Beberapa saat sebelumnya,
Rivaldi berkutat dengan berbagai macam berkas di atas mejanya. Dinding ruangannya ditutup oleh kaca satu arah. Ia hanya bisa melihat keluar tapi orang dari luar tidak bisa melihat dirinya di dalam ruangannya.
Ia memainkan bolpennya sambil berpikir apa yang harus ia putuskan kali ini untuk masalah yang dilaporkan bawahannya padanya. Di saat ia sedang berpikir tiba-tiba pintu lift di seberang ruangannya terbuka.
Seorang gadis dengan membawa sekardus besar yang tingginya hampir menutupi seluruh wajahnya itu terlihat berusaha keluar. Namun beberapa orang di dalam lift membuatnya agak sedikit kerepotan untuk keluar. Rivaldi tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menatap pemandangan konyol yang ia lihat ini.
Ia sudah bisa memperkirakan apa yang akan terjadi dengan gadis itu sebentar lagi. Ia melangkah keluar dari ruangannya, bermaksud membantu membawakan kardus gadis itu.
BRUKK!!!
Kardus itu mendorong badan Rivaldi dengan cukup keras dan membuat kertas-kertas di dalamnya terhentak keluar dan berhamburan. Gadis itu menunjukkan wajah terkejutnya. Begitu juga Rivaldi.
Pria itu langsung membungkuk dan membantu memungut satu per satu kertas yang bercecer. Hingga mata keduanya bertemu.
“A-Anda…” ucap Anya dengan kaget melihat pria itu di hadapannya sekarang.
Sejenak Anya terpaku dan terdiam. Ia tidak menyangka bahwa yang ia tabrak tadi adalah atasan sekaligus pria yang dikaguminya itu. Jantungnya berdegup kencang melihat pria itu di hadapannya sekarang dan membantunya memunguti semua berkas yang tercecer akibat kecerobohannya.
“Bengong apa? Ayo segera kita selesaikan. Ada banyak hal yang harus kita kerjakan sekarang,” ucap Rivaldi sambil terus memungut lembaran-lembaran yang bercecer itu tanpa memperhatikan Anya yang masih ternganga.
Menyadari kebodohannya, Anya segera sadar dan ikut memunguti kertas yang tercecer itu lalu memasukkannya ke dalam kardus. Setelah seluruh berkas itu kembali ke tempatnya, Anya bermaksud membawanya, tapi tangan sigap Rivaldi sudah lebih dulu mengangkat kardus itu dan membawanya ke meja Anya. Meja yang berada di samping ruangan Rivaldi.
“Terima kasih, Pak. Maaf kalau tadi saya bertingkah ceroboh dan menabrak Bapak,” ujar Anya dengan tidak enak hati karena perlakukan Rivaldi.
Rivaldi memasukkan kedua tangannya ke saku celananya dan tersenyum.
“Baiklah. Karena kau sudah ada di sini sekarang, ayo kita ke ruanganku dan akan aku jelaskan apa yang menjadi tugasmu.”
Rivaldi masuk ke dalam ruangannya dan Anya buru-buru mengambil agenda dan bolpennya untuk mencatat hal penting yang diucapkan Rivaldi. Bagaimanapun juga ia harus bertingkah professional. Ini bukan waktunya memikirkan perasaan dan kekagumannya pada pria itu.
Kini keduanya sudah di dalam ruangan. Rivaldi menjelaskan secara detil pada Anya apa yang harus dilakukannya setiap hari dan gadis itu segera mencatatnya. Setelah Rivaldi menjelaskan semuanya itu, ia akan mengajari Anya beberapa program komputer internal perusahaan yang harus Anya kuasai.
Anya berpindah posisi menjadi di sebelah Rivaldi yang sekarang menghadap layar monitor sambil menjelaskan pada Anya. Mata Anya menangkap wajah Rivaldi dari dekat. Harum parfum pada tubuh Rivaldi sungguh membuatnya merasa tenang dan nyaman. Melihat Rivaldi dari jarak sedekat ini membuat Anya tidak mampu berkonsentrasi. Ia hanya memuaskan dirinya memandangi Rivaldi. Sungguh ia terlena dengan pesona pria itu.
Rivaldi menyelesaikan penjelasannya yang terakhir pada Anya.
“Kau sudah paham, Anya?”
Pertanyaan Rivaldi itu sontak membuat Anya tersadar dari lamunannya. Rivaldi merasa Anya tidak berkonsentrasi hari ini. Rivaldi menatap Anya dengan serius. Ia menampilkan sorot mata tajamnya pada Anya. Ia tidak suka jika ada yang tidak serius dalam pekerjaannya dan ia tidak suka melihat sikap Anya yang tidak professional itu.
“Anya, tolong berkonsentrasilah! Kita sedang bekerja di sini dan ini bukan saatnya kau melamun. Pekerjaan kita sangat banyak dan aku harap kau bisa menyelesaikannya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Paham, Anya?”
Anya mengangguk. Ia tak menyangka Rivaldi bisa setegas ini padanya. Dan, ia memang merasa bersalah karena pikirannya yang tidak fokus. Ia kembali ke mejanya dan berusaha memahami semua yang diajarkan padanya hari ini.
“Kau harus fokus, Anya! Fokus! Ini kantor dan kau dibayar untuk bekerja secara professional,” kata Anya mengingatkan dirinya sendiri.
***
Gedoran keras di pintu kamar Anya membangunkan gadis itu. Semalam ia tidur sangat larut demi mempelajari semua hal yang berkaitan dengan pekerjaannya. Bagaimanapun juga ia harus jadi professional dalam hal pekerjaan. Dan, ia merasa kelelahan akibat begadang semalaman.
Anya mengusap-usap matanya sambil membuka pintu kamarnya dengan malas. Becca sudah tampil dengan sangat rapi pagi ini. Wanita itu berkacak pinggang dan memasang wajah sebalnya pada Anya. Sudah beberapa menita ia menunggu di luar pintu kamar Anya tapi tak ada jawaban dari si empunya kamar.
“Kau tahu ini jam berapa, Nona Anya yang terhormat?”
“Jam? Uhmmm…” Anya melirik kea rah jam dinding di dalam kamarnya. Matanya terbelalak. Sudah pukul 07.30. Yang artinya jam masuk kantor kurang 30 menit lagi.
“ASTAGA! Apa yang terjadi? Mengapa aku tidak bisa bangun? Di mana alarm’ku? AARRGGHHHH!!!” sahut Anya dengan panik lalu lari terbirit-b***t untuk menyiapkan dirinya. Becca hanya bisa tertawa melihat sahabatnya. Ia membantu sahabatnya itu bersiap.
Kini Anya dan Becca sudah berada di dalam mobil. Kebetulan hari ini mereka berempat, ya termasuk Rivaldi, dijemput oleh Aaron. Mereka akan mengunjungi pabrik frozen food GD Corp untuk mempelajari seluruh proses produksi secara langsung. Tentu saja dengan bimbingan dari Rivaldi.
Tiba-tiba terdengar bunyi suara perut keroncongan yang memecah keheningan. Anya memegangi perutnya yang berbunyi. Ia melewatkan sarapannya karena kesiangan. Dan sekarang ia merasa malu karena semua tatapan mata tertuju padanya.
Becca memandang Anya dengan tatapan gelinya. Anya memandang Becca sambil meringis.
“Kau belum sarapan Anya?” tanya Rivaldi dan Anya langsung mengangguk malu-malu.
“Aaron, kita berhenti di rumah makan di depan,” kata Rivaldi sambil menunjuk sebuah rumah makan sederhana di seberang jalan. Aaron langsung memutar balik mobilnya.
Merasa tak enak, Anya kembali bersuara.
“Tidak perlu, Pak. Nanti kita terlambat. Kita langsung ke lokasi saja.”
“Bagaimana bisa kau berkonsentrasi sementara perutmu belum terisi?” kata Rivaldi dan tidak bisa dibantah jika ia sudah bertitah.
***
Setelah istirahat sejenak di rumah makan dan Anya menyelesaikan suapan terakhirnya, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju pabrik. Mereka disambut oleh kepala pabrik dan mereka diajak mengelilingi pabrik sambil mengenal proses produksi di dalamnya.
Mereka berada di pabrik sampai menjelang waktu pulang kantor. Kini mereka sudah kembali ke dalam mobil.
Melihat hari makin sore, Becca antusias mengajak mereka pergi ke suatu tempat terlebih dulu.
“Bagaimana kalau kita ke mall? Sekalian makan malam dan tentu saja shopping…” seru Becca dengan semangat.
Rivaldi menyadari betul sifat putrinya yang meluap-luap itu.
“Tidak bisa, Papa harus segera kembali ke rumah. Ada beberapa pekerjaan yang Papa harus selesaikan dan berkas itu ada di rumah.”
Wajah Becca tiba-tiba berubah cemberut. Aaron melirik Becca dari balik spion depan. Ia tersenyum.
“Nanti setelah mengantar Pak Rivaldi, kita akan berjalan-jalan ke mall. Bagaimana?” tanya Aaron untuk membesarkan hati Becca. Tentu saja Becca mau. Ia lalu menggamit lengan Anya yang di sampingnya hingga Anya kebingungan.
“Anya juga ikut ya? Oke kan, Anya?” sahut Becca dan langsung meminta persetujuan Anya.
“Kurasa lebih baik aku pulang saja. Aku ingin mencari kos.”
Lagi-lagi Becca mengerucutkan bibirnya mendengar penolakan Anya.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Hari masih terlalu sore dan sejujurnya aku malas pulang.”
“Bagaimana jika kita ke rumah sakit, mengunjungi Mama?” tanya Rivaldi memberi saran. Becca langsung mengangguk setuju. Ia sendiri ingin berbincang dengan Ibunya. Walau masih terbaring di atas ranjang dan tidak bisa merespon apapun, ia ingin Ibunya tahu bahwa hidupnya baik-baik saja. Dan ia ingin menceritakan apa yang ia alami sepanjang hari ini.
Sesampainya di rumah sakit mereka masuk ke dalam kamar Celline, Becca langsung mengambil tempat di sisi Ibunya dan menceritakan kesehariannya. Sejenak hatinya terasa pedih. Air matanya mulai menggenang.
“Mama, Becca kangen Mama. Kapan Mama akan bangun?”
Tangisan Becca tak terbendung. Aaron mengelus-elus pundak Becca untuk menenangkan. Suasana haru mendadak memenuhi ruangan itu. Anya keluar terlebih dahulu tanpa diketahui semua orang di dalam kamar itu. Ia juga tidak ingin merusak suasana.
Ia mengambil sebatang coklat dari dalam tasnya lalu membuka bungkusnya. Ia pikir daripada menganggur mungkin lebih baik menyibukkan diri dengan mengunyah. Tiba-tiba Rivaldi keluar dari dalam kamar. Matanya memerah dan air matanya menetes. Hati Anya terasa ikut sedih melihat pria itu menangis saat ini. Ia tahu pasti pria itu merindukan istrinya, sama seperti Becca yang merindukan Ibunya. Tapi, Tuhan masih belum mengizinkan mereka untuk itu.
Anya berdiri lalu berdiri di samping Rivaldi. Rivaldi menyadari kehadiran Anya. Ia buru-buru menghapus air matanya.
“Saya bukanlah orang yang pandai menghibur seseorang. Tapi yang saya tahu sepotong coklat bisa memberikan sebuah perasaan tenang,” ucap Anya seraya menawarkan coklatnya yang masih utuh pada Rivaldi.
Rivaldi tersenyum. Ia mendorong coklat Anya menjauh.
“Tidak. Terima kasih. Makanlah sendiri saja,” katanya sambil tersenyum.
Anya mematahkan coklatnya lalu memberikan potongan itu pada Rivaldi.
“Bapak tidak perlu malu-malu. Ini untuk Bapak.”
Dengan wajah yang sulit dipahami, Rivaldi mengambil coklat itu.
“Terima kasih,” ucapnya sambil mengunyah coklat itu.
Anya memandangi wajah Rivaldi yang sedang mengunyah. Ia tersenyum. Setidaknya hari ini ia berhasil memberikan perhatian kecil pada pria yang dikaguminya itu. Walau ia tahu perasaannya tidak akan berbalas.
A/N: Sebenarnya Anya sadar kalau perasannya tidak akan berbalas. Tapi, yang namanya fans fanatik ya, jadi masih menyimpan rasa sukanya itu sampai kapanpun. Coba bayangin kalian juga yang ngefans sama seorang artis. Trus artis itu ada di deket kalian saat ini, gimana coba perasaan kalian? Pasti pengen kasi perhatian. Menunjukkan diri kalian kalau kalian eksis di sisi mereka kan? Sama kaya Anya. Jadi ya maklumilah apa yang terjadi pada Anya.
Sekali lagi Author berpesan nikmatin aja ceritanya.