part 2

1096 Kata
nando menjejak langkah di anak tangga dengan tatapan mengarah ke satu titik, ruang makan. Di sana riffa bersiap menjalankan ritual sarapan sendiri. Seiring langkah mendekat, jantung nando seakan tidak menemukan ritmenya. Berdegup sangat kencang dan tidak beraturan. Please, tenanglah hatiku, jangan berisik seperti itu! Batin nando, terkadang kesal, kalau sudah sulit mengendalikan perasaannya. "Hai, nando, sini sarapan bareng!" ajak Rifa begitu melihat adik ipar di dekatnya. "Pagi, kak ." "Pagi juga,nando. Duduk!" "Iya, terima kasih." "nana nggk ikut?" "nggk kak, msih tidur" "em...." Ini kali kesekian mereka sarapan berdua yang kerap kali diiringi tabuhan genderang dalam d**a nando. Terlebih bayang kemesraan sewaktu bangun tidur tadi kembali melintas, membuat tubuh nando sedikit meradang. "Hmmm, wajahmu kenapa?" tanya Rifa, sedari nando duduk matanya tidak lepas mengawasi wajah tampan di seberangnya. Amanda gelapan, refleks membingkai pipi, rasanya agak panas. "Memangnya di wajahku ada apa?" Perasaan tadi waktu bercermin tidak ada kotoran atau apapun di wajahku! Batin nando. "Wajah kamu bersemu merah, apakah ada sesuatu yang sedang kamu bayangkan sampai membuat wajahmu merah merona seperti itu." Rifa mengangkat satu alis, tatapannya terkesan jahil, kian menambah tingkah nando serba salah. Ya ampun, kirain apa? Wajahku merona karena kamu, kak! "Pagi, kak, pagi, Sayang!" nan muncul dari lantai atas. Mengecup pipi sang suami dengan mesra, hal itu sering dilihat oleh riffa "Tumben belum berangkat dek, biasanya jam segini udah gak ada." rifa bertanya dengan tidak lupa sambil tersenyum manis. nana terkekeh, tangannya mulai sibuk mengoleskan selai pada roti. "Sekali-kali sarapan bareng kakakku. Selama kakak di sini sudah hampir tiga Minggu kita gak pernah ketemu di satu meja makan ini." "Nah, itu tau, abis Kamu selalu sibuk, sih." "Kamu sih, gak mau kerja bareng aku." "Melukis di wajah orang bukan bidangku, Kak, aku sendiri aja kurang suka poles-poles, bisa-bisa kubuat para model seperti badut." nando dan nana tertawa kompak, riffa hanya tersenyum kecil. "Bisa aja kamu! Terus, kafe kakak gmana?, hotel kakak? " tanya nana. "alhamdulillah dong. Siapa tahu berawal dari buka kafe, ke depannya aku bisa sukses juga jadi pemilik restauran besar dan hotel dimana mana" "Aamiin, nando doakan kakak sukses seperti nana, tapi jangan sampai lupa waktu sama suami." nando melirik istrinya yang acuh tak acuh. Paling ditanggapi dengan kekehan, seolah pria itu tengah becanda. "Maaf ya, Sayang. Karena kesibukanku sering mengabaikan kamu, pokoknya aku mencintaimu, always." nana kembali mengecup mesra pipi sang suami, riffa tersnyum manis melihat kemesraan pasangan didepannya "Haduh, bisa gak, sih, mesraannya jangan di depan orang jomlo, gak kasihan apa?" riffa pura-pura menggerutu, seraya memutar bola mata, kesal. nando dan nana kembali tertawa lepas, riffa berpura pura berdecak sebal. "Emang kakak iparku jomhlo?" canda nando , "Heleh, pake nanya segala. Udah jelas keleees!" Sarapan mereka dilengkapi dengan canda tawa, sebuah kebersamaan yang indah, tapi justru mengundang kedebaran di hati nando, kenapa ada rasa bahagia saat dia melihat mimik wajah riffa senyum dan sebalnya Ah, nando jadi tidak ingin secepatnya menyudahi sarapan pagi, agar gemuruh hatinya ini tidak berakhir jg. "Aku berangkat duluan, ya!" ucap riffa, bangkit dari tempat, setelah menyeruput s**u terakhirnya. "nando antar kakak ya, bukannya mobil kakak masih di bengkel?" nando ikut berdiri, sontak riffa memandang nana. Yang dipandang mengangguk sambil tersenyum. "Iya, sebaiknya kakak diantar nando kak, kalian kan searah. Kalau aku berlainan arah, jadi gak bisa antar kakak," ucap nan, tidak terdapat nada keberatan sama sekali. "Ya udah, deh. Nanti sore mobilku baru bisa diambil." ~~ "Yakin jomlo?" Perhatian riffa melihat keluar dari kaca mobil teralihkan pada nando. Rupanya pria itu ingin melanjutkan obrolan sewaktu di meja makan. "Kenapa kamu nanyain itu?" "Gadis secantik kakak, aku gak percaya kalau kakak gak punya pacar." "Yee, emang kenyataan, kok. Cantik belum tentu banyak yang tertarik. Buktinya sampai sekarang belum ada yang tertarik sama aku, padahal aku cantik seperti kata kamu ndo." "Ada, kok, yang tertarik sama kakak." nando melirik riffa bertepatan gadis itu tengah mengamati wajah tampan sang adik ipar. "Mana ada? Siapa pula orangnya?" "Aku!" "Apa?" Mulut riffa menganga. Speeclhess dengan ucapan nando. Detik kemudian, riffa tertawa. " nando kamu jangan becanda, deh. Nanti aku ge'er, lho. kamu tuh suaminya adek aku lo" "Siapa yang becanda, aku serius, kok." Tawa riffa berhenti, kali ini menatap serius pria di sampingnya. Lama keduanya terdiam, sampai riffa tidak sadar mobil yang mereka tumpangi tiba di depan kafe. "Mau turun atau lanjut jalan-jalan?" tanya nando seraya menjentikan jari di depan wajah riffa yang masih fokus menatapnya. Gadis cantik berwajah oval itu mengerjap sadar. Kepala celingak-celinguk. "Sudah nyampe rupanya. Aku turun saja." Saat Manda membuka pintu, nando memegang tangannya sambil berkata, "Aku serius dengan ucapanku, riffa. Aku menyukaimu." Lagi-lagi riffa dibuat terpaku. Jantungnya berdetak sangat cepat. "Aku juga menyukai nando, sayang kamu suami adekku,dan alasan aku tak memiliki cowok sampe sekarang itu karna kamu" ucapnya mengalir begitu saja, tanpa berpikir akibat ke depannya dari ucapan tersebut. nando tersenyum, melepas genggamannya, membiarkan riffa keluar dari mobil, lantas gadis itu berlari memasuki kafe. nando melajukan kembali tunggangannya dengan hati yang sulit diartikan rasanya. ~~ Aaarrrggghhh, gila, gila, gila! Aku menyukaimu riffa, aku mencintaimu! Manda mondar-mandir dengan hati yang tiada henti meracaukan nama Rifa sang kakak ipar. Sejak kapan gadis itu menyimpan rasa suka padanya. Sungguh nando tidak menyangka mereka akan memiliki rasa yang sama. Sama-sama saling menyukai. riffa bukannya langsung ke kasir, tempat biasa dia memposisikan diri di kafe, tapi langsung ke ruangan belakang serupa paviliun yang terhubung dengan kafe. "Elu ngapain bolak-balik terus kaya setrikaan, gak capek apa?" Sonia tiba-tiba muncul dari belakang riffa, membuat gadis itu tersentak kaget. "nando, Son." "Ada apa dengan adek ipar elu itu? " Sonia adalah sahabat Manda yang paling tahu perihal perasaan sahabatnya terhadap nando. Pada Sonia, gadis itu mencurahkan isi hatinya selama ini. "Justru itu gue semakin ingin memilikinya." "Gila, lu, riffa! Dia ipar elu, suami dari adek kandung elu, perasaan elu itu salah!" "Gue tau, dia ipar gue, tapi perasaan yang gue miliki terhadap nando gak salah, soalnya nando sendiri cinta sama gue." "Apa? nando cinta juga sama elu?" Mata Sonia membulat sempurna, seperti mau mencelat dari rongganya. riffa hanya mengangguk dengan ekspresi yang sulit diartikan oleh Sonia. "tapi kayaknya aku harus pindah deh son, gue takut nyakitin adek gue, gue sayang sama adek gue" "menurut gue sih gitu, jngan sampe persaudaraan lo hancur hanya karna satu cowok ya ffa" "ya gue tau, mungkin itu terbaik buat gue, tapi gue pindah kemana ya?" "kan lo bisa ke hotel dulu mumpung ada yg kosong kan" "kosong dari hongkong penuh mulu tau, tadi dikabari jg penuh" "waduh, ya ke rumah gue dulu aja" "nggak ah ngerepotin lo aja" "ya terus?" "tau deh ntar gue pikirin, gue kebawah dulu ya" pamit riffa pada sahabatnya Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN