"Tidak, Aku tidak akan datang ke pesta itu." jawab Akasia mutlak, setelah tahu jika makhluk itu bernama K, bukannya Akasia tenang. Namun malah berpikir yang tidak-tidak mengenai hal-hal yang akan terjadi selanjutnya, yang jelas itu seperti tidak masuk akal.
"Kenapa?" Akasia merasakan ke dua telapak tangannya di genggam, Akasia merasa aneh. Hari ini adalah hari pertama mereka berinteraksi secara intens, namun Akasia sama sekali tidak risih dengan kehadiran sosok di hadapannya ini.
"Aku tidak ingin merepotkan orang lain, apalagi harus pergi bersama pasangan. Aku bahkan tidak memilikinya." curhat Akasia, apa yang di ucapkan Akasia memang benar. Sejak Dia tinggal sendiri seorang diri, saat itulah dirinya sudah bertekad untuk melakukan segalanya sendiri tanpa merepotkan orang lain. Sebisa mungkin Akasia meminimalkan bergantung pada orang, jika Ia bisa sendiri maka Ia akan melakukannya. Dan jika tidak bisa, Ia lebih baik merogoh dompetnya dalam untuk membayar seseorang untuk membantunya. Bagi Akasia, tidak ada pertolongan yang gratis di dunia. Terlebih Akasia tinggal di kota metropolitan seperti Jakarta ini.
"Bukankah Aku sudah bilang, pergilah bersamaku." Akasia menggeleng, bagaimana bisa Ia mempercayai hidupnya pada makhluk yang tidak terlihat ini? Walau pun itu hanya sebuah pesta, tentu itu akan mempertaruhkan hidupnya di kemudian hari di depan teman satu angkatannya. Akasia juga percaya jika Iris mengundang seluruh murid kelas 12.
"Aku bisa jadi bahan tertawaan karena berbicara dan memakai pakaian couple sendiri." ucap Akasia dengan bercanda sekaligus menertawakan dirinya sendiri.
"Lalu?" Akasia mengedikkan bahunya, Ia tidak ingin ambil pusing lagi mengengai pesta itu.
"Mungkin jika Aku ingin datang, maka Aku harus meminta bantuan Kak Anjar sebagai pasanganku." geraman Akasia dengar, genggaman di tangannya juga mengerat membuat Akasia terhenyak.
"Dengar, jangan pergi dengan pria lain!" Akasia menngernyit bingung dengan ucapan tegas K yang juga tidak terbantahkan.
"Memang kenapa?" tanya Akasia bingung, pada akhirnya Akasia juga harus memastikan kenapa K melarangnya untuk berdekatan dengan pria manapun.
"Apa Kamu lupa apa yang Aku katakan kemarin? Kamu adalah kekasihku." Akasia berdecak mendengar hal itu.
"Aku bukan kekasih siapa-siapa, Kamu harus tahu itu!" tekan Akasia tegas. Akasia merasakan bahwa sosok itu pergi dari sekitarnya, genggaman tangannya terlepas dan Akasia merasakan kehampaan di sekitarnya.
"Ck benar-benar, Aku mulai gila." Akasia menunda untuk membersihkan rumahnya saat satu ide terlintas di benaknya. Satu ide yang mungkin membuat sosok itu marah padanya, dan Akasia sama sekali tidak peduli dengan hal itu.
Akasia segera membersihkan dirinya, memakai baju casualnya dan meraih tas kecilnya lalu berlari kecil meninggalkan rumah sederhananya, tidak lupa Akasia mengunci pintunya.
Akasia hanya butuh beberapa menit untuk sampai di Coffe milik Anjar dan juga tempat kerjanya, Akasia datang lewat pintu belakang karena Akasia yakin bahwa Anjar ada di dapur saat ini. Kebiasaan Anjar ketika pagi sebelum Coffe itu ramai oleh para pembeli.
"Kak." Anjar terkejut saat suara Akasia yang tiba-tiba berada di belakangnya, bukan hanya Anjar melainkan beberapa orang yang ada di dapur nampak terkejut. Akasia seperti makhluk asing yang tiba-tiba muncul begitu saja di antara merek, mungkin karena Akasia belajar dari K yang tiba-tiba muncul dan pergi.
"Astaga Sia, Kamu apa-apaan sih?" protesan Akasia dengar dari beberapa orang yang di balas Akasia dengan senyum kikuk dan anggukan kepala memohon maaf atas rasa keterkejutan mereka yang telah Akasia ciptakan.
"Maaf, Kak." Akasia mendekati Anjar saat Anjar hanya menatapnya sebentar lalu mulai melanjutkan kegiatannya. Akasia mendengus, lalu menoel lengan atas milik Anjar.
"Apa sih Sia?" Anjar yang kembali sibuk pada pekerjaannya membantu menyiapkan makanan untuk pelanggan bertanya pada Akasia saat Akasia menoel lengannya lagi. Anjar suka melakukan atau pun membantu di dapur saat pria itu tidak ada pekerjaan di kantornya. Dan sepertinya Akasia mengganggu kegiatan pria itu saat ini, tapi kali ini Akasia begitu berkepentingan pada Anjar.
"Bentar deh Kak, Sia ada perlu." Akasia yang berada di belakang Anjar membisikkan kata-kata itu membuat Anjar membalikkan badan dan menautkan alisnya.
"Kamu kenapa sih?" Akasia berdecak saat pertanyaan Anjar terasa ogah-ogahan, duh kalau tidak mendesak. Akasia juga tidak akan mau mengganggu waktu Anjar untuk berkutat dengan segala macam peralatan dapur dan apron yang menggantung di leher pria itu.
"Boleh minta waktunya sebentar?" Anjar mengangguk saat Akasia meminta waktunya. Anjar melepas apronnya dan meminta satu chef lainnya untuk menggantikannya. Anjar memegang lengan Akasia lalu menggeret Akasia keluar dari dapur menuju ke ruangannya. Akasia tersenyum di belakang Anjar saat pria itu begitu saja meninggalkan pekerjaan untuknya. Semua orang menatap Akasia dan Anjar heran, pasalnya ini kali pertama Akasia berbicara serius sampai seperti itu pada Anjar. Karena Anjar tidak tahu apa yang akan di bicarakan oleh Akasia dan sepertinya mendesak.
Akasia melihat sekeliling, mencoba merasakan keberadaan makhluk yang mengaku bernama K itu. Anjar sendiri yang melihat kelakuan Akasia hanya mampu menaikkan sebelah alisnya dengan bersidekap d**a.
"Kamu ngapain sih Sia?" Anjar yang tidak tahan melihat tingkah Akasia akhirnya bersuara.
"Ssst! Jangan keras-keras Kak, Akasia minta tolong." Anjar heran saat lagi-lagi Akasia berbisik padanya, padahal di ruangannya ini hanya ada dirinya dan juga Akasia.
"Kamu kenapa sih? Kenapa harus bisik-bisik coba? Enggak ada siapa-siapa di sini Sia." Akasia menatap Anjar tidak setuju lalu membuka ponselnya, jari-jari Akasia dengan lincah menari-nari di atas layar ponsel gadis itu.
"Kakak buka ponsel Kakak." Anjar menurut, Anjar merogoh saku celananya saat Akasia menyuruhnya membuka ponsel. Setelah membaca isi pesan Akasia, alis Anjar bertaut dengan menatap Akasia.
'Kak, ada makhluk yang sedang ikutin Aku'.
"Maksudnya apa sih ini?" Akasia menghembuskan nafas lalu mengetikkan sesuatu di ponselnya lagi. Anjar yang melihat itu berdecak, kenapa Akasia tidak langsung berbicara saja padanya?.
"Kakak baca lagi." Anjar menurut lalu setelah membaca pesan Akasia tawa Anjar begitu terbahak membuat Akasia kesal. Akasia bersidekap d**a lalu memutar mata malas, apa Ia sudah benar meminta bantuan Anjar? Rasa-rasanya Ia salah mengambil langkah.
'Makhluk Kak, sejenis genderuwo kaya gitu'.
"Hahhha Sia-sia mana ada kaya begituan." Akasia kembali berdecak, tuhkan? Apa Akasia pikirkan sih? Meminta bantuan Anjar sama saja mempermalukan diri sendiri.
"Kakak, please deh. Akasia lagi enggak ada waktu buat bercanda." Akasia kembali menatap sekitar lalu kembali mengetikkan sesuatu pada Anjar.
'Kak, Dia lagi ada di sini. Please bantuin Sia' Anjar menatap Akasia dengan menghentikan tawanya.
"Kamu beneran?" Akasia mengangguk meyakinkan, wajah Akasia yang begitu membuat Anjar berpikir sebentar.
'Iya Kak, Dia bilang namanya K. Aku takut itu semacam setan atau genderuwo gitu.' Anjar menatap Sia, dengan kepala terangkat sebentar. Anjar ingin memastikan saja apa Akasia sedang bercanda atau itu memang sungguhan. Akasia mengangguk sebagai jawabannya.
"Kamu lagi enggak habis nonton film apa begitu Sia? Jangan-jangan Kamu halu lagi." Akasia menggeleng saat Anjar berkata demikian, mungkin dan Akasia juga sempat berpikir begitu. Tapi sekali lagi Akasia sudah memastikannya sebelumnya. Rasa hangat, hembusan nafas dan juga telapak tangan K, Akasia juga sudah merasakan bagaimana lekuk wajah makhluk itu.
'Sia enggak bohong Kak, Kakak tahu caranya biar Dia pergi dari Sia?' Akasia menatap sekitar, Dia begitu takut makhluk bernama K itu tiba-tiba ada di sekitarnya. Sebenarnya Ia tidak yakin untuk bertanya pada Anjar, takut Anjar kena resiko dari kecerobohannya ini. Atau lebih parah Anjar tidak percaya dengan ucapannya, ya walau benar sekali kalau Anjar tidak percaya sepenuhnya. Tapi setidaknya Akasia sudah mencoba untuk mengusir makhluk itu dari hidupnya dengan mendorong makhluk itu pergi.
Akasia menyadari bahwa, manusia dan makhluk tidak kasat mata itu tidak bisa hidup bersama meski mereka saling melengkapi hidup di dunia ini. Dunia mereka tetep berbeda, alam yang mereka tempati juga berbeda. Dan Akasia, makhluk itu telah salah jika membiarkan Akasia mencoba mengusik dunia K dan begitu juga sebaliknya.
"Sia, hei!" Anjar merangkup wajah Akasia yang terlihat kebingungan, dan hal itu baru Anjar tangkap sekarang. Bohong jika Akasia tidak takut, bukan karena wujud K yang mungkin menyeramkan, tapi Ia takut akan tertipu daya oleh makhluk yang tidak jelas asal usulnya itu. Bukankah makhluk sejenis itu suka berbohong dan menipu manusia, apalagi manusia lemah seperti dirinya.
"Sia." Akasia menatap Anjar, mata Akasia fokus pada mata Anjar yang hitam dan jernih. Pria yang sudah seperti Kakak bagi Akasia itu tersenyum ke arahnya. Mungkin karena Akasia terlalu lama berada dalam dunia lamunannya, memikirkan bagaimana Ia harus hidup dengan K yang juga ada di sekitarnya.
"Kamu enggak bohong soal ini?" Akasia menggeleng, Akasia benar-benar tidak berbohong mengenai hal sepenting ini.
"Untuk apa Kak?" kini giliran Akasia yang bertanya, apa keuntungan Akasia berbohong. Apalagi masalah seperti ini jarang terjadi di sekitaran lingkungan Akasia. Anjar membuang nafas lalu tersenyum, tangan pria itu beralih dari menangkup ke dua sisi Akasia lalu mengusap lembut puncak kepala Akasia.
"Kakak akan coba cari tahu soal itu nanti, Kamu tenang dulu ya? Kamu mau tinggal di rumah Kakak, biar Mama yang temani Sia." Akasia menggeleng.
"Enggak Kak." jawaban Akasia terdengar mantap, Ia tidak mau merepotkan Anjar lebih dari ini.
"Sia, Kamu tahu keluarga Kakak Sia. Kamu sudah seperti keluarga bagi kami, kalau Kamu butuh apa-apa Kamu langsung datang ke Kakak atau pun ke rumah. Kamu tahu itu bukan?" Akasia mengangguk lalu tersenyum, Akasia merasa sedikit tenang. Anjar membalas senyum Akasia lalu menepuk bahu Akasia.
"Kamu mau istirahat saja hari ini?" Akasia menggeleng.
"Enggak Kak, Aku mulai kerja saja." Anjar mengangguk.
"Tenang dan jangan takut, ok?" Akasia mengangguk, Akasia sama sekali tidak takut oleh makhluk itu. Entah kenapa Akasia yang baru berinteraksi dengan makhluk seperti itu malah biasa saja, Akasia merasa juga K tidak berbahaya.
Setelah itu Akasia benar-benar bekerja, sejenak melupakan makhluk yang entah sejak kapan ada di hidupnya itu. Satu kalimat yang membuat Akasia terus memikirkannya adalah bahwa makhluk itu ada karena keinginannya. Bahkan Akasia tidak ingat kapan dan di mana Akasia menginginkan makhluk bernama K itu.
****
Madiun punya cerita
(Loves, Like and Comment)