8

652 Kata
Bryan tersenyum dan sedikit malu dengan ucapan Alma. "Haha, iya. Dulu aku memang kurang memperhatikan penampilan. Sekarang, sedikit lebih peduli," jawab Bryan tertawa renyah sambil memeriksa catatan medis Alma. "Kamu terkena demam typoid atau yang dikenal dengan typus?" "Apa yang kamu rasakan saat ini, Alma?" Bryan memandangi Alma dengan lembut terlihat bahwa pria itu begitu bahagia dapat bertemu dengan Alma kembali setelah sekian lamanya. "Masih lemas, Dok. Mual juga," keluh Alma lirih. Kepalanya masih terasa berputar dan suhu badannya begitu tinggi. "Tidak apa-apa. Ini wajar. Kamu harus banyak istirahat dan minum obat teratur. Aku akan pantau terus perkembanganmu," kata Bryan menenangkan. Alma mengangguk. Ada perasaan aneh yang menyelinap di hatinya. Antara senang bertemu teman lama, dan sedikit... kagum dengan perubahan penampilannya. "Ngomong-ngomong, kamu jadi dokter hebat ya sekarang," kata Alma, berusaha berkomunikasi walau kepalanya pening, itu karena dia merasa senang bertemu teman lama. "Ah, biasa saja. Ini juga berkat dukungan orang tua dan teman-teman terutama...kamu," jawab Bryan merendah. "Apa? Kamu bilang dukunganku?" Alma mengerutkan keningnya, dia bingung dengan ucapan Bryan. "Eh..itu jangan kamu pikirkan, kamu sekarang sedang sakit. Aku sudah atur kamar rawat inap untukmu." Alma tersenyum. Pertemuan yang tak disangka ini membuatnya sedikit bersemangat untuk segera sembuh. Mungkin, ada hal menarik yang akan terjadi setelah ini. Obrolan ringan santai mengalir diantara keduanya, sambil menunggu kamar inap disiapkan. Bryan sendiri yang melakukan penanganan medis pada Alma. Sekarang dia akan memasang infus dan menusukkan jarum ke lengan Alma. Ternyata tidak terlalu mudah, karena disebabkan oleh kondisi pembuluh darah Alma yang kecil, tersembunyi. "Alma, maaf bila kau akan merasa sedikit sakit,"ucap Bryan. "Aduh..!" Alma mengaduh pelan, tapi suara manisnya cukup terdengar di ruangan itu. Bryan memegangi lengan Alma dengan lembut, wajahnya diturunkan hingga wajah keduanya cukup berdekatan. SREKK Sementara itu terdengar tirai dibuka dan terlihat sosok Davin yang memandangi Alma dan Bryan dengan penuh amarah. Rupanya Davin sedang mengantar Sofia ke rumah sakit karena pacarnya itu mengalami kram perut saat menstruasi. Saat ini Sofia sedang di laboratorium menjalani pemeriksaan darah. Namun, sebelumnya Sofia berada di UGD, ruang yang sama dengan Alma. Lantas indera pendengaran Davin yang tajam, dapat mendengar suara manis Alma yang sangat dikenalnya dengan baik. "Apa yang sedang kau lakukan padanya?!" Suara Davin cukup lantang dan menggelegar, tatapan matanya tajam melihat Bryan. Davin berdiri kaku di ambang tirai UGD, matanya terpaku pada Alma yang terbaring lemah. Kulitnya pucat pasi, bibirnya kering pecah-pecah, dan napasnya terdengar berat. Di samping ranjang, Dokter Bryan dengan tenang menyuntikkan jarum infus ke pergelangan lengan Alma. Api cemburu itu kembali membakar Davin, lebih panas dari sebelumnya. Entah mengapa, melihat Dokter Bryan yang begitu dekat, begitu fokus pada Alma, membuat darahnya mendidih. Padahal, tujuan Davin menikahi Alma hanya satu: menyakiti wanita itu, membalas dendam atas kematian adiknya. Tapi kini, niat keji itu seolah menguap, digantikan oleh rasa sesak yang tak ia kenali. Tak lama perawat wanita muda datang dan berjalan tergopoh menghampiri Bryan "Segera suntikan obat antibiotik di sini, Suster," suara Dokter Bryan memecah keheningan, menunjuk punggung tangan Alma yang sudah terpasang selang infus. Davin melihat Alma meringis pelan saat jarum itu menembus kulitnya. Matanya terpejam erat, menahan sakit. Sebuah sentakan aneh menjalari d**a Davin. Bukan, ini bukan kepuasan. Ini... kepedihan? Dokter Bryan menoleh, menyadari kehadiran Davin. "Ah, Pak.. apa anda keluarga dari Bu Alma? Dia terkena tifus. Kami akan berikan cairan dan obat melalui infus. Dia butuh istirahat total dan asupan nutrisi yang baik." Davin hanya mengangguk kaku, suaranya tercekat di tenggorokan. "Ba-baik, Dok." Setelah itu, Dokter Bryan berjalan untuk memeriksa pasien lain. Tapi Bryan merasa aneh dengan tingkah Davin dan merasa penasaran ada hubungan apa antara pria itu dengan Alma. Davin mendekati ranjang Alma. Tangannya terulur ragu, menyentuh kening Alma yang terasa hangat. "Alma..." panggilnya lirih. Alma membuka matanya perlahan, tatapannya kosong, namun ada sedikit keterkejutan melihat Davin yang masih berdiri di sana. Tadi Alma sempat berhalusinasi bahwa dia melihat Davin. Mungkin itu karena demam nya yang tinggi. "Davin? Kamu... di sini?" Alma berucap lirih, tatapannya sayu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN