10

656 Kata
Di ruang UGD yang suhu ruangannya cukup dingin itu, Sofia berdiri di samping Davin, sementara Alma terbaring lemah di ranjang perawatan. Sofia merasa sangat bahagia. Davin memperlakukannya dengan mesra, bahkan di depan istrinya sendiri yang sedang sakit. Sofia merasa memiliki kekuatan atas situasi ini. Sofia lantas bicara dengan nada yang dibuat khawatir, "Aku masih menunggu hasil tes darah mengenai kondisi rahimku, ayo kita menunggu bersama disana, Sayang." Kemudian Sofia meringis pelan sambil memegangi perutnya, seolah dialah yang paling menderita di sini. Tentu saja Davin menatapnya dengan penuh perhatian. Davin hendak bicara tapi ponselnya berbunyi, lalu dia pikir harus melakukan pembicaraan penting tentang pekerjaan, dan hal itu hanya ingin diketahui olehnya saja. "Aku jawab telepon dulu sebentar ya,"tukas Davin lembut bicara pada Sofia. "Tentu saja, pakai waktumu untuk hal yang penting saja, tidak perlu berurusan dengan hal yang tak berguna," angguk Sofia sambil melirik sinis pada Alma. Davin menerima telepon dan keluar dari ruang UGD sebentar. Alma melirik sekilas pada Sofia, dia rasanya ingin membalas ucapan Sofia yang begitu merendahkan dirinya tadi. Alma merasa sakit hati karena dianggap menjadi hal tak berguna oleh Sofia. Tapi rasa sakit kepala yang kuat kembali menderanya. Sedangkan Sofia mendekati tepian ranjang tempat Alma berbaring. Tatapan matanya tajam dan berkilat penuh kemarahan saat Sofia mulai menarik rambut Alma dengan kuat. "Dasar jalang sialan, kamu pikir menikah dengan David bisa membuatmu menguasainya, kamu kan sudah paham betul kalau dia sebetulnya tidak mencintai mu!" Alma tentu saja kaget mendapat serangan mendadak dari Sofia, dia langsung merintih kesakitan. Tarikan Sofia di rambutnya sangat kuat, sampai-sampai kulit kepalanya terasa ikut dicabut. "Aduhh..sakit sekali!" "Aku tidak bermaksud menguasai Davin, tolong lepaskan ini sakit sekali," pinta Alma memohon. Sedari tadi kepalanya memang sudah pusing, sekarang tambah parah karena Sofia yang menjambak rambutnya. "Kalau begitu ingat, ini peringatan dariku. Jangan pernah kamu mencoba merayu lagi Davin bila tidak, kamu akan tahu resikonya!" Sofia menyeringai dingin, dia memilikimu rencana tertentu. "Sekarang aku akan bertaruh siapa yang lebih dulu diselamatkan oleh Davin bila diantara kita sama-sama terluka?" Sofia melepaskan cengkramannya pada rambut Alma tapi kemudian... Kesempatan ini dimanfaatkan Sofia untuk melancarkan aksinya. Dengan cepat, ia mendorong Alma hingga jatuh dari ranjang dan infusannya terlepas, lalu luka bekas jarum infus di lengan Alma berdarah. Alma sontak kembali mengaduh kesakitan. "Akhhh...sakit!" Sofia berteriak memanggil Davin. "DAVINN!" Kemudian, tanpa ragu, Sofia melukai dirinya sendiri, dia menggores lengannya dengan jarum suntik hingga berdarah, lalu dia menjatuhkan dirinya di lantai dan terbaring lemah tak berdaya. Sofia berteriak histeris, teriakan nya sangat kencang. "Aaa! Davin! Tolong! Alma mendorongku! Aku tidak tahu kenapa dia begitu marah padaku!" Davin yang baru saja selesai menelepon tentu saja mendengar suara Sofia. Davin berlari masuk, dia cukup panik melihat Sofia yang berdarah dan terbaring, lalu menatap Alma yang tergeletak di lantai. Davin seperti hendak menghampiri Alma, tapi kemudian dengan langkah mantap pria tampan itu bergegas mendekati Sofia. Sofia menatap Alma dengan tatapan kemenangan. Davin saat ini berada di samping Sofia dan kedua lengan kekarnya memeluk pinggang sang kekasih. "Sofia! Astaga, kamu kenapa? Apa yang terjadi di sini?" Lalu Davin sontak menoleh ke Alma yang juga sedang terbaring lemah. "Alma, apa-apaan ini!?" Alma hanya bisa diam membeku, ternyata Davin lebih dulu memilih menghampiri Sofia dibanding dirinya. Hal itu membuatnya segera mati rasa pada Davin. Sofia memegangi lengannya, dia berusaha terlihat kesakitan "Aku... aku cuma bilang, kita tunggu hasil tes bareng. Tiba-tiba dia marah, dorong aku sampai begini." Sofia menunjukkan luka di lengannya, Davin melihat luka itu dengan campuran khawatir dan bingung. Dia meraih lengan Sofia dan membersihkan darah dengan sapu tangan kecil yang diambil dari sakunya. Davin menatap Alma lalu dia dengan nada dingin, "Alma, bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Sofia bisa sampai terluka?" "Alma! Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu menyakiti Sofia? Dia tidak bersalah!" Davin mencecar dan menuduh Alma atas sesuatu yang tidak dia lakukan. "Oh iya, aku lupa kamu memiliki kakak yang juga kejam, sifatmu ini pasti menurun darinya!" Ucapan Davin bagai belati tajam menusuk jantung Alma.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN