Akasia telah melewati banyak hal hari ini, badannya cukup lelah setelah bekerja seharian. Jam menunjukkan pukul 17:15 dan Akasia sudah berada di depan rumahnya. Badannya sudah begitu lengket, hari ini Ia menghabiskan waktu dengan bekerja. Akasia merogoh tas kecilnya lalu mengeluarkan kunci rumahnya. Akasia memutar kunci dan membuka pintu rumah, baru Akasia akan menutup pintu kembali, Akasia di kejutkan oleh suara pria itu lagi.
"Kenapa Lunia?" Akasia terkejut, Dia mulai takut dengan keberadaan makhluk itu yang bisa saja membuat jantungnya berhenti berdetak karena terkejut. Akasia membalikkan tubuhnya dan menyandarkan badannya di pintu yang belum sempat Ia kunci itu.
"A-apa maksudmu?" tanya Akasia masih dalam keterkejutannya, suara tawa bercampur kecewa kini Akasia dengar. Dan Akasia merasa tidak menyukai suara tawa itu untuk saat ini, ada rasa yang Akasia sendiri tidak bisa mendiskripsikannya.
"Kamu ingin menghilangkan Aku, kenapa?" Akasia menelan ludah saat itu juga, bagaimana makhluk itu bisa tahu?.
"Aku sudah tahu Lunia, apa Kamu benar-benar ingin menghilangkan Aku?" benar, harusnya Akasia sudah bisa menebak jika K juga ada di sana saat tadi Akasia meminta bantuan pada Anjar. Akasia ingin langsung mengiyakan pertanyaan K, namun lidahnya kelu dan tenggorokannya terasa kering hingga Akasia harus membasahi bibirnya.
"A-aku" Akasia tidak dapat melanjutkan ucapannya karena saat ini Ia benar-benar tidak punya jawaban akan pertanyaan itu. Entah kenapa otaknya mendadak tumpul dan Akasia selalu benci jika Ia di hadapkan pada situasi seperti saat ini. Akasia sudah menyiapkan jawaban sebelumnya dan kenapa saat di depan K sekarang, semua jawaban itu hilang.
"Apa Kamu benar-benar tidak menginginkanku?" Akasia kembali menelan ludah, badannya kini sudah bersandar pada pintu rumah guna menopang tubuhnya yang terasa lemah. Seolah Ia melakukan kesalahan besar dalam hidup K. Akasia merasakan tubuh itu menghimpitnya tidak menyisakan ruang. Nafas pria K itu terdengar dan terasa di puncak kepalanya. Hembusan nafas yang penuh amarah, namun Akasia tahu jika K berusaha menahannya.
"Aku-." Akasia memejamkan matanya saat tidak bisa memberi alasan pada K.
"Pergilah!" dan saat kata-kata itu terucap, Akasia merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada tubuh dan jantungnya. Jantungnya mendadak sakit, pasokan oksigen seolah menipis di ruangan itu. Tidak seperti saat Ia mengusir K untuk pertama kali, kali ini benar-benar Akasia merasakan hal yang berbeda.
"Akhh!" sama, Akasia mendengar suara kesakitan yang sama seperti dirinya. Bahkan jauh lebih mengiris pendengaran dan juga sedikit mencubit hatinya. Akasia menggigit bibir bawahnya guna menahan erangan sakit yang Ia sendiri baru pertama kali merasakan hal ini. Apa Ia punya penyakit jantung?.
"Akhhh!" suara K benar-benar membuat Akasia tiba-tiba mengeluarkan air matanya. Tidak hanya itu saja, karena sebenarnya Akasia bingung untuk bagaimana menerima hadirnya K di hidupnya.
"Ke-kenapa Kamu menangis Lunia?" pertanyaan itu terdengar terbata, Akasia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Setelah pengusirannya pada K, Akasia merasa Ia telah melukai K. Harusnya Akasia biasa saja bukan? Baru sehari dan masalah malah rumit karena keingin tahuannya terhadap makhluk itu. Akasia bingung, bahkan ketika pertanyaan itu keluar dari K. Akasia bingung untuk menjawabnya, kenapa Dia menangis?.
"Kenapa Kamu kesakitan?" Akasia bertanya di sela rasa sakitnya juga, tapi sepertinya rasa sakit yang di rasakan K jauh lebih sakit dari yang Akasia rasakan.
"Karena Kamu juga sakit Lunia, karena Kamu merasakannya juga." Akasia menggeleng, Akasia semakin merasa bersalah. Ia tidak tahu jika keputusannya berdampak pada dirinya dan juga K hingga seperti ini.
"Aku tidak ingin menyakitimu, Aku hanya ingin Kamu pergi dan Aku dapat melanjutkan hidupku." Akasia ingin melihat ekspresi wajah K, namun Ia tidak berani mengungkapkannya. Semakin Ia ingin tahu akan semakin membuat masalah menjadi besar.
"Kita sudah terikat Lunia, saat Kamu tidak menginginkanku. Maka Aku akan lenyap secepat kilat cahaya." Akasia menutup mulutnya, air mata semakin mengalir tanpa Ia duga. Akasia menggeleng, Ia tidak akan mempercayai ucapan K itu.
"Jangan bercanda K, Aku tidak bermaksud melukaimu." Akasia merasakan usapan di pipinya, tangan hangat K itu terasa dingin sekarang di kulit Akasia. Dan Akasia tahu, jika sesuatu yang buruk akan terjadi jika Ia tetap egois. Akasia memejamkan matanya, dengan kepala tertunduk Akasia mencoba memikirkan cara agar Ia tidak melukai K.
"Maafkan Aku, apa yang dapat Aku lakukan K. Please, Aku sama sekali tidak ingin menyakitimu." Akasia merasakan air mata yang mengalir di pipinya terhapus lagi, sedari tadi air mata Akasia tidak berhenti mengalir. Mungkin karena rasa bersalah yang Akasia rasakan saat ini.
"Jangan menangis Lunia, Aku tidak apa-apa." Akasia menggeleng tidak setuju. Jika K tidak apa-apa, kenapa tangan K di kulit pipinya menjadi lebih dingin dan semakin dingin.
"Kenapa tanganmu begitu dingin K?" tidak ada jawaban, hanya usapan lembut yang Akasia rasakan.
"Ma-maaf Lunia.".
"K, please." teriak Akasia histeris, sungguh Ia tidak ingin K pergi dengan cara terluka. Ia ingin K pergi dengan baik-baik saja.
"Akhh!" Akasia panik, Ia meraba depan tubuhnya. Mencoba menggapai tubuh K dengan jari jemarinya, namun gagal. Seolah K memang sengaja membuat tubuhnya itu menghilang, atau mungkin tubuh K mulai menghilang akibat dari pengusirannya kali ini. Akasia kembali menggeleng tegas.
'Tidak-tidak, Aku bukan manusia jahat dan setega itu. Tuhan, kali ini saja Aku mohon padamu untuk tidak mengambilnya dariku' Akasia meneteskan air matanya, Ia menunduk penuh harap. Dan tangan K yang ada di wajahnya semakin dingin, bersamaan dengan rasa sakit yang Akasia rasakan pada jantungnya.
Akasia merasakan jantungnnya akan meledak saat ini, untuk yang terakhir kalinya. Akasia memegang wajahnya, Akasia merasakan tangan dingin itu pada telapak tangannya. Akasia memantapkan hatinya lalu dengan senyum berharapnya Ia berkata.
"Akhhhh, akhh hah hah!".
"K, jangan pergi. Tetaplah berada di sini, di sampingku!" saat Akasia mendengar jeritan kesakitan serta nafas K yang menyakiti pendengarannya, hati Akasia ikut sakit dan kalimat itu begitu saja terlontar dari bibirnya. Hingga Akasia merasakan jantungnya begitu sakit dan semua menjadi gelap.
****
Akasia tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, namun saat Ia bangun. Tubuh mungilnya sudah berada di ranjangnya yang nyaman baginya, ranjang yang selama ini menemani istirahat tubuhnya yang selalu lelah selesai bekerja. Akasia meraba dadanya, jantungnya tidak sesakit tadi malam meski sekarang Akasia masih memejamkan matanya. Mencoba menyadarkan dirinya, ini mimpi ataukah Akasia sudah berada di alam baka. Akasia langsung membuka matanya dan mendudukkan tubuhnya saat ingat sesuatu.
K? Nama itu mendadak terlintas di otaknya yang baru bekerja. Mengabaikan rasa sakitnya, Akasia menatap sekitarnya. Apa K sudah pergi? Akasia menunduk. Sebenarnya dari lubuk hati Akasia yang paling dalam, Ia merasa senang dengan adanya K. K tanpa Ia sadari sudah menemaninya dan juga membuatnya merasa mempunyai teman di rumah. Walau K tidak dapat Akasia lihat dan entah sejak kapan menemaninya, yang jelas jika K ada di sini Ia akan meminta maaf telah mengusirnya.
"Mau Kamu ucapkan sekarang?" Akasia memundurkan sedikit badannya lalu menatap sumber suara dengan wajah penuh rasa keterkejutan.
"Kamu- Kamu K?" tawa Akasia dengar merdu mengalun di telinganya. Akasia bisa sedikit bernafas lega akan hal itu.
"Kamu pikir siapa Lunia?" Akasia tidak dapat menahan senyumnya.
"Kamu yakin Kamu adalah K?" suara kekehan kembali Akasia dengar, dan Akasia seolah hafal dengan suara itu. Akasia mengangguk, meyakinkan dirinya bahwa makhluk yang ada di hadapannya ini adalah K nya. Alis Akasia bertaut saat pikiran itu sekilas berputar di otaknya.
"Jangan di pikirkan, tapi jika Kamu mau. Kamu bisa mengaku K sebagai milikmu." usapan Akasia terima, namun Akasia mendengus kemudian.
"Jika Kamu ingin Aku hidup, lain kali jangan mengejutkan Aku." protes Akasia, Akasia juga sedikit memundurkan kepalanya saat usapan di puncak kepalanya terus Akasia rasakan.
"Baiklah, lain kali Aku akan membuat tanda.".
"Jam berapa sekarang?" Akasia mengalihkan topik pembicaraan saat pipinya mulai memanas. Wanita mana yang tidak blushing saat seorang pria mengiyakan begitu saja segala permintaannya.
"Kamu akan ke sekolah?" Akasia mengangguk untuk menjawab pertanyaan K.
"Ya, yah sudah jam 06:15." Akasia segera turun dari ranjang setelah melihat jam dindingnya yang banyak debu itu, lalu begitu saja mengambil handuknya yang tergantung di samping lemari bajunya.
"K." Akasia berhenti di ambang pintu kamar mandinya lalu menengokkan kepalanya ke belakang.
"Ya L?" Akasia tersenyum saat K memanggilnya L.
"Apa Kamu masih merasakan sakit?" Akasia harap-harap cemas dengan jawaban yang akan K berikan padanya. Akasia masih merasakan sakit itu di jantungnya dan mungkin K juga.
"Tidak L, Kamu sudah menyembuhkan lukaku dengan cepat. Bahkan mengembalikan cahayaku lagi, terima kasih." alis Akasia bertaut.
"Sema-.".
"Mandilah L, Kamu akan terlambat nanti." Akasia tidak puas dengan jawaban K, namun melihat jam yang terus berputar dan memburunya. Akasia harus rela dengan jawaban seadanya K lalu kembali membalikkan badannya. Kakinya baru satu langkah, namun kembali terhenti.
"K.".
"Ya L?".
"Kamu tidak akan pergikan?" Akasia bertanya serius kali ini, Ia tidak ingin K pergi. Biarlah Ia di anggap gila jika tanpa sadar Ia berbicara sendiri di tempat umum.
"Tidak L, Aku tidak akan ke mana-mana selama Kamu tidak memintanya." Akasia mengangguk lalu kembali melanjutkan masuk ke dalam kamar mandi. Setidaknya K tidak akan meninggalkannya sendiri lagi, dan itu sudah cukup bagi Akasia. Tidak ada salahnya juga, mencoba berbagi satu ruangan dengan K, toh K juga tidak terlihat oleh mata manusia.
"Aku tidak akan membuatmu pergi." gumam Akasia lalu benar-benar masuk di dalam kamar mandi. Tahukah Akasia kalau gumamannya dapat di dengar dan membuat seorang pria semakin bersinar tubuhnya.
"Kamu sangat manis L, dan Aku bahagia saat dapat memanggilmu dengan inisial.".
****
Madiun punya cerita
(Loves, Like and Comment)