“Mari kita lupakan semuanya dan kembali bekerja secara professional.” “Sepertinya itu yang terbaik,” ucap Anya sambil menjabat tangan Rivaldi. Keduanya lantas tersenyum tapi tak ada satupun yang ingin melepas jabat tangan itu terlebih dulu. Hingga Rivaldi tersadar dan ia melonggarkan jabat tangannya lebih dulu. “Baiklah, kalau begitu. Mari kita mulai bekerja.” Anya mengangguk lalu berjalan ke arah pintu ruangan Rivaldi. Tapi baru beberapa langkah, ia berbalik badan. Rivaldi mengernyitkan dahi melihat Anya berjalan ke hadapannya lagi. Anya memainkan jari tangannya sambil menghela nafas. Berusaha semuanya baik-baik saja. “Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan, Pak.” Rivaldi menyatukan kedua tangannya ke atas meja sambil memandang Anya serius. “Saya men

