26 Januari

1592 Kata
Kejenuhan mulai melanda di tengah semester. Tugas yang menumpuk berdampak pada pola tidur mereka. Mahasiswa yang tak biasa begadang menjadi terbiasa mengerjakan tugas semalam suntuk. Andine sudah terbiasa bangun di malam hari untuk belajar. Tria yang terbiasa menonton film di malam hari mengorbankan waktu nontonnya untuk digunakan belajar dan mengerjakan tugas. Saat di kampus, Andine dan Tria menjadi jarang bertemu karena jadwal kelas yang berbeda dan padat. Untungnya hari ini, secara kebetulan kelas mereka selesai pada jam yang sama. Maka mereka memutuskan bertemu di depan gedung perpustakaan seperti biasa. Andine sudah menunggu selama sepuluh menit di sana. Dari arah kiri tempat ia berada barulah dapat ia lihat wajah Tria sedang berjalan bersama seseorang yang dapat Andine tebak adalah dosennya. Sesekali mereka mengobrol dan tertawa merespon apa yang Tria ucapkan. Melihat wajah Andine, Tria melambaikan tangannya. Mereka berhenti di depan Andine. Menyadari dosen Tria yang masih bersamanya, Andine menyalami dan menanyakan kabar. “Pak Haris, Ini Andine, teman kosanku.” Dosen yang bernama Pak Haris itu mengangguk-angguk dan tersenyum. Tapi entah Andine yang keliru atau tidak, rasanya ia pernah melihat wajah Pak Haris. Lama sekali ia memutar-mutar memori, dan peristiwa saat kopernya tersangkut di pintu kereta pun teringat. “Pak Haris, bapak pernah menolongku waktu itu. Koper yang tersangkut di kereta, bapak yang mengangkatnya.” “Oh itu kamu, bapak sedikit tak ingat wajahmu, maaf ya.” “Ya tidak apa-apa pak, justru saya yang berterima kasih pak.” “Ya sama-sama. Dari jurusan ilmu gizi?” “Betul pak.” Pak Haris melihat-lihat ke arah pintu perpustakaan. Seorang mahasiswa keluar dari gedung dan menghampiri mereka. Sepertinya dia punya keperluan dengan Pak Haris karena kelihatannya mereka sudah sangat akrab. Pak Haris menepuk punggung mahasiswa itu dan memperkenalkannya pada mereka. “Tria, Andine, kenalkan ini Hansel, keponakan bapak.” Tria yang mendengarnya tampak antusias. Ia pernah dengar kalau Pak Haris mempunyai keponakan yang juga berkuliah di kampus ini. “Oh jadi ini ya keponakan bapak? salam kenal,” Tria dan Andine tersenyum merespon Hansel yang juga terseyum pada mereka. “Ya sudah kami duluan ya, masih ada keperluan.” “Ya, hati-hati pak.” Andine masih menatap punggung Pak Haris dan Hansel yang terlihat semakin menjauh. Tria menyentuh bahu Andine yang tak mau beranjak pergi. Setelah sadar akan sentuhannya, Andine mulai berjalan beriringan dengan Tria. “Pak Haris pernah bercerita punya keponakan di kampus ini. Tak kusangka ternyata orangnya setampan itu." “Yah, mau tahu? Dia dari fakultas kedokteran.” “Bagaimana kamu tahu?” “Aku pernah bertemu dia dua kali. Yang pertama di perpustakaan saat aku menemui Kak Lily. Dia itu salah satu adik kelasnya saat di sma.” “Wah, dan ini pertemuanmu dengannya yang ketiga? Aku punya firasat yang bagus, dine.” “Lupakan, dan apakah kamu yang memberi tahu jurusanku pada Pak Haris? Bagaimana dia bisa tahu? Dan kulihat kamu tampak baik-baik saja mengobrol dengannya sambil berjalan. Biar kuberi tahu ya, itu sedikit tak sopan.” “Kan sudah kuberi tahu, Pak Haris orangnya asyik. Dia tak seperti dosen-dosen lain. Dia dekat dengan semua mahasiswanya tahu. Aku pernah membicarakanmu kalau kamu adalah seorang mahasiswa yang takut dengan kegelapan.” “Ya ampun, membicarakan hal yang tak penting. Itu benar-benar tak sopan.” “Jangan bilang begitu karena kamu tak pernah diajarnya. Bilang saja kamu iri tak dapat dosen yang kece seperti dia kan?” Tria menjulurkan lidahnya. “Tidak, siapa bilang aku iri. Dosenku juga sangat baik. Dia memberikanku tugas yang sangat banyak tahu.” “Andine, kamu benar-benar tidak normal.” *** Hari libur menjadi hari yang paling dinantikan semua pelajar. Tak terkecuali mahasiswa macam Tria dan Andine. Setelah Andine bertempur dengan berbagai laporan yang harus diselesaikan, akhirnya ia bisa bernapas lega. Tak terasa satu semester telah berlalu. Satu semester yang lumayan menguras tenaga dan pikiran. Seorang Tria tak mungkin menyia-nyiakan waktu berlibur yang sangat berharga itu. Toko milik bibinya menjadi sarana untuk memanfaatkan liburan. Menjadi penjaga toko lumayan seru juga katanya, uang saku tambahan pun didapatkan ditambah komunikasi dia yang baik membuat pembeli pun nyaman. Sementara Andine di hari libur menjadi wajib untuk mengunjungi neneknya. Sayangnya saat ia berkunjung, perkebunan jeruk sedang tidak panen. Padahal ingin sekali ia membawa pulang dan menjadikannya bahan utama membuat jus setiap pagi. Pertemuan dengan teman sma-nya yang menjadi hal berkesan bagi Andine. Mereka menghabiskan waktu menonton film dan berkeliling mall. Sebelum kembali berpisah, Mega dan Lucy memberi Andine dan Arsy masing-masing sepaket masker yang dijualnya secara gratis. Bisa dibilang bisnis online shop mereka tidak sepi tetapi tidak juga sangat ramai. Andine berniat memberikan satu untuk Tria masker kopi dan ia senang bukan main saat menerimanya. Beberapa hari sebelum kegiatan mahasiswa dimulai kembali, mereka berniat mengunjungi Kak Giselle di apartemennya. Untungnya sebelum benar-benar pergi Tria sempat mengecek pesan dan mengatakan kalau Kak Giselle sedang tidak berada di apartemennya. Ia sedang pergi ke tempat wisata. Jangan tanya kenapa, karena seorang penulis pasti membutuhkan inspirasi. Kebosanan pun melanda mereka. Di tengah keheningan itu suara denting pengingat berbunyi dari ponsel Andine. Biasanya Andine gunakan untuk mengingat tanggal yang penting atau istimewa. Tapi ia tak merasa memiliki hari yang penting hari ini, sebelum ia mulai mengeceknya. Benar, 26 januari. Sudah sangat lama tanggal itu di-setting. Hal sekecil itu Andine lupa untuk menonaktifkannya. Sekarang akibat suara denting itu ia mulai mengingatnya kembali. “Dine? Kenapa diam saja? Kalau tak salah itu dering pengingat hari ya? Memangnya hari ini ada sesuatu yang penting?” Andine tak langsung menjawab. “Bukan hari apa-apa. “Tapi aku merasa kamu berbohong. Tak apa jangan kaku begitu, kita sudah sekamar dalam satu semester." “Kalau aku beritahu, pasti kamu akan memintaku mendongeng.” “Tak ada salahnya mendongeng untukku. Sebagai mahasiswa ilmu komunikasi aku harus kritis terhadap semua hal. Bagaimana? Mau memberi tahuku?” Andine menghela napas panjang. “Itu hari jadianku dengan Alvian.” Andine sudah sepenuhnya percaya pada Tria. Tapi rasa penasaran Tria pada kisah asmaranya membuat Andine sebal. “Ya ampun maaf membuatmu mengingat mantanmu. Sebetulnya aku penasaran bagaimana kamu akhirnya berpacaran dengan Alvian dulu, ceritakanlah” Tria turun dari kasurnya dan bergabung dengan Andine di kasur paling bawah seakan bersiap mendengarkan sebuah dongeng. Sebanding dengan apa yang dilakukan Alvian selama di sekolah, Andine mulai mengamatinya dari mulai ia berlatih bermain bola voli bersama timnya di lapangan. Hanya lewat sebentar, sampai Alvian membalas senyumnya kemudian ia bergegas pergi lagi. Pikirannya membayangkan sebagaimana dalam film jika orang yang disuka selesai berolahraga maka perempuan akan datang membawakan minuman dan mengelap keringatnya dengan handuk. Andine justru merasa geli, ia tak mungkin melakukan hal seperti itu jika tak mau dicemooh seluruh warga sekolah. Satu-satunya yang membuat Andine senang adalah saat hari minggu tiba. Andine akan menjadi tokoh utama yang selesai berolahraga, kemudian Alvian datang membawakan minuman dan ia mengelap peluh Andine dengan tangannya sendiri sambil sesekali memainkan anak rambut di dahinya. Perlakuan seperti itu justru membuat Andine senang tak karuan. Belakangan ini mereka juga sering menghabiskan waktu bersama untuk sekedar menonton atau berkeliling kota. Mereka akan bergantian menentukan tempatnya dan semua itu dilakukan di hari minggu. Andine kira kedekatannya dengan Alvian tak akan mudah diketahui banyak temannya di sekolah. Tapi Alvian, dia punya teman kelas yang nakal dan usilnya minta ampun. Bagaimana Andine tahu kalau ia juga berada di tempat yang sama saat Andine dan Alvian bersama. Rupanya teman Alvian itu mengambil gambar mereka diam-diam dan menyebarkannya di hampir semua grup angkatan. Dan Andine akui gambar yang ia potret menggambarkan kedekatan yang memang sedang Andine rasakan. Andine diberi tahu Arsy akan hal itu dan ia malah makin menggoda Andine. “Jadi kalian sudah berpacaran toh. Kapan kalian jadian?” Andine baru ingat sekarang. Jadian? Mereka belum memutuskannya. Dan tanggal berapa mereka jadian Andine pun tak tahu. Mereka hanya menghabiskan waktu bersama tanpa memikirkan itu. Tapi Arsy ngotot kalau pacaran tanpa tanggal jadian sungguh aneh. Benar juga, Andine akan menanyakannya pada Alvian minggu nanti. “Alvian, setelah temanmu menyebarkan di grup banyak orang yang menanyaiku apakah kita benar-benar berpacaran.” “Jawab saja iya.” “Aku sudah menjawab iya. Tapi bukankah kita tidak punya tanggal kita jadian." “Kita punya kok.” “Kapan?” “26 Januari.” Andine mengingat-ingat apa saja yang terjadi di tanggal itu. “Itu pertemuan pertama kita di kedai kopi.” “Betul.” “Aku tak merasa ditembak olehmu.” “Tapi aku sudah menyatakan perasaanku padamu.” Benar juga. Alvian mengatakan kalau ia menyukai Andine yang seketika membuat Andine terkejut. “Tapi kan aku belum mengatakan kalau aku punya perasaan yang sama. Aku juga belum berkata kalau aku mau jadi pacarmu.” “Jadi? Kamu tak mau jadi pacarku?” “Tentu saja mau, maksudku…baiklah, kamu tahu kan kalau pacaran itu adalah jika dua orang menyatakan perasaan yang sama. Karena kamu sudah mengatakannya maka akan kubalas sekarang.” Andine menghela napas dan menatap Alvian lekat-lekat. “Alvian…aku juga menyukaimu." Genggaman minuman jeruk di tangan Alvian mengendur seketika. Sepasang mata indah sedang menatapnya. Sudah cukup Alvian dibuat berdebar sejak pertemuannya pertama kali. Asal tahu saja, keberanian untuk menyatakan perasaan saat di kedai bahkan ia tak tahu dari mana. Tapi ia sungguh lega telah mengatakannya dan gadis itu membalasnya. “Lihat?” kata Andine, “Seharusnya kita jadian hari ini, bukan 26 januari.” “Aku tahu hari itu kalau kamu juga akan menyukaiku. Jadi biarkan saja 26 januari menjadi tanggal jadian kita.” Andine menatap Alvian heran. Tapi kemudian dapat ia lihat pipinya yang bersemu merah. Tanpa persetujuan, Alvian mengambil ponsel Andine untuk melakukan sesuatu. “Sudah kupasang pengingat di ponselmu. Jangan lupakan 26 januari ya.” Alvian menatap lurus ke depan. Melihat pipinya yang masih bersemu merah membuat Andine gemas untuk menyentuhnya. “Astaga Alvian, pipimu terasa panas.” ` “Ah, cuaca hari ini begitu panas ya,”sanggahnya Setelah mendengarnya Tria tampak memikirkan sesuatu. Dia sudah sering mendengar bagaimana teman sma-nya dulu akhirnya jadian dan berpacaran. Tak pernah ada dari mereka yang memperdebatkan kapan tanggal jadian ditetapkan. “Hmm..baru kali ini aku mendengar penetapan tanggal jadian seperti itu. Andine, mantanmu itu memang aneh ya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN