Jarum jam menunjukkan angka sembilan, nando memasuki rumah dengan langkah lunglai karena lelah. Baru satu kaki menjejak di anak tangga, ekor matanya menangkap siluet seseorang di halaman belakang, di mana pintu full kaca terbuka lebar.
"Ngapain dia?" gumam nando melihat Rifa duduk seorang diri menghadap kolam.
Namun, semenjak nando mengungkapkan rasa sukanya siang tadi, nando masih malu untuk menghampirinya. Masih ada ragu juga, siapa tahu gadis itu hanya sekadar menyukainya sebagai adik, atau teman bicara, bukan menyukai dalam artian cinta.
nando pun terlalu cepat menyimpulkan ucapan riffa sebagai cinta, padahal hanya menyukai saja. Sedangkan suka itu beragam maknanya.
pria berambut sedikit ikal itu memilih lanjut menaiki tangga menuju kamarnya, tanpa nando sadari, riffa sempat melihatnya, karena merasa ada seseorang memperhatikan dari belakang.
"nando!" gumamnya, kemudian mendesah pelan, setelah tubuh kekar itu tidak lagi terlihat.
pria itu yang barusan bermain dilamunannya, membuat rifa sedikit prustasi. Batinnya berperang antara mengakui mencintai nando atau mencoba memusnahkan perasaan terlarang yang dimilikinya itu.
riffa sadar betul, nana suami adik kandungnya, adik iparnya, harusnya dia berperan sebagai kakak yang mengayomi bukan mencintai selayaknya pria dan wanita, sehingga menimbulkan prahara.
Sejak nando tinggal serumah, timbul perasaan aneh di hati nando terhadap gadis cantik yang selalu tampil natural itu. Setiap waktu dia mencoba mencerna perasaan aneh tersebut. Lebih parah lagi, di saat sedang memadu kasih dengan nana di atas ranjang, yang dia bayangkan adalah tubuh riffa dalam dekapannya.
Untung saja tidak keceplosan menyebut nama riffa di saat pelepasan. Gila, nando terkadang mengutuk dirinya sendiri, apa yang terjadi padanya. Kenapa riffa begitu kuat menarik perhatian dan perasaannya.
"Apakah aku mencintai kakak iparku sendiri? Ah, gila ... bagaimana dengan nana, tidak mungkin aku mencintai kedua wanita itu. Perasaan macam apa ini?" nando menggeram sambil mengacak kasar rambutnya.
Tidak! Aku tidak boleh memiliki perasaan serakah ini! Perasaan ini salah, aku tidak boleh mencintai riffa. Kata-kata tadi pagi aku harus meralatnya sebelum riffa terlanjur jauh mengartikan rasa sukaku.
nando beranjak dari duduk setelah panjang lebar hatinya meracau. Dia mati-matian menyingkirkan perasaan cintanya terhadap riffa demi kelangsungan rumah tangganya.
Meskipun sering dibuat kecewa oleh nana, karena wanita itu semakin lama semakin tidak ada waktu untuknya saling bercengkrama, nando harus menyelamatkan rumah tangganya dari cinta terlarang ini.
Intinya, dia tidak ingin terjadi perang antara adik dan kakak yang sehari-harinya saling menyayangi. Jahat lah dirinya kalau sampai jadi penghancur hubungan sedarah mereka.
nando setengah berlari menuju ruang pribadi riffa. Kini dia tiba di depan pintu kamar gadis itu. Meraup udara sebanyak-banyaknya sebelum mengetuk benda menjulang warna putih itu.
"riffa!" panggilnya lembut.
Tiga kali ketukan belum juga mendapat sahutan dari gadis itu. nando penasaran, mencoba membuka pintu dengan pelan, kemudian melongokkan kepala ke dalam, memonitor seisi ruangan, ternyata kosong.
Di mana dia? Batin pria itu.
Karena tidak terlihat adanya riffa di dalam kamar, nando kembali menutup pintu. Namun, mendadak tubuhnya membeku, sebelum benda itu menutup rapat, dari celah yang tersisa sedikit menganga dia melihat riffa keluar dari kamar mandi.
Rupanya gadis itu baru selesai membersihkan diri, terlihat dari rambutnya yang tergerai basah, juga kimono handuk yang melilit tubuhnya.
nando menelan ludah kepayahan, melihat mulus dan putihnya paha sang gadis. Bathrub yang dikenakan riffa sangatlan minim, panjang bawahnya hanya sebatas paha atas hampir mendekati pan*a*.
Darah dalam diri nando bergejolak melihat pemandangan yang menggairahkan di depannya. Di mata nando penampilan riffa begitu seksi dengan rambut basah. d**a berdebar hebat, sesuatu dalam dirinya meronta-ronta meminta dilepas.
Tidak mau terus larut dalam ga*r*h terlarang yang semakin menyiksanya, nando bergegas menutup pintu. Diam sesaat bersandar di daunnya demi meredakan debaran yang sangat kencang.
"Sial! Kenapa aku harus melihat riffa dalam keadaan seperti itu? Kendalikan dirimu, nando!"
Kaki nando sedikit gemetar saat melangkah. Napasnya sedikit memburu, berpacu dengan ga*r*h yang masih mengentak-entak d**a.
Sementara di dalam kamar, riffa tercekat mendengar suara gerakan pintu. Dahinya mengernyit.
"Aneh, siapa yang buka tutup pintu, ya? Padahal gak ada siapa-siapa."
Bulu kuduk riffa tiba-tiba merinding, dia bergidik takut membayangkan yang memainkan pintu adalah makhluk kasat mata. Gadis itu buru-buru menaiki ranjang, bersembunyi dalam selimut, sampai kantuk menghampiri dan akhirnya tertidur.
~~~
"Sayang, aku hari ini harus berangkat ke Singapure," ucap nana seraya memasukkan beberapa barang yang akan dibawanya ke dalam koper.
nando baru saja membuka mata, sudah disuguhkan kata-kata yang membuatnya sedikit kesal. Semalam dia menunggu nana sampai larut malam, ga*r*ah yang meletup-letup membuatnya ingin segera menyalurkan hasrat pada sang istri.
Namun, begitu nana datang, keinginannya ditolak dengan alasan sangat lelah, dan takut paginya kesiangan, karena ada pekerjaan yang menunggunya. Meskipun jengkel bukan main atas penolakan tersebut, nando tidak mau memaksa, dan kasihan juga melihat wajah nana sedikit pucat, karena kelelahan.
"Kenapa harus pagi ini?" tanya nando sambil turun dari tempat tidur. Di luar sana masih agak gelap, pertanda mentari masih malu-malu untuk menampakan diri.
"Karena memang harus pagi ini, Sayang. Prosedur rencananya sudah lama, cuma baru ada kepastian barusan."
nando membanting napas kasar. Tangannya dia lingkarkan di pinggang ramping sang istri, mendaratkan bibir di leher jenjang nan mulus, serta menghisap aroma wangi yang jadi ciri khas istrinya.
"Hentikan, Sayang. Aku buru-buru, nih!" nana mendorong pelan tubuh tegap nando.
"Aku menginginkanmu dari semalam, Sayang." Kembali pria beralis tebal itu menarik tubuh nana dalam pelukannya.
"Sayang, maaf aku tidak bisa melayanimu saat ini. Tunggu kepulanganku dari Singapure, kita langsung bulan madu kedua, ok. Kita puas-puasin melepas rindu."
"CK, kapan pulang dari Singapure."
"Aku cuma seminggu di sana, sebentar, kan?"
"Cuma seminggu! Bagimu seminggu itu sebentar?" nando mendengkus sebal.
nando melepas dekapannya dari tubuh Miranti dengan perasaan kesal. Wanita itu tidak memperdulikan kedongkolan yang diperlihatkan suaminya, dia melanjutkan kembali aktivitas membereskan barang sampai selesai.
"Sayang, aku pergi, ya!" nana mengecup pipi sang suami yang mukanya dipasang kecut. Wanita itu terkekeh dengan sikap merajuk Rifaldi, terlihat menggemaskan.
"nana!" Rifaldi menatap sendu sang istri. Namun, tanpa bergerak dari tempatnya. Berdiri bersedekap tangan di d**a.
"Iya, Sayang."
"Please, kurangi kesibukanmu atau berhentilah bekerja, jadilah wanita yang sepenuhnya untukku, di rumah kita ini."
nana diam, memandang suaminya dengan tatapan yang sulit nando cerna.
"Aku belum bisa melepaskan pekerjaanku, Sayang. Maafkan aku, belum maksimal melayanimu sebagai istri. Tapi percayalah aku sangat mencintaimu, ada kalanya kita akan menghabiskan waktu lama bersama. Cuma untuk saat ini, izinkan aku menikmati karirku dulu."
Napas nando terasa sesak. Percuma dia memaksa nana mengikuti permintaannya. Dia memahami sifat istrinya yang keras kepala dan sedikit membangkang.
Bersambung