Tria dan Suasana Baru

2092 Kata
Andine harus menyiapkan mental yang kuat mengingat dirinya merupakan satu-satunya perwakilan mahasiswa dari sekolahnya di universitas yang menerimanya . Maka pagi itu, oleh ibunya ia diberi wejangan sebelum benar-benar meninggalkan kota tempatnya tinggal. Satu koper besar sudah ia siapkan di hari sebelumnya. Beberapa pakaian dan barang yang mungkin dibutuhkan di kosnya ia bawa hingga nampak bahwa koper itu terisi penuh, tak ada ruang lagi untuk mengisinya. Andine bersikeras ingin orang tuanya mengantarnya walau sampai di stasiun sekalipun. Tentu saja mereka mengiyakan, mereka senang, anak sulungnya itu akan menjadi mahasiswa di universitas bagus, universitas yang banyak dibicarakan orang. Kereta akan berangkat satu jam lagi, stasiun itu mulai ramai dipadati orang-orang yang juga hendak pergi ke luar kota. Andine tampak tak melepas genggaman tangan ibunya. Pak Surya, ayah Andine malah pergi ke kursi seberang mengajak ngobrol seorang paruh baya seusianya. Mereka tak mempermasalahkan, karena begitulah ayah Andine adanya. Sangat suka bersosialisasi dimanapun berada. Andine yang hari ini menguncir rambutnya menatap ibunya sangat lama. Ibunya tersenyum. “Kak, kalau sudah sampai nanti jangan lupa makan ya, jangan sampai perutnya kosong. Dan alamat kosanmu masih kamu simpan kan?” “Masihlah bu,” jawab Andine “Teman ibu pernah ngekos di sana, dia bilang fasilitasnya bagus dan murah. Asalkan kamu menuruti aturan apapun itu, pasti tak akan terjadi masalah, mengerti?” Andine mengangguk mantap. Pak surya kembali bergabung dengan mereka dengan wajah tersenyum seperti biasanya. “Orang itu seorang guru, dan bekerja di salah satu lembaga bimbingan belajar,” katanya tiba-tiba “Terus kenapa pak?” “Dia menawarkan potongan harga. Bagaimana bu? Barangkali untuk Nizar, dia kan sudah kelas tiga smp sekarang.” “Kalau bapak mau menanggungnya silahkan saja, tapi tanya Nizar dulu. Anak itu kelihatannya bermain game terus setiap hari.” Andine sependapat dengan ibunya kalau Nizar, adik laki-lakinya memang pecinta game. Tapi pernah suatu ketika ia memergoki adiknya itu sedang belajar di tengah malam. Persis seperti dirinya yang lebih suka belajar di suasana malam. Andine tak menyangkal kalau setiap malam ia selalu mengulang pelajaran dan berlatih soal. Itulah yang membuat ia diterima di universitas bagus seperti sekarang ini. Kereta akan segera berangkat, Andine berpamitan dan memeluk kedua orang tuanya. Lalu melambaikan tangan sebelum akhirnya berkerumun bersama orang yang juga akan memasuki kereta itu. Sedikit kerepotan karena koper yang ia bawa, tapi akhirnya ia berhasil menemukan tempat duduk yang nyaman. Andine merasa sedikit was-was dan waspada meski ini bukan pertama kalinya ia menaiki kereta. Ia tak mengerti, dulu dia adalah tipe orang yang berani dan pergi kemanapun seorang diri bukan menjadi masalah baginya. Lalu ia melirik smatphone-nya, ada dua panggilan tak terjawab dari Arsy dan sebuah pesan. Selamat menjalani hidup di tempat baru, jangan lupa selalu tersenyum ya Pesan itu diakhiri dengan emoji hati yang membuat Andine geli seketika. Setelah membalasnya, ia mengambil botol air di tasnya. Iseng memeriksa barang di tasnya Andine menemukan sebuah memo kecil berwarna merah yang terlipat. Merasa tak pernah menaruhnya, dengan cepat ia membukanya dan melihat sketsa dirinya yang tengah tertidur di tumpukan buku. Tak ada keterangan nama, namun kelihatan kecil sekali di ujung memo itu tertulis huruf “Avn”. Andine cukup tahu dan kembali menyimpan sembarang memo itu di tasnya. Perjalanan Andine ditemani dengan sebuah musik yang ia dengarkan melalui earphone. Entah sudah berapa banyak lagu yang ia putar. Andine suka sekali menebak-nebak apa yamg akan terjadi di kehidupannya suatu saat nanti dan ia melakukannya sekarang. Dilatar belakangi oleh lagu flashlight milik Jessie J, di dalam pikiran Andine terbayang suasana kelas yang nyaman dan dosen yang baik hati. Tak lupa teman yang perhatian seperti yang ia miliki di masa sma. Sebentar saja ia membayangkan itu, karena tersadar kalau berharap terlalu banyak tidaklah baik. Kereta akan berhenti di stasiun berikutnya. Andine tidak senang sama sekali karena ia harus menaiki satu kereta lagi untuk benar-benar sampai ke tempat yang ia tuju. Sedikit kesal karena koper yang ia bawa begitu berat, Andine kesulitan mengeluarkan koper dari pintu masuk ketika kereta berhenti. Untungnya saat itu seseorang membantu mengangkat kopernya hingga ke tempat yang lebih lapang. “Terima kasih banyak pak, maaf merepotkan.” “Ya, sama-sama dik. Kami duluan ya, sedang terburu-buru soalnya.” “Oh iya silahkan pak, sekali lagi terima kasih.” Pria berumur sekitar tiga puluhan ke atas itu berjalan cepat diikuti seorang wanita yang tengah menggendong anak balita. Setelah beradaptasi di suasananya sekarang Andine teringat bahwa kereta akan berangkat sebentar lagi. Setelah menyempatkan membeli beberapa makanan ringan ia pun kembali bergegas menunggu datangnya kereta. Perjalanan kembali ditempuh dengan Andine yang mulai merasakan kantuk dan kelelahan di tubuhnya. Tak apa, demi menuntut ilmu di universitas yang banyak orang impikan. Sebenarnya bisa saja ia memilih berkuliah di universitas di kotanya dan memiliki banyak teman yang sudah ia kenal di sana. Tapi dari dulu ia suka tantangan, ya, hidup sendiri di luar kota adalah sebuah tantangan baginya. Ingin ia mengakui kalau alasan utama ia berkuliah di luar kota adalah karena pikirannya yang kacau jika mengingat salah satu tempat di kota tempat tinggalnya. Tempat dan sekumpulan orang yang ia pikir tak ingin ditemui lagi sepanjang hidup. Tempat yang gelap dan lembap, masih ia ingat bagaimana suasananya dan memutuskan berhenti mengingatnya sebelum menjalar lebih jauh. Andine membuang napas lega saat sudah sampai di kota tujuannya. Waktu menunjukkan pukul 15.30 saat ia menginjakkan kaki di pinggir sebuah jalan raya. Lalu ia merasakan perutnya sangat lapar, niat mampir di sebuah rumah makan ia urungkan karena hari yang sudah petang memerintahnya agar cepat sampai di kosan. Ia akan membeli beberapa mie instan saja dan mulai memasaknya nanti malam. Andine menghentikan sebuah angkutan kota yang untungnya tidak terlalu sesak untuk ditempati dirinya dan kopernya. Supir yang sudah sangat hapal terhadap seluruh tempat di kota itu mengangguk saat ditanya Andine mengenai sebuah kos-kosan yang akan menjadi tempat perlabuhannya yang terakhir. Sebelum turun dari angkot, ia sempat diberitahu harus berjalan sedikit ke dalam g**g yang tidak terlalu lebar dan tidak juga terlalu sempit. Dan di depan g**g itulah ia berdiri sekarang. Andine menyeka keringat di dahinya. Benar-benar perjalanan yang lumayan melelahkan. Saat hendak masuk ia dikejutkan oleh kedatangan wanita yang sepertinya sebaya dengannya. Memakai setelan jeans dengan rambut sebahu bergelombang sedang membawa kantong plastik, seketika aroma bubur hangat pun menguar. Ia berdiri di sampingnya dan tersenyum sangat manis. “Hai,” katanya Andine membalas sapaannya sambil tetap waspada. “Mahasiswa baru juga ya?” “iya, kamu juga?” Andine balik bertanya “Iya, kenalin, Triana Florentina, panggil saja Tria.” “Oh hai, kenalin aku Andine,” Andine menerima jabatan tangannya Sudah tak asing kalau kos-kosan itu merupakan tempat berlabuhnya para mahasiswa perantauan. Tria mengajak Andine bersamanya, mengingat mereka akan menjadi tetangga. “Eh, omong-omong sudah punya partner kamarmu?” “Aku pilih kosan untuk yang seorang saja.” “He? Kenapa begitu? Kebetulan aku tak punya partner, mau kamu yang mengisi? Aku tak bisa menunggu mahasiswa yang lain lagi.” “Eh bagaimana ya,” Andine tampak menimbang-nimbang “Ayolah, kamu tahu tidak dari awal aku sampai di sini banyak senior yang bercerita tentang kosan untuk satu orang yang angker. Aku tidak bohong, senior itu bercerita kalau dirinya sering sekali diganggu. Lampu kamar tiba-tiba mati sendiri dan…” “Sudah-sudah Tria, baiklah ayo kita jadi teman satu kamar.” Tria tersenyum penuh kemenangan. Hanya mendengar bagian lampu yang mati saja sudah membuat Andine bergetar ketakutan. Ia tak suka gelap. Karena itu bisa membayangkannya pada sebuah tempat di kotanya yang gelap dan lembap. Dari depan bangunan dapat dilihat Andine kalau itu bangunan yang cukup bagus. Tria melambaikan tangan pada seorang ibu-ibu yang tengah mengangkat jemuran di seberang bangunan. Sadar lambaiannya tak digubris mereka pun menghampirinya. “Bu juragan.” Ibu-ibu yang sibuk mengurus jemurannya itu menoleh dan melihat Andine yang membawa satu koper besar membuat raut mukanya bergembira seketika. “Wah klien baru ya,” ucapnya girang “Iya bu juragan, ini kutemukan partner kamar saya,” Tria menimpali “Ayo sini-sini kita bicara dulu,” Ibu itu mengajak mereka duduk di teras rumah miliknya. Tak salah lagi mereka sedang membicarakan administrasi sekarang. Andine yang sudah mengerti pun menyerahkan beberapa uang tunai yang sudah disiapkan ibunya. Raut muka yang dipanggil ibu juragan itu berkali-kali lipat lebih senang. “Kalau begitu selamat menikmati tempat tinggal barumu, kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi ibu, oke?” “Juragan,” rengek Tria tiba-tiba “Kenapa sih nak Tia?” “Tria bu Tria, bukan Tia. Dari awal memanggil Tia terus. Bagaimana dengan diskonnya?” tanya Tria dengan wajah memelas “Kamu ini dari awal bicara diskon terus. Dibilang diskon tidak tersedia, klien lain nanti merasa tak adil.” “Yah hanya untuk kita saja bu, saya kan klien mahasiswa baru yang pertama nih, Andine yang kedua. Beneran tak ada diskon?” “Tidak.” “Juragan…” Andine yang menyaksikannya hanya bisa tertawa geli melihat Tria yang terus-terusan meminta diskon. Percakapan diakhiri dengan ibu juragan yang tetap pada pendiriannya. Sebagai gantinya, ia berjanji akan membelikan mereka sarapan besok pagi secara gratis. Andine sih menerima saja, sementara Tria sedikit merasa senang karena ia tak perlu keluar pagi-pagi untuk mencari sarapan. Di ruangan kos itu terdapat ruangan kosong beralaskan tikar yang senada dengan cat dinding berwarna biru laut. Andine membayangkan itu sebagai tempat untuk menikmati sarapan atau tempat untuk melepas penat sambil berbincang tentang berita yang hangat. Di ruangan selanjutnya yaitu kamar yang pintunya dihiasi serupa tirai dari kertas berwarna-warni. Memasuki kamar terdapat satu set tempat tidur bertingkat dengan dua meja belajar dan satu lemari yang Andine pikir cukup untuk mengisi pakaiannya dan pakaian Tria. Di sudut tampak koper milik Tria yang sepertinya belum selesai dibereskan. Lalu di samping kamar ada dapur dan dibelakangnya terdapat kamar mandi. Tak buruk, pikir Andine. Ia yakin bisa melewati hari-hari di kota ini. Tria menikmati bubur hangatnya petang itu, sementara Andine mulai berbenah di kamar. Langit yang semakin menggelap menandakan bahwa malam akan tiba. Tiba-tiba Andine teringat kalau ia belum mengabari orang tuanya maupun Arsy. Maka pesan bahwa ia sampai di tujuan dengan selamat dikirimkan melalui ponsel pintarnya. Kegiatan ospek atau pengenalan kampus dimulai tiga hari lagi, maka sebelum itu tiba mereka berencana berkeliling kota untuk lebih mengenal lika-liku kehidupan masyarakatnya. Mereka sepakat besok pagi akan mengunjungi kampus yang memang kebetulan tak jauh dari tempat mereka tinggal sekarang. Tentu mereka akan berjalan kaki, dengan berjalan kaki akan menekan pengeluaran harian mereka. Setelah memperdebatkan tentang siapa yang menempati kasur paling atas, Andine dan Tria memutuskan untuk segera tidur setelah perjalanan mereka yang begitu panjang. Perdebatan itu membawa mereka pada keputusan bahwa Andine menempati kasur paling bawah dan Tria di atasnya. Andine tak mempermasalahkannya, asalkan ia bisa tidur dengan nyaman saja sudah bagus. Tria yang hendak mematikan lampu kamar tiba-tiba dicegah Andine yang membuatnya memekik seketika. “Jangan matikan lampu, Tria.” “Kenapa? kupikir normal saja orang mematikan lampu saat mereka hendak tidur.” “Please jangan matikan ya,” pinta Andine. Tria kembali memanjat untuk sampai di kasurnya. Ia memakai piyama panjang berwarna hijau muda sementara Andine tampak mengenakan kaos oblong dengan celana panjang. “Jadi kamu takut gelap ya?” Andine hanya diam saja. “Eh omong-omong kamu dari jurusan mana? Hampir lupa aku bertanya.” Rasanya aneh bagi Andine mengobrol dengan orang yang berada di atasnya. Tapi ia harus terbiasa karena beginilah mereka akan berkomunikasi di hari-hari selanjutnya. Obrolan sebelum tidur akan menemani hari-hari mereka seterusnya. “Aku dari jurusan ilmu gizi, kamu?” “Beda rumpun ya kita, aku dari ilmu komunikasi.” Keheningan tercipta seketika. Banyak sekali yang harusnya mereka bicarakan tapi tak tahu harus dimulai dari mana. “Oh iya, senior kita yang mengekos satu kamar itu juga jurusan ilmu gizi loh, kamu bisa mengajaknya mengobrol nanti.” Andine merasa senang. Sepertinya doa agar diberikan teman dan lingkungan baru yang baik terkabul. “Kamu sudah punya pacar?” tanya Tria tiba-tiba Butuh waktu lama bagi Andine untuk menjawab pertanyaan tak terduga semacam itu. “Dulu sih punya.” “Sekarang? oh sudah putus ya?” Andine kembali diam saja. “Aku juga tidak punya. Tapi aku akan membuat pengakuan kalau aku sudah dari lama menyukai seseorang,” ujar Tria “Sungguh? Siapa?” “Kevin, dari fakultas hukum. Dulunya dia seniorku di sma. Percaya atau tidak aku berjuang mati-matian diterima di kampusnya agar bisa berjumpa dengan dia. Tolong jangan mengejekku karena cinta itu memang konyol bukan?” Tria tertawa Andine hanya bisa mengiyakan, sedikit menyetujui pernyataan Tria. “Kamu tenang saja dine, mahasiswa pria di kampus kita juga banyak, tak mungkin kan kau tak menyukai satu orang. Ku dengar kebanyakan mahasiswa tampan berasal dari fakultas teknik. Oh iya aku punya kenalan dari fakultas sana. Mau kukenalkan? Eh tapi kupikir mahasiswa komputer yang paling cocok denganmu. Kapan-kapan aku mencari tahu deh, jadi..” “Cukup Tria, mari tutup obrolan dan mulai bersitirahat.” “Baiklah, tapi sebenarnya aku sedikit tak bisa tidur dengan lampu yang terang tahu.” Tria lalu menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Selimut yang berwarna hitam itu akan membantunya menciptakan suasana gelap. Tak sampai sepuluh menit mereka rupanya sudah menjelajah di alam mimpi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN