15. All Day Long With You

1570 Kata
    Suara gaduh terdengar dari dalam salah satu kamar. Wanita itu memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper besar yang sudah terbuka di atas ranjangnya. Ia melipat satu per satu pakaiannya lalu beralih untuk mengemas alat make up-nya. Wanita itu adalah Viona.     Ia akan kembali ke Amerika hari ini. Sally sudah membelikan tiket pesawat untuk wanita itu beberapa hari yang lalu. Dan, kini Rivaldi sudah masuk ke dalam kamar Ibunya lalu memeluk Ibunya dari belakang. Badan Viona sedikit berjingkat karena ia tidak menyadari putranya sudah masuk dan sekarang malah memeluknya.     “Mama harus pulang hari ini?” tanya Rivaldi seperti anak yang merajuk pada Ibunya.     Viona tersenyum dan menepuk-nepuk punggung tangan putranya yang melingkar di sekitar bahunya.     “Kalau mau protes, katakan langsung pada kakakmu. Dia yang meminta Mama kembali.”     Rivaldi menekuk wajahnya seperti merajuk. Sedikit aneh melihat pria gagah dan tampan menjadi seperti anak kecil seperti ini. Tapi, terkadang Rivaldi memang ingin bermanja-manja dengan Ibunya. Mengingat begitu dekatnya hubungannya dengan Viona dari sejak ia kecil.     Viona melepas tangan Rivaldi lalu beranjak menuju ke kopernya. Ia memasukkan dompet kosmetiknya ke dalam koper lalu mengunci kopernya.     “Mama sudah selesai.”     Rivaldi tersenyum lalu membantu Viona menurunkan koper dan membawakannya untuk Viona. Saat keduanya berjalan turun, seorang gadis cantik dengan pakaian formal dan rambut ekor kudanya sudah berdiri di ruang tamu. Mata Viona memicing untuk melihat siapa gerangan yang ada di sana.     Rivaldi tahu bahwa Ibunya sedang berusaha mencari tahu mengapa Anya ada di sini sepagi ini. Tanpa menunggu pertanyaan Viona, ia sudah langsung melontarkan jawabannya.     “Aku yang meminta Anya datang pagi ini, Ma. Kami akan mengunjungi supplier di luar kota. Kalau kami tidak berangkat sepagi ini, kami akan kembali larut malam. Sekalian saja setelah mengantar Mama ke bandara, kami akan langsung berangkat.”     Viona hanya mengangguk lalu meneruskan langkahnya hingga ke dasar tangga. Anya menyambut Viona dengan pelukan dan cipika-cipiki.     “Selamat pagi, Grandma. Saya dan Bapak Rivaldi…”     “Sudah. Grandma sudah tahu. Rivaldi mengatakannya barusan. Ayo kita berangkat!” kata Viona sambil membiarkan lengannya digamit oleh Anya. Bagaimanapun rasa was-wasnya terhadap Anya saat ini tapi Viona tahu ia tidak boleh menunjukkannya. Ia takut akan menyinggung Anya.     Rivaldi mengikuti langkah kedua wanita itu sambil membawakan koper Viona. Hingga di depan mobil, sopir mereka membantu mengangkat koper itu dan memasukkan ke dalam bagasi. Saat sopir itu hendak masuk ke dalam kursi pengemudi, Rivaldi menahannya.     “Saya akan menyetir sendiri, Pak. Bapak kembali dulu saja ke kantor. Becca hari ini akan kembali dari Bali dan akan langsung ke kantor. Bapak tolong jemput Becca pulang,” perintah Rivaldi.     Becca baru saja melakukan kunjungan dinas ke Grand Dining yang di Bali. Sebagai manajer operasional yang baru, ia ingin mengenal operasional masing-masing outlet dengan baik. Dan, dua hari yang lalu ia dijadwalkan mengunjungi Bali dan pagi ini jadwal pesawat kepulangannya. Becca cukup sedih ketika mendengar Grandma-nya harus kembali tanpa menunggunya. Tapi bagaimanapun juga ia terikat dengan tanggung jawab sehingga tidak bisa ikut mengantar Grandma-nya. Setidaknya Becca akan menghubungi Grandma-nya melalui video call saat ia sudah berada di bandara nanti.     Rivaldi mengambil alih kemudi dan Anya duduk di samping Rivaldi sementara Viona duduk di jok belakang. Range Rover putih itu membelah jalanan dengan anggunnya. Jalanan masih sangat sepi dan terlihat ada beberapa orangtua yang mengantar anaknya ke sekolah.     Tanpa terasa mobil SUV mewah itu sudah sampai di pintu masuk bandara. Kedua orang itu turun dari mobil. Rivaldi dengan sigap membuka bagasi dan mengeluarkan koper-koper besar milik Viona. Sementara Anya membantu membukakan pintu bagi Viona dan membantu Viona keluar dari mobil.     Viona memeluk Anya untuk berpamitan lalu beralih memeluk Rivaldi. Viona mendekatkan bibirnya untuk berbisik ke telinga Rivaldi.     “Jaga diri dan jaga hatimu baik-baik, Riva. Jangan pernah lupakan ucapan Mama waktu itu. Mama berharap kau bisa menjaga keluarga dan pernikahanmu dengan baik.”     Rivaldi mengangguk dalam pelukannya. Viona mengurai pelukannya dan memberikan cipika-cipiki pada putranya. Ia lalu masuk ke dalam bandara diiringi lambaian tangan dari Rivaldi dan Anya.     Setelah Viona menghilang dari balik pintu, Rivaldi menoleh ke arah Anya dengan memasukkan sebelah tangannya ke dalam kantong celana.     “Ayo kita berangkat, Anya!”     Anya memutar badannya menghadap Rivaldi lalu mengangguk. Keduanya berjalan beriringan kembali ke dalam mobil.     Sambil memasang sabuk pengamannya, Rivaldi kembali membuka suaranya.     “Jadi, kita ke mana dulu sekarang?” tanya Rivaldi untuk memastikan jadwal dan tujuannya. Semua jadwal dan tujuannya hari ini sudah disusun oleh Anya. Mereka akan mencari supplier bahan-bahan baku untuk membuat saus. Salah satu produk unggulan dari The Grand Dining yang juga akan diikutkan dalam tender untuk perusahaan Jepang. Mereka tidak mau main-main dalam urusan bahan. Mereka harus mencari supplier dengan kualitas terbaik namun harga yang terbaik pula.     Anya membuka buku agendanya.     “Saya melihat laporan beberapa nama supplier kita yang ada di area Pacet tapi beberapa bulan belakangan ini, hasil panen mereka tidak begitu bagus.”     “Lalu?”     “Saya mau mengusulkan survei ke tempat baru, Pak. Kebetulan di kampung halaman saya, kami baru saja memanen tomat dan bahan lain yang kita butuhkan untuk produk kita. Hasilnya sangat memuaskan. Kebetulan saya mengenal petaninya langsung jadi kita bisa meminta harga yang lebih murah.”     Rivaldi menengok Anya sekilas.     “Oke. Kita coba ke sana. Tunjukkan jalannya, Anya,” kata Rivaldi sambil tersenyum pada Anya.     “Baik, Pak. Let’s go!” seru Anya. Ia mulai terbiasa bertingkah seperti itu pada Rivaldi. Ia sekarang merasa nyaman menunjukkan dirinya yang sebenarnya pada Rivaldi.     Rivaldi memasang lagu-lagu jazz yang lembut untuk mengiringi perjalanan mereka menuju ke lokasi supplier. Anya terlihat sangat menikmatinya. Ia juga penikmat lagu jazz dan bahkan ia ikut bersenandung ketika mendengar beberapa lagu yang ia kenal.     Sepanjang jalan keduanya saling bercerita dan berbincang satu sama lain. Mulai dari urusan pekerjaan bahkan hingga masalah pribadi seperti hobby, makanan favorit dan musik favorit. Keduanya tak jarang terlihat saling bercanda satu sama lain. Hingga tak terasa mobil mereka baru saja melalui sebuah gapura besar bertuliskan selamat datang.     Perjalanan mereka makin menanjak ke atas pegunungan. Hamparan perkebunan sayur terlihat di sepanjang bukit yang mereka lewati. Tanah yang berpetak-petak tergelar sepanjang bukit dan nampak seperti coklat batang yang disusun bersambung-sambung. Belum lagi rangkaian pegunungan yang menjulang dan berhias awan pada puncaknya di seberang sana menambah cantik pemandangan yang mereka lihat itu.     Anya menurunkan kaca jendelanya dan melongokkan kepalanya keluar. Menghirup sebanyak-banyaknya udara segar di sana. Udara yang selalu ia rindukan selama berada di kota. Rambut Anya yang lurus berkibar dengan indahnya menghiasi wajah dan senyuman manis yang mengembang di wajahnya. Rivaldi ikut tersenyum melihat Anya. Ia menurunkan kaca jendelanya sendiri dan merasakan hawa sejuk pegunungan yang Anya juga rasakan.     “Udaranya sangat segar di sini!” seru Rivaldi.     Anya menengok ke arah Rivaldi. Tapi suara pria itu terlalu kecil karena angin kencang yang menerpa wajahnya.     “APA, PAK???” tanya Anya setengah berteriak.     Rivaldi tersenyum.     “Udaranya sejuk di sini!”     Anya mendengar ucapan Rivaldi barusan. Ia mengangguk cepat. Senyuman mengembang sempurna di wajahnya. Sejenak Rivaldi menikmati senyuman cantik dari wanita di sampingnya. Entah mengapa melihat senyuman Anya, ia merasakan sesuatu yang terhilang kini telah kembali.     Anya memberikan tanda pada Rivaldi bahwa mereka sudah dekat dengan tujuan mereka. Rivaldi menurunkan kecepatan mengemudinya dan sesuai tanda yang Anya berikan, ia menghentikan mobilnya di depan sebuah hamparan area perkebunan tomat yang luas. Mereka sudah sampai di lokasi yang mereka tuju.     “Kita berhenti di sini, Pak. Oh… kita beruntung rupanya… itu petaninya,” kata Anya sambil menunjuk pada seorang pria muda dengan topi peci, kaus berwarna hijau lengan pendek dan celana jeansnya.     Anya melepas sabuk pengamannya dengan cepat dan turun lebih dulu. Ia berjalan menuju ke arah pria itu lalu memeluk pria itu dengan erat lalu keduanya terlihat berbicara dengan sangat akrab. Rivaldi bertanya-tanya hubungan apa antara Anya dan pria petani itu. Ia lalu turun dan ia melihat Anya memberikan tanda pada pria itu bahwa Rivaldi akan menemuinya.     Pria muda itu membalikkan badannya ke arah Rivaldi. Rivaldi berjalan ke arah pria itu. Ia sudah melepaskan dasi dan jasnya di dalam mobil, sehingga pria itu hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya sudah digulung dipadukan dengan celana panjang kain hitamnya.     Rivaldi mengulurkan tangan ke arah pria muda itu.     “Selamat siang, saya Rivaldi.”     “Aries, ini Pak Rivaldi dan Pak Rivaldi ini Aries, sahabat masa kecil saya,” kata Anya memperkenalkan.     Pria muda itu menerima jabat tangan Rivaldi dengan senyuman. Ketiganya membicarakan serta mensurvei langsung tentang bahan yang akan mereka beli dan bernegosiasi masalah harga dan kesepakatan lainnya. Setelah mencapai kata sepakat, Rivaldi dan Aries saling berjabat tangan tanda sepakat.     “Baik kalau begitu besok Senin saya akan meminta Anya mengirimkan berkas kesepakatannya padamu,” kata Rivaldi.     “Baik, Pak. Saya tunggu. Oh ya, setelah ini kalian akan langsung pulang atau akan ke mana lagi?” tanya Aries setengah berbasa-basi. Sebenarnya pria itu ingin mengatakan hal yang lebih penting daripada sekedar bertanya tujuan Rivaldi dan Anya.     “Kami akan langsung kembali ke Surabaya,” sahut Anya cepat.     “Kupikir itu bukan ide bagus. Di area ini kabut akan turun lebih cepat dari area lain dan biasanya cukup pekat. Akan berbahaya jika kalian melanjutkan perjalanan ke Surabaya sekarang. Tinggallah di sini malam ini.”     “Tidak… tidak… lebih baik kami pulang dulu. Ada banyak hal yang harus kami selesaikan,” sahut Anya lagi. Rivaldi hanya menyimak pembicaraan itu sambil berpikir.     Tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Seluruh orang yang berada di area terbuka itu berhamburan mencari tempat berteduh, termasuk ketiga orang itu. Ketiganya langsung masuk ke dalam mobil Rivaldi dengan pakaian yang basah.     Baru saja mereka membicarakan masalah kabut, ternyata seperti kata Aries, kabut turun dengan lebatnya dan jarak pandang menjadi sangat pendek. Situasi ini berbahaya bagi pengemudi.     “Menginaplah di sini. Kurasa hujan dan kabut tidak akan berhenti dengan cepat hari ini,” prediksi Aries.     Anya menoleh ke arah Rivaldi menunggu persetujuan. Tapi jujur dalam hatinya ia berharap Rivaldi mengatakan ya pada perkataan Aries itu. Setidaknya ia bisa melihat wajah pria yang dikaguminya itu lebih lama dari hari-hari biasa. Di sisi lain ia ingin segera kembali agar Erica, Ibunya tidak mencemaskan keberadaannya.     “Baiklah. Kita akan menginap malam ini.”   A/N: Ada apa gerangan saat menginap? Apakah terjadi hal-hal yang (tidak) diinginkan? Hmm… lanjut aja bacanya biar nggak penasaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN