Cinta Pertama

1106 Kata
Suasana pagi ini baru pertama kali dirasakan Andine. Biasanya saat di rumah , ia mendengar kicauan burung yang dipelihara ayahnya. Hal sekecil itu sekarang sangat ia rindukan. Apalagi saat dimana ibunya memanggil untuk segera menikmati sarapan bersama selepas ia mandi. Omong-omong tentang sarapan, pagi-pagi sekali ibu juragan datang dan menyerahkan satu kantong plastik, lalu tanpa obrolan yang panjang ia kembali ke rumahnya diikuti oleh mentari yang tampaknya mulai bertengger di ufuk timur. Sarapan pagi memang seharusnya dinikmati saat sedang hangat-hangatnya, lalu Andine terpaksa membangunkan teman kamarnya itu. Tria yang merasa jengkel karena tidurnya diganggu, kemudian ia bangun dengan semangat saat Andine menyinggung tentang sarapan. “Sarapan apa yang diberikan bu juragan, dine?” “Soto ayam, dari baunya saja sudah enak.” Lalu Tria merapihkan rambutnya yang tampak semrawut khas orang bangun tidur. Dengan cepat ia bergabung dengan Andine yang mulai menikmati sarapannya. “Kamu mau apa kesini Tria?” “Ya ampun, kamu pikir untuk apa kamu membangunkanku selain menikmati sarapan?" “Maksudku, kamu sebaiknya pergi mandi dulu baru menikmati sarapan.” “Itu urusan gampang, sekarang izinkan aku sarapan dulu.” “Kebiasaan buruk jangan dipelihara Tria, sana pergi mandi, lagi pula kita hari ini mau pergi kan?” “Iya, iya, ya ampun apakah semua mahasiswa ilmu gizi menyebalkan sepertimu?” Pukul sembilan pagi, suasana kota barulah terasa hidup saat Tria dan Andine berada di pinggir jalan raya. Banyak warung yang mulai beroperasi dengan menawarkan berbagai barang. Pembeli juga ramai bukan main. Mereka berdiri sejenak di pinggir jalan raya itu, menikmati hiruk pikuk kota yang baru saja mereka tinggali. Tria menunjuk pedagang soto di seberang jalan dan berkata pada Andine bahwa soto yang baru saja mereka makan mungkin berasal dari sana. Mereka sepakat kalau sarapan pagi itu sangat lezat. Terima kasih pada bu juragan yang sudah mengenalkan mereka pada semangkuk soto itu. Andine tidak mempermasalahkan jarak antara kos dengan kampusnya, jika ditempuh dengan berjalan kaki maka waktu yang dibutuhkan paling lama 45 menit, dan Andine pikir itu adalah waktu yang tak lama. Mengingat masa sma dulu ia sering berolahraga dan lari pagi membuat ia sudah terbiasa dengan sesuatu yang melelahkan. Maka dengan waktu itu, mereka sempatkan untuk mengobrol di perjalanan. Andine mengenakan flat shoes hari itu, dengan atasan berwarna putih berkerah v dipadukan dengan jeans berwarna biru laut. Sedangkan Tria mengenakan kemeja kotak-kotak dipadukan dengan overall selutut berwarna hitam. Mereka tampak menawan saat itu, berkali-kali Tria mengatakan pada Andine kalau penampilan juga perlu diperhatikan di manapun ia berada. Padahal Andine sangat tahu, kalau Tria berharap dapat bertemu dengan Kevin hari ini. “Eh Tria, Kevin itu orang yang seperti apa?” tanya Andine tiba-tiba “Emmm tak bisa kujelaskan rincinya, dulu aku dan dia pernah berada di satu organisasi. Kau tahu, jika melihat dia berargumen maka kamu akan meleleh karena kecerdasannya. Dia dulu sibuk karena jadi anggota penting suatu forum pelajar di bidang hukum, dan dia adalah satu-satunya orang yang keberadaannya membuat aku senang saat di sekolah.” “Jadi, Kevin itu cinta pertamamu begitu?” “Tepat sekali, tak pernah sebelumnya aku merasakan ini pada pria lain,” Tria berkata dengan wajah yang sudah memerah jambu. Andine paham kalau menemukan cinta pertama memang menyenangkan, tapi Andine tahu tak semua cinta pertama akan menjadi cinta yang terakhir pula. Seperti yang ia rasakan sekarang. “Nah kalau kamu, cinta pertamamu seperti apa?” Andine menghela napas. “Harus banget diceritain ya?” Tria mengangguk mantap. Andine sendiri tak menyadari jika pertemuannya dengan orang itu akan berdampak pada sebagian hidupnya. Setiap pekan, seperti sebagian orang lainnya, Andine mengawali pagi hari itu dengan berlari pagi di lapangan umum. Lapangan yang tak luas, namun cukup meguras tenaga jika mengelilinya sebanyak lima kali. Pekan itu suasana ramai seperti biasanya, karena car free day, masyarakat pun ramai memanfaatkan momen tersebut untuk sekedar berjalan santai. Anak mereka yang masih balita diajaknya menikmati suasana pekan pagi sambil mendorong mobil mainan yang ditumpanginya. Tak sedikit lansia yang walaupun badan mereka renta, mereka tetap kuat berjogging mengelilingi lapangan umum. Pemandangan itu sudah Andine lihat sejak ia memutuskan untuk berolahraga setiap pekan. Andine mencoba mengajak beberapa temannya, tapi sebagian dari mereka menjawab kalau lebih seru menonton sebuah drama Korea di pekan pagi. Tak seperti biasanya, kedai minum yang menjadi langganan dirinya membeli minuman sehabis lari itu tutup. Lalu tanpa pikir panjang ia menuju kedai minum di sebelahnya, sebuah kedai kopi. Sedikit tak cocok dengan seleranya karena biasanya ia membeli jus di kedai fruit drink, demi menghilangkan dahaga ia akan melakukan apapun itu walaupun dengan segelas kopi. Andine duduk di kursi depan yang sudah disediakan, aroma harum kopi menguar di udara, ia sangat suka aroma kopi tapi sedikit tak suka pada rasanya, aneh bukan? Saat itu juga pelayan datang dengan segelas jus je…..ruk? Andine mengernyit heran. Bukankah ini kedai kopi? Dan bahkan ia dari tadi belum memesan apapun. “Minumlah, pasti lelah berlari lima putaran,” kata sebuah suara Ya betul, ia memang berlari lima putaran tadi. Tapi yang membuat sedikit tak terima adalah bagaimana ia tahu itu semua? Dan pelayan ini, wajahnya seperti tak asing. Sedikit tak pantas dipanggil pelayan, karena ia yakin usianya masih belia. Sama seperti seusianya. “Aku memang suka jus jeruk, tapi haruskah kamu melanggar apa yang tertera di bagian daftar menu?” “Karena hanya untukmu saja aku melanggarnya, Andine.” Dan dia tahu namanya. “Bagaimana kamu tahu namaku?” “Perkenalkan, Alvian Putra Altair dari kelas IPA 4." Andine tahu sekarang, wajahnya tampak familiar karena mungkin saja ia pernah bertemu dengannya di sekolah. “Oh begitu, maaf aku tak begitu mengenalmu, mungkin aku sangat sibuk di sekolah. Perkenalkan namaku…” “Andine cahaya Lazuardi dari IPA 1,”dia memotong perkenalannya Andine merasa kalau dirinya tak sepopuler itu. Tapi pria ini benar-benar membuatnya penasaran. “Kamu tahu banyak tentangku rupanya. Sepertinya aku banyak pertanyaan untukmu.” “Tanyakan saja.” Andine melihat ke sekeliling kedai yang tak terlalu ramai. “Kamu bekerja di kedai ini?” “Ya, setiap pekan aku bekerja di sini. Seharusnya sih ada satu orang lagi yang bekerja, tapi dia izin karena tak enak badan katanya." “Kamu memperhatikanku ya? maksudku, kalau tidak, mana mungkin kamu tahu aku berlari sebanyak lima putaran.” “Betul, setiap hari aku memperhatikanmu.” “Kenapa begitu?” “Karena aku menyukaimu,” pria bernama Alvian itu tersenyum pada akhirnya. Tak terasa obrolan panjang mereka mengantarnya pada gerbang sebuah universitas, sangat besar dan megah. Saking luasnya, jika berada di dalamnya serasa berjalan di sebuah padang pasir. Meski kegiatan pembelajaran belum dimulai, rupanya banyak juga mahasiswa yang datang. Di sela mereka berkeliling di kampus itu, Andine berkata kalau kemungkinan Tria bertemu dengan Kevin sangatlah kecil mengingat betapa luasnya kampus. Namun perkataan itu dipatahkan oleh Tria yang berbisik kalau Kevin sedang duduk di kursi tak jauh mereka. Tria berbalik dan bersembunyi di belakang Andine, hendak merapihkan rambutnya dan penampilannya. Andine hanya berdecak, ia tahu kalau semua orang pasti ingin tampil menawan di hadapan cinta pertamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN