Foto Pertama

1114 Kata
Seperti yang di duga, kegiatan ospek memang sangat seru. Sedikit mengingatkan Andine pada masa pengenalan sekolah diawal ia masuk sma. Waktu itu ia sangat aktif dan banyak orang yang mendekatinya. Karena waktu smp ia merupakan murid pindahan dari desa sedikit membuatnya minder. Lama sekali ia beradaptasi dengan lingkungan. Semenjak itulah, ia betekad kalau semasa sma ia harus lebih aktif lagi karena ada tujuan yang ingin ia capai. Termasuk menjadi mahasiswa di salah satu universitas terkenal ini. Pada masa pengenalan sekolah itu juga ia pertama kali berbicara dengan Arsy. Obrolannya bermula pada kecintaan sebuah cerita yang sama. Andine yang sangat suka membaca novel Harry potter dan Arsy yang sudah menonton semua seriesnya. Obrolan mereka terus berlanjut sepanjang masa pengenalan sekolah. Mendengar mereka berada dalam satu kelas yang sama, kegembiraan pun tak terelakkan. Menurut Andine, Arsy adalah orang yang sangat supel dan perhatian. Tak hanya kelas, mereka juga berada dalam satu organisasi yang sama. Ya, klub memasak. Selain klub memasak Andine juga bergabung dengan klub jurnalis dan karya ilmiah remaja. Untuk pertama kali itulah Andine merasa sangat sibuk di sekolahnya, tapi ia menikmatinya. Malam dimana ospek berakhir, Tria bernyanyi girang karena mereka benar-benar resmi menjadi seorang mahasiswa. Kisah romansa di kampus akan segera dimulai, katanya. Apalagi Tria bertambah senang karena mendadak ia menjadi stalker akun i********: Kevin, ia tahu bahwa perempuan dengan blazer yang ditemuinya tempo hari adalah sepupunya. Barangkali ia hanya mengunjungi Kevin di kampus, Tria tak tahu. Yang terpenting sekarang hatinya sedang berbunga melihat caption di salah satu postingannya. “Finally, with my lovely cousin.” Postingan itu menampilkan dirinya dan perempuan blazer sedang duduk di sebuah kafe. “Hei Andine, kamu percaya kan kalau perempuan itu adalah sepupunya, huh sekarang aku bisa bernapas lega. Benar kan kalau 'Cousin' itu artinya sepupu? Bahasa inggrisku baik-baik saja kurasa.” “Coba kau cek lagi Tria, yang kutahu cousin itu artinya istri tercinta.” Tria segera membuka aplikasi kamus elektroniknya, mengetahui apa yang ditakutkan tak terjadi, ia mulai melempari Andine dengan bantal dari atas kasurnya. Andine yang sedang berada di meja belajar pun kaget merasakan sesuatu mendarat di kepalanya. “Sengaja menakutiku? Bahasa inggrisku tak sepayah itu. Dari dulu aku tahu kalau istri dalam bahasa inggris berarti wife. Kau ini ya memang menyebalkan. Mau aku matikan lampu saat tidur?” “Eh jangan begitu dong. Oke aku tak akan melakukannya lagi.” Tria kembali berbaring di atas kasurnya. Andine masih sibuk mempelajari sedikit tentang beberapa mata kuliah yang akan diajarkan. Sebelumnya ia sempat bertanya pada kak Lily (tetangga mereka yang merupakan senior jurusan ilmu gizi) tentang beberapa mata kuliah yang kemungkinan sangat susah. Andine berniat mempelajarinya sedikit demi sedikit. “Andine, apa nama akun instagrammu? Kita sudah sekamar tapi belum saling mem-follow. Ayo beritahu aku.” Andine baru ingat kalau ia jarang membuka instsgram akhir-akhir ini. “Andinelazuardi,” ujarnya Tria menemukan akun i********: Andine dan mulai mengikutinya. Sedikit takjub karena followersnya yang lumayan banyak. Tiga kali lipat dari followersnya. “Wah, dulu kau populer ya. banyak juga followersmu. Kupinjam akunmu boleh? Sekali-kali promosi akunku.” Sekali lagi, Andine merasa tak sepopuler itu. Ia hanya punya banyak teman karena ia banyak ikut organisasi. “Eh tapi, kau jarang mem-posting ya? kulihat cuma postingan perkebunan jeruk di sini.” Ah iya, Andine baru ingat kalau sehari sebelum ujian akhir ia menghapus semua postingannya. Dulunya terdapat beberapa foto dirinya bersama Alvian, namun semuanya ia hapus tanpa sisa. Bukan berarti Andine menghapus semua foto di galerinya, ia menyisakan beberapa potret dirinya dan Alvian yang mungkin sebentar lagi akan ia hapus. Sampai sekarang pun Andine tak tahu bagaimana kabarnya, sempat ia cari tahu namun rasa kekecewaan lebih mendominasi dirinya. Maka sekarang, di tempatnya yang baru ia berusaha untuk melupakan semuanya. Tapi keberadaan Tria sedikit membuat niatannya terhalangi. “Aku sebenarnya masih penasaran deh tentang hubunganmu dengan Alvian. Jadi, setelah kalian bertemu di kedai, kalian berpacaran?” “Tidak secepat itu Tria.” “Lalu apa yang selanjutnya terjadi?” “Kamu ingin sekali aku mengungkit masa lalu ya?” “Dari dulu aku sering penasaran dengan kehidupan asmara seseorang. Padahal kisah asmaraku sendiri tak tahu akan berujung kemana. Aku mengerti, tak apa kalau tak mau cerita.” Anehnya, meski begitu Andine tetap mau berbagi ceritanya pada Tria. Seminggu seterusnya setelah pertemuan itu, mereka saling bertemu dan mengobrol. Setiap pukul setengah delapan pagi, Alvian akan datang dan memberikan jus jeruk untuk Andine di pinggir lapangan. Andine tak mempermasalahkannya, percaya atau tidak Alvian adalah orang yang pertama menyatakan cinta padanya. Hal itu yang membuat Andine ingin lebih mengenalnya. Satu-satunya yang Andine khawatirkan adalah kedai kopi yang lumayan ramai tapi salah satu pekerjanya malah nyasar di piggir lapangan menemui dirinya. “Tak apa-apa meninggalkan pekerjaanmu?” “Tak masalah, aku sudah meminta izin.” “Yang benar? Kau izin untuk apa? Menemuiku? Memangnya bosmu mengizinkan dengan alasan seperti itu?” “Tentu saja. Mereka justru mendukungku.” “Yang benar saja.” Saat di sekolah, di beberapa kegiatannya, Andine jadi sering melihatnya. Sosok Alvian menjadi riwayat pencarian terpopuler selama Andine bersekolah. Tak di klub memasak, jurnalis atau karya ilmiah remaja, Andine pasti melihatnya walaupun hanya lewat beberapa detik. Andine sih tersenyum saja. Andine tak tahu kalau dari dulu Alvian memperhatikannya. Sampai mengutuki dirinya karena ketidakpekaannya, padahal Alvian ada di sekelilingnya setiap hari. Saat di klub memasak Andine tertangkap basah oleh Arsy tengah tersenyum sendiri. Tentu saja Andine bercerita pada sahabatnya kalau ada seseorang yang menyatakan cinta padanya. Arsy malah sering menggodanya. Menurutnya Alvian memang cocok dengan Andine. Yang lebih membuat Andine heran, Arsy ternyata tahu lebih banyak tentang Alvian. “Dia salah satu pemain voli terbaik di tim sekolah kita Andine. Kamu tidak tahu? Fotonya pernah di pajang di mading dan besoknya, foto itu hilang entah kemana. Mungkin dicuri perempuan yang mengejarnya. Makanya, bukalah matamu Andine. Aku tahu kamu aktif di berbagai kegiatan akademik ataupun klubmu, tapi jangan kurang update begitu dong.” Entah kenapa rasa ingin tahu pada Alvian menjadi semakin besar. Maka hari minggu adalah hari yang paling ia nantikan. Mereka bertemu di pinggir lapangan, ditemani jus jeruk dan mengobrol. Orang-orang akan mengira kalau mereka adalah dua orang yang sedang jatuh cinta. Dan kenyataannya memang iya. “Alvian, aku pernah dengar kalau fotomu pernah di pajang di mading dan besoknya raib entah kemana. Menurutmu siapa ya yang mengambilnya?” “Aku sendiri yang mengambilnya.” “Kamu? Kenapa?” “Teman sekelasku bercerita kalau banyak perempuan yang memotret fotoku dari mading. Aku yang tidak menyukainya langsung saja mengambil tanpa pikir panjang. Aku bukan bahan tontonan tahu.” Andine terkekeh mendengarnya. Arsy harus mendengar ini yang berpikir kalau ada perempuan yang mengambil foto itu. “Nah, mau foto bersamaku?” tanya Andine Alvian menyetujui dan Andine mulai mengeluarkan ponselnya. Debaran jantung Andine pun tak terelakkan mengingat jarak mereka yang begitu dekat. Alvian tersenyum sangat manis dengan lesung pipi tipis sementara Andine berusaha mati-matian agar tak menatap matanya. Foto mereka yang pertama itulah menjadi salah satu foto yang masih Andine simpan di galerinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN