Festival Jepang

1049 Kata
Tak melulu tentang belajar, ada kalanya mahasiswa juga punya waktu refreshing untuk menikmati sebuah acara. Salah satu acara tahunan yang rutin diadakan di kampus adalah festival kebudayaan Jepang yang disiapkan oleh mahasiswa dari fakultas sastra dan budaya. Dua hari berturut-turut acara tersebut dilaksanakan dan dibuka untuk umum. Bisa dibayangkan betapa ramainya acara karena Andine yakin warga lokal pun pasti banyak yang berdatangan. Apalagi golongan anak muda yang menyukai dunia jejepangan meliputi anime dan manga. Mustahil bagi Tria tak menghadirinya, justru festival yang ramailah yang ia senangi. Bisa bertemu banyak orang menurutnya dapat mengobati stres akibat tugas, tipe orang yang ekstrovert. Sedangkan Andine tak mempermasalahkan ramai atau tidaknya sebuah acara. Yang terpenting dapat merasakan pengalaman baru sebagai mahasiswa. Tak mungkin mereka hanya berdiam diri di kosan sementara di kampusnya tengah mengadakan acara besar. Selain itu, mereka menghargai usaha dari fakultas sastra dan budaya yang terlihat bekerja keras siang dan malam. Salah satu teman kosan mereka yang berasal dari fakultas itu tampak tak pulang kemarin malam. Malah melihatnya pulang di pagi hari dengan wajah tak cukup tidur. Mengusung tema berwarna biru, festival itu diberi nama Ao no matsuri, yang berarti festival biru. Jadi jangan heran jika di setiap tempat dipenuhi warna biru. Andine baru pertama kali berkunjung ke acara seperti ini, mungkin ia akan menemukan beragam hal yang menarik dari sana. Sebelumnya, Kak Lily, seniornya berkata kalau ia akan berpartisipasi dalam acara tersebut sebagai seorang cosplayer. Itu yang menjadi salah satu alasan Andine ingin pergi, ingin melihat seniornya tampil sebagai karakter dari dunia animasi. Tria bersiap-siap dengan atasan lengan pendek berwarna biru muda dan celana katun selutut berwarna krem. Entah Andine yang tak pernah melihat Tria berdandan atau kelihatannya hari ini dia benar-benar memperhatikan penampilannya. Tria sangat niat merias wajahnya dibanding ketika mereka berkuliah seperti biasa. Ia malah menyuruh Andine merias seperti itu juga. “Pasti hari ini banyak anak-anak sekolahan yang datang. Aku harus tampil lebih dewasa kalau tak mau dianggap seumuran mereka,” jelas Tria “Itu sih karena badanmu tak lebih tinggi dari mereka.” “Jangan mempermasalahkan kedewasaan dengan tinggi badanku ya, aku cukup dewasa sebagai seorang mahasiswa. Dan kamu jangan mentang-mentang sedikit lebih tinggi dariku, lalu meledekku.” “Sama sekali tak berniat meledek. Kurasa kita harus bergegas sekarang.” Bagi orang yang bersemangat seperti mereka, tak akan pernah ada kata lelah walau berjalan selama 45 menit menuju kampus. Sampai di kampus, Tria langsung saja bergegas menuju toilet untuk mengecek riasannya karena di perjalanan begitu panas walaupun belum masuk tengah hari. Seperti yang Andine lihat di poster kalau tema mengambil warna biru, berbagai stand bazar dipenuhi warna biru dan sebuah panggung besar dihias sedemikian rupa dengan background lautan. Hal menonjol yang pertama Andine lihat adalah sekelompok orang dengan wig dan pakaian aneh dekat panggung. Rupanya peragaan lomba cosplay sedang berlangsung. Dari tempatnya ia berada, Andine tak dapat mengenali Kak Lily yang katanya ikut serta dalam lomba itu. Mungkin nanti ia akan mencari dan mengajaknya mengobrol. Di beberapa tempat lomba lain pun sedang berlangsung, seperti lomba menggambar manga dan lomba menulis huruf jepang. Begitu banyak event dan bazar sehingga cukup untuk menikmati acara hingga malam hari sekalipun. Stand pertama yang pertama mereka kunjungi adalah stand yang menyediakan makanan takoyaki. Sudah lama sekali sejak Andine mencoba makanan yang satu Ini, terakhir kali ia menikmatinya bersama Arsy di sebuah pusat perbelanjaan. Tentu saja stand yang menjual makanan tak hanya satu, berpuluh puluh dengan berbagai jenis makanan khas Jepang. Selain sushi yang merupakan makanan yang mereka kenal, dari spanduk terlihat pula berbagai jenis makanan Jepang yang baru pertama kali mereka lihat seperti yakisoba, okonomiyaki, ramen, yakitori, dango dan lain-lain . Ingin mereka mencoba semua itu, tapi tentu saja tak mungkin. Ada salah satu stand makanan yang menggunakan huruf kanji sehingga mereka harus bertanya apa yang mereka jual. Terdengar menarik, akhirnya mereka membeli dan tak menyesal setelah menikmatinya. Karaage ternyata sangat enak. Di tengah kegiatan makannya itu dapat mereka lihat di bawah panggung kalau peragaan cosplay telah selesai. Para cosplayer berhambur keluar arena lapangan, seketika itu juga banyak yang mengajak mereka foto bersama. Salah seorang cosplayer itu melihat Andine dan Tria yang sedang makan. Dia membentuk jari tengah dan jari telunjuk menjadi huruf V sebelum orang disampingya mulai memotret. Lalu beranjak menemui Andine dan Tria. Tak salah lagi, itu Kak Lily. Tria menyambutnya dengan terkagum-kagum. Entah apa tokoh yang diperankan olehnya. Dengan wig berwarna merah muda dan tanduk palsu kecil merah di kepalanya. Dia memakai lensa kontak berwarna hijau. Pakaiannya berwarna merah dengan enam bola kancing dan memakai stocking hitam panjang. Saat menghampiri, Kak Lily melepas taring kecil palsu di mulutnya. “Terkadang tak nyaman berpenampilan seperti ini. Tapi aku menikmatinya.” Sebelum akhirnya mereka berkeliling bersama, mereka menyempatkan foto bersama. Lalu Kak Lily yang lebih berpengalaman dalam festival ini bercerita tentang hal apa saja yang menarik dan mengenalkannya pada beberapa mahasiswa yang juga seorang cosplayer. Perjalanan mereka diselingi dengan banyaknya anak sekolahan yang hendak berfoto bersama Kak Lily. “Mau tinggal sampai malam hari? Nanti akan ada festival hanabi.” “Festival apa itu?” Tanya Tria “Festival kembang api, biasanya sebelum kegiatan berakhir akan ada puluhan kembang api yang meramaikan.” Tria melirik Andine yang menganggukkan kepalanya. Mereka harus sedikit bersenang-senang sebelum akhirnya kewajiban membuat tugas datang bertubi-tubi. Saat hari semakin sore, Kak Lily sudah berpakaian normal dalam hal ini bukan seorang cosplayer lagi. Ia menghapus semua make up-nya dan memakai pakaian kasual khas mahasiswa. Pengunjung memang mulai berkurang, tetapi masih banyak juga orang yang menantikan kembang api. Nantinya festival kembang api itu akan diiringi musik oleh sebuah band di atas panggung. Beramai-ramai, orang yang hapal liriknya akan bernyanyi bersama. Tapi itu nanti, karena sekarang hari masih petang. Sementara yang lain sudah mengganti pakaian cosplay-nya, terlihat salah satu mahasiswa laki-laki masih memakai setelan seragam khas sma Jepang berwarna abu-abu muda dengan dasi merah. Wig-nya berwarna hitam dengan sedikit poni dan mengenakan kacamata. Jika melihatnya, entah mengapa dia seperti tokoh yang malang. Kak Lily yang melihatnya memanggil dia dan bertanya mengapa masih memakai pakaian seperti itu. “Sorry senpai, bentar lagi juga ganti kok,” katanya Cosplayer itu menatap Andine juga Tria bergantian yang berada di samping Kak Lily. Tatapan yang biasa saat menatap Andine. Lalu saat beralih menatap Tria, matanya sedikit melebar. Tria perlu mengamatinya lekat-lekat untuk tahu kalau dia adalah orang yang sangat ia kenal. “Tria!” “Tommy!” Pekik mereka bersamaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN