9

691 Kata
Hati Davin berubah sedikit melunak saat mendengar suara manis Alma. "Tentu saja aku di sini," jawab Davin, suaranya terdengar lebih keras dari yang ia inginkan. "Kenapa kamu bisa sampai begini, dan kenapa tidak bilang kalau sedang sakit. Tadi kamu begitu sok berani ingin mem bu nuh dirimu sendiri?" Ada nada marah dalam pertanyaannya, marah pada Alma, marah pada dirinya sendiri, marah pada keadaan dan situasi yang menyulitkan hubungan mereka berdua. Alma memalingkan wajahnya ke samping, air mata menggenang di pelupuk matanya. "Aku tidak tahu Davin. Aku hanya... merasa lelah dan sakit hati, kau tentu lebih tahu apa yang kumaksud." Lelah. Kata itu menohok Davin. Lelah karena ulahnya? Lelah karena pernikahan tanpa cinta ini? Rasa bersalah yang selama ini berhasil ia kubur dalam-dalam, kini menyeruak ke permukaan, bercampur aduk dengan cemburu yang mulai membara. "Lelah?" Davin mendengus, namun ada getaran dalam suaranya. "Kamu pikir aku tidak lelah? Melihatmu seperti ini..." Davin menghentikan ucapannya, tidak sanggup melanjutkan. Apa yang akan ia katakan? Bahwa ia khawatir? Bahwa dia peduli? Itu akan menghancurkan seluruh rencana balas dendamnya. Alma menatapnya lagi, kali ini dengan tatapan yang lebih tajam, meski masih lemah. "Jadi, apa yang kamu inginkan, Davin? Bukankah ini yang kamu mau? Sekarang aku sakit dan menderita?" "Bahkan, ayahku sedang dioperasi, dan cukup besar resiko nya." Kata-kata Alma bagai belati yang menusuk jantung Davin. Ya, itu yang dia inginkan. Tapi mengapa rasanya begitu menyakitkan melihatnya terwujud? Mengapa cemburu itu terasa begitu nyata, begitu membakar, saat ia melihat Dokter Bryan menyentuh Alma, bahkan hanya untuk memasang infus? Sungguh cemburu yang tak beralasan. "Aku..." Davin menarik napas dalam, mencoba menenangkan badai dalam dadanya. "Aku hanya tidak ingin melihatmu seperti ini." "Walau bagaimanapun, kamu adalah istriku, karena itu jangan pernah berdekatan dengan lelaki manapun. Atau aku akan berbuat sesuatu yang lebih jauh lagi pada pria yang berani menyentuhmu!" Alma melirik sinis dan dingin, dia merasa geli pada ucapan Davin. "Istri, istri diatas kertas maksudmu?"desis Alma pelan. Dia mulai merasa cemas pada Bryan, karena dia tahu Davin adalah pria yang posesif. Rasa pening di kepalanya mulai agak sedikit berkurang, dan dia merasa memiliki sedikit energi untuk berdebat dengan sang suami. Davin menyadari perkataannya sendiri barusan, sebuah kebohongan, atau mungkin, sebuah kebenaran baru yang mulai tumbuh. Air mata Alma akhirnya menetes, membasahi pipinya yang pucat. "Jangan berbohong, Davin. Aku tahu maksud kamu yang sebenarnya, kamu hanya mementingkan egomu saja!" Davin menggenggam tangannya erat, menahan diri untuk tidak meraih jemari Alma yang terpasang infus. "Aku tidak berbohong," bisiknya, suaranya serak. "Aku... aku hanya tidak tahu apa yang kurasakan." Di bawah cahaya remang UGD, di antara desiran monitor dan tetesan infus, Davin merasakan dunianya runtuh. Rencana balas dendamnya kini terasa hambar, digantikan oleh kekacauan emosi yang belum pernah ia alami. Dia ingin menyakiti Alma, tapi mengapa hati kecilnya justru terasa perih melihat Alma terluka? Dan mengapa, di antara semua itu, ada wajah Dokter Bryan yang terus membayangi, terlihat jelas Bryan tertarik pada istrinya dan itu memicu api cemburu yang tak masuk akal? Tapi lagi-lagi ego Davin mulai muncul saat bayangan wajah Vanya yang menyedihkan muncul di pikirannya, hingga rasa dendam itu mencuat kembali. Saat Davin berada di tengah dilema perasaannya, terdengar suara Sofia yang lembut memanggil namanya. "Davin, dimana kamu Davin?" Davin tersadar dari lamunannya dan melihat tirai yang dibuka oleh Sofia, sang kekasih. Sofia memakai dress panjang yang anggun berwarna peach, anting berlian mahal tergantung di kedua telinganya, rambutnya terurai panjang. Tapi sorot matanya tajam berkilat melihat Davin sedang bersama Alma. "Rupanya kamu ada disini Davin, aku dari tadi mencarimu," rengek Sofia manja, lengannya langsung bergelayut pada tangan kekar Davin. Senyum mengembang di wajah Sofia, tapi Davin yang peka langsung tahu bahwa sebenarnya Sofia sedang marah mendapati dirinya sedang mengobrol dengan Alma. "Sofia aku tak sengaja melihatnya disini, tenang saja aku hanya ingin tahu apa yang terjadi dengannya," jawab Davin datar. Wajah Davin yang semula tampak galau sekarang sudah berubah kembali datar dan dingin, dia sama sekali tak melirik pada Alma. "Bagaimana hasil pemeriksaanmu, Sayang?" Davin mengusap perut Sofia, dan tampak sangat perhatian pada sang kekasih. Semua ucapan dan tindakan Davin pada Sofia tak luput dari perhatian Alma, hatinya sontak teriris pedih. Sementara Sofia tersenyum penuh kemenangan dan menatap sinis pada Alma.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN