Ternyata kehidupan mahasiswa tak semudah yang dibayangkan Andine. Baru beberapa hari saja, tugas sudah datang membanjiri bak hujan deras. Tria yang tampak baik-baik saja dengan hidupnya, merasa beruntung karena tugas tak datang sebanyak milik Andine. Ia hanya perlu berlatih public speaking yang lebih baik lagi. Maka malam itu, Andine tengah sibuk berkutat dengan buku sementara dari atas kasur Tria meracau tidak jelas membuat Andine bersiap dengan earphone-nya. Tak habis pikir dengan Tria dengan suara kerasnya itu berani meracau di malam yang damai ini. Tinggal menunggu bu juragan datang dengan komplain mahasiswa di sebelah, maka habislah sudah. Tapi hingga pukul setengah sebelas tak ada yang datang, mereka pikir keadaan baik-baik saja. Tria yang sudah selesai dengan public speaking rupanya lelah dan beranjak turun mengambil segelas air putih. Ia meminumnya di meja belajar bersebelahan dengan Andine.
“Sibuk sekali ya? memangnya kamu diberi tugas apa?”
“Menghitung kalori di makanan yang tadi sore kau makan. Mau kuberi tahu? Ternyata seporsi mie ayam itu mengandung…”
“Ah oke kutarik pertanyaanku, orang di jurusanmu repot sekali ya, tinggal makan saja apa susahnya. Memangnya apa yang salah dengan mie ayam huh?”
Andine masih fokus pada bukunya, sesekali ia mencatat apa yang perlu ditulis.
“Lalu bagaimana dengan dosenmu? Hari pertama aku dapat dosen yang oke. Suka bercanda dan perhatian. Namanya Pak Haris, public speaking-nya sangat bagus.”
“Bagus kalau begitu, aku turut senang,” kata Andine tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku.
“Kalau dosenmu?”
“Profesor Daniel, yang memberikan tugasku sebanyak ini. Sedikit kesal tapi dia baik juga kurasa.”
Setelah itu Andine menutup bukunya keras-keras membuat Tria yang disebelahnya terkejut seketika.
“Sudah selesai, aku ingin tidur.”
Mereka berdua beranjak ke kasur tanpa ada obrolan pengantar tidur seperti biasanya. Karena pagi hari mereka sama-sama punya kelas yang tak boleh terlewatkan. Sebagai mahasiswa baru tentu mereka masih punya semangat untuk mengikuti kelas. Namun mereka juga diberitahu beberapa senior kalau ada kalanya mereka akan malas mengikuti kelas. Andine berdoa semoga tak mengalaminya karena ia ingat tentang ayah dan ibunya yang sudah membiayai semua ini.
***
Seperti di sma, saat kuliah pun Andine ingin berusaha untuk tetap aktif di kelas. Selepas kelas selesai, Andine berjanji menemui Tria di depan gedung perpustakaan. Tapi setelah diberi tahu kalau kelas Tria berakhir setengah jam lagi Andine memutuskan untuk menunggu di dalam perpustakaan. Membaca buku setengah jam akan memberi manfaat baginya walaupun sedikit. Kebetulan sekali di sana ia bertemu dengan kak Lily yang sedang membaca buku. Kesempatan ini pun digunakan Andine untuk mendiskusikan tentang tugas yang baru saja diberi dosennya saat kelas tadi. Kak Lily membantunya dengan senang hati, beruntung Andine mempunyai senior sebaik dia. Sebelum setengah jam berlalu seorang mahasiswa datang ke meja dimana mereka berada dan menyerahkan sebuah wig. Kak Lily menerimanya sambil tersenyum.
“Terima kasih Hansel.”
Mahasiswa itu kembali beranjak pergi setelah menerima permintaan terima kasihnya. Kak Lily kembali menatap Andine.
“Aku seorang cosplayer,” katanya menunjukkan sebuah wig
“Sungguh? Aku sedikit terkejut.”
“Yah, itu sudah menjadi hobiku.”
“Dan pria tadi? Seorang penjual wig?”
Kak Lily hampir tertawa mendengarnya.
“Bukan, dia dulu adik kelasku di sma. Aku sebenarnya menitipkan wig pada teman sejurusannya yang juga seorang cosplayer. Karena dia sibuk mungkin menyuruh Hansel mengantarkannya.”
Andine manggut-manggut.
“Omong-omong dia dari fakultas kedokteran,” lanjut Kak Lily
Andine terkagum-kagum. Dari dulu ia memang bermimpi menjadi bagian dari mahasiswa kedokteran. Ketika tidak sesuai harapannya maka Andine tak bisa berbuat apa-apa. Ia cukup puas dengan jurusannya saat ini.
Andine ditelepon oleh Tria kalau ia sudah berada di depan perpustakaan. Andine pun pamit meninggalkan Kak Lily yang melanjutkan membaca bukunya.
Tria dan Andine berjanji akan berbelanja ke supermarket untuk mengisi persediaan bahan cemilan. Kebiasaan mengemil Tria tak bisa dihentikan dari sma. Meski berkali-kali dinasehati oleh Andine untuk berhemat dan yang paling penting adalah kandungan kalori yang sangat tinggi pada satu gram makanan ringan. Tria masih pura-pura tak mendengar. Untungnya supermarket tak jauh dari kampus mereka. Hanya butuh waktu lima belas menit berjalan ke arah barat. Tak sejauh jarak dari kosan mereka menuju kampus yang membutuhkan hampir satu jam. Jika sudah lelah maka mereka akan menggunakan ojek dan angkutan umum. Sepulangnya mereka menyayangkan karena tidak kuat berjalan dan memilih mengorbankan uang padahal untuk jatah makan malam. Di sepanjang jalan mereka juga melihat banyak orang yang menggunakan sepeda. Mereka membayangkan senangnya bersepeda ke kampus daripada berjalan. Tapi lagi-lagi mereka harus sadar akan keadaan yang sekarang.
Supermarket yang lumayan luas itu tampak sepi pembeli. Andine yakin suasana akan berbeda jika ia mengunjunginya pada akhir pekan. Melewati parkiran Tria melihat sebuah sepeda berwarna pink yang lucu dengan keranjang di depannya. Menariknya lagi, dalam keranjang itu terdapat seekor kucing berbulu putih bersih dengan bola mata berwarna biru terang. Tria yang sangat suka pada kucing pun menatap gemas sambil berlagak ingin menggendongnya.
“Astaga Andine, lihat dia lucu sekali. Ingin kubawa pulang.”
“Jangan bercanda, lihatlah tanda di kalungnya. Pasti dia sudah punya pemiliknya.”
Benar juga, karena sepeda terparkir di depan supermarket maka semestinya pemiliknya berada di dalam. Peringatan tidak boleh membawa peliharaan ke dalam supermarket mungkin yang membuat kucing itu bertengger manis di depan keranjang sepeda. Tria melangkah mengikuti Andine yang sudah lebih dahulu mengambil keranjang belanja. Belum lama mereka berkeliling, Andine menyadari sesuatu di depannya dan meminta Tria untuk melihatnya juga. Di sana seorang perempuan dengan blazer sedang berdiri di rak makanan ringan. Mereka ingat sekali dengan wajahnya, dengan blazer yang sama hanya saja berbeda warna.
“Sepupu Kevin, Tria.”
“Ya, aku tahu dine.”
Andine hendak memutar balik untuk mencari beberapa mie instan. Tapi dengan santainya Tria menghampiri perempuan itu. Mengajaknya mengobrol sementara perempuan itu menatap bingung. Seharusnya Andine tahu kalau Tria mirip ayahnya, suka mengajak ngobrol orang walaupun tidak kenal.
“Hai kak, belanja snack juga ya.”
“Eh iya, kalian juga?” tanya perempuan itu menatap mereka masih dengan wajah bingungnya.
“Kita ini teman Kak Kevin, satu kampus,” ujar Tria menjawab kebingungannya
“Oh kalian ini teman Kevin.”
“Iya, sebenarnya Kevin itu seniorku waktu sma."
Tak di sangka Andine, mereka cepat sekali mengakrabkan diri. Mengobrol kesana kemari hingga membicarakan snack terenak di supermarket itu. Sekali lagi Andine seharusnya tahu kalau Tria adalah orang yang mudah sekali bergaul. Andine hanya merespon obrolan mereka dengan perkataan seperlunya.
“Oh kalau begitu kapan-kapan mampir saja ke apartemenku ya. Sampai jumpa. Eh ya ampun aku terlalu lama meninggalkan Flo sendirian.”
“Siapa Flo?”
“Kucingku, aku duluan ya.”
“Oh jadi yang di sepeda itu kucingmu. Dia sangat lucu kak.”
“Ya, terima kasih,” perempuan berblazer itu menjawab sambil berjalan menjauhi mereka.
Tria menatap Andine senang. Seolah berkata kalau ia sudah mendapat hati sepupu Kevin. Dari obrolannya dapat diketahui kalau perempuan blazer itu bernama Giselle. Dan Andine tak habis pikir bagaimana Tria bisa sangat akrab walau hanya beberapa menit bertemu. Komunikasi yang sangat bagus, tak heran dia bisa lulus di jurusannya.
“Nah Andine, begitulah caranya menarik hati keluarga gebetan. Bagaimana, sudah temukan gebetanmu?”
Kali ini Andine pura-pura tak mendengar. Ia semakin gencar memasukkan beberapa makanan ringan ke keranjangnya.