“Dan kandidat yang terakhir adalah…. RIVALDI KURNIAWAN!” ucap pembawa acara itu bersamaan.
Anya berteriak girang dan langung memeluk Rivaldi di sampingnya. Rivaldi terkesiap dengan tindakan tiba-tiba Anya. Jantung keduanya terasa berdetak lebih cepat.
Anya sadar dengan tindakannya lalu melepaskan rangkulannya dari Rivaldi. Wajah keduanya tiba-tiba semerah tomat. Untung saja mereka ada di barisan paling belakang dari kerumunan orang itu. Jika tidak, apa kata orang-orang nanti.
Riuh tepuk tangan, siulan dan teriakan histeris terdengar seisi ruangan. Mereka bahagia karena CEO mereka berhasil menjadi finalis dalam acara itu. Setelah pengumuman itu berakhir, Becca mengambil alih acara. Ia sudah berdiri di depan dengan membawa microphone di tangannya. Ia melihat Rivaldi berdiri di barisan paling belakang bersama Anya.
“Teman-teman, terima kasih banyak atas dukungan kalian semua. Kita pasti bangga karena CEO kita melaju ke babak final. Betul?”
Seruan Becca dijawab lantang oleh seluruh karyawan, ”BETUL!”
Becca tersenyum puas melihat jawaban para karyawan itu. Ia memandang ke belakang dan ia melihat ayahnya juga sedang berdiri di sana menyaksikan seluruh rangkaian acara itu. Tiba-tiba otak cemerlangnya terbersit ide.
“Kita begitu semangat mendengarkan kabar menggembirakan ini, tapi kita tidak tahu bagaimana perasaan orang yang dinobatkan tersebut bukan? Tanpa berlama-lama lagi, mari kita sambut CEO kita… Bapak RIVALDI!” kata Becca sambil menunjuk ke arah Rivaldi.
Seluruh pasang mata memandang Rivaldi saat ini. Rivaldi terkejut dengan apa yang diucapkan Becca. Ia menuding dirinya sendiri untuk memastikan Becca memintanya maju. Becca mengangguk dari kejauhan. Pria itu membetulkan jasnya lalu maju ke depan.
“Silakan, Pak! Ini giliran Bapak memberikan kata sambutan,” bisik Anya pada Rivaldi. Rivaldi mendesah pasrah. Ada-ada saja ide putrinya ini. Ia tidak mampu menolaknya sekarang.
Begitu Rivaldi maju ke depan, seluruh karyawan bertepuk tangan dengan gembiranya. Dan di belakang sana, Anya tidak menghentikan senyuman menghias wajah cantiknya. Melihat pria itu sekarang memberikan kata sambutan di depan seluruh karyawan seperti ini membuat penampilan pria yang dikaguminya itu begitu mempesona. Di mata Anya, wajah Rivaldi begitu bersinar. Karisma pria itu nampak begitu cemerlang dan Anya hanya bisa memandangi pria itu dari jauh.
Mungkin inilah yang bisa ia lakukan. Mengagumi pria itu dari jauh. Ia harus menahan keinginan hatinya untuk memiliki pria itu karena ia tahu ia tidak layak dan bahkan tidak boleh mencintai pria itu. Dirinya dan pria itu berasal dari dunia yang berbeda. Ia begitu jauh di atas sana, dan ia jauh bagaikan di dasar bumi. Belum lagi fakta bahwa pria itu sudah beristri dan Anya tidak mau menjadi orang ketiga di antara mereka. Walau ia tidak bisa mengenyahkan perasaannya tapi setidaknya biarlah ia menyimpan semua rasa itu dalam hatinya.
***
“Anya, ada surat untuk Pak Rivaldi,” kata seorang kurir kantor di hadapan Anya sambil membawa sebuah amplop dengan kop surat stasiun televisi XYZ. Seperti biasa, Anya akan menjadi orang pertama yang akan menyeleksi surat yang ditujukan untuk Rivaldi sebelum melaporkannya pada pria itu.
Anya menerima surat itu dan ia yakin surat itu pasti memiliki kaitan erat dengan ajang yang baru saja berlangsung. Anya mengantarkannya ke dalam ruangan Rivaldi. Ruangan itu masih kosong. Rivaldi belum datang pagi ini dan Anya melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke meja kerja pria itu.
Ia meletakkan surat itu di atas meja. Baru saja ia meletakkan surat, aroma parfum yang sangat ia kenal menyeruak di area penciumannya. Ia melihat pria tampan itu sudah berdiri di depan pintu ruangannya lalu melangkah masuk.
“Selamat pagi, Anya. Apa agendaku hari ini?” tanya pria itu setiap pagi pada Anya sambil meletakkan tasnya ke atas kursi kebesarannya.
“Pagi ini Bapak akan ada diskusi dengan kepala pabrik, lalu nanti siang Bapak akan menemui tim operasional mengenai SOP baru dan sore nanti Bapak ada meeting dengan para investor. Oh iya, pagi ini Bapak mendapatkan surat dari stasiun televisi XYZ dan sudah saya letakkan di atas meja,” kata Anya menyebutkan agenda kerja Rivaldi yang begitu padat.
“Oke, aku mengerti. Siapkan segala berkas yang kuperlukan.”
“Baik, Pak,” sahut Anya dengan sigap. Anya masih berdiri di depan Rivaldi yang sekarang sedang mengambil amplop yang diletakkan Anya. Wajah Anya yang penasaran membuat Rivaldi sadar wanita ini pasti ingin tahu apa isi surat itu.
“Kau menungguku membuka surat ini?” tanya Rivaldi menebak apa lagi yang ditunggu Anya sambil melirik ke arah surat yang sengaja diletakkan Anya di bagiaan teratas semua berkas Rivaldi.
“Eh… iya, Pak. Apa boleh kalau saya juga mendengar apa isinya?” jawab Anya malu-malu-mau.
Ia sudah tidak pernah merasakan takut atau gugup saat berada di sisi Rivaldi. Pria itu juga sudah merasa nyaman dengan kehadiran Anya sebagai sekretarisnya. Bisa dikatakan hampir semua tugas yang ia berikan pada Anya diselesaikan dengan baik dan memuaskan. Tak jarang pula saat makan siang, ia mengajak Anya makan siang bersamanya. Bertukar pikiran dan berdiskusi banyak hal. Gadis itu tergolong wanita yang cerdas dan Rivaldi menganggap Anya adalah penasihat pribadinya.
Kini ia sudah mengerti watak dan karakter Anya. Di saat seperti ini, Rivaldi tahu Anya pasti akan bertingkah seperti anak kecil yang rasa ingin tahunya sangat besar.
Pria itu membuka perlahan amplop yang ada di tangannya saat ini. Anya memajukan kepalanya berusaha melihat apa isinya. Rivaldi tersenyum lalu menyodorkan surat itu pada Anya. Membiarkan gadis itu yang melihatnya sendiri.
“Bacakan untukku. Aku ingin kau yang melihat isinya pertama kali.”
Anya menerima surat itu dengan senang hati lalu membacakan isinya di hadapan Rivaldi.
“Bapak diundang untuk mengikuti seleksi final penerima penghargaan CEO Of The Year di Jakarta minggu depan. Mereka juga melampirkan jadwal kegiatan yang akan dilaksanakan selama seminggu tersebut.”
Rivaldi menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kebesaraannya. Sementara Anya menatap Rivaldi menunggu jawaban dari pria itu.
“Hmm… apakah aku harus mengikutinya?” kata Rivaldi sambil menggosok dagunya.
“TENTU SAJA HARUS!” sahut Anya antusias lalu menutup mulutnya sendiri. Sepertinya ia terlalu berlebihan. Rivaldi kini memandang ke arah Anya.
“Menurutmu begitu?” tanya Rivaldi yang sebenarnya hanya untuk menguji Anya. Ia ingin melihat bagaimana reaksi sekretarisnya itu.
“Tentu saja Bapak harus mengikuti seleksi itu. Seluruh karyawan GD Corp sangat berharap Bapak bisa membawa pulang penghargaan bergengsi itu. Dan, tidak hanya itu citra perusahaan ini akan meningkat ketika semua orang tahu bahwa CEO’nya adalah CEO terbaik tahun ini bahkan untuk tahun-tahun selanjutnya.”
“Begitukah?” Rivaldi mengeluarkan senyuman smirk-nya.
“Saya… rasa begitu,” jawab Anya ragu. Lagi-lagi ia merasa terlalu bertingkah berlebihan dan ia malu menyadari hal itu.
“Baiklah. Kosongkan jadwalku selama seminggu dan siapkan tiket pesawat untuk dua orang ke Jakarta.” Mata Anya terbelalak mendengar jawaban Rivaldi. Pria itu menyetujui usulnya dan ini berita yang sangat luar biasa bagi Anya.
“Siap, Pak! Saya akan siapkan tiket untuk Bapak dan Becca,” kata Anya bersemangat lalu melangkah untuk menyelesaikan tugas yang baru saja diberikan oleh Rivaldi.
“Eits, siapa bilang kalau aku akan berangkat dengan Becca?”
Anya menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menatap Rivaldi dengan penuh tanda tanya.
“Maksud Bapak?”
“Becca akan tetap di sini. Ia harus tetap mengontrol operasional kantor ini selama aku berada di Jakarta. Aku akan pergi denganmu ke Jakarta.”
“De-dengan saya?” tanya Anya sambil menuding dirinya sendiri. Ia tak percaya dengan semua yang dikatakan Rivaldi.
Untuk acara sepenting ini, pria itu malah bukan mengajak putrinya. Tapi dirinya. Ia sungguh tersanjung mendapatkan kesempatan itu. Hati Anya seketika terasa berbunga-bunga.
“Kau harus ikut denganku. Di sana akan ada banyak presentasi dan hal-hal lain yang harus kusiapkan. Aku membutuhkan asisten untuk menyiapkan itu semua bukan?”
Anya mengerjap beberapa kali untuk membangunkan dirinya dari lamunannya. Belum-belum wanita itu sudah berpikir terlalu jauh. Rivaldi menyadari tingkah Anya yang lagi-lagi melamun dan wajahnya yang memerah entah karena apa.
“Anya?” tanya Rivaldi yang langsung membuat Anya kembali dari khayalannya.
“Oh… iya, Pak. Baik saya akan siapkan.”
Anya keluar dari ruangan Rivaldi dengan kegirangan. Walau hatinya penuh sukacita tapi ia tidak boleh menunjukkan itu di hadapan Rivaldi. Bisa-bisa pria itu salah menangkap gerak-gerik Anya. Anya tidak bisa menghentikan senyumnya saat ini barang sedetikpun. Imajinasinya sekarang mulai meliar ke mana-mana, membayangkan apa yang akan terjadi dengannya dan Rivaldi di Jakarta nantinya.
A/N: Hmm… sepertinya butir-butir cinta mulai disemai. Kira-kira gimana ya ntar di Jakarta?