Anya berdiri di depan ruangan HRD sambil menghela nafas berulang kali. Ia memantapkan langkahnya masuk ke dalam ruangan itu. Tak berapa lama, manajer HRD sudah datang menemuinya. “Ada apa kau kemari?” tanya Ratih, sang manajer HRD yang selalu memandang setiap karyawan yang datang dengan tatapan membunuh. Merasa ditatap dengan ketus oleh Ratih, bulu kuduk Anya mendadak berdiri. Ia meneguk ludahnya lalu memberikan surat pengunduran dirinya ke atas meja. Ratih hanya meliriknya sekilas. “Apa ini?” “Itu surat pengunduran diri saya, Bu.” Ratih tertawa mengejek. “Baru enam bulan kau di sini dan sekarang sudah mengundurkan diri? Apa kau sudah sadar bahwa selama ini kau sudah main-main di sini?” Anya memandang Ratih. “Bukan begitu, Bu. Saya punya alasan p

