Perpisahan

1093 Kata
Bagi sebagian orang menghabiskan waktu bersama selama tiga tahun memang mengasyikkan. Betul, tiga tahun saat masa sma itu benar-benar menjadi kenangan yang memorable bagi orang yang menikmatinya. Namun jangan lupa, waktu tidak diam saja melihat kejadian demi kejadian yang dilalui. Pernyataan yang klasik memang, bahwa setiap di setiap awal pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi perpisahan itu benar adanya. Secara resmi ataupun tidak resmi perpisahan dirayakan sebagai tanda berakhirnya waktu yang dilalui bersama. Termasuk di salah satu sekolah menengah atas, yang hari ini rupanya tengah melepas seluruh siswa kelas dua belas di sebuah gedung. Tak terasa bagi mereka telah mengejar ilmu bersama selama tiga tahun lamanya itu. Tentu tak hanya belajar bukan? Sekolah tanpa kisah sahabat dan asmara sedikit menjadi hambar untuk dikenang. Ya, tentu ada juga sebagian siswa yang ambis terhadap belajar. Sebagian siswa itu yang menganggap kalau belajar menentukan masa depannya. Bagi seseorang bernama Andine merasa bahwa semua yang ia lakukan selama sekolah seimbang. Ia tak pernah luput akan kewajibannya untuk belajar, pun dengan sahabatnya, ia punya banyak teman yang senantiasa menemani hari dikala waktu yang suntuk saat belajar. Kisah asmara ia juga punya. Tapi ia tak ingin membicarakannya sekarang. Di sebuah meja dekat prasmanan itu mereka sedang duduk sekarang. Andine dan tiga orang temannya yang juga mengenakan kebaya modern tengah berkumpul memamerkan senyumnya. Ya, mereka sedang ber-selfie, sambil menunggu panitia melanjutkan susunan acara yang akan mengumumkan gelar siswa berprestasi (siswa yang meraih nilai rata-rata tertinggi). Tak ada yang diharapkan dari mereka mengenai gelar itu. Kecuali Andine yang menjadi sedikit pendiam setelah siswa yang meraih gelar itu maju ke podium dan gemuruh tepuk tangan pun terdengar. Arsy, salah satu teman Andine menepuk punggung Andine dengan sangat pelan. “Dine, bisa jadi kamu yang kedua berprestasi loh. Jangan sedih begitu.” “Eh, siapa yang sedih? Memang benar kalau aku tak pantas dapetin gelar itu. Menjelang ujian kamu tahu lah, aku…” “Iya, aku ngerti. Tapi kamu hebat loh diterima di universitas ternama. Kampus impianku itu, ternyata kamu yang mendapatkannya.” “Kamu juga diterima di universitas yang bagus. Jangan membandingkan, ayo kita melanjutkan kisah kita masing-masing.” Arsy yang mendengarnya berkaca-kaca seketika lalu mengajak Andine keluar ballroom. Masih terdengar gemuruh ketika siswa berprestasi itu mulai membacakan pidato perpisahannya. Andine dan Arsy izin pada panitia untuk pergi ke toilet. Mereka berjalan sangat pelan memperhatikan ketukan high heels yang bergesekan dengan lantai ballroom. Di depan cermin besar itu, Arsy merapihkan tatanan rambutnya. Lalu kembali menghadap Andine yang kaget melihat Arsy sedang menatapnya sangat serius. “Dine, ingat ya. Setelah kamu menjadi mahasiswa kamu harus tetap menjadi diri kamu sendiri. Tetaplah bergaul dengan teman yang menurut kamu suka. Jangan takut, kamu pasti menemukan teman yang lebih baik dari temanmu selama di sma, oke?” “Aku tahu kok. Kenapa tiba-tiba bilang begitu? Bikin kaget saja,” ujar Andine “Aku sedikit takut sebenarnya. Setelah hubungan kamu dan Alvian…eh tak usah dibahas. Pokoknya kamu harus bisa menjalani kehidupan mahasiswamu ya,” Arsy lalu mengeluarkan lip balm dari tasnya. “Bibirmu sebenarnya sudah merah tanpa dipakaikan apapun. Aku jadi iri. Itu lip balmmu terlihat mau menghilang. Sini kupakaikan kembali,” sambungnya. Setelah acara formal berakhir (dalam hal ini pelepasan siswa secara resmi), acara di tengah hari itu dilanjutkan dengan kegiatan yang dilakukan remaja pada umumnya seperti karaoke, party dance dan ber-selfie ria. Andine sendiri tak mau jauh-jauh dari ketiga sahabatnya itu. Sembari menghabiskan puding s**u yang tersanding di setiap meja, seorang lelaki bertuksedo hitam datang menghampiri meja mereka. Penampilan yang sama dengan lelaki lainnya, karena dalam pelepasan itu seluruh siswa wajib memakai tuksedo dan siswi memakai kebaya. “Dine, gue boleh foto sama lo nggak?” tanyanya Andine yang hendak memasukkan sesendok puding ke mulutnya tertunda seketika. “Kenapa lo mau minta foto sama Andine?” Arsy membalasnya “Lho emangnya gak boleh ya? buat kenang-kenangan aja kali, lagian gue nanya Andine bukan nanya lo sy.” Arsy mendengus sebal, lelaki bernama Raga itu sudah ia lihat berkali-kali meminta foto dengan perempuan lain di angkatannya. Andine menggeleng pelan. “Maaf ya gue lagi gak mood soalnya.” “Kok lo jual mahal gitu sih, lagian ya si Alvian itu gak ada di sini, jadi tenang aja. Omong-omong lo masih suka sama Alvian ya? udah deh Alvian tuh gak pantes sama lo, buktinya…” “Udah deh lo sana pergi, Andine bilang dia gak mau foto sama lo,” tukas Arsy Raga mencibir lalu segera pergi bergabung kembali dengan temannya. Sepertinya dia diejek karena tak berhasil mendapat foto bersama Andine. Mereka kembali menikmati puding dengan lahap. Seorang gitaris dan salah satu siswa yang diketahui dari kelas Ips 2 sedang menampilkan musikalisasi puisi. Ketika petikan gitar terdengar, kompak seluruh yang ada di ballroom memperhatikan dengan seksama. Akan kuingat hari dimana kita bersama Karena bersama kalian, kisah itu ada Akan kuingat hari dimana kita menatap bendera berkibar Karena dengan menatapnya semangat menuntut ilmu tak pernah pudar Maka ingatlah kawan, perjalanan kita tak cukup sampai di sini Benang-benang kehidupan masih terus berlanjut Dan jangan pernah lupa untuk selalu mengingat kami Yang telah turut menjadi bagian kehidupan itu Untuk kisahmu, untuk kisah kita Mari sambung cerita hidup yang akan membawa kita pada takdir Berakhirnya musikalisasi itu, dapat Andine dengar sekaan air mata beberapa siswa dan siswi sambil berpelukan. Andine sedang tak mau menangis sekarang. Memang sedari tadi ia menahan tangisnya melihat ketiga sahabatnya yang juga berkaca-kaca. Tiga tahun terlalu cepat, ia belum bisa membayangkan kehidupan mahasiswanya di luar kota nanti. Universitas yang menerimanya, terletak di luar kota yang membutuhkan waktu empat jam untuk sampai di sana menggunakan kereta. sementara Arsy berkuliah di universitas yang hanya terpaut dua kabupaten saja dari rumahnya. Mega dan Lucy memutuskan untuk bekerja dan mengulang ujian masuk tahun depannya. Acara diakhiri dengan lagu yang dinyanyikan bersama-sama. Semua orang di ballroom itu bernyanyi sambil bergandengan tangan membentuk satu untaian. Beberapa lagu saja cukup untuk membuat mereka mengingat akan pentingnya hari ini. “Kalian tahu kan kalau aku orang yang mudah pelupa, mungkin saja momen acara hari ini tak mudah untuk kuingat beberapa tahun lagi,” Mega yang sedang menggandeng di samping Andine tiba-tiba berujar “Boleh saja melupakan acara ini, tapi momen selama tiga tahun tak mungkin dilupakan kan?” Mega menjawab sambil tertawa “Kalau itu sih sepertinya tak bisa aku lupakan.” Mereka tertawa bersama-sama pada akhirnya. Andine tak bisa tak ikut tertawa melihat ketiga sahabatnya tertawa. Karena ia ingat kalau beberapa minggu ke depan atau bahkan tahun depan ia tidak dipertemukan dengan mereka lagi. Di menit sebelum akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing, Andine masih terus bergurau sambil menunggu jemputan. Maka hari itu, perpisahan pun terlaksanakan. Tapi sedari tadi hatinya menjadi tak tentu karena ia merasa sesuatu hilang dari bagian dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN