Sudah seminggu Anya, Becca dan Aaron bekerja di GD Corp. Mereka sudah mulai terbiasa dengan situasi kerja di kantor ini. Ada kalanya mereka bisa bersantai dan ada kalanya mereka harus fokus dengan pekerjaan bahkan lembur. Ketiganya selalu menyempatkan diri untuk berkumpul bersama.
Rivaldi pun mengakui anak-anak muda itu bekerja dengan sangat tangkas. Kecepatan dan otak encer mereka mampu memahami proses kerja di GD Corp dengan cepat.
Hari baru telah tiba. Ini artinya mereka akan kembali menghadapi rutinitas seperti biasa. Denting peralatan makan terdengar di atas meja makan. Sesekali terdengar suara tawa dan diskusi yang memecah keheningan. Membuat suasana makan pagi mereka lebih ramai dan akrab.
“Oh iya Anya, apakah kau sudah menemukan kos?” tanya Becca tiba-tiba pada Anya yang sedang mengunyah nasi gorengnya. Anya membatalkan suapannya ke dalam mulut.
“Ada beberapa yang sudah cocok tapi aku masih ingin bernegosiasi masalah harganya,” kata Anya lalu memasukkan sendokan nasi goreng ke dalam mulutnya.
“Jangan terburu-buru memutuskan, Anya. Memilih kos untuk kau tinggali memang tidak mudah. Tinggallah di sini hingga kau menemukan tempat yang cocok,” pesan Rivaldi sambil terus melahap makanannya.
Anya menatap pria itu dengan segan.
“Betul itu! Nanti sore aku dan Aaron senggang, mau kutemani untuk melihat-lihat beberapa kos di sekitar sini?” kata Becca. Anya mengangguk antusias.
Rivaldi meletakkan sendok dan garpunya ke atas piring. Ia membersihkan mulutnya dengan serbet lalu meneguk air minumnya dengan cepat.
“Aku pergi dulu. Anya, ayo kita berangkat sekarang. Kita bisa terlambat meeting jika tidak bergegas,” katanya sambil berdiri.
Anya mengerti apa yang harus ia lakukan karena memang pagi ini ia dan Rivaldi harus mengikuti rapat dengan divisi pemasaran. Ia menyelesaikan makan paginya dan mengambil tas kerja di belakang tempat duduknya lalu berpamitan pada Becca dan Viona. Ia mengekor Rivaldi dari belakang.
Saat keduanya berjalan menjauh, sudut mata Viona memandang tajam pada kedua sosok yang berjalan beriringan tersebut. Entah mengapa nalurinya sebagai seorang Ibu merasa tidak enak.
“Grandma kenapa? Grandma kelihatannya tidak begitu selera makan hari ini?”
Pertanyaan Becca itu membuat Viona terkejut. Ia tersenyum.
“Ah, tidak apa. Ayo selesaikan makannya. Kau juga harus bersiap ke kantor kan?”
Becca mengangguk tapi ia masih menerka apa isi kepala Viona saat ini tentang ayahnya dan Anya. Apakah ada hal yang Viona tahu tapi ia tidak?
***
Meeting telah berjalan selama kurang lebih dua jam. Rivaldi mendengarkan dengan seksama laporan dari beberapa divisi di bawahnya dan Anya mendampinginya untuk membuat notulen rapat. Tiba-tiba ponsel Anya bergetar. Ia melirik sekitar dan melihat nama yang tertera di dalam layar. Itu Ibunya.
Diam-diam Anya keluar dari ruangan rapat untuk mengangkat panggilan itu. Ia yakin Ibunya menelepon untuk sesuatu yang penting.
“Ya, Ma? Ada apa?”
Terdengar suara isakan tangis di seberang sana dan membuat Anya mulai panik.
“Ada apa, Ma? Ada apa ini sebenarnya? Apakah pria itu mendatangi Mama lagi? Ceritakan perlahan. Aku mendengarkan.” Anya sudah tahu pasti Ibunya yang menangis itu ulah dari ayahnya yang sudah seperti preman jalanan itu.
Erica menceritakan apa yang terjadi dengan terisak. Sebelah tangan Anya mengepal kencang. Wajahnya mengeras. Air matanya menetes. Benar dugaannya, Ibunya mengalami aniaya itu lagi karena wanita itu mengaku tidak memilki uang dengan nilai yang diminta oleh Jacky. Pria b******n itu mengobrak-abrik toko kecil Erica dan membuka paksa laci uang yang sudah dikunci rapat oleh Erica.
Berulang kali Erica menahan Jacky untuk tidak melakukan itu, sebanyak itu pula ia mendapatkan pukulan di wajah dan sekujur tubuhnya. Hingga akhirnya uang hasil penjualannya dibawa lari sepenuhnya oleh Jacky dan tubuhnya babak belur seperti biasa. Ia hanya bisa menangis dan dalam kondisinya yang babak belur, ia menghubungi Anya.
Anya kembali ke dalam ruang rapat setelah mendengar semua penuturan Ibunya itu. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Perasaannya kacau saat ini. Ia tidak berpikir jernih. Ia sungguh ingin melaporkan semua tindakan ayahnya itu pada polisi. Tapi, lagi-lagi Erica menahannnya. Erica berkata bahwa Jacky sekarang menjadi komplotan preman. Yang artinya jika pria itu diciduk polisi, teman-teman premannya tidak akan segan untuk menghabisi mereka sebagai pembalasan. Dengan kata lain, melaporkan Jacky ke polisi sama dengan menyetor nyawa mereka sendiri.
Pandangan mata Anya terlihat kosong di dalam ruang rapat. Otaknya tidak mampu mencerna semua hal yang dibicarakan di dalam rapat. Bahkan beberapa kali Anya mengeluarkan data yang salah saat giliran Rivaldi presentasi.
Rivaldi menangkap raut wajah Anya yang kosong sepanjang rapat berlangsung. Jujur dalam hatinya, ia merasa tidak suka dengan sikap seperti itu apalagi dilakukan oleh sekretarisnya sendiri yang seharusnya membantunya mendokumentasikan setiap keputusan rapat.
“Baiklah. Rapat hari ini cukup sampai di sini. Kalian bisa kembali ke ruangan kalian,” kata Rivaldi menutup rapat hari itu. Ia sendiri juga mengemasi berkas-berkasnya tapi ia melihat pandangan mata Anya yang kosong. Ia menyadari sesuatu. Gadis itu lagi-lagi tidak berkonsentrasi dengan pekerjaannya.
“Anya?” panggilnya. Wanita itu mengerjap beberapa kali untuk mengembalikan semua pikirannya pada tempatnya.
“Oh iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”
Rivaldi memandang Anya dengan heran.
“Apa yang kau lakukan? Ayo kita kembali ke ruangan. Rapat sudah selesai dan kita masih harus menyelesaikan hal lain.”
Anya sadar dan memandang sekitarnya yang sudah kosong. Ia segera berkemas dan berjalan kembali ke ruangannya mengekor Rivaldi. Tapi pikirannya masih belum sepenuhnya kembali. Sebagian besar otaknya masih memikirkan apa yang harus ia lakukan dengan tindakan ayahnya yang meneror dirinya dan Ibunya.
Pintu lift terbuka. Rivaldi berjalan lebih dulu masuk ke dalam ruangannya dan Anya berjalan keluar lalu duduk di mejanya. Anya menghela nafas. Berharap hembusan nafasnya ini mampu mengurangi tekanan pikiran yang ia alami.
Anya berusaha berfokus pada pekerjaannya, tapi entah mengapa bayang-bayang Ibunya dan perlakuan ayahnya itu terus muncul di kepalanya. Ia berusaha menyadarkan dirinya tapi ia belum bisa mengontrol emosinya.
Intercom’nya berbunyi. Ia terkesiap dan menjawab segera panggilan itu.
“Anya, tolong bawakan laporan keuangan pabrik selama tiga bulan terakhir dan jangan lupa pastikan setiap post’nya dicatat sesuai dengan laporan kepala pabrik.”
Dengan pikiran yang masih melayang entah ke mana, Anya membuka data laporan yang diminta Rivaldi lalu mencetaknya tanpa melakukan pemeriksaan yang diminta oleh Rivaldi. Begitu selesai mencetak, ia membawa laporan itu ke dalam ruangan Rivaldi. Rivaldi mengambil laporan itu dari tangan Anya. Pandangan Anya masih kosong. Wajahnya terlihat lesu dan seakan sedang berbeban berat. Rivaldi melirik Anya.
Untuk urusan pekerjaan Rivaldi tidak menyukai adanya kesalahan. Dan sepertinya Anya hari ini melakukan kesalahan yang kesekian kalinya. Rivaldi membanting berkas yang ia bawa ke atas meja dan membuyarkan lamunan Anya. Ia menyandarkan tubuhnya kasar pada kursi kebesarannya.
Anya terkesiap dengan apa yang dilakukan Rivaldi.
“A-apa saya melakukan kesalahan, Pak?” tanya Anya dengan takut dan ragu. Seingatnya ia sudah membawa data yang benar.
Rivaldi mendengus sebal. Ia memberikan data yang ia pegang tadi pada Anya.
“Anya, apa kau sudah memastikan angka-angka di dalam laporan itu sesuai dengan instruksiku?” tanya Rivaldi dengan nada mengintimidasi.
Anya merasakan aura mencekam pada diri pria di hadapannya itu. Dan, tidak biasanya ia merasakan aura membunuh Rivaldi seperti saat ini.
“Saya…”
“Belum kan? Data yang kau pegang itu masih menggunakan perhitungan yang lama dan kau tidak memastikan itu?” tanya Rivaldi lagi dengan suara meninggi dan wajahnya menunjukan raut wajah marah.
Anya menyadari kesalahannya. Ia hanya bisa menunduk.
“Ma-maaf, Pak. Saya akan mengecek ulang data ini seperti yang Bapak minta,” kata Anya sambil mengambil berkas yang Rivaldi lemparkan di atas meja. Badannya terasa bergetar dan air matanya ingin meleleh sekarang juga. Ia menyadari kesalahannya sekaligus merasa tidak kompeten dalam posisinya sekarang. Ia merasa gagal.
Rivaldi mengusap wajahnya dengan kasar. Alisnya bertemu dan wajahnya mengeras. Ia sungguh tidak suka Anya bekerja asal-asalan seperti ini.
“Apa yang terjadi padamu, Anya? HAH? MENGAPA KAU TIDAK BISA BERKONSENTRASI SEDIKITPUN DALAM KERJA? Ketika di ruangan rapat, aku melihatmu tidak fokus. Notulen yang kau buat pun hanya tercatat separuh. Kini aku membutuhkan data penting tapi kau tidak memeriksa sesuai dengan permintaanku. ADA APA DENGANMU, ANYA? BISAKAH KAU BEKERJA DENGAN FOKUS, HAH?”
Merasa hatinya tertusuk, air mata Anya mulai menetes. Rivaldi masih merasakan emosi yang meluap dalam dirinya. Ia kembali bersuara lagi dengan setengah berteriak.
“APAKAH AKU TERLALU MEMANDANG TINGGI LULUSAN TERBAIK PROGRAM BEASISWA GD CORP? TAK KUSANGKA ORANG YANG MERUPAKAN LULUSAN TERBAIK BEKERJA TIDAK LEBIH DARI SAMPAH!” maki Rivaldi pada Anya dengan tatapan marahnya.
Ia sungguh kesal dengan apa yang Anya lakukan. Ia memiliki segudang pekerjaan dan ia membutuhkan bantuan Anya. Tapi, wanita itu bukannya membantu tapi malah menghambat kinerjanya di saat ia harus membuat keputusan dengan cepat atas masalah yang terjadi.
Kata-kata Rivaldi tadi membuat hati Anya terasa diremas-remas. Air matanya mengalir tak terbendung. Ia sungguh merasa tersinggung dengan apa yang Rivaldi katakan, tapi ia tidak memungkiri bahwa pria itu mengatakan yang sebenarnya. Ini semua salahnya. Ia yang tidak mampu berkonsentrasi.
“Ma-maaf, Pak.”
“HAHH… SUDAHLAH! Ambilkan segera laporan yang kuminta dan jangan coba-coba kehilangan fokus lagi. Tugas kita masih banyak dan aku harap kau bisa bekerja maksimal.”
Anya mengangguk, ia mengusap air matanya lalu berjalan keluar dari ruangan Rivaldi. Sudut mata Rivaldi menangkap gerak-gerik Anya. Sejenak ia merasa bibirnya berkata kasar pada wanita itu. Ia mulai merasa bersalah dengan ucapannya.
Ia menghela nafasnya dan memijit keningnya yang berdenyut. Ia mengambil gelas berisi air mineral di depannya dan meminumnya untuk meredakan amarahnya lalu berusaha berfokus pada semua laporan di hadapannya.
Tapi entah apa yang merasukinya saat ini, ia dihantui oleh rasa bersalah karena membentak Anya sepanjang hari. Ia harus menebus kesalahannya. Ia tidak ingin kerja sama professional mereka kandas hanya karena ucapan kasar Rivaldi. Tapi, ia tidak tahu bagaimana memulai meminta maaf pada Anya.
Sejak saat itu keduanya bekerja dalam diam. Tidak ada bahasan atau diskusi seperti biasanya. Anya hanya mengerjakan apa yang Rivaldi minta dan Rivaldi hanya memanggil Anya jika ia membutuhkan sesuatu.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Waktunya pulang kantor tapi kedua orang itu masih berkutat di mejanya. Akibat kesalahan yang Anya buat tadi, mereka harus menyelesaikan pekerjaan itu lebih lama dari biasanya.
Anya melirik jam dinding di hadapannya dan ia menghembuskan nafasnya. Merutuki kesalahan yang ia buat dan membuatnya serta Rivaldi harus lembur. Ia melirik ke dalam ruangan Rivaldi. Ia melihat atasannya masih sangat serius dengan laptop berlogo apel yang tergigit itu. Pria itu telah melonggarkan dasinya dan sedikit mengacak rambutnya. Ia menyesal melakukan kesalahan hingga pria itu kini juga ikut merasakan akibatnya.
Anya menggerakkan tubuhnya yang letih itu ke kanan dan ke kiri. Tanpa ia sadari pria di dalam sana sedang meliriknya. Pria itu juga sedang dirundung rasa bersalahnya pada Anya. Ia menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya. Ia menyahut jasnya yang tersampir di atas sofa di tengah ruangan dan keluar dari ruangan.
Anya terkejut dengan kedatangan Rivaldi di depan meja kerjanya. Ia berdiri menyambut Rivaldi yang keluar dari ruangannya.
“Bapak sudah selesai?” tanya Anya basa-basi.
Rivaldi mengangguk menatap Anya. Wajahnya sudah tidak setegang tadi dan sepertinya tensi ketegangan yang ia alami sudah mulai mereda.
“Uhmmm… Anya…”
“Ya, Pak?”
Rivaldi memandang Anya dengan lembut. Tatapan mata yang menyejukkan hati seperti biasanya dan bukan tatapan penuh amarah seperti yang tadi Anya lihat.
“Maafkan kata-kataku tadi. Aku hanya sedang mengalami tekanan yang berat, yah kau tahu setiap divisi menantikan keputusanku dan kupikir…”
“Saya paham, Pak. Bapak tidak perlu merasa bersalah karena saya yang memang bersalah. Saya yang tidak berkonsentrasi dan memang saya yang menghambat semuanya. Sekali lagi maafkan saya, Pak,” potong Anya.
Rivaldi tersenyum dan menghela nafas.
“Jadi, apa masalah di antara kita sekarang sudah selesai?” tanya Rivaldi sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Anya. Anya menyambut tangan Rivaldi dan berjabat tangan tanda perdamaian dengan pria itu. Keduanya tersenyum.
Apakah ini awal yang baik untuk mereka? Ataukah ini hanya permulaan dari masalah yang sesungguhnya? Kita tidak pernah tahu. Tak akan pernah tahu.
A/N: Tahu ga ide judul chapter ini dari mana? Ini dari film kartun lho. Ada yang bisa tebak? Author jawab di A/N chapter berikutnya ya.