4. Give Me My Money

2227 Kata
     “Pukul berapa bus ke kampung halamanmu akan berangkat?” tanya Becca pada Anya.     “Uhmmm kalau aku tidak salah jadwal pukul 10.00.”     “Kalau begitu masih sempat untuk sarapan kan?”     “Kurasa lebih baik aku beli nasi bungkus saja nanti di terminal supaya tidak terlambat,” jawab Anya sambil memasukkan pakaiannya yang terakhir ke dalam tasnya. Sejujurnya dia tidak ingin untuk semeja makan dengan Rivaldi lagi. Jantungnya makin tidak terkontrol ketika berhadapan langsung dengan pria itu. Ia tidak ingin berlama-lama di sana dan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.     “Baiklah jika kau tidak ingin makan di sini. Aku akan minta Bi Iyem membungkuskan roti selai coklat untukmu. Itu jauh lebih baik daripada makan nasi bungkus kan?”     “Terima kasih,” sahut Anya dengan tulus.      Anya menarik gagang kopernya dan siap untuk berangkat.     “Ayo, kita berangkat!”     Kedua gadis itu keluar dari kamar dan berjalan menuju ke meja makan. Di sana Rivaldi sudah duduk dan menikmati sarapannya lebih dulu dengan pakaian kerjanya. Lagi-lagi Anya tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap Rivaldi yang terlihat gagah di dalam pakaian kerjanya.     “Selamat pagi. Ayo sarapan dulu!” sapa Rivaldi dengan senyuman.     Becca menoleh ke arah Anya dan menyikut lengan gadis itu yang tengah melamun.     “A-apa?”     “Papa sudah bertitah. Kau harus menurut,” kata Anya dengan setengah berbisik. Tanpa basa-basi, Becca menarik tangan Anya mendekati meja makan lalu mendudukkan sahabatnya itu di salah satu kursi yang menghadap langsung wajah Rivaldi. Jantung Anya makin tidak karuan.     Becca sendiri berjalan memutar, menghampiri Rivaldi lalu mencium pipi ayahnya cepat.     “Pagi, Pa!”     Rivaldi tersenyum. Ia mengambil selembar roti, mengoleskan selai strawberry kesukaan Becca dan meletakkannya di atas piring Becca. Becca dengan senang hati menerimanya karena entah mengapa rasa roti yang dibuatkan oleh Rivaldi terasa lebih enak dibandingkan jika ia mengolesi rotinya sendiri dengan selai.     Rivaldi menyelesaikan mengoles roti untuk Becca. Ia menatap Anya yang hanya membeku di hadapannya.     “Kau juga mau, Anya?” tanya Rivaldi.     Jantung Anya berdegup begitu cepat. Ia berusaha mengontrol nafasnya agar tidak terlihat gugup di hadapan Rivaldi.     “Saya akan ambil sendiri, Pak. Terima kasih,” jawab Anya dengan gugupnya.     Rivaldi memberikan dua lembar roti tawar untuk Anya dan mempersilakan gadis itu memilih olesan yang akan ia berikan di atas rotinya. Dengan malu-malu, ia mengoleskan mentega dan meses ke atas rotinya. Sesekali Anya menatap Rivaldi yang sedang berbicara dan bercanda dengan Becca. Ia menikmati pemandangan yang ia lihat sebab ia sendiri tidak pernah merasakan itu di dalam keluarganya.     Kedua orangtuanya bercerai sejak ayahnya di-PHK dari perusahaan dan ibunya membawanya pergi keluar kota untuk menghindari ayahnya.     Kini ketiga orang itu sudah berada di dalam mobil. Kebetulan Rivaldi dan Becca akan menjemput Viona, Ibu Rivaldi, yang datang dari Amerika.     Selama ini Viona tinggal dengan keluarga Sally, kakak Rivaldi. Sally dan keluarganya sempat tinggal di Jakarta karena suaminya, George dimutasi ke Jakarta untuk beberapa saat. Namun tiga tahun kemudian keluarga itu kembali ke Amerika.      George mendapatkan promosi untuk menjadi diplomat Indonesia di Amerika. Jadilah mereka sekeluarga pindah ke Amerika bersama dengan Viona. Dasar Sally tidak bisa diam dan hanya menjadi Ibu rumah tangga biasa, wanita itu malah merintis bisnis hotel bintang lima di berbagai kawasan di Amerika. Dan kantor pusatnya berada di San Fransisco, tempat mereka tinggal saat ini.      Ia juga sengaja membangun The Grand Dining di San Fransisco untuk Viona. Viona tidak ingin menganggur dan bergantung pada Sally dalam urusan finansialnya. Ia ingin memiliki penghasilan sendiri sembari ingin mencari kesibukan agar tidak selalu ingat pada Antony. Bahkan karena tidak ingin berlarut dalam kesedihannya, Viona sendiri yang menawarkan diri untuk menjaga Jeremy, putra sulung Sally yang mulai masuk usia sekolah. Sementara Sally sendiri yang menjaga Jonathan, putra bungsunya karena Jonathan memiliki kelainan pada paru-parunya sehingga membutuhkan perhatian ekstra darinya.      Seiring berjalannya waktu, hotel milik Sally mulai berkembang dengan pesat dan The Grand Dining pun menjadi terkenal di kawasan itu. Hingga beberapa tahun yang lalu George didapuk menjadi Duta Besar Indonesia untuk Kanada. Mau tidak mau, George dan Sally akhirnya pindah ke Kanada. Sementara Jeremy yang mulai beranjak dewasa memilih hidup mandiri di apartemen. Dan Jonathan yang berotak cemerlang mendapat beasiswa di Harvard University. Selama berkuliah putra kedua Sally itu tinggal di dalam asrama.    Kini karena kedua putra itu sudah beranjak dewasa dan memiliki jalan hidup masing-masing, wanita paruh baya itu akhirnya memiliki kesempatan untuk kembali ke Indonesia. Oleh karena itu kehadirannya disambut dengan senang hati oleh Rivaldi dan Becca.     Letak terminal bus itu sejalan dengan bandara jadi mereka bisa mengantar Anya sekaligus menjemput Viona.     Di dalam mobil Anya tidak dapat mengontrol detak jantungnya melihat Rivaldi dari balik kaca spion di depan sana. Meskipun terpaut 20 tahun darinya, ia masih bisa melihat ketampanan dan kegagahan Rivaldi yang tak berubah. Bahkan di usianya yang sangat matang, Rivaldi makin terlihat memukau.     Mobil mereka sampai di depan pintu masuk terminal. Anya menghela nafas lega karena ia baru saja melepaskan diri dari situasi yang menyesakkan di dalam mobil. Sesak karena seluruh perhatiannya tertuju pada sosok Rivaldi yang mengantarnya.     “Bye, Anya! Kabari jika kau sudah sampai rumah ya?” kata Becca sembari turun dari mobil untuk mengucapkan salam perpisahan pada sahabatnya. Anya mengangguk lalu memeluk Becca.     Rivaldi juga ikut turun dari mobil dan menyaksikan putrinya berpamitan.     “Terima kasih untuk tumpangannya, Pak. Saya balik dulu,” pamit Anya.     Rivaldi memasang senyuman manisnya.     “Hati-hati!”     Anya melangkahkan kakinya masuk ke dalam terminal. Rivaldi dan Becca menanti sosok Anya menghilang di balik pintu masuk terminal. Keduanya melanjutkan perjalanan menuju ke bandara.     Tidak butuh waktu lama menunggu, Viona keluar dari balik pintu kedatangan. Becca langsung menyambut Viona dengan pelukan hangatnya. Ia merindukan Grandma’nya. Sudah sekitar 4 tahun ia tidak bertemu dengan Viona karena ia sibuk menyelesaikan kuliahnya bahkan untuk melakukan panggilan pun ia tidak sempat.  Kini giliran Rivaldi memeluk Viona.     “Wah, anak Mama sudah terlihat sangat dewasa!” kata Viona sambil menepuk-nepuk pipi Rivaldi.     “Sudah tua kan maksud Mama?”     Viona terkekeh lalu mengecup pipi Rivaldi.     “Mama juga harus sadar kalau cucu Mama ini sudah perawan dan sebentar lagi akan menikah,” sahut Rivaldi sambil memberi kode pada Anya.     “O ya? Menikah? Hahahahah… sudah… sudah, ayo kita berangkat!”     Mereka masuk ke dalam mobil. Viona menceritakan bagaimana kehidupannya bersama Sally dan keluarganya di sana. Rivaldi dan Becca sangat menikmati pembicaraan itu. Mereka juga merindukan Sally dan keluarganya, tapi apa daya keluarga Sally cukup sibuk di Amerika dan mereka jarang sekali punya kesempatan untuk pulang ke Indonesia.     Kini mobil mereka sudah sampai di halaman rumah sakit. Viona bersikeras untuk menjenguk Celline terlebih dahulu walau ia baru saja menempuh lebih dari 20 jam penerbangan untuk sampai di Surabaya.     Sesampainya di dalam kamar Celline, Becca dan Viona terisak. Mereka menatap Celline yang terbaring kaku di atas ranjang tanpa sedikitpun membuka matanya. Hati mereka pedih. Rivaldi memutuskan untuk keluar dari kamar lebih dulu, memberikan waktu bagi putri dan ibunya untuk bersama Celline. Rivaldi keluar dan berdiri menghadap taman rumah sakit. Hingga sekarang hatinya terasa kosong tanpa kehadiran Celline di sisinya.     Viona keluar menyusul Rivaldi. Ia menepuk pundak putranya dengan sayang lalu mengajaknya untuk duduk di salah satu bangku taman rumah sakit.     “Apakah kau baik-baik saja, Riva?” tanya Viona.     “Maksud Mama?”     Viona menerawang jauh ke depan.     “Lima tahun ini pasti waktu yang sangat berat untukmu kan, Riva? Mama bisa merasakannya.”     Rivaldi hanya menghela nafasnya berat. Ia mengangguk. Viona memandang Rivaldi sejenak lalu kembali menatap lurus ke depan.      “Semenjak mendiang Papamu meninggal, Mama hanya bisa merasakan sepi. Hari-hari Mama terasa hampa. Setiap sudut rumah sepertinya penuh dengan kenangan akan Papamu. Mengingatnya membuat hati Mama terasa sedih saat itu. Mama merindukan Papamu. Bahkan hingga sekarang pun Mama masih rindu Papamu.”     Viona menoleh ke arah Rivaldi dan Rivaldi memandang Viona.     “Mama tahu kau juga merasakannya saat ini bukan? Meskipun Celline masih hidup, tapi kondisinya sekarang tidak sama lagi. Ia hanya bisa berbaring lemah di atas sana tanpa bisa merespon apapun. Ia yang biasanya mengisi hari-harimu, bersamamu, mendampingimu, sekarang sosok itu seakan menghilang dari hidupmu. Benar kan kata Mama?”     Tanpa terasa air mata Rivaldi sudah menetes. Memang itu perasaannya saat ini. Kosong, kesepian, rindu dan semuanya bercampur menjadi satu. Viona ikut menangis melihat putranya yang terlihat tegar tapi rapuh itu. Ia memeluk Rivaldi dan memberikan kehangatan sebagai seorang Ibu.      “Aku merindukan Celline di sisiku lagi, Ma,” kata Rivaldi lirih.     Viona mengeratkan pelukannya pada putranya. Rivaldi melepas pelukan Ibunya dan menghapus air matanya. Ia berusaha tersenyum.     “Aku ingat Papa selalu berkata bahwa segala sesuatu ada waktunya. Masa-masa sulit ini pasti akan ada batasnya. Tak selamanya Tuhan membiarkan kondisi seperti ini kan, Ma?” ucap Rivaldi.     Viona mengelus lembut wajah putranya. Ia mengangguk.     “Mama tidak perlu mencemaskanku. Aku masih sanggup menjalani semuanya. Sekarang ada Becca dan ada Mama di sisiku. Setidaknya, aku tidak akan merasa begitu kesepian lagi.”     Viona menepuk-nepuk paha Rivaldi sambil tersenyum dan menatap ke depan.     “Baguslah kalau kau mencoba bangkit dari rasa sepimu. Mama harap kau tidak akan melirik wanita lain hanya untuk memenuhi rasa kesepianmu ini.”     Rivaldi terkekeh lalu menatap ke depan.     “Mana mungkin aku bisa melirik wanita lain sementara aku masih beristri?”     Viona ikut terkekeh mendengar jawaban putranya yang terlihat konyol itu.     “Mama percaya padamu. Putra Mama ini sangat menjaga komitmen dan Mama tahu kau tidak akan mengecewakan Mama. Mama hanya berpesan ingatlah selalu komitmenmu di hadapan Tuhan. Pernikahan hanya sekali hingga maut memisahkan kalian.”     Rivaldi memeluk Viona.     “Hahahaha… Mama… Mama… Mama terlalu banyak berpikir. Sepertinya Mama harus beristirahat sekarang. Mari kita pulang. Aku akan panggil Becca,” kata Rivaldi lalu beranjak untuk mengajak Becca pulang.     Mengingat pesan Ibunya yang tidak masuk akal, Rivaldi tertawa sejenak dan menganggap ucapan Viona hanya sepintas lalu. Tapi, ia tidak menyadari bahwa segala sesuatu akan sangat mungkin terjadi di depan dan menguji semua ucapannya sendiri. ***     Anya telah sampai di halte terdekat dengan rumahnya. Ia turun dari bus dan segera mencari pangkalan ojek terdekat untuk mengantarnya sampai di depan rumahnya. Di belakang tukang ojek itu Anya merentangkan tangannya. Menghirup sepuas-puasnya udara segar yang berhembus di sekitarnya.     “Non sudah lama tidak pulang ke sini ya? Saya jarang lihat Non,” kata Pak Budi, si tukang ojek. Pak Budi adalah tetangga Anya di kampung halamannya.     “Betul, Pak. Puji Tuhan saya mendapat beasiswa ke Belanda. Dua hari lalu saya baru balik.”     “Pantas saja, Non. Selamat datang kembali kalau begitu.”     “Terima kasih, Pak.”     Anya kembali menghirup dalam-dalam udara segar yang ia rindukan. Sesampainya di depan rumah, Anya membayar jasa ojek Pak Budi dan pria itu kembali ke pangkalan untuk menunggu penumpang selanjutnya. Anya sudah bersiap untuk masuk ke dalam rumah. Ia sudah rindu pada Ibunya.     Ia membuka kunci rumahnya lalu masuk ke dalam.     “Mama! Aku pulang…”     PRANG… PRANG…     “PERGI! PERGI KAU DARI SINI! DASAR PREMAN! BAJINGGAAANNNN…. Hiks…”     Suara dari dapur mengagetkan Anya. Anya meletakkan dengan kasar kopernya lalu berlari menuju ke dapur.     Seorang pria sudah berjongkok di hadapan Ibunya yang sudah tersudut ke dinding belakang dapur dengan wajar yang babak belur. Di sekitarnya sudah terdapat pecahan piring dan peralatan makan lainnya.     “HENTIKAN!”     Suara teriakan Anya mengagetkan pria itu. Ia berdiri dan berjalan menuju ke arah Anya dengan tatapan angkuhnya. Ia menepuk-nepuk pipi Anya yang menatapnya nyalang.     “Rupanya anak Papa yang dari luar negeri sudah pulang! Kau pasti membawa banyak Euro bukan? Mana, sini berikan pada Papamu yang miskin ini! Papa membutuhkannya sekarang,” kata Jacky, pria yang adalah ayah kandung Anya. Semenjak di-PHK, ia menghabiskan hari-harinya dengan berjudi, minum-minum dan sekarang berkawan dengan para preman.     “AKU TIDAK MEMILIKI UANG! PERGI DAN JANGAN GANGGU MAMA LAGI!” bentak Anya sambil mengepalkan tangannya erat-erat. Ia menguatkan segenap tenaganya untuk melawan ayahnya yang bertindak semena-mena dan bahkan kasar pada Ibunya. Mereka sudah bercerai selama 15 tahun dan hidup terpisah sekian lama. Sekarang bisa-bisanya pria itu datang lagi dalam hidup mereka yang tenang dan damai.     “Anak Papa berani melawan rupanya! Kau berani melawan ayahmu sendiri? ANAK DURHAKA!”     PLAKKK!!!     Tanpa basa-basi, pukulan keras mendarat di pipi Anya. Anya memegang pipinya yang berdenyut. Erica berteriak kencang lalu merangkak dan memeluk kaki Jacky.     “Jangan pukul anakmu, Jacky! Dia putri kita. Kalau kau marah, lampiaskan padaku saja!”     Jacky mendorong Erica dengan kakinya hingga wanita itu tersungkur dan punggungnya membentur kaki meja.     “MAMA!!!”     Jacky mencekal tangan Anya dengan kencang.     “Serahkah uangmu sekarang! Atau, kau mau wanita ini yang merasakan akibatnya!”     Dengan mata yang berkaca-kaca dan nafas yang menderu, ia mengeluarkan dompetnya lalu mengeluarkan beberapa lembar Euro yang tersisa di sana lalu melemparkannya di depan wajah Jacky. Jacky tertawa sambil memunguti lembaran-lembaran uang di hadapannya lalu berjalan melewati Anya.     “Aku akan kembali lagi!” bisiknya di telinga Anya. Anya bergidik dan menatap Jacky tanpa takut.     “PERGI! JANGAN GANGGU KAMI LAGI!”     Jacky pergi sambil melambaikan tangannya ke arah kedua wanita itu tanpa mempedulikan kata-kata Anya.     Ketika pria itu keluar dari rumah mereka. Seketika kaki Anya terasa begitu lemas. Ia merosot ke lantai dengan air mata yang tak bisa terbendung lagi. Badai apa lagi yang datang ke dalam hidupnya saat ini? Mengapa di saat semuanya terlihat baik-baik saja, masalah yang besar datang kembali dalam hidupnya?   A/N: Di balik sosok Anya yang bikin gemas, ternyata ada masa lalunya yang bikin miris. Jadi, jangan berprasangka buruk dulu sama Anya. Nikmatin aja ceritanya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN