19. 'Oh, Wow...' Incident

1610 Kata
    Rivaldi mengambil handuk kecil yang sudah dibasahi dengan air hangat di sisi ranjang lalu mengusapkannya perlahan ke jemari Celline yang berbaring. Matanya sudah terbuka namun wanita itu masih belum bisa merespon apapun. Ia hanya bisa berkedip. Tapi ini sebuah kemajuan bagi Celline. Sebelumnya wanita itu berbaring dengan mata terpejam. Kini ia bisa berkedip walau masih belum bisa merespon sepenuhnya.     Rivaldi mencelupkan handuk kecil itu ke dalam baskom air lagi dan menyeka tangan Celline yang satunya dengan penuh kelembutan.     “Entah aku sudah menceritakan hal ini padamu atau belum, tapi beberapa waktu belakangan ini aku kembali teringat masa-masa di mana kita bekerja bersama dulu. Aku ingat saat kita terpaksa bekerja hingga larut malam demi menemukan pelaku pembocor rahasia perusahaan. Aku ingat saat kau tertidur karena kelelahan waktu itu. Kau ingat saat-saat itu?”     Rivaldi berbicara seolah Celline mampu memberikan respon. Tapi jelas saja hasilnya nihil. Celline hanya bisa berkedip tanpa respon lebih jauh. Rivaldi sudah menyelesaikan menyeka jemari Celline. Ia beralih menyeka wajah istri tercintanya itu.     “Entah mengapa beberapa hari ini aku merasa seperti terlontar ke masa lalu. Masa-masa itu lagi. Aku bekerja hingga larut malam ditemani oleh sekretaris baruku, Anya. Yah, dia adalah sahabat Becca. Ia juga menemaniku seperti dirimu yang menemaniku waktu itu. Ia tertidur dengan gaya tidur yang sama persis denganmu waktu itu.”     Rivaldi meneguk ludahnya sejenak.     “Dan saat itulah aku melihat bayangan dirimu dalam diri Anya.”     Rivaldi menghentikan kegiatan menyekanya. Entah mengapa hatinya terasa kacau saat ini. Di satu sisi ia merindukan Celline. Di sisi lain entah mengapa mengingat Anya membuat hatinya terasa hangat. Ia menelan ludahnya bulat-bulat.     “Sudahlah, mungkin aku yang terlalu merindukanmu ada di sisiku lagi,” kata Rivaldi dengan mata berkaca-kaca. Ia meletakkan handuk kecil itu ke tempatnya lalu mencium kening Celline dengan lembut.     “Segeralah kembali, Celline. Aku merindukanmu.” ***     Wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu pria di sampingnya. Mata mereka terfokus pada layar televisi di depan sana yang sedang memainkan tayangan favorit mereka. Tangan mereka bergantian mengambil butiran popcorn dari dalam bungkusnya.     Tayangan favorit mereka dijeda oleh sekilas berita yang disiarkan hanya untuk tiga menit.     “Para pemirsa, pagi ini kami telah menggelar pemilihan CEO OF THE YEAR. Ajang bergengsi ini ditujukan untuk mengapresiasi para CEO muda, berbakat dan berprestasi bagi bangsa kita. Kami telah memilih    beberapa orang kandidat yang akan dinominasikan untuk mendapatkan penghargaan ini…”     Becca menatap malas ke layar kaca dan bermaksud mengganti saluran TV-nya. Tapi ia mengurungkan niatnya melihat foto dan nama ayahnya terpampang di layar kaca. Ia terkejut. Ia menepuk-nepuk pundak Aaron yang sedang sibuk dengan ponselnya dengan penuh semangat hingga pria itu menoleh ke arah Becca.     “AARONN… AARONNN…Papa… Papaku…” kata Becca terbata-bata sambil menuding layar televisi di hadapannya. Aaron memicingkan matanya untuk membaca tulisan di layar televisi yang sekarang menampilkan foto Rivaldi.     “Kandidat CEO Of The Year… APA?? KANDIDAT CEO OF THE YEAR???”     “HUAAAA….” Keduanya bersorak kegirangan. Mereka gembira melihat nama Rivaldi muncul di layar kaca.     Becca segera mengambil ponselnya dan mengabarkan berita itu di dalam grup chat karyawan. Dan sontak seluruh anggota grup itu merespon dengan tidak percaya. Pesan itu bersahut-sahutan dan bernada terkejut sekaligus senang melihat nama GD Corp muncul di sana.     Ini adalah kali pertama mereka mendapatkan prestasi seperti ini dan semua berkat kepemimpinan Rivaldi selama ini. Mereka justru akan dengan gembira mendukung Rivaldi untuk mendapatkan penghargaan itu.     “Kami membuka voting bagi kandidat-kandidat penerima penghargaan itu mulai dari malam ini untuk mendapatkan tiga finalis yang akan menerima penghargaan CEO of The Year. Kami akan mengumumkan hasilnya langsung pada tanggal 30 pukul 7 malam. Nantikan informasi dari kami selanjutnya,” tutup pembaca berita tersebut.     “Ayo cepat dukung papaku!” kata Becca dengan antusias dan ia mengajak setiap orang untuk melakukan dukungan untuk Rivaldi melalui chat. Begitu juga Aaron yang langsung mengabari keluarganya untuk melakukan vote. ***     Rivaldi baru saja turun dari mobil dan ia langsung disambut dengan hebohnya oleh putrinya dan Aaron tentunya. Mendengar suara mobil Rivaldi yang masuk ke dalam rumah saja membuat Becca sudah langsung berjingkat dan menunggu ayahnya di depan.     Begitu Rivaldi turun, Becca langsung berjingkat dan memeluk ayahnya dengan gembira.     “Hei… hei… ada apa ini? Mengapa putri Papa satu ini terlihat begitu gembira?”     “PAPA… SELAMAT!!!” kata Becca sambil mengeratkan pelukan di leher Rivaldi. Rivaldi mengelus punggung Becca tapi matanya melirik ke arah Aaron sambil menunjukkan gesture bertanya ada apa sebenarnya. Aaron hanya mengendikkan bahunya. Ia tidak mau mengambil alih pembicaraan yang akan diungkapkan Becca.     “Ada apa ini, Sayang? Mengapa kau mengucapkan selamat pada Papa?” tanya Rivaldi mengulangi pertanyaannya.     Becca melepas pelukannya.     “Papa tahu? Papa dinobatkan menjadi CEO OF THE YEAR!”     “Kandidat…” koreksi Aaron. Becca langsung memandang Aaron dengan tatapan tajam sambil mencebikkan bibirnya.     “A-apa? Apa kalian bisa ulangi? Aku tidak menangkap maksud kalian?” tanya Rivaldi. Ia bingung dengan kalimat yang terpotong itu tadi.     “Bapak dipilih menjadi kandidat CEO Of The Year oleh televisi XYZ,” kata Aaron menjelaskan.     “Oh… wow…” respon Rivaldi dan wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan atau kebahagiaan. Jelas Becca tidak terima dengan respon ayahnya.     “Papa… harusnya Papa itu gembira donk seperti Becca dan Aaron! Ini penghargaan bergengsi dan hanya dipilih setiap tiga tahun sekali dan kali ini Papa menjadi kandidatnya. Bukankah itu sesuatu yang lebih hebat dari sekedar… oh wow?” protes Becca dengan menirukan ucapan Rivaldi.     Rivaldi terkekeh lalu mengelus kepala putrinya yang antusias.     “Lalu Papa harus bilang apa? Berjingkrak-jingkrak dan menari India di hadapanmu lalu berputar-putar sambil melepas kaus Papa begitu?”     Becca mencebikkan bibirnya. Sungguh tidak seru memprotes ayahnya yang tidak tahu caranya mengekspresikan kebahagiaan. Ia menyilangkan tangan di depan d**a, mengerucutkan bibirnya lalu menghentakkan kakinya dan berjalan masuk.     Rivaldi hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah konyol putrinya. Sementara Aaron? Ia hanya bisa mengendikkan bahunya melihat Becca yang merajuk. Ketiga lalu masuk ke dalam rumah. ***     Keesokan harinya seluruh karyawan GD Corp terlihat begitu heboh mendengar kabar Rivaldi yang akan menjadi kandidat CEO Of The Year. Bahkan kabar itu merebak ke seluruh cabang The Grand Dining di seluruh Indonesia dan pabrik-pabrik mereka. Semuanya begitu senang mendengarkan kabar direktur yang mereka segani dan kagumi itu masuk dalam ajang bergengsi seperti ini.     Tak terkecuali Anya. Ia bahkan rela setiap beberapa menit sekali menjeda pekerjaannya dan melakukan voting di website media tersebut. Becca dan semua karyawan yang lain pun melakukan hal yang sama. Mereka berlomba-lomba agar pimpinan merekalah yang akan mendapatkan penghargaan itu.     Bagaimana dengan Rivaldi? Pria itu tidak mempedulikan apa yang terjadi. Baginya, terpilih atau tidak untuk menerima penghargaan itu bukanlah hal yang penting untuk dipikirkan. Jika terpilih maka puji Tuhan kerja kerasnya selama ini diakui oleh banyak pihak. Jika tidak pun tidak apa. Baginya yang terpenting adalah perusahaan peninggalan ayahnya tetap dapat berdiri kokoh. Itu saja.     Tanpa terasa waktu pemungutan suara itu telah berakhir. Seluruh karyawan sekarang sudah ribut dengan hasil yang akan diumumkan malam ini. Mereka sungguh tegang.     Becca, Anya dan tentu saja Aaron berinisiatif untuk menggelar acara nonton bersama pengumuman pemenang tersebut malam ini. Awalnya Rivaldi tidak menyetujui acara konyol seperti ini tapi Becca terus merajuk hingga akhirnya pria itu menyanggupi rengekan putrinya. Selama tidak menganggu jam kerja, mereka boleh melakukan apapun yang mereka mau.     Dan, sekarang lobby GD Corp disulap lagaknya acara nonton bareng sepak bola pada umumnya. Kursi, sofa, meja dan perabotan lain disingkirkan dan diganti dengan tikar yang digelar. Seluruh karyawan GD Corp rela untuk pulang lebih malam dari biasanya hanya untuk menonton pengumuman pemenang acara itu.     Kini sekitar 500 karyawan kantor pusat GD Corp sudah duduk dengan rapi di atas tikar. Ruangan penuh sesak hingga untuk melangkah keluar pun sudah tidak ada jalan. Rivaldi baru saja menyelesaikan kerjanya dan bermaksud untuk pulang. Tapi ia begitu kaget dengan lautan manusia yang sudah duduk di lobby GD Corp itu. Tak disangka seluruh karyawannya itu dengan sepenuh hati mendukungnya.     Anya berdiri di bagian belakang barisan itu dan dekat dengan lift. Awalnya ia ingin bergabung untuk duduk di antara karyawan lain tapi ia sudah tidak menemukan tempat untuk duduk. Karena seluruh sudut ruangan sudah terisi penuh dengan manusia.     Rivaldi melihat Anya juga sedang melongokkan kepalanya, mencari-cari tempat duduk yang kosong. Pria itu tersenyum sekilas lalu menghampiri Anya. Anya terlonjak kaget ketika menyadari bosnya itu sudah berdiri di sampingnya.     “Mereka semua rela pulang malam hanya untuk menonton acara ini?”     “Betul, Pak. Kami mengerahkan semua dukungan untuk mendukung Anda menjadi pemenangnya,” jawab Anya dengan penuh semangat dan mata berbinar.     Rivaldi menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan dengan apa yang dilakukan karyawannya. Ia tak menyangka jika seluruh karyawannya itu mendukung penuh dirinya. Padahal itu ajang untuk mengisi acara di stasiun televisi, tapi entah mengapa bagi semua rakyat GD Corp ajang itu seolah momen yang penting. Hingga semua orang menunggu hasilnya seperti ini.     Acara televisi itu kini telah dimulai. Seluruh karyawan yang semula riuh menjadi tenang dan seluruh pandangan mengarah ke layar lebar di depan sana, termasuk Anya dan Rivaldi.     “Dan sekarang adalah waktu yang kita tunggu. Saya yakin orang-orang di luar sana pasti menantikan siapa kandidat CEO Of The Year yang akan terpilih menjadi finalis kali ini. Di tangan kami sekarang sudah ada tiga nama yang akan menuju ke tahap penilaian akhir. Hasil ini diperoleh dari voting para pemirsa di rumah. Dan tiga nama kandidat favorit pemirsa yang akan melaju ke babak final adalah…”     Seluruh karyawan terlihat begitu tegang mendengarkan pengumuman itu. Tanpa terasa, pembawa acara sudah menyebutkan dua nama kandidat dan tinggal satu nama yang terakhir…     “Yang terakhir… Sebelum saya menyebutkan nama yang terakhir, kami mendengar kabar bahwa kandidat yang satu ini mendapatkan suara paling banyak di antara kedua kandidat yang kami sebutkan barusan. Dengar-dengarnya nih bahkan satu perusahaan mereka mendukung penuh lho...”     “Oh... wow... sungguh kompak ya mereka. Tapi jangan senang dulu. Penghargaan ini tidak boleh diberikan pada orang yang salah. Para finalis ini nantinya akan diuji terlebih dulu kepemimpinan dan kompetensinya di hadapan para juri.”     Pemungutan suara ini ternyata hanya untuk menentukan tiga finalis dengan suara paling banyak. Namun untuk menentukan siapa penerima penghargaan itu, ketiga finalis yang terpilih harus menjalani serangkaian proses seperti interview dan presentasi di hadapan juri.     “Betul sekali… dan, tanpa berlama-lama lagi kami akan umumkan finalis CEO Of The Year yang terakhir kali ini adalah…”     Semua mata tak berani berkedip. Jantung mereka dipacu bak genderang saat ini. Dan, mereka menahan nafas.   A/N: Siapa ya yang terakhir? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN