16. One Room For Two

2109 Kata
    “Mohon maaf sebelumnya, Pak. Kebetulan kamar di penginapan kami hanya tersisa satu buah,” kata petugas resepsionis penginapan yang ketiga orang itu datangi.     “APA? HANYA SATU?” tanya Rivaldi tak percaya.     “Betul, Pak. Kami baru saja menerima rombongan touring motor dan mereka memesan hampir seluruh kamar,” kata petugas resepsionis memberi jawaban yang mencengangkan untuk Rivaldi.     Rivaldi mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja sambil berpikir sejenak apa yang harus ia lakukan. Anya dan Aries menunggu di luar karena Anya terbatuk-batuk saat mencium asap rokok yang menguar di dalam lobby penginapan. Ada beberapa orang yang merokok di dalam ruangan tanpa menyadari pengunjung lain terganggu dengan asap rokok mereka. Rivaldi meminta Aries untuk menemani Anya di luar.     Awalnya ia memesan dua kamar, untuknya dan Anya dan sekarang hanya tersisa 1 ruangan. Ini artinya ia harus berbagi kamar dengan Anya dan ia merasa situasi ini sungguh tidak pantas dilakukan. Mengingat ia adalah pria beristri. Tidak mungkin tidur dalam satu kamar yang sama dengan wanita lain bukan?     Rivaldi akhirnya sudah membulatkan keputusannya. Mereka akan pulang ke Surabaya apapun yang terjadi. Tak masalah jika ia harus menyetir dalam kecepatan yang pelan karena jarak pandang yang pendek. Itu lebih baik daripada menginap dengan wanita yang bukan istrinya.       Baru saja ia ingin mengurungkan pesanan kamarnya, tiba-tiba sebuah tayangan berita dari stasiun TV lokal mengagetkannya.     “Para pemirsa, akibat dari hujan deras yang baru saja terjadi, daerah Cangar dilanda bencana tanah longsor. Reruntuhan tanah itu menutup akses jalan menuju Surabaya. Menurut perkiraan petugas, akses jalan baru bisa digunakan kembali esok hari. Malam ini…”     Seisi lobby hotel tiba-tiba menjadi riuh. Mereka mendengarkan berita itu dengan seksama dan terkejut bersama, termasuk Rivaldi yang memutuskan pulang malam ini. Tapi, sepertinya ia tidak memiliki pilihan lain selain menginap. Pilihan yang sangat ia hindari karena masalah etis.      Pria itu mendesah pasrah.     “Bagaimana Pak? Saya sarankan lebih baik Anda menginap dulu malam ini dan besok pagi bisa melanjutkan perjalanan karena akses jalan menuju Surabaya hanya satu dan jalan itu yang tertutup oleh longsor. Petugas pasti akan bekerja keras malam ini dan dipastikan besok pagi jalan itu bisa digunakan kembali,” kata petugas penginapan memberi saran sekaligus menenangkan Rivaldi.     Desa mereka memang seringkali dilanda tanah longsor karena tanah yang lebih banyak dikeruk dan dijadikan hotel dan lokasi wisata tanpa adanya usaha reboisasi di area sekitarnya. Jadi kejadian ini sangat wajar terjadi dan mereka sudah terbiasa menghadapi bencana serupa.     “Baiklah. Saya ambil kamar itu. Tapi tolong tambahkan extra bed ya.”     Petugas resepsionis mengerti dan memproses pesanan Rivaldi.     Di luar lobby, Anya mulai merasa cemas Rivaldi tidak kunjung keluar. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi. Ia berinisiatif untuk masuk ke dalam, tapi baru saja ia membuka pintu resepsionis Rivaldi sudah berdiri di hadapannya. Membuat jarak keduanya begitu dekat dan lagi-lagi jantung Anya berdetak cepat.     Rivaldi menunjukkan kuncinya kepada Anya. Anya menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menyadarkannya dari lamunannya.     “Sudah dapat kamarnya, Pak?” tanya Aries yang berada di samping Anya.     “Sayangnya mereka hanya ada satu kamar.”     “Sa-satu?” tanya Anya memastikan. Mendengar hanya ada satu kamar itu membuat jantung Anya berdebar. Pikirannya sudah terbang ke mana-mana karena ini berarti malam ini ia akan tidur di kamar yang sama dengan pria itu di penginapan yang ia tahu pasti kamarnya tidak begitu besar. Bagaimana jika terjadi sesuatu... Oh, tidak.. tidak... tidak. Anya tidak boleh memikirkan hal-hal yang buruk tentang pria itu. Ia tahu betul bagaimana Rivaldi yang teguh memegang prinsipnya.      Ia hanya bisa menghela nafas, menerima nasibnya untuk tidur sekamar dengan pria itu. Mungkin yang akan jadi masalah nantinya adalah hatinya. Jantungnya yang tidak akan berhenti berdetak cepat melihat wajah pria idamannya itu sepanjang malam.     “Anya?” panggil Rivaldi. Anya tersadar dari lamunannya.     “Oh, begini saja Pak. Kebetulan saya mengenal keluarga Aries dengan baik. Saya menginap di rumah Aries saja. Bagaimana, Ries? Boleh?”     “Hah? Di rumahku?” tanya Aries terkejut dengan menunjuk dirinya sendiri.     Anya mengangguk cepat.     “Mohon maaf, Anya. Kamar tamu di rumahku juga kebetulan dipakai untuk sepupuku yang baru saja datang dari Jakarta. Kami tidak punya kamar kosong untukmu.”     Ia menghela nafasnya pasrah. Ia sungguh tidak akan sanggup menahan gejolak dalam dirinya saat mengetahui ia harus bersama dengan pria pujaan hatinya itu sepanjang malam.     “Tapi aku bisa membawakan kalian baju ganti setidaknya untuk malam ini sekaligus makan malam, bagaimana?”     “Baiklah. Maaf merepotkanmu, Aries. Oh ya bagaimana kau akan pulang nantinya?” kata Rivaldi dengan tulus.      Ia bersyukur bertemu dengan Aries yang membantu mereka sepanjang hari ini. Di sisi lain, Anya hanya bisa membeku di sana. Ia masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak akan terjadi apapun antara dirinya dan Rivaldi malam ini.      'Semuanya akan baik-baik saja, Anya! Pak Rivaldi bukan orang yang m***m. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Semuanya akan baik-baik saja.' Anya terus meyakinkan dirinya sendiri sembari bernafas panjang berulang kali untuk menetralkan perasaannya yang entah mengapa jadi canggung.     “Bapak tidak perlu mengkhawatirkan saya. Di depan ada pangkalan ojek. Saya bisa naik ojek di sana. Oke kalau begitu saya akan balik ke rumah dulu. Nanti saya akan kembali lagi,” kata Aries sekaligus berpamitan pada kedua orang itu.     Setelah kepergian Aries, suasana canggung mulai terasa antara Rivaldi dan Anya. Keduanya berusaha menghindari tatapan mata satu sama lain. Rivaldi berkacak pinggang dan menoleh ke arah lain. Begitu juga Anya yang memainkan gantungan kunci tasnya dan menengok ke arah yang berbeda dengan Rivaldi.     “Kita…” kata mereka bersamaan. Keduanya lantas tersenyum.     “Kau dulu saja,” kata Rivaldi mendahulukan Anya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.     “Bapak dulu saja,” kata Anya juga dengan malu-malu.     Rivaldi tersenyum dan menghela nafasnya.     “Kita masuk ke kamar dulu saja agar kita bisa membersihkan diri dan beristirahat sambil menunggu Aries kembali.”     Anya menjadi gugup dan tiba-tiba kehilangan kata-katanya. Mendengar kata kamar saja sudah terbayang pikiran yang tidak-tidak di otaknya.     “Tidak perlu kuatir. Aku sudah memesan extra bed. Jadi kau tidak perlu berpikiran yang aneh-aneh, Anya. Lagipula kau tahu sendiri aku juga sudah beristri,” kata Rivaldi dengan nada bercanda seolah bisa menebak pikiran Anya. Anya tersenyum kecut. Ia mengangguk dan hanya bisa menurut jika atasannya yang berkata demikian.     Keduanya sekarang sudah di dalam kamar. Rivaldi mendudukkan dirinya ke sisi ranjang. Anya yang berada di belakangnya masuk ke kamar dengan takut-takut. Ia melangkahkan kakinya perlahan dan melihat seisi kamar. Pandangannya langsung tertuju ke arah pintu kaca yang menuju ke balkon.     Kamar itu menghadap ke arah pegunungan yang menjulang begitu indah. Pepohonan rindang dan hamparan sawah terlihat dari balkon kamar di lantai tiga itu. Anya terus masuk tanpa mempedulikan Rivaldi hingga menuju balkon. Betapa ia merindukan pemandangan ini. Pemandangan khas dari kampung halamannya sendiri. Hiruk pikuk kota membuatnya kehilangan kesempatan untuk bisa menikmati alam yang membentang sempurna di hadapannya.     Tanpa ragu ia menarik tuas kuncinya lalu membuka pintu kaca penghubung balkon. Angin sejuk pegunungan bertiup di sekitar wajahnya dan membuat rambut panjangnya yang tergerai indah berterbangan. Senyuman mengembang di wajah Anya.     Di sudut sana Rivaldi melihat apa yang sedang dilakukan wanita itu. Ia ikut tersenyum melihat ekspresi Anya yang begitu takjub pada pemandangan yang ia lihat. Tiba-tiba bayangan wajah Celline muncul di pikirannya. Ekspresi yang sama, yang ia rindukan saat dirinya dan Celline berkencan di area persawahan di awal hubungan mereka.     Raut wajahnya seketika berubah. Rasa sepi di hatinya itu kembali lagi. Ia sungguh merindukan Celline. Ia menghembuskan nafasnya kasar lalu beralih ke dalam kamar mandi. Ia pikir ia harus menyegarkan pikirannya saat ini.     Suara pintu kamar mandi yang tertutup membuat Anya berjingkat kaget. Rivaldi sudah menghilang dan masuk ke dalam kamar mandi. Ini kesempatan Anya untuk merebahkan diri di atas ranjang. Tanpa basa-basi, ia melemparkan tasnya lalu tubuhnya ke atas ranjang empuk itu sambil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Senyuman itu tak lepas dari wajahnya.     Tiba-tiba rasa kantuk mendera gadis itu. Hembusan angin yang terasa sejuk ditambah hangat dan nyamannya kasur yang ia tempati membuat ia tak kuasa menahan matanya untuk terpejam. Ia tertidur.     Di saat yang bersamaan Rivaldi keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang d**a. Ia melihat sekretarisnya sudah terlelap di sana dengan ekspresi polosnya. Rivaldi tersenyum. Ia berjalan mendekat ke arah balkon. Angin yang menerobos masuk sudah mulai terasa dingin dan menusuk tulang. Ia menutup pintu balkon lalu beralih ke sisi ranjang di mana Anya sudah tertidur pulas di sana.     Wajah polos Anya terlihat begitu manis. Rivaldi menaikkan sudut bibirnya beberapa senti lalu menarik selimut dan menutupkan selimut itu ke tubuh Anya yang sekarang sudah meringkuk karena merasa dingin.     Tanpa terasa bibirnya mengatakan, "Cantik. Kau sangat cantik, Anya." Dan, ia tersenyum melihat wanita itu. ***     Rivaldi baru saja mengakhiri panggilannya pada Becca. Ia yakin putrinya itu pasti mencarinya karena hingga malam belum juga berada di rumah. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke televisi. Rivaldi sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dibawakan oleh Aries beberapa saat yang lalu.     Bagaimana dengan Anya? Sudah dua jam ini Anya tertidur dan ia belum juga membuka matanya. Ia merasa terlalu nyaman bahkan tidak menyadari saat Aries datang dan mengantarkan pakaian serta makan malam bagi mereka. Rivaldi sendiri menunggu gadis itu terbangun sambil menikmati acara televisi setelah tadi menyelesaikan beberapa pekerjaan dari laptop dan menghubungi Becca.     Baru saja Rivaldi menutup teleponnya dengaan Becca, Anya mulai membuka matanya lalu menggeliat bangun.     “Sudah bangun?” tanya Rivaldi.     Anya baru ingat bahwa dia sedang di dalam kamar yang sama dengan bosnya. Wajahnya berubah menjadi malu, menyadari betapa konyolnya ia tertidur barusan ditambah lagi bekas liur yang masih tercetak di wajahnya. Bibirnya masih terasa lengket. Anya mengangguk pelan dengan malu-malu sambil menjilat sudut bibirnya yang lengket. Rivaldi berdiri dari tempat duduknya lalu menyerahkan pakaian ganti untuk Anya.     “Tadi Aries ke sini dan membawakan pakaian ganti untuk kita. Ini untukmu.”     “Aries ke sini? ASTAGA! Berapa jam aku tertidur?” pekik Anya lalu bergumam pada dirinya sendiri dengan suara yang lantang. Jelas saja, Rivaldi mendengarnya. Rivaldi tersenyum tipis mendengar pertanyaan konyol Anya.     “Dua jam. Kau tertidur dua jam,” kata pria itu.     Anya merasa malu dengan apa yang sudah ia lakukan. Dua jam ia tertidur begitu pulasnya tanpa mempedulikan atasannya yang bekerja. Oh, bodohnya dia! Ia menarik selimutnya untuk menutupi setengah wajahnya yang memerah karena malu. Rivaldi terkekeh lalu duduk kembali di kursi meja rias, tempat duduknya dari tadi.     “Mandilah dan kita akan makan malam. Perutku sudah lapar.”     Anya turun dari ranjang dengan menundukkan kepalanya akibat malu yang tak tertahankan sambil membawa pakaian gantinya dan bergegas masuk di  kamar mandi. Rivaldi hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Tak pernah ia sangka bahwa Anya bisa bertingkah sekonyol itu. Di kantor wanita itu begitu terlihat profesional namun ternyata ia hanyalah seorang gadis muda yang polos.     Tak berapa lama Anya keluar dari kamar mandi dan Rivaldi sudah menata kotak-kotak makan yang dibawakan Aries untuk mereka. Wangi masakan itu menyeruak ke seisi kamar. Lidah Anya sudah akan meneteskan liurnya karena wanginya yang menggiurkan.     Rivaldi membuka pintu balkon dan membiarkan angin malam menyapa mereka berdua. Langit malam ini berubah menjadi sangat cerah dan menampakkan bulan dengan bulatan penuh di antara pegunungan yang mengapitnya. Belum lagi gemerlap lampu di area kaki gunung yang nampak begitu jelas di hadapan mereka. Dan itulah pemandangan makan malam sederhana mereka.     Anya tercengang melihat pemandangan di hadapannya. Sudah lama ia tidak menikmati pemandangan itu karena terlalu sibuk untuk sekedar menikmati pemandangan saat ia pulang kampung. Ia biasanya langsung membantu Erica menjaga toko dan di malam hari ia membantu menghitung persediaan toko hingga waktu tidur tiba. Dan saat ia melihat pemandangan itu lagi, rasa takjub itu kembali ke permukaan pikirannya.     Tanpa melanjutkan mengeringkan rambutnya yang basah ia berjalan maju ke arah balkon. Dan tanpa berkedip ia melihat semua cahaya yang berpendar dari sana. Rivaldi menatap Anya dengan heran. Ia menyunggingkan senyumnya melihat tingkah polos Anya. Entah mengapa ia menyukai sikap polos Anya di hadapannya saat ini.     “Wuaahhh… bagus sekali pemandangannya!” seru Anya dengan penuh kekaguman.     “Dan, makan malam kita terasa seperti makan malam romantis di The Grand Dining?” balas Rivaldi sedikit bercanda. Refleks Anya mengangguk. Rivaldi tak meredupkan senyumannya yang merekah dan menggelengkan kepalanya.     Anya menyadari apa yang dilakukannya.     “Oh, maksud saya… anu… eng…”     “Sudah, ayo kita makan,” ajak Rivaldi.     Anya tertunduk malu. Ia berjalan mendekat ke arah meja tempat makan malam sederhana mereka. Awalnya makan malam itu dilakukan dalam diam. Namun lambat laun keduanya terlibat dalam pembicaraan dan saling bercerita. Rasa makanan yang sederhana itu entah mengapa terasa begitu istimewa. Suasana malam yang dingin sepertinya terasa menghangat bagi keduanya.     Hangat? Ya, dan rasa itu pula yang pria itu rindukan sejak istrinya tidak sadarkan diri dan kini wanita lain di hadapannya inilah yang mengisi kerinduan itu dan wanita lain ini jugalah yang membuat hatinya terasa menghangat setelah sekian lama membeku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN