Hans

1077 Kata
Tak ada lagi rasa takut tersesat saat pertama kali Andine menginjakkan kaki di wilayah yang luas ini. Lambat laun ia bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Mengenali pola hidup masyarakat dan ia mulai berani pergi kemana-mana sendiri. Berbelanja ketika pagi di pinggir jalan raya menjadi hal yang tak asing. Terkadang, seorang ibu rumah tangga mengajaknya berbincang. Menanyakan dari mana ia berasal dan memintanya bercerita kehidupan kuliah. Yang paling sering ia dengar adalah bagaimana biaya kuliah di sini. Salah satu ibu rumah tangga berkata kalau anaknya yang tengah sma ingin sekali masuk ke kampus itu dan mempertimbangkan biaya kuliah sangatlah penting bagi orang tua. Mungkin ada satu atau dua bangunan yang Andine tak kenali di kompleks kampusnya. Memang begitu luas dan Andine tak berniat untuk mengunjungi semuanya. Jika ia tak tahu, maka Tria yang sudah hapal seluk beluk bangunan kampus akan menjelaskan panjang lebar. Omong-omong dia lebih suka menceritakan tentang seluk-beluk fakultas hukum dibanding yang lainnya. Karena itu hari ini Andine memintanya mengantar ke sebuah bangunan yang bahkan baru pertama kali Andine dengar. Saat tak menemukan apa-apa di sana disinilah mereka sekarang. Di gedung perpustakaan, tempat terbaik saat punya banyak waktu luang di kampus. Mereka perlu membaca beberapa buku barangkali apa yang mereka baca keluar dalam kuis mendadak yang menurut Tria sangat menyebalkan. Suasana perpus yang nyaman membuat banyak mahasiswa betah di sana. Andine yakin di balik buku yang terbuka lebar di depan wajahnya, beberapa mahasiswa tertidur atau hanya sekedar menyandarkan kepalanya di meja. Raut wajah lelah akan tugas tergambar sangat jelas. Kebanyakan mahasiswa di sana mungkin adalah mahasiswa tingkat akhir yang mencari referensi untuk tugas akhirnya. Setelah mendapat banyak panggilan dari ponselnya, Tria akhirnya memutuskan pergi dari gedung perpus dan mengatakan pada Andine kalau ia akan kembali lagi dalam beberapa puluh menit. Karena suasana yang tak begitu sepi ia harus menerima jika ada orang lain yang duduk di dekatnya. Meja yang Andine tempati memang sangat strategis untuk menemukan ketenangan dalam membaca. Seorang mahasiswa tampak duduk di depannya, maka Andine membiarkannya karena tempat umum memang seharusnya begitu. Tapi jika orang itu mengajaknya berbicara maka pasti dia orang yang Andine kenal. “Jika membaca tentang fisiologi manusia kusarankan membaca terbitan dari Green cloud, sangat bagus.” “Oh iya?...” Andine mendongakkan kepalanya dari buku dan benar ia adalah orang yang Andine kenal, mungkin. “Eh, Hansel.” “Omong-omong aku lebih suka dipanggil Hans, Hans saja.” “Terima kasih sarannya Hans.” Hansel membuka bukunya dan mulai mencatat di notebook yang sudah ia bawa. Andine yang mengerti keadaan pun diam saja dan berusaha tidak mengeluarkan suara sedikit pun saat membalikkan halaman yang ia baca. Andine sangka orang seperti Hans adalah tipe orang yang butuh ketenangan dalam melakukan sesuatu. Tapi rupanya di tengah kegiatannya mencatat, Hansel masih bisa mengajaknya bicara. “Kamu dari jurusan ilmu gizi ya? Sebenarnya aku tak terlalu minat dengan dunia kedokteran. Orang tuaku yang memaksa dan Paman Haris adalah satu-satunya yang mengerti apa yang aku inginkan.” “Sungguh? Aku malah minat sekali masuk kedokteran. Tapi aku tak mau ambil resiko dengan nilaiku, kudengar ilmu gizi di sini salah satu yang terbaik. Untungnya orang tuaku selalu mendukung.” “Kamu beruntung kalau begitu.” “Menurutku dokter itu profesi yang paling keren loh, kamu harus bangga. Jalani saja pasti akan terbiasa.” “Menurutmu dokter itu keren?” Andine mengangguk mantap. “Tapi tidak mudah untuk meraih gelar dokter,” sambung Hansel “Kalau begitu ku akan menyemangatimu.” Hansel berpikir sejenak. “Kalau begitu aku juga akan melakukan yang terbaik.” sambungnya Akhirnya mereka tertawa pelan bersama. Memang tawanya tak terdengar keras tapi gerik yang menunjukkan kalau mereka sedang tertawa terlihat di pintu masuk perpustakaan dimana Tria berada sekarang. Saat Hansel telah selesai mencatat dan pergi meninggalkan meja, baru Tria yang menggantikan posisinya sekarang. Seringai pun tampak saat Tria menghampiri Andine. “Pertemuan keempat?” “Hanya kebetulan.” “Kebetulan yang epic, kulihat kamu bersenang-senang dengan Hansel.” “Hans Tria, dia lebih suka dipanggil Hans.” “Begitukah? Kalau begitu aku akan memanggilnya Hans mulai sekarang.” Setelah Andine selesai dengan bukunya, mereka akhirnya pergi meninggalkan kawasan kampus. Tria menyinggung tentang pekerjan paruh waktunya yang begitu menguntungkan saat liburan dan berniat akan mentraktir Andine di salah satu rumah makan. Tapi entah kenapa niat mentraktir menjadi bersyarat saat di perpustakaan tadi. Tria meminta Andine membicarakan apa sampai dia kelihatan senang sekali bersama Hansel. Penyakit penasaran Tria kambuh lagi. Lalu obrolan dialihkan saat mereka melihat spanduk menu di atas pintu masuk rumah makan. Sepertinya ini akan menjadi makan siang yang mewah selama mereka berkuliah. Tria berbaik hati memesankannya sup daging sapi dan puding s**u sebagai pencuci mulutnya. “Kemarin kulihat Kevin bersama perempuan sedang berada di kafe.” “Kak Giselle mungkin.” “Mana mungkin, dia tak seperti Kak Giselle,” sanggah Tria “Siapapun itu, memangnya Kevin tak boleh bergaul dengan seorang perempuan?” “Kalau untuk sekadar jalan bersama atau mengobrol, aku tak masalah. Mereka tampak akrab dan nyaman sambil mengopi saat ku membuntuti mereka. Aku kan jadi merasa terancam.” “Kalau begitu tanyakan saja langsung padanya.” “Kamu gila ya? ah mana mungkin aku menerima saran dari orang yang belum move on dari mantannya. Bagaimana kalau setelah ini kita ke kafe?” “Apa katamu tadi? Aku sebenarnya sudah move on. Salahmu yang selalu membuatku ingat tentang Alvian.” Tidak salah kalau Andine memang susah melupakannya. Sebenarnya ada sedikit rasa penasaran bagaimanakah ia sekarang. Berharap kalau kehidupannya akan baik-baik saja walau terselip sedikit rasa kecewa, walaupun begitu Andine masih memikirkannya. Namun yang sudah berlalu biarlah berlalu, jalan inilah yang ia pilih. Ia tak berhak mengulang waktu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dan Alvian pasti mengerti mengapa akhirnya hubungan mereka berakhir. Kafe yang diceritakan Tria ternyata letaknya bersebelahan dengan supermarket yang mereka kunjungi tempo hari. Meski dibilang tak perlu, Tria ngotot ingin mampir walaupun sebentar. Akibatnya mereka harus mengorbankan uang untuk membeli segelas kopi agar tak dipandang menumpang di kafe tersebut. Tria tak pandai membaca peluang kalau Kevin tak mungkin ada di sini karena Andine mendengar kalau beberapa mahasiswa dari fakultas hukum semester 4 sedang mengadakan kerja lapangan. Tapi Tria bilang kunjungannya tak sia-sia saat melihat dua orang mahasiswa memasuki pintu kafe. Tria berbisik-bisik pada Andine. “Itu Hans.” Andine mengikuti pandangan dan menemukan Hansel di sana bersama temannya. “Akan kupanggil dia,” ujar Tria “Jangan Tria, percaya atau tidak mereka sebentar lagi juga pergi. Mereka kelihatannya sangat sibuk tahu.” Benar saja, belum lima menit mereka di sana, Hansel dan temannya beranjak pergi tapi sebelumnya dia sempat menemukan Andine dan tersenyum padanya. “Apa tadi dia tersenyum padamu? Aku merasa tak dapat senyuman darinya.” “Mungkin.” “Ah baiklah, kuanggap itu senyuman untukmu. Tapi lihat saja kalau nanti Kevin tersenyum aku tak mau berbagi denganmu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN