part 4

958 Kata
"Pergilah!" nando akhirnya pasrah, tidak ingin memperpanjang perdebatan yang berujung pertengkaran nantinya. "Maafkan aku, ya, Sayang. Aku janji pulang dari Singapure akan meluangkan waktu banyak untukmu." Sekali lagi nana memberi sentuhan lembut di bibir nando, tapi ditanggapi dingin oleh pria itu. "Terserah, aku tidak ingin berharap lebih." nando menarik koper. Hatinya benar-benar sudah tertutup kesenangannya yang sukses sebagai penata rias artis maupun model papan atas. Kapan lagi bisa menikmati karir cemerlang yang dia mimpikan selama ini. nando memang mampu memenuhi kebutuhan lahiriah sampai tujuh turunan, tapi bukan itu yang nana cari. Kebahagiaan menyalurkan bakat sampai dipuncak kesuksesan, itu yang utama baginya. Tepat di tangga bawah riffa berdiri menatap Miranti turun. Gadis itu tahu apa yang terjadi barusan di kamar adeknya. riffa sempat mendengar perdebatan pasangan itu saat melewati kamar mereka. Kemudian pergi ke lantai bawah sebelum sang adek membuka pintu kamar. "nana mau pergi dek?" tanya riffa pura-pura tidak tahu apa yang terjadi. "Iya, kakak mau ke Singapure, ada job." "Berapa lama Kamu di sana?" "Seminggu, kemungkinan bisa kebih atau kurang, tergantung banyaknya orderan show para artis." "Apa Kamu gak kasihan sama nando? Lihat, deh, wajahnya kecut begitu, mau ditinggalin sama kamu." riffa berbisik, sambil matanya melirik ke atas. nando baru datang, langsung menaikkan alis sebelah dengan ekspresi meminta penjelasan apa yang sedang para wanita itu bicarakan. riffa mengedikan bahu, sedangkan nana hanya terkekeh. "Kakak nitip nando, ya." "Hmmm, baiklah, tidak masalah." "Awas jangan digodain!" canda nana seraya menjawil hidung mancung kakaknya. "Ish, kamu ini. Gak usah khawatir, aku akan menjaganya dengan baik, tidak akan kurang satu apapun sampai adek ku ini pulang." "Aku percaya sama kamu. Baiklah, aku pergi dulu, baik-baik di rumah, ya!" nana menoleh ke lantai atas, di mana nando berdiri di sana dengan tatapan dingin. Wanita itu melayangkan kecup jauh, meskipun tanpa balasan. Baru kali ini riffa melihat wajah nando tanpa ekspresi. Dia tahu alasan perubahan sikap adek iparnya itu yang menjadi dingin. Bahkan masih terngingang ucapan nando saat meminta haknya dipenuhi, tapi ditolak nana, ada yang berdenyut nyeri di dalam d**a gadis itu. riffa mengantarkan sang adek sampai memasuki mobilnya. Semalam adeknya itu entah pulang jam berapa, dan sekarang pagi buta sudah mau berangkat lagi, benar-benar pekerja keras, tidak mengenal lelah. Ada satu hal yang riffa cemaskan, perasaannya terhadap adek ipar, jika dibiarkan seatap berdua dengan lelaki itu, ditakutkan cintanya semakin mendalam. Meskipun di rumah megah ini ada asisten rumah tangga, tetap saja rasa cemas menderanya. nana bahkan dengan penuh kepercayaan menitipkan suami padanya. Ah, bagaimana ini? Sudah lima belas menit kepergian nana, tapi riffa belum beranjak dari teras depan. "Apa kakimu tidak pegal berdiri terus di sana?" Suara bariton milik nando mengejutkan Manda yang tengah melamun. Terbit lengkungan manis di kedua sudut bibirnya, seiring jantung yang mulai tidak berirama detaknya. "Baru sadar, ternyata pegal juga ya, kalau lama berdiri," celetuk riffa sambil memijit pahanya, disambut tawa nando. Mimik wajah pria itu tidak lagi dingin, kemarahannya pada nana seakan tidak membekas. Apakah mungkin ada dirinya? Batin riffa, lalu secepatnya menepis kekonyolan itu. "Kamu belum siap-siap pergi ke kafe atau hotel?" "Ini kan, masih pagi banget. Mandi aja belum." "Pantes, dari tadi perasaan ada bau apa, ternyata bau kamu belum mandi." nando pura-pura mengendus aroma yang menguar dari tubuh riffa yang sebenarnya wangi parfum buah segar. "Ish, nando mah jahat, wangi gini dibilang bau, sih! Hidungnya gak normal, tuh. Meskipun aku belum mandi tetap cantik dan wangi, tau!" nando menderaikan tawa lepas. Tangannya terulur mengacak gemas rambut poni riffa. Terang saja debar di d**a gadis cantik itu kian menghebat, sentuhan yang begitu bermakna bagi riffa. "kamu sendiri belum mandi, bau ihk!" riffa membalas candaan nando sambil menutup hidung. "Hei, bau apaan?" nando mengendus tubuhnya sendiri. Wangi, tapi ada kecut-kecutnya sedikit, pria itu menyeringai. "Bau aroma percintaan, pasti bekas semalam." riffa mengetuk-ngetukkan jari telunjuk pada hidung mancungnya, tatapannya seolah dibuat sedang menyelidik. Mulut nando menganga sesaat. "Apa? Emang kamu tau aroma percintaan itu seperti apa?" "Ya, seperti bau kamu ini!" Jari Telunjuk riffa beralih ke d**a sang pria. "Hei, sok tau, kamu. Semalam ... ah kamu tidak perlu tau urusan orang dewasa tadi malam." "kamu pikir aku gadis ingusan apa? Ayolah, jujur saja semalam berapa ronde? Itung-itung belajar langsung dari orang yang pengalaman, biar nanti praktek dengan suami aku langsung lancar." Manda menaik turunkan alis, membuat nando semakin gemas dengan tingkah konyol kakak iparnya. riffa tahu persis semalam tidak ada aktivitas percintaan antara nando dan nana, hanya saja dia sedang menikmati menggoda pria itu. "Kamu belum waktunya mengetahui perihal itu. Kalau mau langsung lancar, belajarnya sambil praktek. Mau?" Skakmat. Kali ini riffa yang jadi meradang dengan godaan balik dari lawan bicaranya. Apalagi nando sengaja memasang tatapan me*um, ditambah seringai aneh, membuat bulu kuduk riffa tiba-tiba merinding. "Eh, eh, kamu mau ngapain?" riffa gugup, mulai panik melihat Rifaldi mendekatinya pelan-pelan dengan tatapan dan seringai yang tidak berubah Melihat itu, riffa memilih berlari memasuki rumah, sambil menjerit kecil, karena nando pura-pura hendak menerkamnya. "Hei, jangan lari gadis nakal!" "Tidaaak!" Mereka saling mengejar. Karena ketidak hati-hatian melangkah, kaki riffq terantuk karpet dan nyaris tersungkur ke depan andai saja nando tidak lekas menarik pinggangnya. Refleks riffa menggenggam erat lengan nando yang berada di pinggangnya. Posisi mereka saling berdempetan dengan punggung riffa menempel di d**a sang pria. Embusan napas hangat nando menyapu leher jenjang riffa yang rambutnya disanggul asal, menggunakan catok. Gelenyar aneh menyerang keduanya, hingga tanpa sadar riffa memejamkan mata, meresapi hangatnya sentuhan sang ipar. "Kamu selalu menarik hatiku, kak," bisik nando, jari telunjuknya mulai menyusuri pipi sehalus porselin milik riffa. Gadis itu kian merapatkan matanya seraya menggigit bibir bawah. Napasnya terengah. "Aku ... entah kenapa begitu menginginkanmu, riffa." "nan... nando, aku ...." "Kalian sedang apa?!" Seruan serupa pertanyaan melonjakan kedua insan yang sedang dibuai asmara terlarang itu. nando maupun riffa saling menjauhkan diri. Wajah keduanya tiba-tiba memucat. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN