TIDAK SENGAJA

1074 Kata
Tyas benar-benar mengantarkan gadis kecil itu ke asal sekolahnya. Setelah turun dari angkot yang ia tumpangi. Tyas memandang sekeliling TK Kasih Bunda itu yang begitu sepi. Tak habis akal Tyas pun menghampiri pos satpam. "Assalamu'alaikum Pak. Tadi saya menemukan anak ini di trotoar di jalan melati," ucap Tyas kepada Pak Satpam. Satpam itu mengalihkan pandangannya kepada Aya. "Loh Non Naya kok belum pulang?" "Bunda belum jemput Pak Otong..." ucap gadis itu. "Makasih banget loh Mbak,  udah mau anterin Non Naya. Saya tadi gak tau non Naya pergi," ucap Pak Satpam. Tyas tersenyum, seraya mengangguk. "Iya, gak pa-pa kok pak. Sudah kewajiban saya untuk menolong orang. Terlebih itu anak kecil," ucap Tyas begitu tulus. "Kalau begitu, saya pamit saja, Pak... " ucap Tyas. Belum sempat Pak Satpam itu menjawab, Tiba-tiba ponsel yang ada di kantong Pak satpam itu berbunyi nyaring. "Iya halo Bu.." "........" "Apa?" " ......." "Iya Bu, Anton pulang sekarang...." Satpam itu memutuskan panggilannya. Dengan gerakan yang sangat cepat dan tergesa-gesa. "Maaf Mbak, Mbak bisa gak saya nitip Non Naya. Sebentar lagi juga Bundanya pasti jemput. Soalnya saya harus pulang dulu istri saya mau melahirkan," ucap Pak Satpam. "Alhamdulilah....... Selamat ya Pak. Iya gak pa-pa Pak. Bapak langsung pulang saja, kan kasihan istrinya jika tidak di dampingi," ujar Tyas tersenyum lembut. "Terimakasih Mbak, Assalamu'alaikum...." Pak Satpam itu pergi. "Wa'alaikumsalam..... Ya Allah semoga engkau melancarkan persalinan istri beliau," gumam Tyas. Menatap Pak Satpam yang sedang menghidupkan mesin motornya. "Astagfirullah, kan dagangan saya tadi saya titipkan. Lalu bagaimana?' ucap Tyas baru sadar. "Ah sudahlah. Bukankah Allah sudah mengatur rezeki kita? Kenapa saya harus khawatir?" ucap Tyas begitu pasrah. Pandangan Tyas menatap anak kecil yang ada di pangkuannya. "Kamu nama nya siapa?" tanya Tyas, mengusap lembut kepala anak kecil tersebut "Aya....." jawab anak kecil tersebut. "Kamu cantik banget," ucap Tyas mengamati wajah cantik dan imut anak kecil tersebut. "Kaka lebih cantik," ucap Aya kepada Tyas. Tyas tersenyum. "Kakak mau gak jadi kakak Aya? Aya gak punya kakak cewek. Apalagi cantik kaya Kakak. Abang Aya ngeselin, suka gangguin Aya. Aya sebel sama Abang. Kalau Kakak kan baik," ucap Aya panjang lebar. "Iya. Kakak mau jadi kakaknya Aya," ucap Tyas seraya tersenyum. "Yey.... Akhirnya Aya punya Kakak cewek. Cantik, Bang Langga lewat, ucap Aya seraya memeluk tubuh Tyas. "Langga? Apa jangan-jangan?" Sebuah Mobil berhenti di depan gerbang sekolah Aya. Membuat Aya melihat mobil tersebut. Dan ternyata benar. Ia adalah Bundanya. Aya segera berlari memeluk Bundanya. Yang baru saja keluar dari mobil. "Bunda...." teriak Aya. "Bunda kenapa baru jemput Aya sih," ucap Aya ketika sudah dalam gendongan Bundanya. "Maafkan bunda sayang, tadi Bunda ada urusan. Kamu gak kenapa-napa kan?" tanya Bunda Aya. "Tadi, Aya coba buat pulang sendili," ucap Aya. "Tapi Aya gak kenapa-napa kan?" tanya Bunda Aya memastikan putrinya baik-baik saja. Aya menggelengkan kepalanya. Pandangan Bunda Aya beralih ke arah Tyas. "Kamu siapa? Mang o***g mana?" "Bunda, Kak Tyas tadi udah mau anterin Aya. Kalau gak Aya nyasal," ucap Aya dengan suara cedalnya. "Terimakasih ya, kamu sudah menolong anak saya," ucap Bunda Aya. "Iya sama-sama Tante. Kalau begitu saya permisi. Soalnya, saya harus ambil dagangan saya," ucap Tyas dengan sopan. "Dagangan kamu di mana?" tanya Bunda Aya. "Tadi saya titipkan, di persimpangan lampu merah," jawab Tyas. "Kalau begitu, ayo Tante anterin," ucap Bunda Aya. Sontak Tyas menggelengkan kepalanya. "Terimakasih Tante tapi, saya bisa sendiri kok. Saya takut merepotkan Tante," ucap Tyas menolak dengan halus. bunda Aya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Malah kalau kamu gak terima tawaran tante. Tante yang ngerasa gak enak sama kamu." "Mau ya?" bujuk Bunda Aya sekali lagi. Setelah berpikir, akhirnya Tyas mengiyakan ucapan wanita tersebut. Bunda Aya tersenyum. Lalu mempersilakan Tyas untuk masuk kedalam mobilnya. "Bunda, Kak Tyas ikut sama kita?" tanya Aya antusias. "Iya Kak Tyas ikut sama kita," ucap Bunda Aya. "Huaaaa, Aya seneng. Jadikan ada yang  bisa nemenin Aya buat main belbi-belbian," ucap Aya memeluk Tyas. "Jangan heran ya Tyas. Soalnya, Aya itu pengen punya kakak cewek. Ya gimana, dia cuma punya Abang satu yang kata Aya nyebelin," ucap Bunda Aya seraya tertawa. Sementara Tyas hanya tersenyum. "Kamu masih sekolah?" tanya Bunda Aya menatap Tyas. "Alhamdulillah, masih Tante," jawab Tyas mempertahankan senyum di bibinya. Bunda Aya mengangguk. "Kamu sekolah di mana?" "Di SMA Cakrawala, Tan," jawab Tyas. Seketika, raut wajah Bunda Aya kaget mendengar hal itu. "Tante kenapa?" tanya Tyas menyadari perubahan raut wajah Bunda Aya. "Kamu kelas berapa?" tanya Bunda Aya menanyakan hal yang berbeda. "Saya kelas dua belas, Tan," jawab Tyas. "Kenapa Tante?" "Gak pa-pa. Anak Tante juga sekolah di sana. Dan kelas dua belas juga," ucap Bunda Aya. "Beneran? Namanya siapa Tan?" tanya Tyas. "Muhammad Airlangga Saputra, kamu kenal?" tanya Bunda Aya. Seketika wajah Tyas kaget. Jadi Aya dan wanita di sampingnya ini adalah Bunda dan adiknya Langga? Teman sebangkunya? "Tyas?" ucap Bunda Aya membuat lamunan Tyas buyar. "Eh, maaf Tante," ucap Tyas tidak enak. Bunda Aya tersenyum. "Kamu kenal dengan anak Tante?" tanya Bunda Aya sekali lagi. Tyas bingung harus menjawab apa. "Enggak Tante," ucap Tyas berbohong. Jelas-jelas, Langga duduk di sebelahnya. "Astagfirullah.... Ampuni hamba yang sudah berbohong,"  batin Tyas. "Soalnya, Tyas baru masuk sekolah hari ini, Tan," ucap Tyas kepada Bunda Aya. Oh, kamu anak baru," ucap Bunda Aya. Tyas menganggukkan kepalanya. Mobil mereka pun berhenti. Ternyata mereka sudah sampai di tempat Tyas menitipkan dagangannya. "Makasih ya, Tante," ucap Tyas. "Tante yang harusnya terimakasih. Jarang ada orang yang kaya kamu. Mau mengantarkan anaknya kecil kek tadi," ucap Bunda Aya. Ia memberikan uang kepada Tyas. Tyas menggelengkan kepalanya. "Tante, gak usah," ucap Tyas menolak pemberian Bunda Aya. "Terima dong sayang," ucap Bunda Aya. "Gak usah Tante. Tyas senang kok kenal sama Tante. Tyas juga seneng bisa bantuin Aya," ucap Tyas. Bunda Aya luluh mendengarnya. "Kamu dagang apa?" tanya Bunda Aya. "Saya, dagang kue Tante," ucap Tyas. "Kalau gitu, Tante borong semua kue kamu," ucap Bunda Aya. "Ha? Serius, Tante?" tanya Tyas. "Iya. Ini uangnya, kamu harus terima. Kan Tante beli kue kamu," ucap Bunda Aya menyerahkan uang kepada Tyas. "Ini kebanyakan, Tan," ucap Tyas ingin membalikan sisa uang tersebut. "Udah gak pa-pa Tyas, sekali aja mau ya terima ini," ucap Bunda Aya memohon. Akhirnya Tyas mengangguk, meski ia merasa tidak enak. "Kalau gitu, Tyas ambil dulu kuenya," ucap Tyas turun dari mobil. Bunda Aya mengangguk. Tidak berapa lama, Tyas kembali membawa semua kuenya lalu menyerahkan kepada Bunda Aya. "Terimakasih Tante," ucap Tyas. "Sama-sama. Kalau gitu, Tante pulang dulu ya. Assalamu'alaikum... " "Wa'alaikumsalam.... " ucap Tyas menatap Bunda Aya yang sudah pergi. Tyas tersenyum, benar ucapannya. Ia tidak perlu khawatir dengan rezeki yang ia dapatkan. Karena Allah sudah mengatur semuanya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN