
"nando, Sayang!"
Sentuhan lembut menyentuh bahu nando rahma dari belakang, lalu melingkar, memeluk leher. Napas hangat menyapu belakang telinga menimbulkan gelenyar aneh di sekujur tubuh nando.
"riffa!" nando menyebut nama gadis yang tengah memeluknya dengan nada penuh makna.
Tangan ramping yang dipanggil riffa beralih mendekap pinggang kekar nando. pria itu semakin terbuai sentuhan hangat dari gadis yang bukan miliknya.
"bang nando sayang, aku mencintaimu!" pria yang biasa dipanggil bang nando semakin mengeratkan pelukan, jemari kokoh itu mengelus lembut lengan sang gadis yang berada di pinggangnya.
"riffa, aku--"
Dddrrrrtttt!
Suara getar disertai nada dering ponsel mengejutkan nando, halusinasinya ambyar seketika, mata langsung tertuju ke bawah, di mana Riffa sedang berenang.
Kegiatan pagi Riffa di dalam kolam renang itulah yang menimbulkan imajinasi liar nando tidak menentu, karena tubuh sexy berdada berisi atau lebih besar dari istrinya saat ini, perut rata milik riffa menumbuhkan gejolak aneh di dalam d**a nando.
"Astaghfirullah, apa yang sudah kulakukan?" gumamnya seraya menghalau pikiran kotor yang masih menguasainya.
nando mengalihkan perhatiannya dari pemandangan yang menghipnotis di bawah sana pada handpone yang terus mengeluarkan suara berisik.
nana, nama yang tertera di layar panggilan.
"Ngapain pagi-pagi nana nelpon?" gumam nando, dengan malas menggeser tombol jawab.
"bii, lama banget sih jawab telepon juga!" gerutu wanita di seberang telepon.
"iya maaf tadi terlalu menikmati kopi"
" hari ini aku bantu di kafe, jadi aku pulang telat ya."
"Ok, gak masalah!"
"kamu nggk kangen aku?"
"kangen! tpi kamu sibuk gimana atuh"
"maaf ya... " suara penyesalan terdengar dari sebrang
nando kembali melempar tatapan ke kolam renang, tapi kakak iparnya itu sudah tidak terlihat di sana. Ah, sial, gara-gara istri telepon aku melewati pemandangan indah, batin nando dongkol.
nando kembali tercenung, teringat kehaluan sesaatnya sebelum dibuyarkan suara telepon.
"Gila, bagaimana aku membayangkan disentuh kakak ipar sendiri! Ayolah, nando, dia kakak istrimu, hapus pikiran tidak pantasmu itu!" racau nando seraya memegang kepala.
Rasanya bumi yang sedang nando pijak berputar. Otaknya berpikir keras, kenapa rasa yang terlarang ini semakin menguat pada riffa, yang notabenenya kakak dari nana istrinya,
nando menyimpan rasa suka pada Riffa semenjak nana memperkenalkan dirinya sebagai calon suami empat tahun yang lalu, dan saat pertama ketemu pun nando dibuat deg deg an akan paras kakak iparnya itu,
Ketertarikan nando pada Riffa kala itu dianggap sebatas suka terhadap kakak seperti halnya terhadap Mira kakaknya. Sebab itu dia tidak menganggap perasaannya berlebihan, sampai pernikahan mereka berlangsung, nando masih mampu mengendalikan rasanya.
Selepas menikah, nando langsung memboyong nana ke Jakarta, menempati rumah yang cukup mewah sebagai kado pernikahan dari orang tua nando untuk mereka. Di samping itu, sebagai hadiah pria itu sukses menduduki kursi perusahaan cabang milik papahnya sebagai direktur.
Pertemuan berikutnya, ketika nando dan mira mengunjungi keluarga pihak wanita yang berada di Bogor,Rasa tertarik pada kakak ipar semakin kentara. Namun, ribuan kali nando menepis perasaan terlarangnya, karena sadar ia tidak boleh memupuk rasa kian subur apalagi sampai berakar.
Namun, dalam kunjungan nando waktu itu, ada satu kesempatan nando berbicara bersama sang kakak ipar, meninggalkan kesan mendalam di hati nando. Sebuah obrolan yang cenderung seperti curhat.
Di saat seisi rumah sedang menikmati istirahatnya di kamar masing-masing, nando dan Riffa asyik berbincang di bangku taman halaman depan yang memang luas, sambil menikmati udara malam.
"Kamu tau, nando? Aku jarang sekali bisa berbincang lama dengan nana seperti kamu dan aku saat ini."
"Masa, sih? Tadi kakak sama nana bisa ngobrol lama bareng, sama bunda juga."
"Iya, di sini kami bisa ngobrol, becanda, dan tertawa lepas, tapi di Jakarta, kami sama sekali tidak punya waktu untuk saling bertukar cerita atau pikiran. Kami sama-sama sibuk dengan pekerjaan, terutama nana karirnya semakin menanjak, sehingga lupa waktu dengan keluarga."
"nana memang gila kerja, aku pikir setelah menikah dengan nana kegilaannya pada karir akan sedikit berkurang, ternyata justru semakin memuncak. Ah, mungkin intinya nana tidak mau menggantungkan beban hidup sepenuhnya sama siapapun, terbiasa hidup mandiri"
"Bisa jadi seperti itu, tapi tanpa nana bekerja pun, aku sanggup menghidupinya sampai tujuh turunan. Apa lagi kami belum punya anak, semua yang kuhasilkan untuknya."
"nana orang yang mandiri, tidak suka diatur jika sudah memiliki keberhasilan, selama tidak merugikan orang lain. Justru karena belum punya anak, dia memanfaatkan waktunya untuk bekerja"
itulah isi curhatan singkatku bersamanya

