part 5

1369 Kata
MAAF KARNA TIDAK KETELITIAN AUTHOR PARTNYA JADI KEBALIK, ? KALIAN BISA BACA PART INI DULU YA SEBELUM KE PART 6, MAKLUM AUTHOR JGA MANUSIA JADI BISA SALAH?? "nando, kau jangan berbuat macam-macam sama riffa! Dia kakak iparmu!" nando hanya mengusap wajah seraya mengembuskan napas berat. Warna pias di wajahnya mengurai. Sikapnya yang terkejut karena terciduk, semakin serba salah. "Aku tidak melakukan apa-apa, Pah. Tadi rifa nyaris jatuh kakinya terantuk karpet, aku nyoba menahannya supaya tidak tersungkur, jadi kami terlihat seperti berpelukan." Dia coba memberi alibi agar terhindar dari tatapan intimidasi papahnya. "Papah bukan anak kemarin sore yang bisa kau kelabui!" ucap Prasetya, pria berusia 60-tahun, papah dari nando. "Terserah Papah kalau gak percaya. Ngomong-ngomong, ada apa Papah sama Mamah kemari?" nando mengalihkan pembicaraan, karena enggan berdebat yang bisa membuat dirinya semakin mati kutu. nando agak heran dengan kedatangan orang tuanya yang tiba-tiba. Mereka jarang sekali bertandang ke rumahnya apalagi sepagi ini, kecuali ada sesuatu hal yang harus dibicarakan secara empat mata. Prasetya melemaskan otot yang semula menegang gara-gara melihat putra kesayangan sedang memeluk mesra kakak iparnya. Sikap yang tidak pantas nando lakukan pada kakak dari istrinya itu. Orang tua mana yang tidak khawatir melihat keakraban yang tidak wajar dari nando dan riffa. Prasetya tahu nana sibuk dengan pekerjaan, lebih banyak mengabaikan suami. Namun selama ini tidak pernah mendengar rumah tangga mereka menjadi retak, selalu harmonis. "Papah mau ngasih tahu, ada pertemuan bisnis di Surabaya, papah minta kamu yang wakili perusahaan hadir di sana." nando diam sejenak, seolah sedang berpikir. "Kapan aku harus berangkat?" tanya pria berusia 25-tahun itu kemudian. "Lusa. Selama di Surabaya Hendro akan menemanimu, yang di Jakarta bisa di handle orang yang kau percayai." "Baiklah, Pah." Mereka lanjut membicarakan seputar perusahaan. nando tidak memberi celah sang papah membahas perihal pribadinya. Kebetulan memang banyak yang perlu dibicarakan seputar pekerjaan. Sementara itu di ruangan yang berbeda. Tamara, yakni mamahnya nando sedang bersama riffa. Keduanya tengah menyiapkan sarapan. Meskipun ada asisten rumah tangga, Bu Mara memilih turun langsung ke dapur. Seperti halnya nando, sikap riffa serba salah, karena ketahuan tengah didekap mesra kakak ipar. riffa tidak berusaha mengelak, karena dia sadar kenyataannya seperti itu, sedang menikmati sentuhan nando. "Kamu harus hati-hati tinggal bersama adek ipar di saat nana tidak ada. Meskipun nando anakku, tapi jika di rumah berdua dengan kakak ipar, tante khawatir terjadi sesuatu." Ucapan lembut tapi menyentuh sampai ke dasar hati meluncur dari mulut Bu Mara. "Iya, Tante." rifa tertunduk malu. Tidak terlihat adanya kemarahan di wajah Bu Mara, malah sebaliknya nasihat demi nasihat, dengan penyampaian khas seorang ibu menjejali telinga gadis itu. "Jadi kakakmu itu ke Singapure selama seminggu?" tanya Bu Mara, menyayangkan sikap nan yang membiarkan kakak tinggal serumah dengan putranya, sedang Miranti sendiri pergi. "Iya, Tante, kata nana sedang banyak job. Kemungkinan bisa lebih dari seminggu di sana." Bu Mara menghirup udara, kemudian mengembuskannya kembali seolah ikut mengeluarkan beban berat melalui napasnya. "nana memang gila karir, kalau terus seperti itu kapan tante punya cucu." Ucapan Bu Mara serupa keluhan, karena berharap sesuatu yang tidak pernah kunjung terkabul. Timbul rasa iba di hati riffa. nando, putra sulung pasangan Prasetya dan Tamara yang sudah mapan dan sukses, apa lagi yang ditunggu selain buah hati. Namun, nana belum bisa memberinya satu hal itu, padahal usia pernikahan mereka mau menginjak lima tahun. Bu Mara sudah lama mengharapkan hadirnya buah hati yang lahir dari rahim nana, tapi sejauh ini tidak terlihat tanda-tanda wanita itu kembali hamil, atau setidaknya ikut program hamil. nana memang pernah mengandung, tapi hanya sampai usia delapan Minggu. Pekerjaan yang bejibun membuatnya kelelahan dan berakibat keguguran. Kecewa sudah jelas, tapi mau bagaimana lagi, Tuhan lebih menyayangi janin itu, sehingga kembali diambilnya. Sampai saat ini nana belum juga diberi kepercayaan lagi untuk hamil. Bahkan nando kerap kali menyarankan sang istri untuk ikut program hamil, hanya saja nana seakan tidak punya waktu untuk itu, karena lebih mementingkan pekerjaan. nando menyerah membujuk nana, akhirnya pasrah dan hanya bisa berdoa, sekiranya Tuhan memberi kesempatan mendapat momongan sebagai hadiah terindah untuk orang tuanya, yang sudah sangat merindukan hadirnya cucu. Sedangkan adek satu-satunya Rifaldi tidak mungkin memberi orang tua mereka cucu, karena saat ini masih duduk di bangku sekolah menengah atas. "Tante sabar, ya. Mudah-mudahan nana secepatnya hamil." "Tante sudah tidak sabar ingin menimang cucu. Apa lagi usia tante yang semakin tua. nando juga sudah siap jadi ayah, masa iya belum juga punya anak." Gurat sedih tercetak jelas di wajah cantik Bu Mara. Meskipun usianya setengah abad lebih, terlihat masih segar karena perawatan yang sempurna. "Mungkin Tuhan memang belum mempercayai lagi nana untuk hamil. Bukankah kata tante butuh kesabaran yang banyak jika kita mengharapkan sesuatu, karena salah satu ujian yang Allah berikan obatnya hanya satu, sabar." Bu Mara tersenyum mendengar ucapan riffa yang menurutnya cukup dewasa dalam menyampaikan pernyataan. "Kamu semakin pintar, Nak. Tante gak nyangka pkiranmu sedewasa itu." Bu Mara mengusap lembut pipi kakak dari menantunya itu. riffa hanya tersenyum. "Kalau saja nana bisa membatasi kesibukannya, kemungkinan besar hamil lebih cepat, karena terlalu banyak pikiran dan sering lelah, itu cukup berpengaruh menghambat kehamilan." Di tengah kesibukan membantu membuat nasi goreng, riffa menyimak baik-baik penuturan Bu Mara yang lebih panjang lagi membahas seputar kehamilan, hitung-hitung belajar untuk nanti bilamana dia sudah menikah. riffa merasa dialah yang menjadi menantu Bu Mara saat ini. Sesekali terselip candaan sampai mengundang tawa, sampai tidak terasa hidangan untuk sarapan siap disajikan. Sebelum ritual sarapan dimulai, riffa pamit untuk ke kamar. Di sana dia membersihkan diri dan berpenampilan menarik seperti biasa jika mau pergi ke kafe. ~~~ Sarapan berlangsung khidmat, Tamara dan Prasetya mendampingi nandi dan riffa di meja makan. Sewaktu berangkat ke rumah nando, mereka sengaja mengosongkan perut, bermaksud sarapan bersama putra dan menantu. Berhubung nana terlanjur pergi, sehingga Bu Mara tidak sempat bertemu menantunya itu. Dari rumah dia sudah berniat ingin membicarakan perihal keinginannya memiliki cucu. Bu Mara berharap nana mau mendengarkan sarannya untuk mengurangi kesibukan dan mementingkan kelengkapan rumah tangga dengan hadirnya anak, mengingat usia pasangan itu sudah sangat siap. "Andai saja nando waktu itu jatuh cintanya sama riffa, mungkin yang sedang duduk di sampingmu itu menantu mamah, ndo, dan kalian pasti sudah punya anak." "Uhuuuk, uhuuuk!" riffa dan nando sama-sama tersedak nasi goreng, dan kompak pula mengambil air minum, meneguknya dengan gerakan sama. Wajah mereka memerah. "Kalian ini kalau makan hati-hati, dong. Gimana, sih!" gerutu Bu Mara. Pak Pras hanya berdehem. "Mamah, sih, ngomong gitu," sergah nando setelah tenang. Tenggorokannya serasa panas akibat keselak tadi. "Lho, emang mamah ngomong apa? Cuma bilang gitu doang, reaksi kalian aja yang berlebihan." Bu Mara jadi terkekeh. Dalam hati menyadari ucapannya memang sedikit kontroversial, pantas saja pasangan ipar itu terkejut. Jauh di dasar hati riffa berharap ucapan Bu Mara jadi kenyataan, bisa jadi mantunya, dan bisa memiliki buah hati bersama nando. Lalu, bagaimana dengan nana? Mengingat satu hal itu, otak Manda jadi buntu. "kamu kapan nikah riffa?, nyusul adek kamu" "uhukk..." "doakan yang terbaik buat saya saja tante " ucap riffa sambil tersenyum manis "tante mah selalu doain kamu dapet cowok yang baik yang sayang sama kamu, tapi kamu nanti jangan sibuk kerja kayak adek kamu, kasian suami kamu nanti" "iya tante" "oh ya, tante sama om tenaang aja, riffa bakal pindah dari sini kok klau tante sama om khawatir ada apa apa saya sama nando" sontak ucapan riffa itu membuat nando kaget, kenapa tiba tiba " hah...kenapa pindah nggk usah, kamu urus adek iparmu ini selama istrinya nggk ada, klau tante mah percaya sama kamu," "iya kenapa pindah kak, toh nando sebentar lagi dinas disurabaya biar rumah tetap ada isinya kaka disini aja" ucap nando "kamu disini aja ya riffa maafin tante, klau bercanda tante tadi nyakitin kamu" "nggak kok tante, tapi bner kata om tadi nggk baik ipar tinggal bareng takut terjadi hal tidak diingin kan" "nggk! pokoknya kakak disini aja seenggaknya sampe nana pulang nanti baru pamit sama nana adek kaka, nando takut kalau nanti nana ngira nando ngusir kakanya" "ya udah aku kekantor dulu ya ma, pa, kak" pamit nando dengan mencium pipi kedua orang tuanya "nggk bareng ?, kalian searah kan?" tawar ibu nando itu sekali lagi membuat pergerakan nando berhenti "eh... nggk usah tante, nanti riffa juga ke hotel dulu kok beda arah, tadi dikabari ada sedikit masalah dihotel" "oh... tapi nanti kan?, temenin tante bikin kue dulu ya nanti" "baik tante" Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN