Pagi-pagi sekali Andine sudah meninggalkan kasurnya. Tria tahu belakangan ini setiap pagi Andine pergi berbelanja di warung dekat jalan raya. Beberapa bahan makanan seperti sayur mayur, tempe dan tahu dibeli untuk diolah menjadi sarapan mereka berdua. Sedikit kagum karena sejak awal bertemu Andine tak berani pergi sendiri, untungnya pagi itu tak terlalu gelap. Warung tempat menjual sayuran juga ramai dipenuhi warga setempat. Kebanyakan adalah ibu-ibu yang bertugas menyiapkan sarapan untuk anak dan suami mereka. Tria tak perlu bertanya karena memang seharusnya seorang mahasiswa ilmu gizi melakukan itu. Mempertimbangkan kesehatan pada apa saja yang mereka makan dan hal yang paling penting menurut Andine dengan memasak sarapan sendiri adalah bisa menghemat pengeluaran bulanan. Tria justru merasa senang karena tak perlu memikirkan sarapan apa yang harus ia beli karena ia punya koki dadakan sekarang. Tria beruntung sekali memiliki teman seperti Andine. Terkadang Tria juga menggantikan Andine memasak sarapan setelah Andine melabeli beberapa bumbu masakan dengan namanya yang benar. Siapa sangka seorang perempuan yang sudah menjadi mahasiswa lupa membedakan mana yang garam dan mana yang gula.
Pagi itu mereka menyantap sarapan dengan damai. Hidangan nasi hangat dan sup bayam cukup mengisi stamina sebelum mereka memulai kelas. Dari jendela depan yang terbuka mereka dapat melihat suasana pagi yang damai, cahaya matahari yang mulai terang dan beberapa penghuni kos yang berlalu lalang membawa bungkusan sarapan. Suasana di kosan mereka juga tidaklah terlalu gersang. Masih dapat mereka rasakan sejuknya udara dan embun di pagi hari. Tampaknya pagi ini tak sedingin pagi pertama yang mereka alami di tempat ini. pagi yang damai itu harus mereka nikmati sebelum siang menyerang dengan sahabat karibnya, terik sinar matahari.
“Beruntungnya sekolahmu ada klub memasak. Kamu tahu? Setiap kali aku ingin membantu ibuku di dapur, dia langsung mengusirku.”
“Karena bukan membantunya kamu malah mengacaukannya kan?”
“Begitulah. Padahal aku tak melakukan apa-apa loh. Hanya keliru menambahkan garam alih-alih gula saat membuat puding susu.”
“Kekeliruanmu itu sangat besar. Lagian siapa yang mau memakan puding asin? Yang benar saja.”
“Makanya sering-sering ajarkan aku memasak agar ibuku terkejut melihatku pandai memasak saat pulang kampung nanti.”
“Boleh saja.”
Tak sampai sepuluh menit, sarapan sudah mereka santap tak bersisa. Tria yang memiliki kelas lebih pagi dari Andine bersiap-siap pergi dengan laptop yang baterainya sudah terisi penuh.
“Andine, siang nanti mau ikut pergi ke apartemen Kak Giselle?”
“Tidak, siang nanti masih ada kelas. Kevin sudah tahu kamu dekat dengan sepupunya?”
“Mungkin Kak Giselle sudah memberi tahunya. Kevin pasti terharu.”
“Terharu hidungmu, mungkin dia berpikir kalau kamu orang yang sok akrab.”
“Terserah, aku sebaiknya bawa apa ya saat mengunjunginya? Kak Giselle suka apa ya kira-kira?” Tria bertanya pada dirinya sendiri
Tria memakai sepatunya dan mulai meninggalkan Andine yang juga sedang mempersiapkan buku-bukunya.
***
Satu hal yang dikeluhkan dari seorang mahasiswa adalah banyaknya tugas yang menumpuk dan bagi mahasiswa tingkat akhir akan menyusun sebuah skripsi sebagai penentu kelulusannya. Meski di tengah banyaknya tugas yang datang, Tria dan Andine sama-sama menikmati dan mengerjakannya tepat waktu. Wajar saja, tak ada dalam hidup seseorang tanpa kewajiban yang harus dijalani. Andine yakin semua yang dilakukannya sekarang pasti akan sangat dirindukan setelah ia telah lulus nanti. Seperti Andine merindukan masa-masa sma-nya sekarang.
Setelah kelas selesai Andine menghabiskan waktu sejenak di kursi dekat lapangan. Pukul tiga sore menjadi waktu yang pas untuk berkirim pesan dengan teman sma. Selain suasana yang tidak panas, keramain di kampus sedikit mereda karena beberapa mahasiswa telah menyelesaikan kelasnya. Tria pasti belum pulang dari apartemen Kak Giselle dan beberapa menit lalu Arsy mengirimnya pesan. Mereka saling menanyakan kabar dan berbagi cerita. Arsy memberi tahu kalau Mega dan Lucy bekerja sama dalam berbisnis masker wajah dan produk make up di online shop. Tak heran karena dua orang itu semasa sma memang sering menawarkan masker pada Andine. Masker teh hijau yang katanya dapat menghilangkan jerawat. Padahal waktu itu Andine merasa tak memiliki jerawat. Kalau sudah begitu Mega dan Lucy akan menawarkan masker jenis lain yang membantu menghilangkan komedo. Pebisnis memang memiliki banyak cara untuk menarik perhatian pembeli.
Sebelum hari menjadi semakin gelap, Andine mengakhiri pembicaraan dengan kesepakatan untuk bertemu saat liburan tiba. Setelahnya, ia mengecek ponselnya yang menunjukkan kalau pukul empat sore akan tiba lima belas menit lagi. Ia melihat sekeliling, beberapa mahasiswa tampak keluar dari lorong sambil menenteng buku. Rupanya mahasiswa jurusan lain baru saja menyelesaikan kelasnya. Dan yang Andine tahu mahasiswa itu berasal dari fakultas kedokteran setelah ia melihat salah satu di antaranya adalah seorang mahasiswa yang ditemuinya beberapa hari lalu, pria pengantar wig Kak Lily.
Andine pikir mereka tak saling kenal, tapi saat hendak memalingkan muka pria itu justru tersenyum padanya lalu berjalan dengan frekuensi yang lebih cepat dari sebelumnya. Andine menatap punggungnya bingung, ya, karena Andine selalu diajari ibunya untuk selalu membalas setiap senyuman. Saat hendak membalas senyumannya, ia malah berjalan tanpa henti. Andine mengangkat bahu, mungkin ia sedang terburu-buru. Secara, fakultas kedokteran memang dikenal sebagai fakultas yang paling sibuk.
Pukul empat sore, Andine tak yakin Tria sudah pulang dari berkunjungnya ke apartemen yang tak jauh dari kampus. Ia bisa mengira dari betapa akrabnya Tria dan Kak Giselle saat pertemuannya pertama kali. Mungkin mereka masih mengobrol di temani kopi hangat sore ini. Sepupu Kevin itu baru saja pindah dari apartemennya dulu yang berada di kota lain. Kak Giselle adalah seorang penulis, ia mengaku kalau sering berpindah tempat dari kota ke kota lain. Karena katanya hal itu bisa menambah inspirasi untuk bahan cerita novelnya. Sekitar enam novel sudah ia terbitkan dan Andine tak sadar ia pernah membaca salah satunya saat di sma. Kisah romansa bos dan pegawainya pernah populer pada masanya. Kak Giselle punya bakat yang luar biasa dalam mengaduk emosi pembacanya. Andine tak menyangka bahwa Kak Giselle lah yang menulis kisah itu hingga membuat Arsy terbawa perasaan satu minggu lamanya.
Andine membuka pintu kosan yang rupanya tidak terkunci. setelah di buka terlihat Tria yang sedang berbaring di atas tikar membaca sebuah buku.
“Membaca novel Kak Giselle?”
“Iya, kamu juga harus baca. Ini sangat seru.”
Andine melirik sampul novelnya.
“Sudah pernah k****a yang kamu pegang itu.”
“Sungguh? Kenapa aku baru baca sekarang.”
“Saat sma novel itu pernah populer di sekolahku, mungkin di sekolahmu tidak. Jadi, mau membaca semua novel yang ditulis Kak Giselle?”
“Tentu saja, aku akan punya banyak bahan obrolan nanti.”
Setelah mandi Andine kembali menuju ruangan dengan Tria yang masih asyik membaca novelnya. Memang Andine akui novel itu sangat bagus hingga membuat pembaca tak bosan membacanya. Tapi sebal dengan Tria yang tak habis pikir membaca berjam-jam sementara ia harus memikirkan makan malam apa yang harus mereka makan.
“Mie instan saja, kita kan sudah membeli banyak.”
“Kemarin malam kita makan itu juga, tak baik makan mie instan terlalu sering.”
“Dulu aku makan mie instan lima hari berturut-turut, sampai sekarang aku sehat wal afiat kok. Jadi jangan khawatir begitu.”
Andine mengiyakannya. Sebagai mahasiswa kosan memang mereka harus terbiasa dengan keadaan seperti itu. Tria yang teringat akan sesuatu bangkit dari berbaringnya dan pergi menuju kamar. Sekembalinya ia membawa kotak kecil.
“Kak Giselle memberikan ini, kue lapis katanya.”
Tria menceritakan apa saja yang mereka lakukan selama di apartemen. Mulai dari melihat koleksi novelnya, bermain dengan Flo, dan yang paling Tria suka adalah saat Kak Giselle menceritakan sosok kevin sewaktu kecil. Kak Giselle juga bercerita kalau dirinya sedang menabung untuk bekal pergi ke luar negeri. Jepang dan Korea menjadi negara tujuannya untuk mencari inspirasi.
“Kak Giselle menanyakanmu tahu, kau harus mengunjunginya kapan-kapan.”
“Ya, lain kali kita mengunjungi bersama.”
“Kalau kamu mau tahu, apartemen dia sangat menakjubkan. Kamarnya ia hias seperti berada di negeri dongeng. Jika melihat ke luar jendela maka akan terlihat pemandangan kota yang betulan indah. Kehidupan seorang penulis memang seperti itu ya?”
Andine mengangkat bahu. Memang benar seorang penulis membutuhkan suasana yang mendukung untuk membuat sebuah cerita. Tapi sampai menghias kamarnya bak negeri dongeng Andine baru mendengarnya.
“Satu hal lagi, kamu ingat Flo? kucing itu sangat menggemaskan. Lain kali kubawakan sesuatu untuk Flo. Kamu bisa buat makanan bergizi untuk kucing kan?”
“Astaga, kenapa tanya padaku. Kamu pikir aku dokter hewan?”
Andine melihat-lihat novel yang dibaca Tria. Ingat sekali saat sma banyak yang berebutan meminjamnya di perpustakaan. Bagai mengantri sembako, mereka menggunakan nomor antrian untuk menentukan siapa yang berhak meminjam selanjutnya. Arsy dan Andine mendapat giliran yang lama sekali. Andine sih hanya penasaran hingga membuat novel itu direbut banyak orang. Arsy yang paling kecewa dan berniat untuk membelinya saja, tapi ia urungkan karena tabungannya sudah ia niatkan untuk membeli smartphone baru. Tapi siapa sangka beberapa hari kemudian Andine dibuat terkejut karena novel dengan judul yang sama bertengger di dalam tasnya.
“Masih baru, wah siapa yang memberikannya?” tanya Arsy saat melihatnya
Saat itu juga dering pesan berbunyi di ponsel Andine yang menjawab pertanyaan Arsy.
“Dari Alvian,” jawab Andine
Andine menghela nafas pelan. Merutuki dirinya sendiri, saat berniat melupakan sosok Alvian, ada saja hal yang membuatnya teringat kembali. Awalnya Andine tak percaya kalau cinta pertama memang susah dilupakan. Tapi ia benar-benar merasakannya sekarang. Andai semua itu tak terjadi, Alvian.