pun tak di ragu kan lagi. Wajahnya mewarisi wajah sang ayah. Langga memang sangat mirip dengan Ayahnya, Tuan Angga. Langga memasukan mobilnya kedalam garasi rumah. Ia berjalan menuju pintu utama rumahnya. Beberapa pelayan sudah membungkuk tubuhnya kan penuh hormat kepadanya. "Assalamu'alaikum....." ucap Langga ketika pelayan-pelayan di rumahnya membuka kan pintu. "Wa'alaikumsalam Tuan muda," sahut wanita setengah baya itu. "Mbok Eva, Bunda mana?" tanya Langga mencari sang Bunda. "Nyonya di dapur Tuan," jawab pelayan tersebut. Langga pun berjalan ke arah dapur. Ia melihat sang Bunda dan juga beberapa pelayan sedang berkutat dengan sayuran. Ia menghampiri Bundanya yang sedang memotong wortel. "Bunda..." panggil Langga. Nayang yang sedang asyik dengan wortelnya melihat ke arah Langga, putra sulungnya. "Hay sayang sudah pulang?" tanya sang Bunda. Langga berjalan menuju sang bunda. Mencium tangan bundanya dan kedua Pipi bundanya. "Udah Bun. Kalau begitu Langga ke kamar dulu ya Bun, " ucap Langga. Namun lelaki itu malah menghentikan langkahnya. Ketika ia melihat makanan di meja makan. "Tumben Bunda buat kue basah? Biasanya gak pernah," ucapnya mengambil salah satu kue tersebut. "Itu tadi Bunda beli. Ceritanya panjang, dan tahu gak? Ternyata yang jualan satu sekolah sama kamu," ucap Bunda Langga. Membuat Langga mengerutkan keningnya. "Temen Langga?" tanya Langga. "Gak tahu sih. Tapi katanya dia anak baru, " ucap Bunda Langga. Langga terdiam, mencoba mengingat-ingat. "Anaknya baik banget, karena dia udah mau nungguin Aya. Tadi Ayah hampir aja di culik orang," ucap Bunda. "Apa maksud Bunda anak baru itu?" batin Langga. "Hay! Kok malah ngelamun!" ucap Bunda menyadarkan Langga. Langga tersenyum. "Gak pa-pa Ban, Langga ke kamar dulu. Gerah, mau mandi," ucap Langga lalu masuk kedalam rumahnya. Nayang, Bunda Langga merasakan perutnya yang terasa mual. Nayang berlari ke arah kamar mandi yang ada di Dapur. Untuk memuntahkan isi perutnya. "Nyonya, Nyonya kenapa?" Mbok Yuli memijat bagian belakang leher Nayang. "Nggak tahu Mbok. Akhir-akhir ini saya sering mual," ucap Nayang seraya mengusap bibirnya yang terasa pahit. "Apa perlu saya telpon kan Tuan Angga Nyah? ujar Mbok Yuli. "Nggak usah Mbok. Mas Angga sibuk lagian dia pulangnya kan, dua hari lagi," kata Nayang. "Kalau begitu saya panggil kan Dokter Haris ya, Nyah," ucap Mbok Yuli. Nayang hanya mengangguk. Kepalanya terasa sangat pusing dan akhirnya ia terjatuh di pelukan Mbok Yuli. *** Nayang membuka matanya. Menyesuaikan cahaya di tempatnya. Ia melihat sekelilingnya. Lalu ada suaminya yang tersenyum melihatnya. "Sayang kamu udah sadar?" Suara lembut itu begitu menangkan. Angga membelai puncak kepala istrinya. "Mas, kamu pulang?" "Iya tadi aku langsung pulang. Kamu pingsan lama banget hampir 24 jam," kata Angga. "Aku sakit apa?" tanya Nayang takut-takut. "Kamu nggak sakit." Nayang mengerutkan keningnya bingung. Angga tersenyum ia mengecup pipi istrinya. "Kamu hamil," ucap Angga mampu membuat Nayang kaget. Nayang menatap tak percaya kepada Angga. "Angga kamu nggak lagi bohong kan?" "Ngapain aku bohong. Ini disini ada baby twins, " Angga mengusap perut Istrinya. "Twins?" Nayang membeo. "Ia sayang kok kamu jadi lola sih." Angga gemas dengan Istrinya itu. "Ihhh... Kok kamu gitu sih," ucap Nayang kesal. "Iya-iya jangan manyun gitu, lah." Angga berkata. Lalu mendekap tubuh istrinya itu. Ia juga mengecup kening istrinya lama. "Terimakasih Nay. Udah kasih aku kebahagian. Kamu tau kan Aku pingin Baby twins dari dulu, " ujar Angga. Nayang menghadapkan wajahnya ke pada Angga. Menatap manik hitam milik Angga. Ia tersenyum "Aku yang bahagia sama kamu Mas. Makasih udah mau terima semua kekurangan aku." Angga tersenyum dan makin mendekap erat tubuh istrinya. Nayang membalas dekapan erat itu. Beberapa menit kemudian. Nayang melepaskan pelukannya. "Angga aku lapar." "Kamu mau makan apa?" "Nasi goreng cumi pedas," jawab Nayang. "Ya udah aku suruh Mbok Yuli buat bikin, ya," ucap Angga beranjak dari posisi duduknya. "Nggak mau kamu yang masak pokoknya." Nayang merengek persis anak kecil. "Ya udah iya. Kamu tunggu sini." ucap Angga setelah menghela nafas panjang. "Nggak mau! Aku ikut. Tapi gendong sampek bawah," ujar Nayang semakin manja. Angga terkekeh. Geli melihat perubahan sifat istrinya. "Ya udah sini. Gendong depan apa gendong belakang." "Belakang," ujarnya lalu bersiap untuk di gendong suaminya. Angga menggendong Nayang. "Angga..."panggilnya lembut di telinga suaminya. "Hm," "I love you...."  ucap Nayang jelas di telinga suaminya. Angga tersenyum lalu terkekeh pelan. "Love you to sayang," balas Angga dengan jelas. *** Seorang perempuan berjilbab hijau itu tengah duduk di beranda rumahnya. Sesekali ia mengelus perutnya yang mulai membuncit. Ia menghela nafas pelan, terdengar suara anak bungsunya yang sedang memanggil perempuan tersebut. "Bunda!" "Apa sayang jangan teriak-teriak ini rumah bukan hutan," kata sang Bunda. "Ayah kok belum pulang sih bunda. Aya, kan pingin di gendong, Ayah," ucap Ayas. Gadis imut lucu yang baru berusia 5 tahun. "Sini duduk sama bunda," ucap Nayang kepada Aya agar Aya duduk di pangkuannya. Aya duduk di pangkuan Nayang. "Ayah itu lagi kerja. Jadi wajar kalau sekarang ayah belum pulang," ucap Nayang lembut sembari mengelus Rambut Kriting Aya. Nayang bingung anak siapa sebenarnya Aya ini kenapa rambutnya keriting? Bahkan baik di dalam keluarganya. Maupun Angga tidak berambut keriting. "Jadi Ayah kelja. Buat Apa bunda?" tanya Aya dengan suara khasnya. "Buat beli jajan Aya, buat makan Aya, buat beli mainan Aya juga hasil kerja keras Ayah. Aya harus bersyukur ya," ucap Nayang mencoba menasehati Aya. "Berarti Ayah kelja buat Aya ya bunda," ucap Aya masih dengan ucapan cedalnya. "Iya sayang," ucap Nayang gemas kepada anaknya. Aya lucu, sangat lucu. "Maafkan Aya bunda Aya nakal," ujar Aya memeluk Nayang. "Enggak sayang. Anak bunda baik anak bunda pinter anak bunda sholeha," ucap Nayang sembari mencium pipi gembul Aya. Tak lama suara mesin mobil berhenti di depan rumah mereka. "Itu ayah pulang," ujar Nayang kepada Aya. Aya loncat dari pangkuan Nayang membuat Nayang meringis sakit karena sedikit tendangan di bagian perutnya. Angga menggendong anak perempuannya. Ia berjalan menghampiri Nayang yang terlihat kesakitan. "Sayang kamu kenapa?" Angga bertanya kepada Nayang. "A.... Aku nggak pa-pa kok, Mas, " ujar Nayang sedikit meringis. Merasakan sakit lada bagian perutnya. Angga menurunkan Aya dari gendongannya." Perut kamu sakit?" tanya Angga. Nayang hanya menganggukkan kepalanya. Angga mengendong Nayang dari depan. "Kita ke rumah sakit, ya?" "Nggak usah Mas. Aku nggak pa-pa kok," ujar Nayang. "Ya udah aku gendong kamu sampai kamar aja ya." Angga masih khawatir dengan Istrinya. "Aya. Aya ke kamar aja ya, bunda lagi sakit jadi Ayah gendong bunda dulu. Sekarang Aya ke kamar sama Mbok Yanti. Ok cantik,"ucap Angga kepada Aya. Lalu ia mengecup kening serta kedua pipi Aya. Aya mengangguk bocah itu berjalan ke arah Mbok Yanti untuk di antar kan ke kamarnya. Tanpa pikir panjang Angga membopong tubuh Istrinya. Nayang terpikek kaget ketika suaminya membopong tubuhnya. "Kan aku udah bilang aku nggak pa-pa," ucap Nayang tapi tangannya melingkar di leher Angga. Angga mengecup sekilas kening  Nayang. Ia tersenyum sedangkan Nayang yang merasa malu membenamkan wajahnya di d**a bidang suaminya. "Kenapa muka nya di sembunyikan? Hm?"ujar Angga. "Malu...," "Malu? kita bukan anak ABG lagi loh Nay. Anak kita udah 2 mau 4 malah. Kenapa malu?" ucap Angga sembari meletak kan tubuh istrinya ke ranjang. Ia mengecup lagi kening istrinya kali ini lebih Lama. "Aku mandi duluan." Angga tersenyum lalu berjalan kearah Kamar mandi. Tak lama Angga keluar dari kamar mandi menggunakan kaos putih polos beserta celana pendek selutut berwarna hijau botol. Ia duduk di sebelah istrinya. Nayang menatap Angga lalu tersenyum. Angga merengkuh tubuh Nayang dalam dekapan"Kenapa, hm?" Angga bertanya. "Nggak pa-pa aku kangen sama kamu," ucap Nayang manja. "Pasti ada yang kamu mauin... " ucap Angga. "Mau apa jujur aja sama aku," ujar Angga. "Maunya itu, aku mau liburan berdua sama kamu." Nayang berkata takut-takut kepada suaminya. Angga mengkerutkan keningnya bingung. "Terus Aya Gimana? kalau Langga kan dia udah besar sayang. Kalau Aya kan masih 5 tahun." Nayang mengerucutkan bibirnya. Perempuan itu sedikit kesal kepada Angga. "Sayang jangan ngambek dong. Kan aku bilangnya beneran. Nanti kalau kita liburan berdua, Aya gimana?" "Aya kita titipin di tempat Mama kalau nggak Bunda. Naira juga bisa," ujar Nayang. "Kalau Mama sama bunda Nggak mungkin lah sayang. Kan kamu tau mereka ada di Lampung. Sementara Naira, Aya aja takut sama Naira. Dia kan masih bingung kenapa bundanya ada dua," ucap Angga. "Ya udah nggak jadi juga nggak pa-pa," ucap Nayang sedikit sewot. Angga menghela nafas kasar. Ia tau bahwa sifat keras kepala istrinya sedang muncul. Dan mungkin ini juga bawaan dari janin mereka. Angga mendekap Nayang lagi. Tangannya mengelus perut istrinya yang mulai buncit. Ia mencondongkan wajahnya di depan perut sang istri. "Liat lah anak-anak Ayah, Bunda kalian sedang merajuk." Angga tersenyum melirik kearah istrinya. Lalu mengecup perut istrinya. "Kita liburan kemana?" tanya Angga. "Katanya nggak jadi," ucap Nayang. "Jadi sayang. Kamu maunya honeymoon kan?" Angga menaik turun kan alisnya. Ia mencoba menggoda istrinya. Nayang mencubit perut Angga sedikit keras. "Agrhh," keluh Angga. "Sakit Nay." "Siapa suruh nyebelin!" seru Nayang. Angga tidak memperdulikan ucapan istrinya dia malah memeluk tubuh Nayang erat. Seakan tidak mau melepaskan pelukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN