Kota ini mengingatkan Andine pada tempat tinggal neneknya, udara sejuk yang menyelimuti di setiap pagi dan malam. Karenanya Andine tak terkejut merasakan udara yang dingin dini hari dan malam hari. Namun bagi Tria yang tempat tinggalnya di pusat kota sedikit beradaptasi dengan kondisi udaranya. Tapi anehnya jika siang hari tiba, panasnya bukan main. Sedikit berbeda dengan tempat tinggal neneknya yang berudara sejuk sepanjang hari.
Dulu sekali, Andine dan keluarganya memang tinggal di tempat dimana neneknya berada. Sampai umur dua belas tahun, ia besar di sana. Lalu pada tahun berikutnya ayahnya mendapat tempat kerja yang baru di kota. Ah iya, sebenarnya mereka berniat mengajak nenek juga tinggal ke kota, tapi ia jelas menolak. Maka sejak saat itu, paman dan bibinya yang merawat nenek di rumah. Sementara selama setahun dua kali, Andine dan keluarga selalu mengunjungi sekaligus berlibur melepas penat akan panasnya udara kota.
Pada saat itu juga Andine selalu menantikannya, karena dengan teman masa kecilnya mereka melepas rindu. Tepat sebelum Andine ke kota tempat universitas yang menerimanya pun, ia sempat berkunjung ke desa neneknya. Yang ibunya bilang, Andine harus meminta doa dan restu orang yang sepuh agar diberi kemudahan dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswanya. Riska, teman masa kecilnya itu mengaku terkesan mendengar Andine melanjutkan studi ke perguruan terkenal. Bahkan Riska sendiri belum bisa melanjutkan kuliah karena terkendala biaya dan jarak yang membuat orang tuanya sedikit takut memikirkan anak gadisnya. Tapi tak apa katanya, dari dulu ia ingin sekali menjadi pengrajin terkenal dan bermimpi kalau punya perusahaan yang besar di kampungnya. Pertemuannya terakhir kali, mereka sempat menyinggung tentang kesepakatan konyol yang mereka buat waktu masih sekolah dasar. Kesepakatan yang mengatakan kalau mereka sudah besar nanti, mereka akan saling menunjukkan pasangannya. Lalu seperti yang dilakukan kebanyakan remaja yaitu double date. Andine sih tertawa saja mengingat itu, tapi Riska bersikeras kalau itu bukan hanya sekedar kesepakatan konyol. Bagaimanapun, mereka yang sudah menciptakannya maka harus ditepati kesepakatan jenis apapun itu.
Satu hal lagi yang disukai Andine dari kampung halamannya adalah terdapat perkebunan jeruk milik almarhum kakeknya yang tumbuh subur. Ya, perkebunan jeruk adalah surga bagi Andine. Semasa kecil, Andine sering kali ikut memanen jeruk bersama Riska dan teman-teman yang lain. Namun, setiap itu juga kegiatan panen diakhiri dengan decakan kakeknya melihat Andine yang gencar menghabiskan jeruk di keranjang hasil petikannya. Andine memang penikmat jeruk, sampai satu keranjang saja mampu ia habiskan. Masih banyak hal yang di sukai dari kampungnya ini. Tapi pada akhirnya ia harus meninggalkannya untuk beberapa hal. Seperti saat malam ini, udara yang dingin menusuk kulitnya, membuatnya ingin menikmati minuman hangat buatan neneknya dulu. Tapi memang tidak memungkinkan, Andine menyesal tak tahu bagaimana cara membuatnya.
Tria juga sedari tadi meringis karena pikirnya, udara lebih dingin dari malam-malam kemarin. Malam itu, mereka sedang mempersiapkan untuk kegiatan ospek. Tria tak sabar menantikannya, walaupun berbalut pakaian yang berlapis, ia dengan semangat memasukkan barang yang diperlukan ke dalam tasnya. Jangan tanya kenapa ia begitu bersemangat karena sedari tadi ia terus membayangkan Kevin membalas senyumnya dan sapaannya tempo hari. Tria bersyukur Kevin mengingatnya, karena selama di organisasi ia merasa tak melakukan apapun yang berarti. Tapi pada akhirnya, ia berekspresi kesal mengingat pertemuannya dengan kevin berakhir pada kecemburuan waktu itu.
Bukan Tria namanya jika tak punya nyali untuk mendekati Kevin yang sedang asyik membaca buku. Awalnya Andine menolak bergabung, tapi akhirnya menyetujuinya juga. Pertemuan itu diawali dengan Kevin yang mengucapkan selamat datang sebagai mahasiswa baru kepada mereka. Maka Tria yang pandai mencari topik akhirnya meminta Kevin mengajak mereka berkeliling untuk mengenal lingkungan kampus. Tria tahu dari dulu kalau Kevin adalah orang yang sangat baik, maka dia pasti tak akan menolaknya. Perasaan khawatir Andine pun sedikit menghilang saat Kevin mulai menutup bukunya dan mengajak mereka melewati beberapa bangunan. Andine mengagumi keberanian Tria. Tekad Tria untuk mengejar Kevin dari sma ternyata bukan main-main.
Kevin menunjukkan bangunan yang merupakan fakultas hukum, dimana tempatnya berada. Tak jauh dari sana bangunan fakultas ilmu komunikasi pun berdiri. Tria berteriak girang dalam hati karena bangunannya tak begitu jauh dari fakultas hukum. Namun sedikit sedih karena fakultas dimana jurusan ilmu gizi berada terletak lumayan jauh. Kevin juga bercerita tentang pengalamannya ospek tahun lalu. Ia berpesan agar selalu menuruti apapun perintah senior. Lalu Kevin menunjukkan gedung perpustakaan yang lumayan besar, sangat besar jika dibandingkan dengan perpustakaan di sma menurut Andine. Kevin juga bercerita kalau gedung itu adalah tempat favoritnya. Tria tak terkejut sama sekali karena semasa sma ia sering melihatnya berada di perpustakaan saat hendak pergi ke toilet, atau mungkin sengaja lewat agar bisa melihatnya. Kebanyakan remaja memang melakukan hal itu bukan? Berpura-pura mempunyai kesibukan yang dibumbui maksud tersembunyi untuk berjumpa dengan gebetan. Sudah Andine pastikan kalau selama perkuliahan nanti Tria akan sering berkunjung ke perpustakaan.
Tempat berikutnya adalah sebuah lapangan olahraga yang tak menarik perhatian Tria sama sekali, justru tampak menarik bagi Andine. Terdapat trek untuk lari pagi dan arena untuk bermain berbagai permaianan bola. Kevin mengaku lagi kalau ia suka bermain bola voli. Terkadang ia menghabiskan waktu bermain voli bersama teman yang lain di tengah waktu senggang. Andine begitu rindu dengan kegiatan lari paginya. Sudah beberapa minggu ia tak melakukannya, karena sedikit saja ia menyinggung tentang lari pagi, maka memori bersama Alvian akan selalu terbawa.
Niatnya mereka akan melanjutkan berkunjung ke kantin sekaligus sebagai pelarian waktu makan siang. Kevin mengurungkan niatnya saat mendapat panggilan dan melihat seorang perempuan menggunakan blazer melambaikan tangan tak jauh dari mereka. Tria tak punya hak untuk melarangnya meskipun ia masih ingin ditemani Kevin berkeliling kampus. Kevin pamit kepada mereka dan berjalan menuju dimana perempuan itu berada. Lalu mereka berjalan beriringan meninggalkan mereka. Sangat serasi bagi siapa saja yang melihatnya, kecuali Tria.
Andine melirik Tria. Mengerti apa yang dirasakannya, ia pun menepuk punggung Tria pelan.
“Jangan sedih begitu, mungkin saja dia pacarnya.”
“Andine…..niat menghiburku atau meledekku?”
“Ah baiklah, aku minta maaf,” Andine tertawa
Sempat diberitahu Kevin kalau mereka harus berbelok ke kiri untuk berkunjung ke kantin. Maka tanpa pikir panjang mereka pun segera pergi. Menu nasi uduk pun mereka pilih, ditemani dengan segelas es teh. Andine melihat sekeliling yang tak terlalu ramai. Kebanyakan dari mereka juga sepertinya mahasiswa baru yang sedang mensurvey kampus. Terlihat dari mereka yang menikmati makan siang sambil ber-selfie, pikir Andine, senior mana mungkin melakukan itu.
“Tria, katamu aku mau dikenalkan dengan mahasiswa dari jurusan komputer.”
Tria yang belum tuntas mengunyah makanannya, terkejut membelalakkan mata. Lalu segera menuntaskan kunyahannya.
“Benar mau nih? Seperti tidak nyata.”
“Benar, jodohkan aku dengan siapa saja.”
Tria menyentuh dahi Andine, tak panas.
“Kamu tahu, aku dulu terkenal jadi biro jodoh di kelasku. Kamu mau menggunakan jasaku? Pertama-tama, seperti apa kriteriamu? Itu akan sedikit memudahkanku menemukan pasangan yang cocok untukmu.”
“Kriteria ya? oh aku ingin anak jurusan komputer yang tinggi, putih, berbadan atletis, hidung mancung, alis tebal, rambut berkilau, bermata besar, bisa bermain basket, bisa memasak, dan bisa memperbaiki mesin pesawat. Sudah itu saja.”
Di depannya, Tria bersiap dengan u*****n yang ingin ia lontarkan.
“Kriteria yang sangat menakjubkan. Hebat, aku baru menemukan klien macam kamu. Lagian ya, anak komputer mana yang bisa memperbaiki mesin pesawat, kamu pikir mereka belajar teknik dirgantara hah?”
Andine tertawa saja. Candaannya berharap dapat menghibur Tria selepas pertemuannya dengan Kevin tadi. Selesai makan, mereka memutuskan pulang menuju kosan tercinta.