“Mau berjalan-jalan sekitar sini, Anya?”
“Uhmm… Bapak suka jagung bakar? Kebetulan saya tahu di sekitar sini ada penjual jagung bakar yang enak. Mereka juga menjual minuman hangat seperti ronde atau angsle.”
“Ide bagus. Please lead the way!” kata Rivaldi dan mempersilakan Anya memimpin jalan mereka.
Anya tersenyum lalu berjalan mendahului Rivaldi menyusuri area taman penginapan yang kecil namun ditata dengan rapi dan berlanjut keluar dari pagar penginapan. Keduanya berjalan beriringan menikmati pemandangan malam serta sejuknya angin pegunungan. Di tengah perjalanan tiba-tiba Anya melambatkan langkahnya dan berjalan bersisian dengan Rivaldi.
“Bapak lihat gubuk kecil di sebelah sana?” kata Anya tiba-tiba sambil menunjuk ke sebuah pondok sederhana yang atapnya terbuat dari jerami dan letaknya di area perkebunan di atas bukit.
Rivaldi mengikuti arah yang ditunjuk Anya sambil bertanya-tanya ada apa gerangan di sana.
“Itu dulu adalah tempat main saya dan teman-teman. Kami bermain congklak, bekel dan beberapa permainan tradisional lain sambil menikmati senja. Melihat matahari mulai terbenam, langit dengan warna yang mengagumkan dan burung-burung yang terbang pulang ke sarangnya sungguh sangat mengagumkan,” kata Anya sambil memandang pondok itu dengan tersenyum.
Anya menjeda ucapannya. Ia lalu memandang Rivaldi yang masih tertegun dengan kata-kata Anya lalu memalingkan wajahnya lurus ke arah pondok itu lagi.
“Saya selalu membayangkan bagaimana burung-burung itu di sarangnya. Mungkin mereka akan menemui pasangan mereka, bermain dan menyuapi anak-anak mereka bersama dan mereka akan tidur bersama dalam satu sarang yang sederhana. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat indah dan hangat. Jujur sampai saat ini saya merasa iri dengan burung-burung itu.”
Rivaldi memandang Anya dengan tidak berkedip.
“Iri?”
Anya mengangguk pelan.
“Burung-burung memiliki sarang dan keluarganya yang lengkap dan hangat. Sementara saya? Orangtua saya bercerai saat saya berusia lima tahun dan kalau Bapak ingat pertemuan kita waktu itu adalah hari pertama perpisahan orangtua saya.
Sejak itu saya selalu bermimpi untuk membangun keluarga yang hangat dengan pria baik yang saya cintai dan ia mencintai saya, tinggal bersama dalam sebuah rumah sederhana, merawat anak-anak kami dengan penuh cinta dan membuat suasanya yang hangat bagi semuanya,” lanjut Anya sambil matanya menerawang jauh dan tanpa terasa matanya meneteskan air mata. Ia larut dalam perasaannya sendiri. Mengasihani hidupnya yang terasa begitu malang.
Rivaldi tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Anya yang kini terlihat meneteskan beberapa tetes air mata. Hatiya ikut terasa bergetar.
“Kau layak mendapatkan pria yang baik, Anya. Pria itu pasti sangat beruntung mendapatkan wanita sepertimu.”
Kata-kata Rivaldi tadi seolah menyadarkan Anya bahwa ia sudah berbicara terlalu banyak di hadapan atasannya ini. Ia buru-buru menghapus air matanya cepat dan menggantikan air mata itu dengan senyuman.
“Eh, apa sih yang aku katakan? Hahahah… maaf, Pak. Abaikan saja kata-kata saya yang melantur,“ kata Anya sambil memalingkan wajahnya. Sementara Rivaldi hanya tersenyum lalu memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya. Padahal kata-katanya yang ia lontarkan tadi adalah benar adanya. Ia berharap Anya mendapatkan seseorang yang pantas dan layak untuk menjadi pendamping hidupnya kelak.
Mereka meneruskan perjalanan menuju deretan warung di tepi jalan.
“Sepertinya kita sudah sampai. Mana tempat makan favoritmu?”
Langkah kaki mereka akhirnya sampai di deretan warung kecil yang dibangun sepanjang jalan di atas jurang. Keduanya berhenti sejenak di sana. Anya lalu melongokkan kepalanya dan menunjuk salah satu warung.
“Di sana, Pak.”
Keduanya melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya mereka tiba di salah satu warung sederhana yang atap dan dindingnya dibangun dari anyaman rotan dan tiangnya terbuat dari beberapa batang bambu. Anya berhenti sejenak untuk mengatakan sesuatu yang ada dalam benaknya sedari tadi.
“Tapi, mohon maaf tempatnya seperti ini. Suram dan kelihatan kurang penerangan dan mungkin juga agak sedikit kotor. Eng… atau mungkin Bapak tunggu di sini saja, saya yang akan memesankan pesanan Bapak. Kita akan makan di hotel saja.”
Bukan tanpa alasan Anya mengatakan itu pada Rivaldi. Ia hanya merasa tidak enak jika membawa atasannya ke tempat seperti ini. Seorang bos besar dibawa ke tempat yang sederhana, reyot, mungkin terkesan kumuh dan kotor serta jangan lupakan letaknya ada di atas jurang!
Rivaldi menghela nafas.
“Tunggu apa lagi, ayo masuk!”
Anya tercengang bosnya sudah masuk ke dalam warung kecil itu dan tanpa ragu ia sudah duduk bersila di area lesehan. Anya bertanya-tanya apakah sungguh Rivaldi baik-baik saja makan di tempat seperti ini? Tanpa ingin membuat Rivaldi menunggu lama, Anya masuk ke dalam warung dan duduk bersila berhadapan dengan Rivaldi.
Setelah memesan kudapan ringan mereka, keduanya kembali terlibat pembicaraan.
“Apakah Bapak pernah makan di tempat seperti ini sebelumnya? Saya agak tidak enak kalau mengajak Bapak ke tempat yang tidak layak seperti ini,” kata Anya dengan tidak enak hati.
Rivaldi tertawa.
“Anya… Anya… jelas aku pernah bahkan cukup sering makan di tempat seperti ini. Masa mudaku dulu tidaklah seperti yang kau bayangkan. Aku pernah tinggal di sebuah rumah kontrakan sempit, menjadi pelayan The Grand Dining dan ke mana-mana hanya menggunakan motor bahkan aku pernah kehabisan bahan makanan dan hanya bisa berpuasa sampai waktunya menerima gaji. Makan di tempat seperti ini seperti nostalgia bagiku.”
Anya menyunggingkan senyumannya di hadapan Rivaldi. Rivaldi meneruskan ceritanya hingga mereka menghabiskan kudapan mereka.
Malam kian larut, suara derik serangga malam menghiasi malam sunyi mereka. Belum lagi bintang-bintang yang gemerlapan di atas langit menambah indah malam yang akan dijalani oleh bos dan sekretarisnya itu. Keduanya kini sudah kembali ke kamar. Rivaldi menguap beberapa kali tanda ia sudah tidak tahan lagi untuk segera tidur.
“Bapak tidur di atas saja. Saya tidur di extra bed saja,” kata Anya. Ia sungguh tidak enak hati jika atasannya yang tidur di kasur tambahan yang tidak seempuk ranjang penginapan.
Rivaldi tersenyum.
“Tidak, kau tidur di atas saja. Aku tidak bisa membiarkan seorang wanita tidur di ranjang yang kurang nyaman.”
Kata-kata Rivaldi barusan membuat gelanyar aneh muncul di dalam diri Anya. Ia merasa mendapat perhatian dari atasan yang dikaguminya itu. Semburat merah lagi-lagi muncul di wajah Anya.
“Oke, selamat malam,” kata Rivaldi sambil tersenyum dan berjalan ke arah extra bed lalu tanpa menunggu aba-aba pria itu menarik selimutnya lalu berbaring di atas ranjang tambahan itu, meninggalkan Anya yang terdiam malu-malu di sana.
“Selamat malam, Pak,” gumam Anya lirih sambil mengulum senyumnya. Gentle. Itulah yang Anya lihat dari pribadi Rivaldi. Pria itu memang bukan pria yang paling tampan sejagad raya, tapi dia adalah pria yang mampu memperlakukan orang lain, terlebih seorang wanita dengan baik. Ia yakin tidak ada wanita yang tidak terpesona dengan sosok Rivaldi. Seperti dirinya sekarang dan sungguh beruntunglah seorang wanita yang mampu singgah dalam hati pria itu.
Anya sekarang ikut berbaring di atas ranjangnya. Dengkuran halus terdengar dari sisi ranjang, tempat extra bed itu berada. Anya yakin pria itu sudah tertidur dengan pulas. Anya memiringkan badannya ke sisi tempat Rivaldi terlelap. Ia memandangi wajah tampan pria itu dengan senyuman mengembang di wajahnya.
Baru kali ini ia bisa menjelajah wajah pria yang disukainya itu dengan begitu dekat. Kini ia melihat wajah itu sungguh terpahat dengan sempurna di wajah Rivaldi. Tubuhnya yang tegap dan dadanya yang bidang menambah kesempurnaan pada pria ini. Belum lagi sikapnya yang begitu lembut, ramah dan perhatian pada semua orang. Sungguh, Anya hanya bisa mengagungkan Tuhan karena menciptakan pria yang begitu sempurna di matanya. Seakan tak ada cacat di hadapannya. Dan, ia menyadari bahwa ia mungkin sudah jatuh cinta pada pria itu dan ia makin yakin ia memiliki perasaan lebih dari sekedar kagum.
Malam ini akan menjadi malam yang akan Anya kenang seumur hidupnya meskipun ia tahu ia tidak akan bisa memiliki pria sempurna itu.
***
Tiga hari sudah berlalu sejak kepergian Rivaldi dan Anya waktu itu. Kedua orang itu terlihat makin akrab. Segala keputusan Rivaldi, selalu dibuat dengan diskusi dengan Anya terlebih dulu. Mereka jadi sering makan siang bersama.
Tak terasa kini waktu mereka untuk menyelesaikan persiapan tender itu tinggal satu hari. Besok segalanya harus sudah siap dan mereka akan menghadapi momen besar bagi GD Corp.
Seluruh karyawan tampak sangat sibuk pagi ini. Begitu juga Aaron, Becca, Rivaldi dan Anya. Keempat orang itu sekarang sudah berada di dalam ruangan Rivaldi. Mereka menyusun satu per satu dokumen yang akan mereka presentasikan untuk pertandingan tender besok.
Beberapa kali keempatnya terlibat perdebatan untuk menentukan materi yang akan mereka presentasikan besok. Namun semuanya itu mampu dibicarakan dengan baik-baik. Kini mereka sibuk menyiapkan dokumen yang terakhir, yaitu dokumen terkait dengan alur produksi dan uji kualitas bahan. Dokumen yang dikenal paling panjang proses pengerjaannya dan paling melelahkan.
Ada begitu banyak bagan yang harus disusun dan ada begitu banyak data dan catatan lain yang harus diikutsertakan di dalamnya. Dan dokumen inilah yang akan menjadi kunci keberhasilan tender kali ini.
Becca berdiri dari kursinya dan meregangkan otot-ototnya yang kaku. Ia memijit-mijit ringan bahunya yang terasa kaku. Aaron melihat Becca yang kelelahan. Ia menarik tangan Becca untuk duduk kembali. Ia berdiri di belakang Becca lalu memijit bahu gadisnya itu dengan penuh kasih sayang.
“Sudah enakan?” tanya Aaron lembut pada cuping Becca. Becca tersenyum dan menikmati pijatan Aaron yang memang terkenal ahli memijit sejak dulu.
“Agak ke bawah sedikit, Sayang. Di sini…” sahut Becca sambil menunjuk ke arah punggung bagian tengahnya yang terasa pegal. Aaron tersenyum lalu memijit ke area yang ditunjukkan Becca. Tangan nakalnya lalu memberikan sentuhan kejut pada pinggang Becca.
“Auuww…” Becca menjerit terkejut dan sukses membuat Rivaldi dan Anya melihat ke arah mereka berdua. Sementara Aaron? Ia hanya tertawa melihat Becca. Becca menoleh ke arah Aaron lalu memukul lengannya dengan dokumen yang ia pegang dengan gemas. Aaron hanya bisa tertawa.
Rivaldi dan Anya ikut tersenyum melihat kedua orang itu.
“Sudah, ayo kita lanjutkan!”
Keempat orang itu kembali serius menyelesaikan pekerjaan mereka. Hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 9 malam dan mereka masih kurang satu dokumen lagi. Becca sudah terlelap dengan posisi terduduk di atas sofa empuk itu. Kepalanya tertunduk dan matanya terpejam erat. Aaron pun sudah terlihat menguap berulang kali dan matanya berair. Sementara Anya? Ia masih berusaha mengerjakan dokumennya dengan serius sambil sesekali menguap.
Rivaldi melihat putrinya yang sudah tertidur pulas. Ia tidak tega membiarkan putrinya tidur dengan posisi yang sungguh tidak nyaman. Ia tahu putrinya sungguh kelelahan dan ia pikir mereka semua harus beristirahat dan ia yang akan menyelesaikan semuanya.
Rivaldi memanggil Aaron dan meminta pria itu mengantar Becca pulang ke rumah lebih dulu.
“Setelah mengantar Becca, kau juga istirahatlah di rumah.”
“Ta-tapi…”
“Tenang saja, aku dan Anya akan menyelesaikannya. Kita tinggal membuat beberapa bab lagi kan?”
Aaron mengangguk.
“Sudah, pulanglah. Aku membutuhkan kalian tampil prima besok.”
Dengan terpaksa ia mengikuti perintah Rivaldi. Aaron membangunkan Becca namun gadis itu sudah tidak sanggup membuka matanya. Pada akhirnya Aaron menggendong Becca di punggungnya lalu membawa kekasihnya itu pulang.
Anya juga terlihat sudah menguap. Rivaldi bisa melihat wajah Anya yang sudah sangat lelah. Ia juga tidak bisa membiarkan sekretarisnya bekerja tanpa beristirahat.
“Istirahatlah dulu, Anya. Jangan sampai kau juga ikut sakit,” kata Rivaldi dengan penuh perhatian.
Bukannya menuruti apa kata Rivaldi, Anya sekarang malah berdiri dan mengambil dokumen yang ia baru saja cetak.
“Saya masih kuat, Pak. Kita lanjutkan saja,” sahut Anya sambil berdiri dan berjalan ke arah tumpukan dokumen di atas meja sofa. Rivaldi hanya bisa memandangi gadis itu. Semua keputusan untuk lanjut atau beristirahat sekarang ada di tangan gadis itu. Ia tidak bisa memaksakan kehendaknya.
Ia kembali berkutat dengan laptopnya dan Anya berusaha menyusun dan merapikan dokumen-dokumen yang ada di sana. Saat Rivaldi bermaksud menanyakan sesuatu pada Anya, ia melihat Anya sudah terlelap di atas sofa dengan sebuah dokumen yang menutupi wajahnya.
“Kau masih bilang tidak kelelahan?” gumam Rivaldi sambil tersenyum tipis.
Ia meraih jasnya yang tergantung di kursi kebesarannya lalu berjalan mendekat ke arah Anya yang terlelap. Ia mengambil dokumen yang menutupi wajah Anya dan meletakkannya di atas meja kembali. Ia membetulkan posisi tidur Anya hingga tubuhnya berada di tengah sofa lalu menyelimuti tubuh Anya dengan jasnya.
Saat Rivaldi menyelimuti Anya, ia menatap lekat wajah Anya yang terlihat manis. Gadis itu sungguh sangat cantik. Sejenak ia mengagumi wajah Anya. Tanpa terasa sudut bibirnya terangkat ke atas melihat wajah polos gadis itu. Tapi, lagi-lagi bayangan Celline muncul di benaknya. Celline pernah tertidur seperti Anya saat membantunya dulu. Rivaldi sadar dan memalingkan wajahnya dari Anya.
Ia berjalan ke arah jendela transaparan di ruangannya dan memandang ke arah hiruk pikuk kota di bawahnya. Pikiran dan perasaanya berkecamuk. Bayangan Celline dalam diri Anya begitu terasa dan hatinya terasa bimbang.
‘Mengapa aku selalu melihat Celline dalam diri Anya? Apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku?’
A/N: Siapa yang nggak melting kena Rivaldi? Dah billionaire, tampan, baik, perhatian, penyayang, lembut lagi. Ohh… co cuiiitttt….