Anya terbangun dari tidurnya. Matanya mengerjap beberapa kali dan ia sadar bahwa ini bukan waktunya untuk beristirahat. Sebentar lagi presentasi mereka akan dilaksanakan dan mereka harus segera menyelesaikan materi yang mereka siapkan. Anya menurunkan jas yang digunakannya sebagai selimut. Saat melihat jas itu, dirinya heran. Seseorang merelakan jasnya untuk menjadi selimut Anya. Anya melirik ke arah Rivaldi. Pria itu sepertinya juga tertidur di kursi kebesarannya.
Ia menurunkan kakinya turun ke bawah sofa dan ia melirik jam dinding di hadapannya. Pukul 4 pagi! Artinya dia sudah tertidur selama 6 jam tadi dan tidak ada orang yang membangunkannya. Ia tergopoh dan menengok ke arah meja di depannya. Ia harus segera menyelesaikan laporannya.
Tapi betapa kagetnya ia saat ini. Semua laporan itu sudah tersusun dan terbendel rapi di atas sana. Artinya ada seseorang yang mengerjakan segalanya saat ia tertidur. Dan orang yang sama yang membuat Anya tertidur dengan lelap dan hangat.
Pria itu rupanya juga sudah tertidur di atas kursinya dengan bersidekap. Kakinya diluruskan ke atas kursi lain di hadapannya. Ya, pria itu adalah Rivaldi. Anya tersenyum.
Lalu gadis itu berdiri dan meregangkan otot-ototnya sejenak lalu berjalan mendekati Rivaldi. Ia merapikan berkas-berkas yang ada di atas meja kerja Rivaldi sambil matanya menatap lekat Rivaldi. Senyuman manis itu tidak luntur dari bibir Anya. Pria yang dikaguminya ini terlihat makin menakjubkan ketika ia sedang tertidur.
Guratan wajah dan ketampanan pria itu nampak jelas walau ia menutup mata. Tiba-tiba pria itu mengernyitkan dahinya. Anya terkesiap dan ia melanjutkan lagi meringkas seluruh berkas yang tercecer.
Mata Rivaldi terbuka dan ia melihat Anya di hadapannya.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Anya dengan senyuman.
“Pagi. Kau sudah bangun rupanya. Pukul berapa sekarang?” tanya Rivaldi sambil berusaha mengembalikan fokusnya.
“Pukul 4 pagi, Pak.”
“Sudah pagi rupanya. Ayo kita pulang! Beristirahatlah sejenak dan kita akan bersiap untuk presentasi hari ini,” kata Rivaldi sambil menggeliat.
“Baik, Pak.”
Keduanya berkemas dan meninggalkan kantor itu bersama-sama. Rivaldi akhirnya mengantar Anya karena jalanan masih sepi dan agak tidak masuk akal untuk mendapatkan taksi di jam sesubuh ini. Setelah itu barulah ia kembali ke kediamannya.
***
Becca sudah bersiap dengan pakaian kerjanya. Ia menempati kursi meja makannya dan dia belum melihat ayahnya. Biasanya, ia yang selalu datang mendahului Becca tapi kini kondisinya berbalik. Becca menanyakan keberadaan ayahnya pada salah satu pengurus rumah tangga.
“Bapak baru kembali pukul 5 pagi, Non dan sepertinya Bapak masih ada di kamarnya,” kata pembantu itu.
“Oke, aku akan membangunkan Papa.”
Becca baru saja berdiri saat Rivaldi turun dengan tergesa-gesa ke bawah sambil membetulkan dasinya.
“Pagi, Sayang!” sapa Rivaldi sambil mengecup kening Becca lalu memutari meja dan duduk di kursinya.
“Baru saja aku mau membangunkan Papa. Kata Bibi, Papa pulang subuh tadi ya? Pasti Papa lelah! Bagaimana jika aku yang menggantikan Papa presentasi hari ini?” kata Becca yang sudah duduk kembali di kursinya lalu bersiap menyantap soto ayam hangat di hadapannya.
“Tidak perlu. Papa masih sanggup. Kemarin Anya banyak membantu Papa jadi Papa tidak terlalu lelah,” jawab Rivaldi sambil menyeruput kuah soto dari sendoknya.
“Oh… kalau begitu Papa harus makan yang banyak biar semangat!” kata Becca sambil berdiri dan menambahkan soto ke mangkuk Rivaldi. Rivaldi menerimanya dengan senyuman.
Keduanya lalu berangkat ke kantor bersama.
***
Ruangan rapat sudah disiapkan dengan rapi. Anya datang lebih awal dan ia mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Ia tidak mau ada kesalahan dalam pekerjaannya kali ini. Ia mencoba sambungan layar LCD dengan proyektornya. Ia lalu mencoba microphone yang akan menghubungkan pembicaraan mereka dengan pihak perusahaan Jepang. Dengan dibantu oleh dua orang teknisi ruang rapat itu siap.
Rivaldi, Becca dan Aaron masuk ke dalam ruang rapat yang sekarang sudah dihadiri oleh para petinggi lain dari GD Corp. Anya mengambil duduk di samping Rivaldi dan mempersiapkan laptopnya untuk melakukan panggilan video ke Jepang. Rivaldi mendekatkan kursinya pada Anya dan berbisik pada gadis itu.
“Semuanya sudah siap? Seperti rencana kita subuh tadi, keluarkan materi presentasi pamungkas kita di akhir.”
“Oke,” jawab Anya tanpa mengeluarkan suara dan membuat tanda oke dengan jarinya sambil tersenyum. Rivaldi menirukan apa yang dilakukan Anya.
Tanpa sadar apa yang dilakukan kedua orang itu tertangkap oleh mata Becca. Ia merasa ada yang aneh dengan senyuman yang ayahnya berikan pada Anya. Tidak seperti biasanya, ayahnya bisa tersenyum selepas dan semanis itu sejak Ibunya berada di rumah sakit. Tapi ia buru-buru mengenyahkan pikirannya dan berfokus pada meeting hari ini.
Dua jam sudah presentasi itu dilaksanakan. Rivaldi mampu memaparkan semua materi presentasinya dengan apik. Pihak perusahaan Jepang juga tampaknya menyukai apa yang dipaparkan Rivaldi. Bahkan, beberapa pujian sempat dilontarkan oleh pihak Jepang tersebut. Kini pertemuan online itu telah berakhir. Pihak perusahaan Jepang akan memberikan jawaban mereka dalam 1 hingga 2 hari ke depan.
“Jika kita berhasil memenangkan tender ini, saya akan memberikan izin cuti 1 hari bagi semua orang yang terlibat dalam proyek ini,” kata Rivaldi kepada para peserta rapat di dalam sana.
Sorak-sorai terdengar di sana. Anya terlihat sumringah dan bertepuk tangan. Mereka mengharapkan yang terbaik untuk hasil presentasi itu.
Dua hari sudah berlalu dan sekarang para petinggi GD Corp sudah ada di dalam ruang rapat kembali. Perusahaan Jepang itu akan mengumumkan peserta tender dan seluruh orang di dalam ruangan itu merasa gugup. Becca terus merapalkan doa bersama dengan Aaron sambil bergandengan tangan. Begitu juga Anya yang ikut berdoa sebelum pengumuman itu dimulai. Baik Becca, Anya dan beberapa orang lain tidak berani menatap langsung ke layar karena saking gugupnya.
“Dan, dengan berbagai pertimbangan serta melihat seluruh kualitas dan presentasi kami memutuskan untuk memilih bekerja sama dengan… GD CORP!”
Sontak seisi ruangan berteriak kegirangan bak pertandingan bola. Becca meneteskan air mata harunya. Kerja keras mereka selama seminggu ini terbayar dengan sebuah kemenangan. Anya bertepuk tangan dan wajahnya begitu terlihat gembira. Rivaldi yang ikut bergembira memandang Anya. Gadis yang sudah seminggu ini menemaninya, berbagi lelah bersama terlihat begitu bahagia dengan kemenangan yang mereka dapatkan. Ia merasa bahagia ketika melihat Anya bahagia.
Anya menatap Rivaldi dengan senyum mengembang di wajahnya. Ia mengacungkan kedua jempolnya kepada Rivaldi. Rivaldi terkekeh lalu membalas memberikan dua jempol untuk Anya juga. Keduanya tertawa dan saling berbagi kebahagiaan.
***
Seperti janji Rivaldi, hari ini GD Corp diliburkan satu hari sebagai apresiasi atas kerja keras setiap orang dalam memenangkan tender itu. Kini Anya sudah berada di dalam kos sederhananya. Ia kembali pada kebiasaan lamanya yaitu tidur hingga siang bolong.
Erica menata barang-barang pesanan customer-nya di lantai. Ia memutuskan untuk berdagang secara online dan hasilnya cukup menguntungkan. Hampir setiap hari selalu ada pesanan bagi barang-barang yang dijualnya. Dan kini Erica sedang mengemas barang-barang pesanan tersebut.
Ia melihat Anya yang tertidur seperti beruang yang melakukan hibernasi. Tertidur pulas bahkan seolah tidak bisa dibangunkan. Ia sudah memanggil-manggil Anya berulang kali tapi gadis itu tidak menyahut. Ia masih tetap terlelap. Erica menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya yang ternyata hobi tidur ini.
Tiba-tiba pintu kos mereka diketuk dari luar oleh seseorang dengan tidak sabaran. Erica berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju ke arah pintu. Ia membuka tirai jendela kamar sejenak dan sinar yang masuk membangunkan Anya. Erica terkejut melihat sosok yang berdiri di depan kamar mereka saat ini.
“Ma, tutup gordennya. Aku masih mau tidur beberapa menit lagi.”
TOK.. TOK… TOK… TOK…
Erica kembali ke ranjang Anya denga wajah penuh gugup dan takut.
“Ada siapa itu, Ma?”
“Cepat kita sembunyi… cepat kita sembunyi… pria itu datang lagi!” kata Erica dengan tergopoh-gopoh sambil berusaha mencari tempat untuk bersembunyi. Anya mengerti apa yang dimaksud Ibunya. Ia juga berusaha mencari cara agar mereka berdua bisa bersembunyi. Mereka takut dengan pria itu.
BRRAAKKKK…
Pintu kamar mereka dibuka paksa. Pria itu masuk tiba-tiba tanpa mempedulikan dua orang wanita yang ketakutan di sana. Jacky melangkahkan masuk. Anya menarik Erica mundur di belakangnya.
“APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?” bentak Anya.
Jacky tertawa terbahak-bahak sambil berjalan mendekat. Kedua wanita itu tidak bisa mundur lagi karena mereka sudah membentur dinding. Wajah mereka terlihat ketakutan saat Jacky sekarang sudah ada di hadapan mereka.
“Anak kucing ini bertingkah seperti singa jantan rupanya! Hahaha… Itu baru putri Papa,” kata Jacky sambil menepuk-nepuk pipi Anya. Anya memalingkan wajahnya lalu menatap nyalang pada ayahnya yang dibencinya.
Jacky memandang kamar itu menyeluruh. Ia berjalan menjauh dan ia melihat sebuah tas tergeletak di atas meja. Anya mengikuti arah pandang Jacky ke tasnya. Ia berlari dan mendapatkan tasnya sebelum Jacky.
“Mana uang Papa, Anak manis? Kau sudah mengantonginya bukan?” tanya Jacky kembali memeras kedua wanita itu.
“Aku tidak akan memberikannya sepeser pun! Papa sudah tidak layak kupanggil Papa. Papa lebih dari seorang preman. Penjahat! b******n!” maki Anya.
Mendengar ucapan berani Anya, Jacky mendekati putrinya dengan tatapan tak kalah mengerikan. Ia menjepit pipi Anya dengan tangannya lalu merampas tas yang dipeluk Anya dengan paksa. Begitu mendapat tas itu, ia melepaskan cengkramannya dan merogoh isi tasnya.
Erica diam-diam berjalan menuju ke tempat penggorengan. Ia mengambil teflonnya di sana.
Jacky menarik selembar cek dari dalam dompet Anya. Cek dengan tanda tangan pemilik rekening dan bertuliskan dua puluh lima juta tercetak di atasnya. Ia tersenyum lalu memasukkan cek itu ke dalam saku bajunya dan membanting tas Anya.
“Terima kasih untuk kerja sama kalian. Dan, aku akan lebih sering mengunjungi kalian,” kata Jacky sambil melangkah keluar rumah. Belum juga kakinya melangkah tiba-tiba…
PRAANGGGGG!!!!
Sebuah Teflon melayang ke punggung kepala pria itu. Pria itu terhuyung dan membalikkan badannya.
“KALIAANNN!!!!”
Wajah Erica terlihat ketakutan. Teflon yang ia pegang perlahan mengendur dari pegangannya. Jacky mendekat dan lagi-lagi…
PRANGGGG!!!!
Teflon itu melayang di kepalanya sekali lagi dan kali ini Anya yang melakukannya. Ia merebut teflon itu dari tangan Ibunya dan memukulkannya sekuat tenaga pada Jacky. Jacky menangkap tangan putrinya dan memberikan tamparan keras di pipi mulus wanita itu.
“ANAK KURANG AJAR!!! BERANI KAU PADA AYAHMU SENDIRI!”
“AKU TIDAK SUDI MENYEBUTMU PAPA! b******n!”
Melihat putrinya diperlakukan kasar, Erica mengambil teflon itu lagi lalu bertubi-tubi menyerang Jacky hingga pria itu mundur terus dan keluar dari kamar kos mereka dengan terus memaki-maki.
“AKU AKAN MEMBUAT PERHITUNGAN PADA KALIAN! LIHAT SAJA!”
Pria itu meludah di depan pintu dan pergi dengan amarahnya. Di dalam sana, Erica buru-buru mengunci pintu itu dan membantu Anya berdiri.
Mereka berdua sudah mengibarkan bendera perang melawan Jacky. Mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pria itu lagi di kemudian hari. Yang mereka tahu sekarang adalah berusaha tetap kuat berdiri menghadapi pria itu dan memikirkan cara untuk membekuk pria yang merusak ketenangan hidup mereka tanpa membuat mereka dalam bahaya.
***
A/N: Bagian ini bikin deg-deg’an ya? Saya juga buatnya sambil tahan nafas. Hahaha… Tapi seru kan? Kedua wanita itu sekarang nggak boleh takut sama apapun juga. Nggak boleh ada orang yang bisa menindas orang lain dengan sesuka hati kaya Jacky. Makanya kita harus jadi kuat melawan orang-orang model Jacky. Semanggaatttt!!!!