Sesaat keraguan datang merayap di hati Davin melihat kondisi Alma.
Gadis yang pernah begitu dicintainya seperti bunga yang indah di genggamannya itu, kini telah berubah menjadi semakin kurus dan begitu pucat. Sungguh kah ini yang diinginkan Davin?
Tapi bayangan kondisi adiknya yang menyedihkan di saat dia meninggal muncul di benak Davin.
Kepedihan di mata Davin pun menghilang, hanya menyisakan aura dingin yang luar biasa.
Permintaan Alma mengenai uang pengobatan ayahnya terasa seperti angin lalu di telinga Davin.
"Bukankah kau sudah cukup puas menyiksaku Davin? Jadi sekarang berikan uang untuk pengobatan ayahku."
"Bagaimana jika aku tidak mau memberikannya," tanya Davin dingin dan tatapan mengejek.
Alma menatap mata Davin yang berwarna hitam pekat. Mata Alma yang baru saja menangis, sekarang sudah menjadi jernih dan cerah.
"Kalau begitu, aku lebih baik bunuh diri saja. Tidak ada gunanya lagi aku hidup jika ayahku tak bisa terselamatkan."
Detik itu juga Alma mengeluarkan sebilah pisau lipat kecil dari balik tas tangannya. Dia menekan pisau itu tepat di urat nadi lengannya.
Wajah Davin langsung menggelap, kedua tangannya terkepal erat. Lalu Davin melangkah cepat dan merebut pisau dari tangan sang istri dan melemparkannya sejauh mungkin. Nafasnya tersengal hebat. Davin tak menyangka bila Alma bisa berbuat senekat itu
"Alma,jangan main-main, apa kamu sudah gila?!"
Alma tersenyum dingin sambil berkata.
"Davin, pernahkah kamu mencintaiku dengan tulus?"
"Tidak, dari awal kamu hanyalah bidak dari permainanku," ketus Davin.
Lantas Davin dengan cepat mengeluarkan cek dan menulis sebuah nominal, lalu menyerahkannya kepada Alma sambil berkata,"Lima milyar, gunakan untuk biaya operasi ayahmu!"
Davin bergegas pergi dari situ dan tak lagi menghiraukan Alma. Sedangkan Alma lalu menghela nafas lega dan berpikir,"Akhirnya aku mendapatkan uang untuk ayah agar bisa dioperasi dan beliau dapat terselamatkan."
Alma terdiam sejenak sambil memandangi cek dan jumlah nominal yang tertera di situ.
"Jumlah sebanyak ini sudah lebih dari cukup untuk melunasi biaya pengobatan Ayahku, sisanya akan aku pakai untuk penyelidikan kasus kematian Vanya, aku ingin tahu yang sebenarnya terjadi."
Alma lalu berlalu dari tempat itu, dia bergegas ke rumah sakit tempat Ayahnya dirawat.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Alma merasakan tubuhnya demam dan kepalanya pusing tapi dia tak menghiraukan kondisi tubuhnya, dia lebih mementingkan memikirkan kesehatan ayahnya.
Sesampainya di rumah sakit, Alma tak membuang waktu dia cepat pergi ke bagian administrasi untuk melunasi semua biaya pengobatan Ricky, ayahnya. Setelah itu dia menemui dokter Bram yaitu dokter kepala yang bertugas untuk mengobati ayahnya.
"Dok, tolong lakukan yang sebaik-baiknya untuk mengobati Ayahku Baru saja aku sudah melunasi semua biaya operasinya, aku hanya ingin dia cepat sembuh Dok,"pinta Alma memelas. Seolah semua harapannya tertumpu hanya pada dokter Bram.
"Bu Alma tenang saja kami akan berusaha sebaik mungkin untuk mengobati pak Riky."
Alma menghembuskan nafas panjang, kakinya terasa lemah dan rasa pusing di kepalanya kembali mendera, sakitnya tak tertahankan. Alma lalu berjalan pelan, dia bermaksud memeriksakan dirinya sendiri, karena suhu tubuhnya semakin tinggi dan dia merasa menggigil menahan demam dan pusing.
Mungkin karena fisiknya sudah kelelahan dan juga rasa sakit yang melanda tubuhnya, Alma pun jatuh pingsan, badannya terhempas di lantai yang dingin di koridor rumah sakit.
Saat itu sosok dokter lelaki muda berjalan melintas di depan Alma dan dia berseru.
"Ibu, anda kenapa?"
Dokter itu lalu memerintahkan perawat untuk meletakkan Alma di brankar dan membawanya ke ruang UGD.
Alma terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Tubuhnya menggigil, perutnya mual. Typus memang membuatnya tak berdaya. Pintu kamar terbuka, seorang dokter muda masuk dengan senyum ramah.
"Selamat siang, Alma. Saya Dokter Bryan yang akan menangani kamu," sapanya lembut.
"Kamu masih ingat padaku kan, Alma, kita dulu satu sekolah?"
Alma menatap dokter itu, mencoba mengenali wajahnya. Tapi nihil. Dokter ini terlalu berbeda. Dulu, Bryan yang ia kenal adalah anak laki-laki gemuk dengan wajah penuh jerawat. Sekarang? Wajahnya bersih, tampan, dengan tubuh tegap dan tinggi.
"Dokter Bryan?" tanya Alma ragu.
Dokter itu tersenyum lebih lebar. "Iya, Alma. Ini aku, Bryan teman sekelasmu dulu. Pangling ya?"
Alma terkejut. "Bryan? Ya ampun, aku hampir tidak mengenalimu! Kamu berubah sekali."
Alma berkata pelan sambil menahan sakit di kepalanya, sungguh dia tak menyangka akan bertemu dengan teman masa sekolahnya dulu dalam kondisi dirinya yang menyedihkan seperti ini.