bc

GAIRAH TERLARANG

book_age18+
3.5K
IKUTI
18.1K
BACA
love after marriage
self-improved
CEO
billionairess
sweet
others
intersex
like
intro-logo
Uraian

"nando, Sayang!"

Sentuhan lembut menyentuh bahu nando rahma dari belakang, lalu melingkar, memeluk leher. Napas hangat menyapu belakang telinga menimbulkan gelenyar aneh di sekujur tubuh nando.

"riffa!" nando menyebut nama gadis yang tengah memeluknya dengan nada penuh makna.

Tangan ramping yang dipanggil riffa beralih mendekap pinggang kekar nando. pria itu semakin terbuai sentuhan hangat dari gadis yang bukan miliknya.

"bang nando sayang, aku mencintaimu!" pria yang biasa dipanggil bang nando semakin mengeratkan pelukan, jemari kokoh itu mengelus lembut lengan sang gadis yang berada di pinggangnya.

"riffa, aku--"

Dddrrrrtttt!

Suara getar disertai nada dering ponsel mengejutkan nando, halusinasinya ambyar seketika, mata langsung tertuju ke bawah, di mana Riffa sedang berenang.

Kegiatan pagi Riffa di dalam kolam renang itulah yang menimbulkan imajinasi liar nando tidak menentu, karena tubuh sexy berdada berisi atau lebih besar dari istrinya saat ini, perut rata milik riffa menumbuhkan gejolak aneh di dalam d**a nando.

"Astaghfirullah, apa yang sudah kulakukan?" gumamnya seraya menghalau pikiran kotor yang masih menguasainya.

nando mengalihkan perhatiannya dari pemandangan yang menghipnotis di bawah sana pada handpone yang terus mengeluarkan suara berisik.

nana, nama yang tertera di layar panggilan.

"Ngapain pagi-pagi nana nelpon?" gumam nando, dengan malas menggeser tombol jawab.

"bii, lama banget sih jawab telepon juga!" gerutu wanita di seberang telepon.

"iya maaf tadi terlalu menikmati kopi"

" hari ini aku bantu di kafe, jadi aku pulang telat ya."

"Ok, gak masalah!"

"kamu nggk kangen aku?"

"kangen! tpi kamu sibuk gimana atuh"

"maaf ya... " suara penyesalan terdengar dari sebrang

nando kembali melempar tatapan ke kolam renang, tapi kakak iparnya itu sudah tidak terlihat di sana. Ah, sial, gara-gara istri telepon aku melewati pemandangan indah, batin nando dongkol.

nando kembali tercenung, teringat kehaluan sesaatnya sebelum dibuyarkan suara telepon.

"Gila, bagaimana aku membayangkan disentuh kakak ipar sendiri! Ayolah, nando, dia kakak istrimu, hapus pikiran tidak pantasmu itu!" racau nando seraya memegang kepala.

Rasanya bumi yang sedang nando pijak berputar. Otaknya berpikir keras, kenapa rasa yang terlarang ini semakin menguat pada riffa, yang notabenenya kakak dari nana istrinya,

nando menyimpan rasa suka pada Riffa semenjak nana memperkenalkan dirinya sebagai calon suami empat tahun yang lalu, dan saat pertama ketemu pun nando dibuat deg deg an akan paras kakak iparnya itu,

Ketertarikan nando pada Riffa kala itu dianggap sebatas suka terhadap kakak seperti halnya terhadap Mira kakaknya. Sebab itu dia tidak menganggap perasaannya berlebihan, sampai pernikahan mereka berlangsung, nando masih mampu mengendalikan rasanya.

Selepas menikah, nando langsung memboyong nana ke Jakarta, menempati rumah yang cukup mewah sebagai kado pernikahan dari orang tua nando untuk mereka. Di samping itu, sebagai hadiah pria itu sukses menduduki kursi perusahaan cabang milik papahnya sebagai direktur.

Pertemuan berikutnya, ketika nando dan mira mengunjungi keluarga pihak wanita yang berada di Bogor,Rasa tertarik pada kakak ipar semakin kentara. Namun, ribuan kali nando menepis perasaan terlarangnya, karena sadar ia tidak boleh memupuk rasa kian subur apalagi sampai berakar.

Namun, dalam kunjungan nando waktu itu, ada satu kesempatan nando berbicara bersama sang kakak ipar, meninggalkan kesan mendalam di hati nando. Sebuah obrolan yang cenderung seperti curhat.

Di saat seisi rumah sedang menikmati istirahatnya di kamar masing-masing, nando dan Riffa asyik berbincang di bangku taman halaman depan yang memang luas, sambil menikmati udara malam.

"Kamu tau, nando? Aku jarang sekali bisa berbincang lama dengan nana seperti kamu dan aku saat ini."

"Masa, sih? Tadi kakak sama nana bisa ngobrol lama bareng, sama bunda juga."

"Iya, di sini kami bisa ngobrol, becanda, dan tertawa lepas, tapi di Jakarta, kami sama sekali tidak punya waktu untuk saling bertukar cerita atau pikiran. Kami sama-sama sibuk dengan pekerjaan, terutama nana karirnya semakin menanjak, sehingga lupa waktu dengan keluarga."

"nana memang gila kerja, aku pikir setelah menikah dengan nana kegilaannya pada karir akan sedikit berkurang, ternyata justru semakin memuncak. Ah, mungkin intinya nana tidak mau menggantungkan beban hidup sepenuhnya sama siapapun, terbiasa hidup mandiri"

"Bisa jadi seperti itu, tapi tanpa nana bekerja pun, aku sanggup menghidupinya sampai tujuh turunan. Apa lagi kami belum punya anak, semua yang kuhasilkan untuknya."

"nana orang yang mandiri, tidak suka diatur jika sudah memiliki keberhasilan, selama tidak merugikan orang lain. Justru karena belum punya anak, dia memanfaatkan waktunya untuk bekerja"

itulah isi curhatan singkatku bersamanya

chap-preview
Pratinjau gratis
part 1
"nando, Sayang!" Sentuhan lembut menyentuh bahu nando dari belakang, lalu melingkar, memeluk leher. Napas hangat menyapu belakang telinga menimbulkan gelenyar aneh di sekujur tubuh nando. "riffa!" nando menyebut nama gadis yang tengah memeluknya dengan nada penuh makna. Tangan lembut gadis yang dipanggil Riffa beralih mendekap pinggang kokoh nando. pria itu semakin terbuai sentuhan hangat dari pria yang bukan miliknya. "nando sayang, aku mencintaimu!" Rifa semakin mengeratkan pelukan, jemari lentik riffa mengelus lengan kokoh gadis yang berada di pinggangnya. "Rif, aku--" Dddrrrrtttt! Suara getar disertai nada dering ponsel mengejutkan nando, halusinasinya ambyar seketika, mata langsung tertuju ke bawah, di mana riffa sedang berenang. Kegiatan pagi Rifa di dalam kolam renang itulah yang menimbulkan imajinasi liar nando tidak menentu, karena tubuh sexy , perut kecil dan d**a berisi yang nando perkiraan lebih besar punya riffa daripada istrinya, milik Rifa menumbuhkan gejolak aneh di dalam d**a nando. "Astaghfirullah, apa yang sudah kulakukan?" gumamnya seraya menghalau pikiran kotor yang masih menguasainya. Anando mengalihkan perhatiannya dari pemandangan yang menghipnotis di bawah sana pada handpone yang terus mengeluarkan suara berisik. nana, nama yang tertera di layar panggilan. "Ngapain pagi-pagi nana nelpon?" gumam Manda, dengan malas menggeser tombol jawab. "bii, lama banget sih jawab telepon!" gerutu wanita di seberang telepon. "iya maaf tadi terlalu asyik menikmati kopi" "aku hari ini bantu di kafe, ada urusan penting, jadi pulang telat ya" "Ok, gak masalah!" "Dah, gitu doang, nggk kangen?" "kangen! tapi kamu lagi sibuk gimana atuh" tut... nando kembali melempar tatapan ke kolam renang, tapi kakak iparnya itu sudah tidak terlihat di sana. Ah, sial, gara-gara nana istrinya telepon aku melewati pemandangan indah, batin nando dongkol. nando kembali tercenung, teringat kehaluan sesaatnya sebelum dibuyarkan suara telepon. "Gila, bagaimana aku membayangkan disentuh kakak ipar sendiri! Ayolah, nando, dia kakak dari istrimu, hapus pikiran tidak pantasmu itu!" racau nando seraya memegang kepala. Rasanya bumi yang sedang Manda pijak berputar. Otaknya berpikir keras, kenapa rasa yang terlarang ini semakin menguat pada Rifa, yang notabenenya kakak dari istrinya, nando menyimpan rasa suka pada Rifa semenjak nana memperkenalkannya sebagai calon suami empat tahun yang lalu, walau hanya sebntar tapi entah nando merasa tertarik yang sangat akan calon kakak iparnya ini. Ketertarikan nando pada Rifa kala itu dianggap sebatas suka terhadap adek seperti halnya terhadap nana. Sebab itu dia tidak menganggap perasaannya berlebihan, sampai pernikahan mereka berlangsung, nando masih mampu mengendalikan rasanya. Selepas menikah, nando langsung memboyong nana ke Jakarta, menempati rumah yang cukup mewah sebagai kado pernikahan dari orang tua nando untuk mereka. Di samping itu, sebagai hadiah pria itu sukses menduduki kursi perusahaan cabang milik papahnya sebagai direktur. Pertemuan berikutnya, ketika Rifaldi dan Mira mengunjungi keluarga pihak wanita yang berada di Bogor, Rasa tertarik pada kakak ipar semakin kentara. Namun, ribuan kali nando menepis perasaan terlarangnya, karena sadar ia tidak boleh memupuk rasa kian subur apalagi sampai berakar. Namun, dalam kunjungan nando waktu itu, ada satu kesempatan nando berbicara bersama sang kakak ipar, meninggalkan kesan mendalam di hati nando. Sebuah obrolan yang cenderung seperti curhat. Di saat seisi rumah sedang menikmati istirahatnya di kamar masing-masing, nando dan Rifa asyik berbincang di bangku taman halaman depan yang memang luas, sambil menikmati udara malam. "Kamu tau, nando? Aku jarang sekali bisa berbincang lama dengan nana seperti kamu dan aku saat ini." "Masa, sih? Tadi kakak sama nana bisa ngobrol lama bareng, sama bunda juga." "Iya, di sini kami bisa ngobrol, becanda, dan tertawa lepas, tapi di Jakarta, kami sama sekali tidak punya waktu untuk saling bertukar cerita atau pikiran. Kami sama-sama sibuk dengan pekerjaan, terutama nana karirnya semakin menanjak, sehingga lupa waktu dengan keluarga." "nana memang gila kerja, aku pikir setelah menikah dengan kamu nando kegilaannya pada karir akan sedikit berkurang, ternyata justru semakin memuncak. Ah, mungkin intinya nana tidak mau menggantungkan beban hidup sepenuhnya sama siapapun selagi masih bisa mencari rezeki sendiri, apa salahnya." "Bisa jadi seperti itu, tapi tanpa nanabekerja pun, aku sanggup menghidupinya sampai tujuh turunan. Apa lagi kami belum punya anak, semua yang kuhasilkan untuknya." "nana orang yang mandiri, tidak suka diatur jika sudah memiliki keberhasilan, selama tidak merugikan orang lain. Justru karena belum punya anak, dia memanfaatkan waktunya untuk bekerja. kamu harusnya bangga, nana memiliki karir cemerlang untuk kelak dinikmati anak cucu. Coba lihat, diluar sana banyak istri-istri yang tidak bekerja, hidupnya senang menghabiskan uang suami, shopping, gaya-gayaan, kumpul sana sini hanya untuk bergibah ria. Tapi tidak dengan nana." Kepala nando manggut-manggut, siapa sangka gadis yang sedang diajak bicara ini memiliki pikiran cukup dewasa. Nyaman diajak bertukar kisah. "Iya juga, sih. Hanya saja kebersamaanku dengan nana sangat terbatas. Aku pulang kerja, nana masih sibuk diluar. nana pulang aku sudah tidur. Pagi pun jarang sekali bertemu, kadang aku bangun dia sudah menghilang, atau sebaliknya." Suara nando mengandung kesedihan. riffa memahaminya. "Yang penting kalian saling setia, saling percaya, dan masih bisa bertemu di atas ranjang." riffa melirik manja nando, bertepatan pria itu pun memandang ke arahnya. Saat berkata demikian, ada sesuatu yang aneh menyelinap di hati nando, entah apa. "Nah, nah, pikirannya mulai nakal, nih!" nando refleks mencapit hidung mancung riffa "Ish, apaan kamu ini, sakiiit! Tapi bener kan, ucapanku? Kalian bikin anak semalam bisa berapa kali?" "kak riffa!" Jari Rifaldi kembali mencari sasaran, secepatnya Manda menghindar sambil tergelak. "ppiiis, canda, nando!" Jari telunjuk dan tengah Manda terangkat membentuk huruf 'V'. Tawa mereka mengiringi malam yang kian larut. Hingga detik ini, obrolan itu masih membekas diingatan nando, dan kini dia sendiri mulai merasakan kebenaran ucapan riffa, bahwa nana jarang sekali terlihat ada di rumah, kecuali malam, itu pun di saat para penghuni mulai bergulung dengan selimut. Semenjak riffa diminta tinggal serumah oleh adiknya, dia jarang bertemu nana. Seperti yang pernah dikatakan nando, istrinya itu super sibuk dengan karirnya sebagai penata rias para model atau artis dan mengurusi kafenya. Sudah tiga Minggu riffa tinggal bersama adik dan iparnya, dikarenakan tuntutan sebagai owner hotel dan kafe yang dia dirikan bersama kedua sahabatnya, Endrick dan Sonia di Jakarta, sehingga mengharuskannya pindah dari Bogor. Dari pada sang kakak mongntrak rumah atau tinggal di hotelnya, bagi nana lebih baik riffa ikut mengisi rumah megah ini, disamping untuk menambah hangat suasana, agar tidak terlalu sepi seperti kuburan. Semenjak riffa tinggal bersama mereka, keadaan rumah terkadang ramai, karena riffa sering mengajak temannya untuk berkunjung. Baik nando maupun nana tidak keberatan malah memberi kebebasan siapa saja yang boleh riffa bawa ke rumah mereka. Hanya saja, selama tinggal serumah dengan kakak istrinya itu, hati nando sedikit tersiksa oleh perasaannya terhadap Riffa. Next?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
68.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook